Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Sombong dalam Ibadah: Dosa yang Terlihat Suci

Sombong dalam Ibadah: Dosa yang Terlihat Suci

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
  • visibility 83
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINISombong dalam ibadah sering hadir dengan wajah paling sopan. Ia menyamar sebagai kesalehan, bersembunyi dalam kesombongan spiritual, dan tumbuh pelan sebagai ujub dalam amal. Banyak orang takut pada dosa terang-terangan, tetapi sedikit yang waspada pada ilusi kesalehan yang diam-diam menggerogoti hati. Padahal penyakit hati religius justru lebih sulit terdeteksi karena ia memakai jubah suci.

Manusia gemar menghitung rakaat. Namun jarang ada yang menghitung kadar kesombongan yang ikut naik setiap kali dipuji. Ia rajin berzikir, tetapi tersinggung ketika tidak disebut alim. Ia gemar bersedekah, tetapi kecewa ketika namanya tidak diumumkan.

Di titik ini, satir kehidupan terasa getir. Kita khawatir terlihat hina di mata manusia, tetapi santai saja ketika terlihat angkuh di hadapan Tuhan.

Dosa yang Menundukkan, Ibadah yang Meninggikan Diri

Syekh Ibnu Athaillah dalam Hikam pernah menyentil logika keagamaan yang terlalu percaya diri. Beliau menegaskan bahwa maksiat yang melahirkan penyesalan bisa lebih baik daripada ibadah yang menumbuhkan kesombongan. Pernyataan ini bukan pembelaan terhadap dosa. Justru ini tamparan halus bagi mereka yang merasa sudah sampai.

Baca juga: Strategi Pemkot dalam Upaya Revitalisasi Pasar Cikurubuk

Seseorang terjatuh dalam dosa, lalu ia menangis dalam sunyi. Ia merasa kecil. Ia mengetuk pintu ampunan tanpa percaya diri sedikit pun. Namun justru dari kehinaan itu tumbuh ketergantungan kepada rahmat Allah.

Sebaliknya, ada yang berdiri tegak setelah tahajud panjang. Ia merasa selangkah lebih dekat ke surga dibanding tetangganya. Ia berbicara tentang keikhlasan sambil diam-diam menikmati reputasi. Tanpa sadar, ibadah berubah fungsi. Sujud tak lagi menjadi tunduk, melainkan panggung pertunjukan moral.

Al-Qur’an mengingatkan dengan tegas dalam QS. An-Nisa: 36 bahwa Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. Artinya jelas. Ukuran kemuliaan bukan pada banyaknya amal, melainkan pada bersihnya hati.

Kesombongan Spiritual yang Tak Terlihat

Kesombongan spiritual jarang mengaku sombong. Ia hadir dalam bentuk nasihat panjang yang terasa merendahkan. Ia menyelinap dalam ceramah yang penuh sindiran. Bahkan ia bisa tersembunyi dalam doa yang terdengar khusyuk.

Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Muslim bahwa seseorang tidak akan masuk surga jika di hatinya ada kesombongan walau sebesar biji sawi. Ukurannya kecil. Dampaknya besar. Ia seperti debu di lensa; tipis, tetapi cukup untuk mengaburkan pandangan.

Imam Al-Ghazali dalam tradisi tasawuf menekankan bahwa penyakit hati lebih berbahaya daripada penyakit tubuh. Tubuh yang sakit masih bisa beribadah dengan hati yang bersih. Namun hati yang sakit bisa membuat ibadah kehilangan makna.

Karena itu, muhasabah menjadi penting. Evaluasi diri bukan sekadar menghitung amal, melainkan meneliti niat. Kita perlu bertanya dalam diam: apakah sujud ini benar-benar tunduk, atau hanya ingin terlihat tunduk?

Antara Kehinaan dan Kemuliaan

Syekh Ibnu Athaillah mengingatkan agar kehinaan tidak membuat putus asa, dan kemuliaan tidak membuat lupa diri. Nasihat ini sederhana, tetapi daya ledaknya besar.

Kehinaan bisa menjadi pintu tawadhu jika seseorang mengubahnya menjadi energi taubat. Namun kemuliaan bisa menjelma jebakan ketika ia memicu rasa unggul atas orang lain. Di sinilah paradoks itu muncul. Kita takut reputasi rusak, tetapi jarang takut hati mengeras.

Baca juga: Saat Diky Candra Marah, Publik Soroti Koordinasi Pemkot Tasikmalaya

QS. An-Najm: 32 menutup ruang klaim kesalehan dengan kalimat yang tajam: jangan merasa diri suci. Hanya Allah yang mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa. Ayat ini meruntuhkan panggung kesalehan instan. Ia mengingatkan bahwa takwa bukan trofi publik.

Menjadi Hamba, Bukan Pesaing Surga

Pada akhirnya, keselamatan tidak bergantung pada daftar amal yang panjang. Ia bergantung pada rahmat Allah yang luas. Amal penting, tetapi kerendahan hati jauh lebih menentukan.

