Pemadaman Listrik Ganggu Acara Sekolah, Kepala PPI Gandok Protes
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kepala Sekolah Pesantren Persatuan Islam PPI 383 Gandok Arif Ripandi saat ditemui, Sabtu (20/6/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Keluhan mengenai pemadaman listrik sekolah kembali mencuat. Jadwal pemadaman PLN yang terjadi tanpa pemberitahuan lebih awal dinilai mengganggu persiapan acara akhir tahun sejumlah lembaga pendidikan. Selain itu, listrik padam mendadak juga memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran kegiatan perpisahan dan berbagai agenda madrasah yang sudah disusun jauh hari.
Sabtu (20/6/2026), Kepala Sekolah Pesantren Persatuan Islam (PPI) 383 Gandok, Arif Ripandi, mengaku prihatin atas pemadaman yang terjadi ketika sejumlah sekolah tengah memasuki masa paling sibuk menjelang penutupan tahun ajaran.
Menurutnya, perawatan jaringan merupakan hal yang penting. Namun, waktu pelaksanaannya perlu mempertimbangkan kebutuhan masyarakat, khususnya dunia pendidikan.
“Kami menghargai perawatan jaringan. Akan tetapi, akhir bulan ini merupakan puncak kegiatan sekolah. Ada harlah, akhirul hasanah, tasyakur tahunan hingga pagelaran. Karena itu, kami berharap jadwal pemadaman bisa ditinjau ulang,” kata Arif.
Tiga Sekolah Tengah Memasuki Puncak Kegiatan
Arif menjelaskan, sedikitnya tiga sekolah di wilayah tersebut sedang mempersiapkan kegiatan tahunan yang melibatkan banyak pihak. Ketiga sekolah itu berada di Cibunigeulis, Bungursari, dan Sukalaksana.
Di tengah suasana akhir tahun ajaran, para guru dan panitia sibuk menata panggung, memeriksa perangkat multimedia, serta memastikan sistem suara berfungsi dengan baik. Sebagian siswa juga tengah berlatih penampilan yang akan ditampilkan pada acara perpisahan.
Karena itu, kebutuhan listrik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh rangkaian kegiatan.
Menurut Arif, apabila informasi pemadaman diumumkan lebih awal, sekolah masih memiliki kesempatan untuk melakukan penyesuaian waktu maupun menyiapkan langkah alternatif.
“Kalau ada jadwal yang jelas, sekolah tentu bisa menyesuaikan. Meski pemadaman bergilir, setidaknya kami dapat mempersiapkan segala sesuatunya lebih baik,” ujarnya.
Workshop Multimedia dan Peresmian Taman Al-Qur’an Ikut Menjadi Sorotan
Situasi tersebut semakin mendapat perhatian karena sejumlah agenda penting dijadwalkan berlangsung dalam waktu yang berdekatan.
Selain kegiatan akhir tahun, terdapat pula peresmian Taman Al-Qur’an serta workshop multimedia yang rencananya dihadiri Wakil Wali Kota Tasikmalaya.
Momentum tersebut, menurut Arif, menjadi bagian penting bagi sekolah dan masyarakat sekitar. Oleh sebab itu, ia berharap layanan kelistrikan dapat mendukung terselenggaranya kegiatan secara khidmat.
“Anak-anak sudah mempersiapkan diri. Kami berharap kegiatan akhir tahun dapat berjalan dengan baik. Mudah-mudahan jadwal pemadaman bisa dikaji kembali,” katanya.
Harapan Agar Jadwal Pemadaman Lebih Terukur
Di sisi lain, Arif menilai komunikasi yang lebih terbuka antara penyedia layanan listrik dan masyarakat akan membantu mengurangi dampak yang muncul.
Ia berharap informasi mengenai pemeliharaan jaringan dapat disampaikan lebih awal melalui media sosial maupun saluran informasi lainnya sehingga masyarakat memiliki waktu untuk beradaptasi.
Apalagi, akhir Juni identik dengan berbagai kegiatan pendidikan, mulai dari perpisahan, pentas seni, hingga acara tasyakur yang melibatkan siswa, guru, orang tua, dan masyarakat sekitar.
Dengan adanya jadwal yang lebih terukur, sekolah dapat menyusun ulang rangkaian acara tanpa harus menghadapi ketidakpastian.
Pendidikan Membutuhkan Kepastian Layanan
Listrik bukan hanya kebutuhan rumah tangga. Di era digital, hampir seluruh aktivitas pendidikan bergantung pada perangkat elektronik, mulai dari sistem suara, proyektor, multimedia, hingga pencahayaan.
Karena itu, keberadaan layanan yang stabil dan komunikasi yang baik menjadi faktor penting agar kegiatan belajar maupun agenda sekolah dapat berlangsung tanpa hambatan.
Harapan yang disampaikan pihak sekolah pada dasarnya bukan untuk menolak pemeliharaan jaringan. Sebaliknya, mereka berharap perawatan tetap berjalan, namun dilakukan dengan memperhatikan momentum penting yang sedang dihadapi dunia pendidikan.
Anak-anak hanya memiliki satu momen perpisahan dalam hidupnya. Karena itu, ketika panggung sudah disiapkan dan harapan sudah dirangkai, yang mereka butuhkan bukan sekadar aliran listrik, melainkan kepastian agar kenangan terbaik itu tidak padam sebelum waktunya. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar