Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Sombong dalam Ibadah: Dosa yang Terlihat Suci

Sombong dalam Ibadah: Dosa yang Terlihat Suci

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
  • visibility 75
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINISombong dalam ibadah sering hadir dengan wajah paling sopan. Ia menyamar sebagai kesalehan, bersembunyi dalam kesombongan spiritual, dan tumbuh pelan sebagai ujub dalam amal. Banyak orang takut pada dosa terang-terangan, tetapi sedikit yang waspada pada ilusi kesalehan yang diam-diam menggerogoti hati. Padahal penyakit hati religius justru lebih sulit terdeteksi karena ia memakai jubah suci.

Manusia gemar menghitung rakaat. Namun jarang ada yang menghitung kadar kesombongan yang ikut naik setiap kali dipuji. Ia rajin berzikir, tetapi tersinggung ketika tidak disebut alim. Ia gemar bersedekah, tetapi kecewa ketika namanya tidak diumumkan.

Di titik ini, satir kehidupan terasa getir. Kita khawatir terlihat hina di mata manusia, tetapi santai saja ketika terlihat angkuh di hadapan Tuhan.

Dosa yang Menundukkan, Ibadah yang Meninggikan Diri

Syekh Ibnu Athaillah dalam Hikam pernah menyentil logika keagamaan yang terlalu percaya diri. Beliau menegaskan bahwa maksiat yang melahirkan penyesalan bisa lebih baik daripada ibadah yang menumbuhkan kesombongan. Pernyataan ini bukan pembelaan terhadap dosa. Justru ini tamparan halus bagi mereka yang merasa sudah sampai.

Baca juga: Strategi Pemkot dalam Upaya Revitalisasi Pasar Cikurubuk

Seseorang terjatuh dalam dosa, lalu ia menangis dalam sunyi. Ia merasa kecil. Ia mengetuk pintu ampunan tanpa percaya diri sedikit pun. Namun justru dari kehinaan itu tumbuh ketergantungan kepada rahmat Allah.

Sebaliknya, ada yang berdiri tegak setelah tahajud panjang. Ia merasa selangkah lebih dekat ke surga dibanding tetangganya. Ia berbicara tentang keikhlasan sambil diam-diam menikmati reputasi. Tanpa sadar, ibadah berubah fungsi. Sujud tak lagi menjadi tunduk, melainkan panggung pertunjukan moral.

Al-Qur’an mengingatkan dengan tegas dalam QS. An-Nisa: 36 bahwa Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. Artinya jelas. Ukuran kemuliaan bukan pada banyaknya amal, melainkan pada bersihnya hati.

Kesombongan Spiritual yang Tak Terlihat

Kesombongan spiritual jarang mengaku sombong. Ia hadir dalam bentuk nasihat panjang yang terasa merendahkan. Ia menyelinap dalam ceramah yang penuh sindiran. Bahkan ia bisa tersembunyi dalam doa yang terdengar khusyuk.

Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Muslim bahwa seseorang tidak akan masuk surga jika di hatinya ada kesombongan walau sebesar biji sawi. Ukurannya kecil. Dampaknya besar. Ia seperti debu di lensa; tipis, tetapi cukup untuk mengaburkan pandangan.

Imam Al-Ghazali dalam tradisi tasawuf menekankan bahwa penyakit hati lebih berbahaya daripada penyakit tubuh. Tubuh yang sakit masih bisa beribadah dengan hati yang bersih. Namun hati yang sakit bisa membuat ibadah kehilangan makna.

Karena itu, muhasabah menjadi penting. Evaluasi diri bukan sekadar menghitung amal, melainkan meneliti niat. Kita perlu bertanya dalam diam: apakah sujud ini benar-benar tunduk, atau hanya ingin terlihat tunduk?

Antara Kehinaan dan Kemuliaan

Syekh Ibnu Athaillah mengingatkan agar kehinaan tidak membuat putus asa, dan kemuliaan tidak membuat lupa diri. Nasihat ini sederhana, tetapi daya ledaknya besar.

Kehinaan bisa menjadi pintu tawadhu jika seseorang mengubahnya menjadi energi taubat. Namun kemuliaan bisa menjelma jebakan ketika ia memicu rasa unggul atas orang lain. Di sinilah paradoks itu muncul. Kita takut reputasi rusak, tetapi jarang takut hati mengeras.

Baca juga: Saat Diky Candra Marah, Publik Soroti Koordinasi Pemkot Tasikmalaya

QS. An-Najm: 32 menutup ruang klaim kesalehan dengan kalimat yang tajam: jangan merasa diri suci. Hanya Allah yang mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa. Ayat ini meruntuhkan panggung kesalehan instan. Ia mengingatkan bahwa takwa bukan trofi publik.

Menjadi Hamba, Bukan Pesaing Surga

Pada akhirnya, keselamatan tidak bergantung pada daftar amal yang panjang. Ia bergantung pada rahmat Allah yang luas. Amal penting, tetapi kerendahan hati jauh lebih menentukan.

Maksiat tetap harus ditinggalkan. Namun ujub dalam amal perlu diwaspadai setiap hari. Oleh sebab itu, setiap keberhasilan perlu diikat dengan syukur. Setiap pujian perlu dibalas dengan kesadaran bahwa semua berasal dari-Nya.

Jika suatu hari terjatuh, bangkit dengan istighfar. Sebaliknya, jika suatu hari dipuji, tundukkan hati sebelum tepuk tangan merusak niat. Dengan cara itu, kehinaan tidak menjatuhkan martabat, dan kemuliaan tidak mengangkat ego.

Sombong dalam ibadah adalah ironi paling sunyi dalam kehidupan religius. Ia tidak berteriak. Ia berbisik. Namun bisikannya mampu mengubah sujud menjadi sekadar gerakan tanpa makna.

Dan pada akhirnya, yang menyelamatkan bukanlah jumlah ibadah, melainkan kerendahan hati yang terus dijaga.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • penganiayaan kurir COD

    Penganiayaan Kurir COD di Bekasi: Pelaku Akhirnya Menyerahkan Diri

    • calendar_month Minggu, 28 Sep 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 73
    • 0Komentar

    Kasus penganiayaan kurir COD di Bekasi berakhir. Pelaku menyerahkan diri dan dijerat Pasal 351 KUHP. albadarpost.com, LENSA. Kasus penganiayaan kurir COD di Bekasi akhirnya menemukan titik terang. Christian Kapau alias Kece, pelaku penganiayaan, memilih menyerahkan diri setelah sempat melarikan diri ke Tangerang. Polisi memastikan pelaku sudah berstatus tersangka dan dijerat Pasal 351 KUHP. Pelaku Penganiayaan […]

  • Jamaah haji berdoa di depan Ka'bah setelah menyelesaikan rangkaian ibadah haji di Masjidil Haram.

    Bukan Sekadar Pulang dari Makkah, Ini Tanda Haji Mabrur yang Sesungguhnya

    • calendar_month 13 jam yang lalu
    • account_circle redaktur
    • visibility 10
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Ketika musim haji berlangsung, doa “semoga menjadi haji mabrur dan maqbul” hampir selalu terdengar. Frasa haji mabrur, haji yang diberkahi, dan haji maqbul, haji yang diterima, sering diucapkan secara bersamaan oleh keluarga maupun masyarakat yang menyambut kepulangan jamaah dari Tanah Suci. Namun menariknya, masih banyak umat Islam yang menganggap keduanya memiliki arti […]

  • Ilustrasi seorang Muslim sedang merenung dan membaca Al-Qur’an tentang ayat kesabaran dengan suasana tenang dan hangat.

    Banyak Orang Salah Paham, Ini Makna Sabar dalam Al-Qur’an

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 57
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Banyak orang memahami ayat kesabaran hanya sebatas menahan emosi atau bertahan saat menghadapi masalah. Padahal, makna sabar dalam Al-Qur’an jauh lebih luas dan dalam. Ayat kesabaran tidak sekadar mengajarkan diam saat terluka, melainkan mengajarkan cara manusia tetap kuat, tenang, dan dekat kepada Allah ketika hidup berjalan tidak sesuai harapan. Di tengah tekanan […]

  • Ilustrasi pelaku GRC UMKM mengelola keuangan bisnis rapi agar mudah lolos pinjaman bank dan meningkatkan kepercayaan usaha

    Bukan Modal, Ini Alasan UMKM Ditolak Bank: GRC Jadi Penentu

    • calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 89
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Governance, Risk, and Compliance (GRC) UMKM, tata kelola usaha, dan manajemen risiko kini menjadi faktor penting yang menentukan apakah bisnis bisa berkembang atau justru stagnan. Istilah GRC UMKM semakin sering muncul, terutama ketika pelaku usaha mengajukan pinjaman ke bank atau fintech. Saat ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mendorong lembaga keuangan tidak […]

  • dinamika internal PBNU

    PBNU Tegaskan Dinamika Internal Tak Pengaruhi Mandat Gus Yahya sebagai Ketua Umum

    • calendar_month Minggu, 23 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 54
    • 0Komentar

    Gus Yahya menegaskan tetap menjalankan amanah Muktamar di tengah dinamika internal PBNU yang berkembang. albadarpost.com, HUMANIORA — Di tengah menguatnya dinamika internal PBNU, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf memastikan mandat hasil Muktamar Ke-34 tetap dijalankan hingga akhir masa jabatan. Pernyataan ini menjadi garis tegas bahwa isu desakan mundur tidak memengaruhi […]

  • cuaca ekstrem

    Pemprov Jabar Tingkatkan Mitigasi Hadapi Cuaca Ekstrem di Puncak Hujan

    • calendar_month Kamis, 4 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 73
    • 0Komentar

    Pemprov Jabar meminta warga meningkatkan kewaspadaan menghadapi cuaca ekstrem pada puncak musim hujan 2025–2026. albadarpost.com, LENSA – Peringatan resmi mengenai cuaca ekstrem kembali dikeluarkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. BPBD Jabar menyebut puncak musim hujan yang diprediksi BMKG akan berlangsung pada Desember 2025 serta Februari hingga Maret 2026 berpotensi memicu banjir, longsor, dan pergerakan tanah. Situasi […]

expand_less