Maksiat tetap harus ditinggalkan. Namun ujub dalam amal perlu diwaspadai setiap hari. Oleh sebab itu, setiap keberhasilan perlu diikat dengan syukur. Setiap pujian perlu dibalas dengan kesadaran bahwa semua berasal dari-Nya.

Jika suatu hari terjatuh, bangkit dengan istighfar. Sebaliknya, jika suatu hari dipuji, tundukkan hati sebelum tepuk tangan merusak niat. Dengan cara itu, kehinaan tidak menjatuhkan martabat, dan kemuliaan tidak mengangkat ego.

Sombong dalam ibadah adalah ironi paling sunyi dalam kehidupan religius. Ia tidak berteriak. Ia berbisik. Namun bisikannya mampu mengubah sujud menjadi sekadar gerakan tanpa makna.

Dan pada akhirnya, yang menyelamatkan bukanlah jumlah ibadah, melainkan kerendahan hati yang terus dijaga.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi kemacetan jalan raya dengan banyak kendaraan sebagai metafora kehidupan yang penuh tekanan dan pentingnya makna syukur

    Bukan Kurang Nikmat, Tapi Kurang Syukur: Ini Faktanya

    • calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 80
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Makna syukur sering kita ucapkan, tetapi jarang kita rasakan sepenuhnya. Banyak orang memahami syukur sebagai sekadar ucapan “terima kasih,” padahal arti syukur, esensi bersyukur, dan nilai rasa cukup jauh lebih dalam dari itu. Ironisnya, di tengah hidup yang serba cepat, kita justru makin jauh dari makna syukur yang sebenarnya. Padahal, syukur bukan […]

  • Cendekia: Ruang Ilmu, Ruang Pencerahan

    Cendekia: Ruang Ilmu, Ruang Pencerahan

    • calendar_month Kamis, 18 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 49
    • 0Komentar

    albadarpost.com – CENDEKIA. Rubrik Cendekia di albadarpost.com hadir sebagai ruang yang menyalakan api pengetahuan dan semangat literasi bagi seluruh lapisan masyarakat. Nama “Cendekia” dipilih bukan sekadar sebagai simbol kaum terpelajar, tetapi juga sebagai pengingat bahwa setiap manusia memiliki hak untuk belajar, berpikir, dan berkembang tanpa dibatasi oleh keadaan sosial maupun ekonomi. Dalam konteks perjuangan sosial, […]

  • Idul Adha

    Idul Fitri vs Idul Adha, Mana Lebih Agung? Ini Penjelasannya

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 53
    • 0Komentar

    aaalbadarpost.com, HIKMAH – Malam takbiran di banyak kampung di Indonesia hampir selalu punya pola yang sama. Jalanan mendadak padat. Anak-anak berlarian membawa obor. Panci dipukul seadanya. Di teras rumah, sebagian ibu masih sibuk mengaduk opor sambil sesekali mengecek rendang yang belum benar-benar matang. Televisi tetap menyala meski tak ada yang benar-benar menonton. Sementara dari kejauhan, […]

  • Ilustrasi anjing Ashabul Kahfi bernama Qitmir menjaga pintu gua tempat para pemuda beriman tertidur ratusan tahun.

    Anjing Ashabul Kahfi: Penjaga Gua yang Jarang Dibahas

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 87
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Anjing Ashabul Kahfi atau kisah anjing penjaga Ashabul Kahfi bernama Qitmir menjadi bagian menarik dari cerita para pemuda beriman dalam Al-Qur’an. Cerita tentang anjing Qitmir sering disebut dalam tafsir ketika membahas kisah Ashabul Kahf yang tertidur ratusan tahun di dalam gua. Namun, meski kisah ini dikenal luas, banyak detail tentang peran anjing […]

  • Dana MBG Raib

    Program Makan Bergizi Gratis Jadi Investasi Gizi Anak, Ahli Gizi Dorong Evaluasi Berkelanjutan

    • calendar_month Minggu, 2 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 50
    • 0Komentar

    Ahli gizi nilai program makan bergizi gratis penting untuk masa depan anak, namun perlu evaluasi agar manfaatnya maksimal. Program Makan Bergizi Gratis Dorong Generasi Sehat Indonesia albadarpost.com, HUMANIORA – Program makan bergizi gratis (MBG) yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto menjadi salah satu kebijakan unggulan di bidang kesehatan masyarakat. Tujuannya sederhana namun krusial: memperbaiki status gizi […]

  • miras ilegal

    Pemkot Tasikmalaya Musnahkan Ribuan Miras Ilegal

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 92
    • 0Komentar

    Pemkot Tasikmalaya musnahkan ribuan botol miras ilegal demi ketertiban dan perlindungan kesehatan warga. albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pemerintah Kota Tasikmalaya memusnahkan ribuan botol minuman keras ilegal hasil pengamanan aparat. Langkah ini menegaskan arah kebijakan daerah dalam menjaga ketertiban umum sekaligus melindungi kesehatan warga dari dampak peredaran miras yang tidak terkendali. Sebanyak 6.489 botol miras ilegal […]

expand_less