Tak Lagi Jual Mentah, Produk Pangan Lokal Garut Mulai Jadi Andalan
- account_circle redaktur
- calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
- visibility 15
- comment 0 komentar
- print Cetak

Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, meninjau langsung pelaksanaan Gerakan Pangan Murah serentak yang digelar di halaman Kantor Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Garut, Jalan Terusan Pahlawan, Tarogong Kidul, Jumat (22/5/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kabupaten Garut kali ini tidak hanya berbicara soal harga sembako murah menjelang Idul Adha. Di balik keramaian warga yang berburu minyak goreng, telur, hingga daging ayam dengan harga terjangkau, muncul pesan yang jauh lebih besar: produk lokal Garut mulai didorong naik kelas.
Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, melihat langsung bagaimana pelaku usaha pangan lokal kini mulai bertransformasi. Mereka tidak lagi sekadar menjual hasil panen mentah. Sebagian mulai mengolah produknya menjadi barang bernilai tambah seperti minyak bawang, olahan cabai, hingga produk peternakan siap jual.
Dan perubahan itu terlihat nyata di lapangan.
Di beberapa stan, warga terlihat memegang kantong belanja sambil membandingkan harga minyak goreng dengan harga di warung sekitar rumah mereka. Sementara di sisi lain, beberapa ibu-ibu tampak sibuk menanyakan daya tahan produk bawang olahan kepada penjual.
Suasananya ramai. Tetapi tetap terasa dekat.
GPM Garut Jadi Ruang Pertemuan Warga dan Pelaku Usaha Lokal
Pelaksanaan GPM serentak yang berlangsung di halaman Kantor Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Garut, Jalan Terusan Pahlawan, Kecamatan Tarogong Kidul, Jumat (22/5/2026), memang dipadati masyarakat sejak pagi.
Namun menariknya, perhatian Bupati Garut justru tertuju pada potensi besar pangan olahan lokal.
Ia mengaku terinspirasi melihat para petani dan pelaku usaha kecil mulai berani mengembangkan produk turunan dari komoditas mereka sendiri.
“Saya lihat ada beberapa petani yang sudah maju bukan hanya sekadar menjual komoditi tapi juga produk olahan,” ujar Abdusy Syakur Amin.
Karena itu, ia ingin program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke depan lebih banyak menyerap produk lokal sesuai ketentuan yang berlaku.
Langkah itu dinilai penting. Sebab selama ini banyak hasil pertanian lokal berhenti hanya sebagai bahan mentah tanpa nilai tambah yang kuat di pasaran.
Padahal Garut memiliki potensi besar.
Mulai dari produk hortikultura, peternakan, sampai pangan olahan rumahan.
Produk Lokal Garut Dinilai Punya Peluang Besar Jadi Oleh-Oleh Khas
Selain mendorong penyerapan produk lokal ke program MBG, Bupati Garut juga meminta promosi diperkuat, baik secara daring maupun luring.
Ia bahkan menginstruksikan dinas terkait agar setiap event besar di Garut menyediakan gerai khusus untuk produk pangan olahan lokal.
Tujuannya sederhana: masyarakat bisa lebih mudah mengenal dan membeli produk khas daerah.
Aneh, tapi nyata.
Banyak warga Garut justru sering membeli oleh-oleh luar daerah saat bepergian, sementara produk olahan lokal di daerah sendiri belum sepenuhnya dikenal luas.
Karena itu, promosi dianggap menjadi pekerjaan besar berikutnya.
Di area GPM, beberapa produk pangan olahan terlihat mulai dikemas lebih modern. Ada yang menggunakan standing pouch. Ada juga yang sudah mencantumkan label merek sederhana lengkap dengan nomor kontak penjual.
Detail-detail kecil seperti itu mulai menunjukkan perubahan.

Bupati Garut dorong produk lokal Garut masuk program MBG. Pelaku usaha pangan olahan mulai naik kelas jelang Idul Adha, Jumat (22/5/2026).
Harga Pangan Murah Jadi Daya Tarik Utama Menjelang Idul Adha
Selain promosi produk lokal, masyarakat juga memanfaatkan GPM untuk mendapatkan bahan pokok dengan harga di bawah pasar.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Garut, Yani Yuliani, menjelaskan pihaknya rutin menyiapkan sekitar 3,5 ton komoditas pangan dalam kegiatan tersebut.
Harga yang ditawarkan juga cukup menarik:
- tepung terigu Rp11.000,
- gula pasir Rp18.000,
- telur ayam ras Rp27.000,
- daging ayam ras Rp35.000,
- minyak goreng Rp19.000,
- beras premium Rp15.000/kg.
Menurut Yani, seluruh harga tetap mengikuti ketentuan dan tidak boleh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).
Karena itu, warga terlihat cukup antusias.
Beberapa pengunjung bahkan datang sambil membawa tas belanja besar dari rumah. Ada juga yang langsung memotret daftar harga menggunakan ponsel lalu mengirimkannya ke grup keluarga.
Kadang memang sesederhana itu.
Menjelang Idul Adha, selisih harga beberapa ribu rupiah tetap terasa berarti bagi banyak keluarga.
Bupati Garut Ingatkan Pentingnya Kekompakan Program MBG
Di sisi lain, Abdusy Syakur Amin juga mengingatkan pentingnya komunikasi dan kerja sama antar pemangku kepentingan dalam program MBG.
Ia meminta seluruh pihak menjaga pasokan, distribusi, hingga keamanan pangan agar program berjalan lebih baik ke depan.
Menurutnya, dinamika di lapangan merupakan hal biasa. Namun kekompakan tetap menjadi kunci utama.
Pernyataan itu muncul di tengah perhatian publik terhadap kesiapan distribusi pangan dan keberlanjutan program MBG di berbagai daerah.
Karena itu, keterlibatan pelaku usaha lokal dianggap bisa menjadi salah satu solusi jangka panjang yang lebih kuat.
Bukan hanya membantu ekonomi warga.
Tetapi juga membangun rantai pangan daerah yang lebih mandiri.
Gerakan Pangan Murah di Garut akhirnya terasa bukan sekadar soal sembako murah menjelang hari raya.
Di balik antrean minyak goreng, telur, dan beras, ada harapan baru yang mulai tumbuh perlahan.
Bahwa suatu hari nanti, petani dan pelaku usaha kecil Garut mungkin tidak lagi dikenal hanya karena hasil panennya.
Tetapi karena produk lokalnya benar-benar mampu berdiri di rak pasar modern, masuk program nasional, dan dibawa pulang orang sebagai kebanggaan daerahnya sendiri. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar