Bukan Sekadar Mencari Jamur, Ini Makna Nyiar Lumar Ciamis
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
- visibility 54
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi gambar tradisi Nyiar Lumar Ciamis.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AlbadarPost.com, BERITA DAERAH— Malam di Kawali akan kembali memiliki cerita. Nyiar Lumar dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 5 September 2026, di kawasan Eks Pendopo Kawali dan Situs Astana Gede Kawali, Kabupaten Ciamis.
Dilansir dari Visit Ciamis, Nyiar Lumar bukan sekadar kegiatan mencari cahaya di tengah malam. Tradisi budaya ini membawa pesan tentang pencarian jati diri, pencerahan, kebaikan, serta hubungan manusia dengan alam. Karena itu, ketika peserta berjalan dalam suasana gelap, yang dicari sesungguhnya bukan hanya sesuatu yang bercahaya. Ada makna yang lebih dalam di balik perjalanan tersebut.
Dan di situlah keunikan Nyiar Lumar bermula.
Dari Kegelapan, Muncul Pencarian Cahaya
Secara sederhana, kata nyiar berarti mencari. Sementara itu, lumar dalam pemaknaan tradisi dikaitkan dengan cahaya berpendar yang dapat ditemukan pada suasana malam, te
ainya sebatas fenomena alam.
Cahaya kecil di tengah kegelapan menjadi simbol harapan, petunjuk, dan pelita nurani. Dengan demikian, perjalanan mencari lumar berubah menjadi gambaran tentang perjalanan manusia ketika mencari arah dalam hidup.
Pandu Radea, salah satu penggagas Nyiar Lumar, menekankan sisi filosofis tersebut.
“Secara filosofis ‘Nyiar Lumar’ ini merupakan bentuk pencarian jati diri melalui tradisi dengan tujuan mencari pencerahan.”
Pesan itu membuat tradisi ini memiliki cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar aktivitas malam.
Sebab, seseorang dapat saja menemukan cahaya di luar dirinya. Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah ia juga menemukan cahaya dalam dirinya sendiri.
Nyiar Lumar dan Jejak Sejarah Galuh
Pemilihan Situs Astana Gede Kawali bukan tanpa alasan.
Kawasan ini memiliki hubungan penting dengan sejarah Galuh dan menjadi salah satu ruang budaya yang menyimpan jejak masa lalu Ciamis.
Karena itu, perjalanan Nyiar Lumar sekaligus mempertemukan masyarakat dengan lanskap sejarah. Peserta tidak hanya mengikuti sebuah pertunjukan, tetapi juga berada di kawasan yang menyimpan memori tentang perjalanan masyarakat Sunda pada masa lampau.
Menurut informasi Galuh Virtual, Astana Gede Kawali menjadi lokasi utama pelaksanaan Nyiar Lumar. Rangkaian kegiatannya juga berkembang dengan perjalanan membawa obor menuju kawasan situs, kemudian dilanjutkan dengan berbagai pertunjukan seni dan budaya.
Dengan begitu, Nyiar Lumar Ciamis mempunyai dua lapisan yang saling menguatkan: perjalanan menuju cahaya dan perjalanan memasuki ruang sejarah.
Keduanya bertemu di Astana Gede.
Tradisi yang Lahir dari Kegelisahan Budaya
Nyiar Lumar bukan tradisi yang muncul begitu saja dari masa lampau.
Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat mencatat kegiatan Nyiar Lumar pertama kali berlangsung pada 20 Mei 1998. Setelah itu, kegiatan tersebut berkembang sebagai agenda seni budaya yang digelar secara berkala.
Dalam perjalanannya, tradisi ini kemudian menjadi ruang pertemuan antara seni, sejarah, masyarakat, dan lingkungan.
Visit Ciamis juga menempatkan pelestarian alam sebagai bagian penting dari semangat Nyiar Lumar. Tradisi tersebut mengajak masyarakat melihat kembali hubungan manusia dengan lingkungan sekaligus menjaga warisan budaya yang dimiliki Ciamis.
RRI pun menyoroti Nyiar Lumar sebagai tradisi budaya yang memiliki pesan filosofis mengenai pencarian cahaya kebaikan dan kearifan.
Artinya, perkembangan Nyiar Lumar tidak hanya bergantung pada seberapa meriah acaranya.
Maknanya juga harus tetap terjaga.
Ketika Budaya Berhadapan dengan Zaman
Tantangan pelestarian budaya hari ini berbeda dengan masa ketika Nyiar Lumar mulai diperkenalkan.
Generasi muda hidup dalam dunia yang bergerak cepat. Konten digital datang silih berganti. Tradisi lokal harus berhadapan dengan berbagai bentuk hiburan yang dapat diakses hanya melalui layar ponsel.
Karena itu, menggelar Nyiar Lumar kembali tentu penting. Namun, mempertahankan alasan mengapa tradisi itu digelar jauh lebih penting.
Generasi muda perlu mengetahui hubungan Nyiar Lumar dengan sejarah Kawali. Mereka juga perlu memahami pesan tentang pencarian jati diri dan pencerahan yang terkandung di dalamnya.
Lebih dari itu, mereka perlu melihat alam sebagai bagian dari warisan yang harus dijaga, bukan sekadar latar belakang untuk membuat foto dan video.
Di sinilah pekerjaan rumah pelestarian budaya berada.
Tradisi tidak cukup hanya diwariskan bentuknya. Maknanya juga harus diwariskan.
Jangan Sampai Hanya Menjadi Tontonan
Nyiar Lumar memiliki potensi besar sebagai daya tarik budaya Ciamis.
Wisatawan dapat menikmati perjalanan malam, pertunjukan seni, suasana Astana Gede, serta berbagai ekspresi budaya yang hadir dalam rangkaian kegiatan.
Akan tetapi, semakin besar perhatian wisatawan, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga kawasan dan nilai tradisinya.
Pengelolaan pengunjung, kebersihan, kelestarian situs, keamanan, serta penghormatan terhadap nilai budaya perlu berjalan beriringan dengan kemeriahan acara.
Jika tidak, ada risiko tradisi kehilangan ruhnya dan hanya menyisakan kemasan pertunjukan.
Padahal, kekuatan Nyiar Lumar justru berada pada cerita di balik perjalanan tersebut.
Sabtu malam, ketika obor mulai menyala dan langkah bergerak menuju Astana Gede, masyarakat tidak hanya sedang mengikuti agenda budaya. Mereka sedang memasuki sebuah ruang yang mempertemukan cahaya, sejarah, manusia, dan alam.
Mungkin cahaya lumar yang dicari hanya kecil.
Tetapi pesan yang dibawanya tidak kecil.
Sebab pada akhirnya, Nyiar Lumar bukan tentang seberapa terang cahaya yang ditemukan di tengah gelap. Ia tentang seberapa terang hati manusia setelah perjalanan itu selesai. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar