Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » Bukan Sekadar Bola, Persib Sudah Menjadi Identitas Urang Sunda

Bukan Sekadar Bola, Persib Sudah Menjadi Identitas Urang Sunda

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
  • visibility 176
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HUMANIORA – Bagi banyak Bobotoh Sunda, Persib Bandung hari ini terasa bukan lagi sekadar klub sepak bola. Di Jawa Barat, Persib perlahan berubah menjadi identitas sosial, ruang emosi, bahkan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda modern.

Karena itu, ketika Persib bermain, suasananya sering terasa berbeda.

Warung kopi mendadak penuh. Status WhatsApp berubah biru. Anak-anak kecil ikut meneriakkan nama pemain favoritnya. Bahkan orang tua yang biasanya tidak terlalu mengikuti sepak bola tiba-tiba ikut bertanya soal klasemen atau jadwal pertandingan berikutnya.

Dan suasana itu sulit dijelaskan.

Di beberapa kampung di Tasikmalaya, Garut, Ciamis, Banjar hingga Pangandaran, suara teriakan “goool!” dari televisi rumah warga kadang terdengar hampir bersamaan ketika Persib mencetak gol. Sementara di pinggir jalan, beberapa pengendara motor sengaja memperlambat laju kendaraan hanya untuk berteriak, “Persib juara!”

Kadang suara knalpot motor yang lewat ikut bercampur dengan chant Bobotoh dari televisi warung kopi.

Aneh, tapi nyata.

Persib dan Bobotoh Sunda Kini Menjadi Ikatan Emosional

Banyak klub sepak bola memiliki pendukung fanatik. Namun hubungan Persib dan Bobotoh Sunda terasa berbeda karena sudah menyentuh sisi budaya dan identitas daerah.

Bagi sebagian warga Jawa Barat, mendukung Persib bukan hanya soal pertandingan.

Tetapi juga soal rasa memiliki. “Persib nu Aing!”

Ada kebanggaan ketika melihat warna biru memenuhi stadion, jalan raya, hingga media sosial. Ada rasa dekat ketika sesama Bobotoh saling menyapa di perjalanan hanya karena memakai jersey Persib.

Dan hal-hal kecil seperti itu terus tumbuh dari tahun ke tahun.

Di beberapa rumah, posisi duduk saat menonton Persib bahkan kadang tidak boleh berubah karena dianggap “membawa hoki”. Ada yang selalu menyiapkan kopi sebelum kick-off. Ada juga yang sengaja memakai jersey lama karena merasa Persib sering menang saat jersey itu dipakai.

Menjelang kick-off, suara sendok beradu dengan gelas kopi di warung kadang terdengar lebih ramai dari biasanya.

Kadang memang sesederhana itu.

Namun justru kebiasaan-kebiasaan kecil itulah yang membuat hubungan Bobotoh Sunda dengan Persib terasa sangat personal.

Dan semua itu terasa sangat khas Jawa Barat.

Persib Menggerakkan Ekonomi Jalanan Jawa Barat

Fenomena Persib ternyata tidak berhenti di stadion atau media sosial. Klub kebanggaan Jawa Barat itu juga ikut menggerakkan ekonomi kecil masyarakat.

Saat Persib trending, pedagang jersey mulai ramai. Tukang sablon kebanjiran pesanan kaus biru. Penjual kopi dan warung nasi dipenuhi penonton nobar. Bahkan pedagang bendera dadakan bermunculan di pinggir jalan.

Dan semua itu terjadi hampir otomatis.

Di beberapa sudut Kota Bandung, suara printer sablon kadang terus menyala hingga malam ketika Persib masuk fase penting kompetisi. Sementara di warung kopi kecil, kursi tambahan mulai dikeluarkan menjelang pertandingan malam.

Di beberapa gang, anak-anak kecil kadang ikut bermain bola sambil menyebut nama pemain Persib favorit mereka.

Tidak semua orang menyadari itu.

Padahal euforia Persib ikut menghidupkan banyak ekonomi kecil yang bergerak diam-diam di bawah.

Karena itu, bagi sebagian warga, Persib bukan hanya hiburan. Tetapi juga sumber penghasilan tambahan yang datang bersama antusiasme Bobotoh.

Persib Menjadi Ruang Pelarian Banyak Orang

Di tengah tekanan hidup, pekerjaan, dan rutinitas harian, banyak orang ternyata menjadikan Persib sebagai ruang pelarian emosional.

Ada buruh yang menunggu akhir pekan hanya untuk menonton Persib. Ada mahasiswa rantau yang merasa sedikit “pulang” ketika mendengar chant Bobotoh. Bahkan ada pula ayah dan anak yang jarang ngobrol panjang, tetapi bisa duduk bersama selama 90 menit demi menonton pertandingan.

Dan momen seperti itu terus berulang.

Di beberapa rumah, televisi ruang tamu bahkan sengaja tidak boleh diganti channel saat Persib bermain. Sementara ibu-ibu di dapur kadang ikut berteriak kesal ketika peluang emas gagal menjadi gol.

Lucunya, sebagian orang justru lebih emosional saat Persib kalah dibanding saat pekerjaan mereka sedang berat.

Bahkan ada yang lebih cepat tahu jadwal Persib dibanding jadwal rapat kantornya sendiri.

Tidak semua orang bisa menjelaskan perasaan itu.

Namun sepak bola memang sering bekerja bukan lewat logika, melainkan lewat rasa memiliki.

Persib memang sudah sejauh itu.

Bobotoh Sunda Membuat Persib Tetap Hidup di Mana Saja

Kekuatan terbesar Persib sebenarnya bukan hanya trofi atau pemain besar.

Tetapi loyalitas Bobotoh Sunda yang tetap hidup di mana saja.

Mulai dari kota besar hingga kampung kecil, warna biru Persib hampir selalu mudah ditemukan. Dari stiker motor, warung nasi, grup Facebook, sampai status WhatsApp keluarga.

Bahkan di beberapa daerah, anak-anak kecil sudah hafal chant Bobotoh sebelum mengenal nama klub luar negeri.

Dan itu terjadi secara alami.

Persib tumbuh bersama kehidupan masyarakat Jawa Barat.

Bukan hanya di stadion.

Tetapi juga di gang sempit, warung kopi, pos ronda, sampai ruang keluarga sederhana yang televisinya mulai dinyalakan sejak sore menjelang pertandingan.

Mungkin karena itu Persib terasa berbeda dibanding klub lain.

Karena yang hidup bukan cuma timnya.

Tetapi juga rasa kebersamaan orang-orang yang mendukungnya.

Pada akhirnya, Persib memang mungkin hanya sebuah klub sepak bola.

Tetapi bagi banyak Bobotoh Sunda, Persib sudah berubah menjadi bahasa yang sama di tengah perbedaan hidup sehari-hari.

Dan mungkin itulah alasan kenapa ketika Persib bermain, Jawa Barat terasa seperti ikut bernapas dalam irama yang sama. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wali Kota Tasikmalaya Kemenag

    Wali Kota Datang, Tiga KUA Langsung Ajukan Harapan

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 142
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Wali Kota Tasikmalaya Kemenag menjadi perhatian publik setelah kepala daerah itu menghadiri kegiatan di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tasikmalaya, Kamis (25/6/2026). Kehadiran tersebut bertepatan dengan peringatan 10 Muharam 1448 Hijriah melalui kegiatan Festival Pesan Inklusif dari Jiwa Anak untuk Negeri, sekaligus memunculkan harapan baru terhadap percepatan layanan keagamaan di Kota […]

  • Jaringan Narkoba NTB Terbongkar, Dugaan Suap Oknum Aparat Uji Integritas Penegak Hukum

    Jaringan Narkoba NTB dan Dugaan Suap Aparat Terkuak

    • calendar_month Sabtu, 28 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 185
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Kasus jaringan narkoba NTB kembali menjadi sorotan publik setelah aparat mengungkap dugaan suap yang menyeret oknum penegak hukum. Pengungkapan jaringan peredaran narkotika di Nusa Tenggara Barat itu tidak hanya membuka praktik bisnis ilegal, tetapi juga memunculkan indikasi aliran dana kepada aparat. Karena itu, isu integritas penegak hukum kini ikut menjadi perhatian […]

  • MBG Tasikmalaya

    MBG di Tasikmalaya Viral Lagi, Menu Diduga Berisi Ulat Bikin Publik Geram

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 189
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Program MBG Tasikmalaya atau Makan Bergizi Gratis kembali menjadi sorotan publik setelah video temuan ulat dalam menu makanan viral di media sosial, Selasa (19/5/2026). Hidangan yang diduga berasal dari program MBG di Desa Bojongkapol, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya, itu memicu kemarahan warga karena dianggap mencoreng program yang selama ini digadang-gadang untuk […]

  • korupsi dana desa

    Mantan Sekdes Sukaresik Diduga Selewengkan Dana Desa, Polisi Ungkap Kerugian Rp 706 Juta

    • calendar_month Rabu, 19 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Kasus korupsi dana desa Sukaresik menyeret eks Sekdes. Polisi ungkap modus pencairan fiktif dan kerugian Rp 706 juta. albadarpost.com, HUMANIORA – Penanganan kasus korupsi dana desa di Kabupaten Pangandaran kembali mencuat setelah penyidik Satreskrim menangkap mantan Sekretaris Desa Sukaresik, YS, 31 tahun. Ia diduga menyalahgunakan alokasi Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD) tahun […]

  • Tambang Ilegal Tasikmalaya

    ESDM Ungkap Fakta Tambang di Tasikmalaya, Ternyata Hanya Dua yang Berizin

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 140
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Di tengah berbagai sorotan mengenai aktivitas pertambangan, ESDM Wilayah VI Tasikmalaya membuka fakta yang cukup mengejutkan. Hingga saat ini, ternyata hanya ada dua perusahaan yang memiliki izin resmi untuk melakukan kegiatan pertambangan di Kota Tasikmalaya. Fakta tersebut memunculkan pertanyaan yang sering muncul di masyarakat. Jika proses perizinan tambang tidak dipungut biaya […]

  • Nobar Piala Dunia Tasikmalaya

    Piala Dunia Satukan Warga dan Polisi, Nobar di Polres Tasikmalaya Disambut Antusias

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 154
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Nobar Piala Dunia Tasikmalaya menjadi momen yang berbeda dari biasanya. Bukan hanya menghadirkan keseruan pertandingan sepak bola dunia, kegiatan nonton bareng atau nobar tersebut juga mempertemukan polisi, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat dalam satu ruang kebersamaan yang hangat dan penuh keakraban. Kegiatan yang berlangsung di Mapolres Tasikmalaya, Jalan Raya Mangunreja No. 01, […]

expand_less