Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Gong Perdamaian Ciamis 9 September, Ada Apa Saja di Karangkamulyan?

Gong Perdamaian Ciamis 9 September, Ada Apa Saja di Karangkamulyan?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
  • visibility 42
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAH — Gong Perdamaian Ciamis akan menjadi bagian penting dari agenda budaya Kabupaten Ciamis pada Rabu, 9 September 2026. Memasuki Milangkala ke-17 Gong Perdamaian Dunia, kegiatan di Situs Bojong Galuh Karangkamulyan membawa tema “Merajut Harmoni, Menjaga Perdamaian” dengan rangkaian seni, budaya, kebhinekaan, dan gelar produk UMKM.

Acara dijadwalkan berlangsung mulai pukul 07.00 WIB sampai selesai di Situs Bojong Galuh Karangkamulyan, Kabupaten Ciamis.

Informasi mengenai agenda tersebut juga tercantum dalam daftar event unggulan Jawa Barat September 2026. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menempatkan Milangka Gong Perdamaian Dunia pada 9 September, sementara agenda budaya Ciamis mencatatnya sebagai salah satu kegiatan utama bulan ini.

Bagi masyarakat, momentum ini bukan sekadar kesempatan menghadiri sebuah acara budaya. Karangkamulyan memiliki jejak sejarah Galuh, sedangkan Gong Perdamaian Dunia membawa pesan yang lebih luas tentang persaudaraan, toleransi, dan kehidupan yang harmonis.

Milangkala ke-17 Gong Perdamaian Digelar di Karangkamulyan

Milangkala Gong Perdamaian Dunia telah menjadi agenda tahunan di kawasan Karangkamulyan.

Pada 9 September 2025, misalnya, peringatan Milangkala ke-16 berlangsung di Situs Bojong Galuh Karangkamulyan. Prosesi saat itu diikuti masyarakat, budayawan, serta sejumlah tokoh daerah. Gong berukuran sekitar 3,33 meter tersebut juga menjadi bagian utama prosesi peringatan.

Tradisi tahunan tersebut membuat tanggal 9 September memiliki makna tersendiri bagi agenda budaya Ciamis.

Pada 2026, peringatan memasuki tahun ke-17. Berdasarkan informasi kegiatan yang disampaikan Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis, acara akan mengangkat tema “Merajut Harmoni, Menjaga Perdamaian”.

Tema tersebut menempatkan pesan perdamaian sebagai benang merah kegiatan. Di sisi lain, rangkaian acara tetap memberikan ruang bagi seni tradisi, kebhinekaan, serta pelaku UMKM daerah.

Bukan Hanya Gong, Ini Rangkaian Acaranya

Masyarakat yang ingin menghadiri Gong Perdamaian Ciamis 2026 dapat mencatat jadwal berikut:

Hari: Rabu, 9 September 2026
Waktu: 07.00 WIB sampai selesai
Lokasi: Situs Bojong Galuh Karangkamulyan, Kabupaten Ciamis
Tema: “Merajut Harmoni, Menjaga Perdamaian”

Sementara itu, rangkaian kegiatan yang tercantum dalam informasi acara meliputi:

  • Kirab Kebhinekaan
  • Rajah Bubuka Pasaduan
  • Prosesi Ngagungkeun Gong
  • Pagelaran Tari Budaya
  • Pagelaran Pentas Seni dan Atraksi Budaya
  • Gelar Produk UMKM Kabupaten Ciamis

Susunan tersebut memperlihatkan bahwa Milangkala ke-17 tidak hanya berfokus pada prosesi Gong Perdamaian Dunia.

Ada pula pertunjukan seni dan atraksi budaya yang dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat. Selain itu, kehadiran gelar produk UMKM membuka ruang bagi produk lokal Ciamis untuk tampil dalam agenda budaya daerah.

Karena itu, pengunjung tidak hanya datang untuk menyaksikan prosesi, tetapi juga dapat menikmati berbagai ekspresi budaya dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Mengapa Gong Perdamaian Berada di Karangkamulyan?

Inilah sisi yang membuat Gong Perdamaian Ciamis menarik untuk dilihat lebih jauh.

Karangkamulyan bukan sekadar lokasi penyelenggaraan. Kawasan tersebut memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Galuh sehingga menjadi ruang yang kuat untuk mempertemukan identitas lokal dengan pesan perdamaian yang bersifat universal.

Gong Perdamaian Dunia sendiri telah menjadi simbol persaudaraan di Ciamis. Dokumentasi kegiatan sebelumnya menunjukkan bahwa pemerintah daerah memandang gong tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga nilai persaudaraan sekaligus memperkenalkan kawasan Karangkamulyan sebagai ruang budaya dan wisata.

Pada peringatan 2025, narasi mengenai perdamaian dan warisan Galuh juga kembali mengemuka. Gong tersebut diposisikan bukan hanya sebagai benda monumental, tetapi sebagai simbol nilai yang ingin terus diwariskan.

Dengan konteks tersebut, Milangkala ke-17 mempunyai nilai lebih dari sekadar agenda tahunan.

Sejarah Galuh menjadi latarnya, Gong Perdamaian menjadi simbolnya, sedangkan masyarakat menjadi bagian dari pesan yang dibawanya.

9 September Jadi Salah Satu Titik Penting Agenda Budaya Ciamis

Milangkala Gong Perdamaian Dunia juga hadir di tengah rangkaian event budaya Ciamis sepanjang September 2026.

Sebelumnya, Ciamis memiliki agenda Nyiar Lumar pada 5 September dan Upacara Adat Nyangku pada 7 September. Setelah Milangkala Gong Perdamaian pada 9 September, agenda budaya berlanjut dengan Festival Coffee Rajadesa Art and Culture pada 26–27 September.

Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa September menjadi bulan yang cukup padat dengan kegiatan berbasis budaya di Ciamis.

Bagi wisatawan maupun masyarakat lokal, kondisi ini membuka kesempatan untuk mengenal Ciamis melalui lebih dari sekadar destinasi wisata alam.

Ada sejarah yang bisa dipelajari. Ada tradisi yang masih dijalankan. Ada seni yang terus dipentaskan. Ada pula produk UMKM yang ikut bergerak bersama agenda budaya.

Catat Jadwalnya, Pahami Pesannya

Bagi masyarakat yang hendak datang, Rabu, 9 September 2026 menjadi tanggal penting untuk dicatat.

Milangkala ke-17 Gong Perdamaian Dunia akan berlangsung di Situs Bojong Galuh Karangkamulyan mulai pukul 07.00 WIB hingga selesai. Tema “Merajut Harmoni, Menjaga Perdamaian” menjadi pesan utama kegiatan tersebut.

Namun, nilai acara ini tidak berhenti ketika rangkaian prosesi berakhir.

Gong Perdamaian mengingatkan bahwa budaya bukan sekadar sesuatu yang dipertontonkan. Di dalamnya terdapat nilai yang dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

Masyarakat dapat hadir untuk menyaksikan prosesi, menikmati pagelaran seni, mengenal kembali sejarah Karangkamulyan, sekaligus mendukung produk UMKM Ciamis.

Pada akhirnya, Gong Perdamaian Ciamis bukan hanya tentang suara gong yang terdengar pada sebuah perayaan. Lebih jauh, ia adalah pengingat bahwa harmoni harus dirawat setiap hari—dimulai dari cara masyarakat menghargai perbedaan, menjaga budaya, dan hidup berdampingan. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPUTRLH Kabupaten Tasikmalaya

    Pengembalian Rp100 Juta di DPUTRLH Kabupaten Tasikmalaya Bukan Penutup Perkara

    • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 141
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Uang Rp100 juta sudah dikembalikan ke kas daerah. Tetapi pertanyaannya belum selesai. Dalam temuan BPK pada proyek Rekonstruksi Ruas Jalan Desa Sindangjaya–Cigadoan–Cikondang di DPUTRLH Kabupaten Tasikmalaya, pengembalian uang justru membuka pintu baru: mengapa kelebihan pembayaran itu bisa terjadi sejak awal? Dalam LHP BPK atas LKPD Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya Tahun Anggaran 2025, […]

  • Jumhur Hidayat Menteri Lingkungan Hidup

    Dari Jalanan ke Istana, Kisah Jumhur Hidayat Jadi Menteri LH

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 180
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Jumhur Hidayat Menteri Lingkungan Hidup kini menjadi sorotan. Sosok yang juga dikenal sebagai aktivis buruh dan tokoh pergerakan ini menempuh jalur yang tidak biasa menuju kursi kabinet. Ia pernah berdiri di barisan demonstran. Ia pernah merasakan tekanan kekuasaan. Kini, ia justru menjadi bagian dari sistem yang dulu ia kritisi. Pelantikan oleh […]

  • Ilustrasi seseorang terjebak dalam kebiasaan buruk yang menghambat kesuksesan dan perkembangan hidup

    Tanpa Sadar! 7 Kebiasaan Ini Menghambat Kesuksesan Anda

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 196
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Kebiasaan buruk sukses sering tidak terlihat sebagai masalah. Justru karena terasa “normal”, kebiasaan ini diam-diam menghambat kesuksesan tanpa disadari. Banyak orang merasa sudah berusaha keras, tetapi hasilnya stagnan. Mereka tidak gagal karena kurang pintar, melainkan karena terjebak pola yang sama setiap hari. Lebih berbahaya lagi, kebiasaan ini terasa nyaman. Kenapa Kita Sulit […]

  • Terpidana Korupsi

    Kejari Bandung Tangkap Terpidana Korupsi Setelah 12 Tahun Buron

    • calendar_month Minggu, 7 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 261
    • 0Komentar

    Kejari Bandung menangkap terpidana korupsi yang buron 12 tahun dan mengeksekusinya ke Lapas Banceuy. albadarpost.com, LENSA – Kejaksaan Negeri Bandung menuntaskan pelarian panjang seorang terpidana korupsi. Setelah 12 tahun buron, Syaf Mulyana—mantan Ketua Lembaga Kajian Ekonomi Bandung—akhirnya ditangkap dan dieksekusi ke Lapas Banceuy. Penangkapan ini menegaskan upaya penegak hukum membersihkan praktik korupsi yang masih menggerus […]

  • bupati Tasikmalaya

    Proyek di Kabupaten Tasikmalaya Dikondisikan oleh Tim Bupati?

    • calendar_month Jumat, 14 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Laporan Khusus Albadarpost. albadarpost.com, EDITORIAL – Pelaksanaan proyek di lingkungan pemerintah daerah pada prinsipnya diatur melalui mekanisme yang jelas dan berlapis. Regulasi seperti Perpres 16/2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (beserta aturan turunannya) menegaskan bahwa proses pengadaan harus dilakukan oleh struktur resmi: mulai dari perencanaan oleh SKPD, pemilihan penyedia oleh pejabat atau unit pengadaan, hingga pelaksanaan […]

  • Siluet wanita bersujud menangis di ruang gelap dengan botol minuman keras sebagai simbol kesombongan dalam ibadah dan penyesalan dosa.

    Sombong dalam Ibadah: Dosa yang Terlihat Suci

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 249
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Sombong dalam ibadah sering hadir dengan wajah paling sopan. Ia menyamar sebagai kesalehan, bersembunyi dalam kesombongan spiritual, dan tumbuh pelan sebagai ujub dalam amal. Banyak orang takut pada dosa terang-terangan, tetapi sedikit yang waspada pada ilusi kesalehan yang diam-diam menggerogoti hati. Padahal penyakit hati religius justru lebih sulit terdeteksi karena ia memakai […]

expand_less