Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Kaget Saat Masalah Datang? Dunia Memang Diciptakan untuk Menguji

Kaget Saat Masalah Datang? Dunia Memang Diciptakan untuk Menguji

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
  • visibility 145
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI – Pagi itu seorang pedagang membuka rolling door kiosnya setengah badan. Cat biru di bagian bawah pintu sudah mulai mengelupas. Di tangannya ada secangkir kopi yang tinggal separuh. Sesekali ia melihat jalan yang masih lengang sambil mengecek layar ponselnya.

Belum ada pesanan masuk.

Belum ada kabar baik.

Namun tagihan tetap ada.

Mungkin itulah gambaran kecil dari sesuatu yang sering dilupakan manusia: dunia memang tidak pernah menjanjikan kemudahan.

Imam Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam menulis:

“Jangan heran atas terjadinya kesukaran-kesukaran selama engkau masih di dunia ini, sebab ia tidak melahirkan kecuali yang layak menjadi sifatnya.”

Kalimat itu terasa sederhana. Tetapi semakin bertambah usia seseorang, semakin terasa pula kebenarannya.

Sebab banyak kekecewaan lahir bukan karena hidup terlalu kejam.

Melainkan karena kita diam-diam berharap dunia bersikap seperti surga.

Kita Marah pada Sesuatu yang Memang Sudah Menjadi Sifat Dunia

Di media sosial, hampir setiap hari muncul unggahan tentang kelelahan hidup.

Ada yang mengeluhkan usaha yang sepi.

Ada yang mengeluhkan pekerjaan yang terlalu banyak.

Dan ada yang merasa tertinggal karena teman-temannya sudah membeli rumah.

Serta ada pula yang merasa gagal hanya karena belum mencapai target usia tiga puluh tahun yang ia susun sendiri beberapa tahun lalu.

Menariknya, keluhan itu datang dari berbagai lapisan kehidupan.

Yang belum menikah merasa gelisah.

Yang sudah menikah punya kegelisahan baru.

Dan yang belum punya pekerjaan merasa tertekan.

Serta yang punya pekerjaan sering merasa kelelahan.

Seolah-olah manusia sedang berlari menuju sebuah tempat yang bahkan tidak pernah benar-benar ada.

Di sebuah warung kopi pinggir jalan, misalnya, obrolan tentang harga kebutuhan pokok sering terdengar lebih keras dibanding suara sendok yang beradu dengan gelas. Tidak jauh berbeda dengan percakapan di ruang kantor berpendingin udara. Topiknya berubah, tetapi keresahannya hampir sama.

Manusia selalu menemukan alasan baru untuk khawatir.

Salah Alamat Ketika Menagih Kebahagiaan

Ja’far Ash-Shadiq pernah berkata bahwa orang yang meminta sesuatu yang memang tidak Allah jadikan di dunia hanya akan melelahkan dirinya.

Ketika ditanya apa itu, beliau menjawab:

“Kesenangan di dunia.”

Kalimat ini sering disalahpahami.

Bukan berarti Islam melarang bahagia.

Bukan pula berarti hidup harus muram.

Yang dimaksud adalah jangan berharap kebahagiaan sempurna menetap di tempat yang memang diciptakan sebagai ruang ujian.

Lihat saja kehidupan sehari-hari.

Ada seseorang yang bertahun-tahun bermimpi membeli kendaraan baru. Ketika kendaraan itu akhirnya terparkir di halaman rumah, rasa senangnya bertahan beberapa minggu. Setelah itu muncul cicilan, biaya perawatan, dan keinginan memiliki model yang lebih baru.

Begitulah dunia bekerja.

Ia memberi sambil menguji.

Ia menghibur sambil mengingatkan.

Kadang pelan. Kadang keras.

Dunia Adalah Ruang Ujian Bersama

Abdullah bin Mas’ud ra. berkata bahwa dunia adalah kerisauan dan duka cita. Jika terdapat kesenangan di dalamnya, maka itulah keuntungan.

Pandangan ini terasa asing bagi manusia modern yang terbiasa mengukur hidup dari kenyamanan.

Padahal Al-Qur’an sudah memberikan peringatan yang sangat jelas:

“Sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Karena itu, kehilangan pekerjaan bukan berarti hidup gagal.

Usaha yang turun bukan berarti Allah meninggalkan.

Anak yang sakit bukan selalu tanda murka.

Kadang itu hanya bagian dari perjalanan yang memang harus dilalui.

Di beberapa masjid kampung, masih ada jamaah yang datang dengan ujung celana basah karena baru selesai dari sawah. Ada pula yang memarkir motor tuanya lalu berjalan cepat menuju saf terakhir ketika iqamah hampir selesai dikumandangkan.

Mereka juga punya masalah.

Mereka juga punya beban.

Namun mereka tetap datang.

Ada sesuatu yang tenang dalam cara mereka menjalani hidup.

Manusia Sering Berdoa Meminta Sabar, Tetapi Menolak Bentuknya

Inilah ironi yang sering terjadi.

Kita meminta kesabaran dalam doa.

Namun ketika kesabaran datang dalam bentuk ujian, kita menganggap doa itu tidak dikabulkan.

Kita meminta kedekatan dengan Allah.

Lalu kecewa ketika jalan menuju kedekatan itu harus melewati air mata.

Anehnya lagi, manusia sering merasa Allah jauh justru ketika Allah sedang paling dekat melalui ujian yang mendewasakannya.

Tidak semua orang siap menerima kenyataan seperti ini.

Wajar.

Kadang memang melelahkan.

Sangat melelahkan.

Jangan Menuntut Dunia Menjadi Surga

Junaid Al-Baghdadi berkata bahwa dirinya tidak heran ketika kesulitan datang karena sejak awal ia memahami bahwa dunia adalah tempat ujian.

Barangkali di sinilah letak kebebasan yang sebenarnya.

Ketika seseorang berhenti menuntut dunia untuk selalu menyenangkan dirinya.

Ketika ia tidak lagi menganggap setiap kesulitan sebagai kesalahan sistem.

Dan ketika ia memahami bahwa kehilangan, penantian, kegagalan, kesedihan, dan ketidakpastian adalah bagian dari kurikulum kehidupan.

Maka perlahan ia akan lebih tenang.

Bukan karena masalahnya hilang.

Tetapi karena ia tidak lagi bertengkar dengan kenyataan.

Suatu hari nanti, ketika umur sudah sampai di ujungnya, mungkin kita akan sadar bahwa hampir semua hal yang dulu membuat kita panik ternyata tidak ikut masuk ke liang kubur.

Jabatan tertinggal.

Rumah tertinggal.

Kendaraan tertinggal.

Rekening tertinggal.

Yang ikut hanyalah amal, sabar, dan cara kita menjalani ujian.

Karena itu, jangan terlalu marah ketika dunia menunjukkan wajah aslinya.

Yang mengejutkan bukanlah banyaknya kesulitan.

Yang mengejutkan adalah kita masih berharap dunia menjadi surga, padahal Allah tidak pernah menjanjikannya.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • takdir Allah

    Takdir Allah Menentukan Ikhtiar, Ulama Ingatkan Batas Kehendak

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 163
    • 0Komentar

    Takdir Allah SWT membatasi kehendak manusia. Ulama menegaskan ikhtiar wajib, hasil tetap ditentukan Tuhan. albadarpost.com, LIFESTYLE – Keyakinan bahwa manusia bebas menentukan nasibnya kembali ditegaskan memiliki batas. Ulama mengingatkan, sekuat apa pun ikhtiar dilakukan, hasil akhirnya tetap berada dalam ketentuan takdir Allah Swt. Pemahaman ini dinilai penting agar masyarakat tidak terjebak pada ambisi berlebihan yang […]

  • Program MBG

    Sidang MK Ungkap Fakta MBG di Sekolah

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 75
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Program MBG atau Program Makan Bergizi Gratis kembali menjadi perhatian publik setelah sejumlah ahli, akademisi, pakar gizi, dan kepala sekolah menyampaikan pandangan mereka dalam sidang uji materi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) dan UU APBN 2026 di Mahkamah Konstitusi (MK), Rabu (1/7/2026). Pembahasan kali ini tidak hanya menyentuh aspek hukum, […]

  • pengorbanan khadijah

    Semua Orang Bicara Nabi, Tapi Sedikit yang Tahu Cinta Khadijah

    • calendar_month Selasa, 24 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 144
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI. Nama Khadijah binti Khuwaylid sering diceritakan, tetapi pengorbanan Khadijah yang sebenarnya justru jarang disentuh. Banyak orang mengenal kehebatan Nabi Muhammad, namun tidak semua menyadari bahwa di belakang beliau, ada seorang wanita yang memilih bertahan ketika dunia memilih pergi. Saat orang-orang mencaci, Khadijah tetap percaya. Ketika banyak yang meragukan, ia justru menguatkan. Oleh karena […]

  • HANI Tasikmalaya 2026

    HANI Tasikmalaya 2026, Perang Narkoba Dimulai dari Rumah

    • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 76
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – HANI Tasikmalaya 2026 menjadi lebih dari sekadar peringatan tahunan. Ribuan warga memadati Alun-Alun Dadaha, Minggu (5/7/2026), untuk menyuarakan komitmen bersama dalam perang melawan narkoba. Melalui kampanye Hari Anti Narkotika Internasional (HANI), seluruh elemen masyarakat diajak memperkuat ketahanan keluarga sebagai langkah awal membangun generasi sehat, cerdas, dan kuat menuju Indonesia Emas 2045. […]

  • brand UMKM

    Rahasia Brand UMKM Cepat Dikenal, Nomor 3 Paling Ampuh

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 177
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Membangun brand UMKM yang kuat kini menjadi kunci utama untuk bertahan di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat. Brand UMKM, citra usaha kecil, hingga identitas bisnis lokal harus dikelola secara strategis agar mudah dikenali dan diingat konsumen. Karena itu, pelaku usaha perlu memahami cara memperkuat branding UMKM secara konsisten, relevan, dan adaptif […]

  • Larangan Junub

    Sudah Mandi Wajib? Jangan Lakukan 6 Hal Ini Saat Masih Junub

    • calendar_month Senin, 8 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 106
    • 0Komentar

    AlbadarPost.com, HIKMAH — Larangan junub merupakan salah satu pembahasan fikih dasar yang diajarkan dalam kitab Safinatun Najah. Meski demikian, masih banyak umat Islam yang belum memahami secara utuh aktivitas apa saja yang tidak boleh dilakukan ketika berada dalam keadaan junub atau hadas besar. Padahal, hukum junub bukan hanya berkaitan dengan mandi wajib. Dalam fikih Islam, […]

expand_less