Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Doa Iftitah: Cara Mendekat kepada Allah Sebelum Meminta

Doa Iftitah: Cara Mendekat kepada Allah Sebelum Meminta

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 2 Jun 2026
  • visibility 217
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Ada satu kalimat yang hampir setiap hari keluar dari bibir jutaan muslim saat salat.

Kalimat itu bukan permintaan rezeki.

Bukan pula doa agar urusan hidup dipermudah.

Justru sebaliknya.

Kalimat itu adalah pernyataan arah hati.

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh ketulusan dan kepasrahan, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.”

Doa iftitah “Wajjahtu Wajhiya” sering dibaca begitu saja. Padahal, di balik kalimat tersebut tersimpan pelajaran besar tentang bagaimana seorang hamba mendatangi Allah sebelum menyampaikan apa pun.

Bukan meminta.

Bukan mengeluh.

Melainkan datang terlebih dahulu.

Beberapa Detik Sebelum Al-Fatihah

Coba perhatikan suasana masjid beberapa detik setelah takbiratul ihram.

Di sebagian masjid kampung, suara kipas tua kadang masih terdengar berdecit pelan dari langit-langit. Tidak keras. Namun cukup terdengar saat suasana mulai hening.

Ada jamaah yang buru-buru merapikan posisi sarungnya.

Ada yang baru sadar ponselnya masih bergetar di saku.

Bahkan sesekali ada yang menepuk dahinya pelan karena baru ingat peci yang biasa dipakai ternyata masih tertinggal di motor.

Lalu semuanya kembali tenang.

Imam mulai membaca.

Dan pada saat itulah sebagian besar jamaah melafalkan:

“Wajjahtu wajhiya…”

Kalimat yang sederhana. Namun sesungguhnya sangat besar.

Karena yang dihadapkan kepada Allah bukan hanya wajah.

Melainkan seluruh arah hidup.

Sebelum Meminta, Rasulullah Mengajarkan Kita untuk Menghadap

Menariknya, doa iftitah tidak dimulai dengan permintaan.

Padahal manusia biasanya datang kepada Tuhan saat membutuhkan sesuatu.

Saat sakit.

Saat terdesak.

Dan saat kehilangan pekerjaan.

Serta saat anak sedang menghadapi masalah.

Namun Rasulullah SAW mengajarkan sesuatu yang berbeda.

Sebelum meminta, hadapkan dulu hati kepada Allah.

Sebelum mengeluh, datang dulu kepada-Nya.

Dan sebelum menyebut kebutuhan dunia, akui dulu siapa yang menguasai dunia itu.

Ada adab yang sangat halus di dalamnya.

Seperti seorang anak yang mendatangi ayahnya bukan untuk langsung meminta sesuatu, tetapi terlebih dahulu duduk di dekatnya.

Hanya ingin dekat.

Hanya ingin hadir.

Tidak Semua Orang Langsung Memahami Maknanya

Banyak muslim menghafal doa iftitah sejak kecil.

Sebagian belajar di madrasah.

Sebagian dari orang tua.

Dan sebagian lagi dari guru mengaji di surau kampung.

Namun tidak semua langsung memahami maknanya.

Ada yang baru tersentuh ketika menghadapi ujian hidup.

Ada yang baru benar-benar membaca terjemahannya setelah dewasa.

Bahkan tidak sedikit yang masih terbata-bata membaca doa iftitah karena hafalannya bercampur dengan versi lain yang pernah dipelajari bertahun-tahun lalu.

Dan itu sangat manusiawi.

Perjalanan memahami agama memang tidak selalu berlangsung dalam satu waktu yang sama.

Deklarasi Cinta Seorang Hamba

Setelah membaca “Wajjahtu Wajhiya”, doa iftitah berlanjut dengan kalimat yang sangat menyentuh:

إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

(QS. Al-An’am: 162)

Kalimat ini terasa seperti sebuah pengakuan.

Bukan pengakuan kepada manusia.

Tetapi kepada Allah.

Seorang hamba berdiri dalam salat lalu berkata:

“Ya Allah, hidupku milik-Mu.”

“Matiku milik-Mu.”

“Semua yang aku jalani akan kembali kepada-Mu.”

Kalimat itu mungkin hanya dibaca beberapa detik.

Namun maknanya bisa menemani seseorang sepanjang hidup.

Ketika Hati Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Jujur saja.

Tidak semua salat dimulai dengan hati yang tenang.

Ada yang datang ke masjid sambil memikirkan tagihan.

Dan ada yang masih memikirkan usaha yang sepi.

Serta ada yang baru selesai bertengkar dengan pasangan.

Ada pula yang tersenyum di hadapan banyak orang, tetapi sebenarnya sedang menyimpan kesedihan yang tidak diketahui siapa pun.

Manusia memang seperti itu.

Kadang kuat.

Kadang lelah.

Dan kadang yakin.

Serta kadang bingung.

Dan mungkin karena itulah doa iftitah ditempatkan di awal salat.

Seolah-olah Allah memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk mengatur ulang arah hati sebelum melangkah lebih jauh.

Bukan untuk menjadi sempurna.

Tetapi untuk kembali.

Kalimat yang Mengubah Arah Hidup

Ketika seorang muslim mengucapkan:

“Wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardh…”

sesungguhnya ia sedang mengingat kembali tujuan hidupnya.

Bahwa ada Dzat yang menciptakan langit dan bumi.

Ada Dzat yang mengatur takdir.

Ada Dzat yang mengetahui isi hati bahkan sebelum diucapkan.

Dan kepada Dzat itulah seluruh perjalanan hidup akan bermuara.

Suatu hari nanti kita mungkin lupa berapa banyak doa yang pernah kita panjatkan. Kita mungkin lupa berapa kali meminta rezeki, kesehatan, atau kemudahan hidup. Namun semoga kita tidak pernah lupa satu kalimat yang mengajarkan ke mana hati harus pulang: “Wajjahtu wajhiya…” Aku menghadapkan wajahku kepada-Mu, ya Allah. Karena pada akhirnya, bukan semua doa yang membuat manusia tenang. Kadang yang paling menenangkan justru kesadaran bahwa kita masih tahu ke mana harus kembali. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • kasus perundungan Tangsel

    Dinas Pendidikan Tangsel Evaluasi Kasus Perundungan yang Berujung Kematian Siswa

    • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 98
    • 0Komentar

    Siswa SMPN 19 Tangsel meninggal setelah dugaan perundungan. Dinas Pendidikan evaluasi dan polisi selidiki kasus. albadarpost.com, HUMANIORA – Dugaan kasus perundungan Tangsel kembali mencuat setelah MH, 13 tahun, siswa kelas I SMPN 19 Tangerang Selatan, meninggal di ruang ICU RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan, Minggu pagi 16 November 2025. Ia wafat setelah hampir sebulan merawat luka […]

  • Petugas kepolisian menjelaskan proses hukum penetapan tersangka kasus penganiayaan Banser Tangerang

    Polisi Tegaskan Proses Penetapan Tersangka Penganiayaan Banser Tangerang

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 147
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Penegakan hukum kembali menjadi sorotan publik setelah polisi menetapkan Habib Bahar bin Smith sebagai tersangka dalam kasus penganiayaan Banser Tangerang. Peristiwa ini menarik perhatian luas karena melibatkan tokoh publik serta organisasi kemasyarakatan. Namun di balik hiruk pikuk pemberitaan, satu hal penting patut dipahami bersama: bagaimana sebenarnya penyidik bekerja dalam menetapkan seseorang […]

  • OSS RBA

    OSS RBA Diperketat, Pelaporan LKPM Jadi Kunci

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Perubahan aturan OSS RBA 2025 memperketat izin usaha dan kewajiban LKPM bagi pelaku usaha. albadarpost.com, FOKUS – Perubahan regulasi OSS RBA dan kewajiban pelaporan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) pada 2025 mengubah lanskap perizinan usaha di Indonesia. Pemerintah memperketat mekanisme pengawasan, mulai dari tahap perizinan berbasis risiko hingga kewajiban pelaporan investasi yang lebih disiplin. Kebijakan […]

  • Ilustrasi seseorang berdiri di panggung mengejar popularitas sementara bayangan dirinya tertunduk dalam kerendahan hati

    Saat Ibadah Jadi Ajang Pamer

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 158
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Di zaman ketika tepuk tangan terasa lebih nikmat daripada doa, Bahaya Cinta Popularitas menjadi penyakit rohani yang kerap tidak disadari. Cinta ketenaran, hasrat tampil terkenal, dan obsesi menjadi sorotan publik sering menyusup ke dalam amal baik. Padahal, Syekh Athoillah dalam Hikam telah mengingatkan, “Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab sesuatu yang tumbuh […]

  • Upacara Hari Kebangkitan Nasional di Kecamatan Pamarican dengan peserta pelajar, ASN, TNI, dan tokoh masyarakat.

    Camat Pamarican: Ancaman Bangsa Kini Bukan Lagi Penjajahan Fisik

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 107
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Harkitnas Pamarican Kabupaten Ciamis menjadi lebih dari sekadar upacara seremonial tahunan. Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 tingkat Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Rabu (20/05/2026), berubah menjadi momentum refleksi tentang arah masa depan bangsa di tengah derasnya arus transformasi digital. Upacara berlangsung khidmat di Lapang Olahraga SMP Negeri 1 Pamarican. Hadir unsur Forkopimcam, […]

  • pendaratan darurat pesawat

    Pesawat GA8 Airvan Alami Loss Power, Pilot Arahkan Pendaratan ke Sawah

    • calendar_month Sabtu, 22 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 174
    • 0Komentar

    Pesawat GA8 Airvan melakukan pendaratan darurat di Karawang akibat gangguan mesin, seluruh awak selamat. albadarpost.com, LENSA – Di tengah hamparan hijau Desa Kertawaluya, sebuah pesawat kecil tampak miring dengan moncong menancap tanah. Beberapa warga berdiri tak jauh, masih menahan napas setelah melihat manuver terakhir pilot yang membawa pesawat itu mendarat di persawahan. Tak ada ledakan, […]

expand_less