Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » 174 Bencana di Tasikmalaya, Longsor Jadi Ancaman Paling Dominan

174 Bencana di Tasikmalaya, Longsor Jadi Ancaman Paling Dominan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 16 jam yang lalu
  • visibility 20
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

AlbadarPost.com | BERITA DAERAH — Data terbaru SIRENA BPBD Kabupaten Tasikmalaya menunjukkan bahwa risiko bencana Tasikmalaya masih menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Hingga 10 September 2026, tercatat 174 kejadian bencana dalam kategori data BPBD sejak Januari 2026.

Angka tersebut bukan jumlah kejadian dalam satu hari. Data itu merupakan akumulasi sejak awal tahun hingga 10 September 2026. Dari jumlah tersebut, tanah longsor menjadi kategori paling banyak dengan 89 kejadian, disusul cuaca ekstrem sebanyak 49 kejadian.

Dengan demikian, perhatian terhadap risiko bencana di Kabupaten Tasikmalaya tidak cukup hanya dilakukan ketika hujan turun atau ketika bencana sudah terjadi. Data tersebut juga menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi sejak sebelum kejadian.

174 Kejadian Bencana Sejak Januari

Rincian SIRENA BPBD Kabupaten Tasikmalaya memperlihatkan komposisi kejadian yang cukup beragam.

Dari 174 kejadian tersebut, tercatat:

  • 89 tanah longsor
  • 49 cuaca ekstrem
  • 18 kebakaran lahan
  • 8 banjir
  • 6 gerakan tanah

Tanah longsor menyumbang sekitar 51 persen dari seluruh kejadian dalam kategori tersebut. Sementara longsor dan cuaca ekstrem jika digabungkan mencapai sekitar 79 persen.

Angka ini memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai pola risiko bencana Tasikmalaya sepanjang periode tersebut.

Namun, data tersebut tidak serta-merta menjelaskan penyebab setiap kejadian. Karena itu, angka statistik perlu dibaca sebagai dasar untuk melihat pola risiko, bukan sebagai bukti tunggal mengenai penyebab maupun keberhasilan atau kegagalan penanganan bencana.

Longsor Menjadi Catatan Terbesar

Dari seluruh kategori yang dicatat BPBD, 89 kejadian tanah longsor menjadi angka paling menonjol.

Bagi wilayah yang memiliki kawasan dengan kondisi geografis rawan longsor, angka tersebut bukan sekadar statistik tahunan. Setiap kejadian dapat membawa konsekuensi berbeda, mulai dari akses jalan terganggu hingga kerusakan rumah, lahan, fasilitas umum, maupun aktivitas ekonomi masyarakat.

Karena itu, persoalan longsor seharusnya tidak hanya dilihat dari seberapa cepat petugas datang setelah material menutup jalan.

Pertanyaan yang lebih jauh adalah: seberapa kuat sistem pencegahan bekerja sebelum longsor terjadi?

Pemetaan titik rawan, penyebaran informasi peringatan dini, kesiapan masyarakat, pengawasan kawasan rawan, hingga respons pemerintah desa menjadi bagian yang tidak kalah penting.

Cuaca Ekstrem Juga Mendominasi

Setelah longsor, cuaca ekstrem dengan 49 kejadian menjadi kategori terbesar kedua.

Jika dua kategori tersebut digabungkan, jumlahnya mencapai 138 kejadian atau sekitar 79 persen dari 174 kejadian yang dicatat dalam data BPBD.

Artinya, sebagian besar kejadian dalam dataset tersebut berkaitan dengan fenomena yang sangat dipengaruhi kondisi cuaca dan lingkungan.

Tetapi ada satu hal yang perlu dibedakan.

Prakiraan cuaca pada 10 September bukanlah data penyebab dari 89 longsor tersebut.

Laporan harian SIRENA pada 10 September mencatat kondisi cuaca berawan dengan potensi hujan ringan pada siang hingga sore hari. Informasi itu merupakan gambaran kondisi/prakiraan pada hari tersebut, sementara 89 longsor merupakan akumulasi kejadian sejak Januari hingga 10 September.

Pemisahan konteks tersebut penting agar pembaca tidak keliru membaca data.

Kerugian Mencapai Miliaran Rupiah

SIRENA BPBD juga mencatat taksiran kerugian sekitar Rp2,448 miliar untuk kategori data bencana tersebut.

Di sisi lain, SIRENA menampilkan cakupan laporan yang lebih luas dengan melibatkan data BPBD dan Damkar. Dalam cakupan tersebut terdapat 459 laporan kejadian dengan taksiran kerugian sekitar Rp6,302 miliar.

Kedua angka tersebut tidak boleh diperlakukan sebagai satu dataset yang sama. Perbedaan cakupan perlu dijelaskan agar pembaca tidak menyimpulkan bahwa Rp6,302 miliar merupakan kerugian dari 174 kejadian bencana saja.

Bagi pemerintah daerah, perbedaan data seperti ini juga menunjukkan pentingnya integrasi dan konsistensi informasi kebencanaan. Data bukan hanya dibutuhkan untuk laporan, tetapi menjadi dasar menentukan prioritas mitigasi dan penggunaan sumber daya.

Pertanyaan Besarnya: Seberapa Siap Tasikmalaya?

Di sinilah angka 174 kejadian seharusnya tidak berhenti sebagai infografis.

Data bencana Tasikmalaya memperlihatkan bahwa kejadian dapat muncul berulang dengan karakter yang berbeda. Karena itu, ukuran kesiapsiagaan tidak semata-mata terletak pada kemampuan menangani keadaan darurat.

Ada pertanyaan yang lebih mendasar.

Apakah warga di kawasan rawan mengetahui risiko wilayahnya? Apakah informasi peringatan dini benar-benar sampai kepada masyarakat? Apakah jalur evakuasi tersedia dan diketahui? Apakah infrastruktur di kawasan rawan telah mendapatkan perhatian yang memadai?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena penanggulangan bencana idealnya tidak dimulai ketika tanah sudah bergerak atau air sudah memasuki rumah.

Dokumen kinerja BPBD Kabupaten Tasikmalaya juga menempatkan kesiapsiagaan dan peningkatan kapasitas penanggulangan bencana sebagai bagian penting dalam menghadapi wilayah yang memiliki potensi berbagai jenis bencana.

Dengan kata lain, data kejadian seharusnya menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pencegahan.

Bencana Tidak Mengenal Kalender

Data hingga 10 September bukan ramalan mengenai apa yang akan terjadi setelah tanggal tersebut. Namun, angka tersebut memberikan satu sinyal yang sulit diabaikan: risiko bencana merupakan persoalan yang harus dihadapi secara berkelanjutan.

Hujan hari ini belum tentu menimbulkan longsor. Sebaliknya, kondisi yang terlihat biasa juga tidak otomatis berarti seluruh wilayah aman.

Karena itu, masyarakat perlu mengikuti informasi resmi kebencanaan dan cuaca, terutama ketika berada atau beraktivitas di kawasan yang memiliki potensi longsor, banjir, maupun dampak cuaca ekstrem.

Sementara bagi pemerintah daerah, data 174 kejadian dapat menjadi salah satu bahan untuk melihat kembali titik rawan, kesiapan masyarakat, infrastruktur, sistem peringatan dini, serta efektivitas mitigasi.

Pada akhirnya, 174 kejadian bukan sekadar angka dalam dashboard. Angka itu adalah catatan tentang risiko yang sudah terjadi. Tantangan berikutnya bukan hanya bagaimana Tasikmalaya bergerak cepat setelah bencana datang, tetapi bagaimana risiko tersebut dapat dikurangi sebelum menjadi korban, kerusakan, dan kerugian berikutnya. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pilkades Sumedang 2026

    Pilkades Sumedang 2026, Mayoritas TPS Masih Manual

    • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 106
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pilkades Sumedang 2026 mulai memasuki era e-voting atau Pilkades digital. Namun, perubahan itu belum berlangsung sepenuhnya. Dari total 430 tempat pemungutan suara (TPS) yang disiapkan, sebanyak 337 TPS masih menggunakan sistem manual, sedangkan 93 TPS akan memanfaatkan pemungutan suara elektronik. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi pemilihan kepala desa di Kabupaten Sumedang […]

  • ornamen kujang

    Revitalisasi Tugu Pancakarsa Berubah, Ornamen Kujang Jadi Sorotan

    • calendar_month Selasa, 9 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 247
    • 0Komentar

    Revitalisasi Tugu Pancakarsa memicu polemik setelah perubahan ornamen kujang dianggap menggeser identitas visual Kabupaten Bogor. albadarpost.com, LENSA – Perubahan bentuk dan tampilan ornamen kujang pada Tugu Pancakarsa memantik sorotan publik dalam beberapa hari terakhir. Tugu yang berada di kawasan Sentul itu sebelumnya dikenal sebagai simbol yang merepresentasikan identitas Kabupaten Bogor. Setelah dilakukan revitalisasi oleh Pemerintah […]

  • AI dalam Islam

    AI Menjawab Soal Agama, Bolehkah Dipercaya?

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 72
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Di tengah pesatnya AI dalam Islam, semakin banyak orang memakai kecerdasan buatan untuk mencari jawaban tentang salat, puasa, zakat, waris, pernikahan, hingga persoalan halal dan haram. Dengan beberapa kalimat, seseorang dapat meminta AI menjelaskan ayat Al-Qur’an, hadis, pendapat ulama, bahkan persoalan fikih yang sangat pribadi. Namun, satu pertanyaan penting segera muncul: bolehkah […]

  • modal usaha UMKM

    Modal Usaha UMKM Tanpa Bank, Ternyata Ini Caranya

    • calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 237
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Banyak pelaku usaha kecil mengira modal usaha UMKM hanya bisa didapat dari pinjaman bank atau koperasi. Padahal, ada banyak cara mencari modal usaha, tambahan dana bisnis, dan sumber pendanaan UMKM yang justru lebih ringan, cepat, dan minim risiko. Sayangnya, cara-cara ini jarang dibahas media sehingga banyak pelaku usaha terjebak pada utang berbunga […]

  • Ilustrasi peta dunia gelap dengan simbol krisis global 2026, konflik geopolitik, dan gangguan ekonomi internasional.

    Dunia di Ambang Krisis Global, Ini Fakta yang Jarang Disadari

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 275
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Krisis global 2026 mulai menunjukkan pola yang tidak bisa diabaikan. Krisis dunia, ketegangan geopolitik, hingga ancaman ekonomi global kini saling terhubung dan bergerak cepat. Konflik di Gaza Strip, perang di Ukraina, serta rivalitas antara Amerika Serikat dan China memperlihatkan satu pola besar: dunia sedang bergerak menuju krisis berlapis. Lebih dari itu, redaksi […]

  • Laziiz Tasikmalaya

    Laziiz Tasikmalaya Dorong Camilan Desa Naik Kelas

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 282
    • 0Komentar

    Laziiz Tasikmalaya mengembangkan camilan desa berstandar halal dan PIRT dengan dampak ekonomi lokal. albadarpost.com, BERITA DAERAH – Di tengah persaingan industri makanan ringan yang semakin padat, konsumen kini tidak hanya mencari rasa. Mereka menuntut keamanan pangan, konsistensi mutu, dan dampak sosial yang nyata. Di Tasikmalaya, Laziiz Tasikmalaya hadir menjawab kebutuhan itu melalui camilan berbasis desa […]

expand_less