Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Jika Rasulullah Menjadi Ayah Hari Ini, Apa yang Beliau Ajarkan?

Jika Rasulullah Menjadi Ayah Hari Ini, Apa yang Beliau Ajarkan?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
  • visibility 88
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Tidak ada ayah atau ibu yang benar-benar sempurna. Setiap hari, jutaan orang tua berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Mereka bekerja keras, menyekolahkan anak, memenuhi kebutuhan, bahkan rela mengorbankan banyak hal demi masa depan keluarga.

Namun, pada Hari Anak Nasional 2026, ada satu pertanyaan yang layak direnungkan bersama.

Bagaimana jika Rasulullah SAW menjadi ayah di rumah kita hari ini? Apa yang pertama kali akan beliau ajarkan kepada anak-anak kita?

Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi menyimpan makna yang sangat dalam. Sebab, cara Rasulullah mendidik anak tidak bertumpu pada kemewahan, teknologi, atau fasilitas terbaik. Sebaliknya, beliau membangun karakter melalui kasih sayang, adab, tauhid, kejujuran, keberanian, tanggung jawab, dan kemampuan menjaga lisan. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi pendidikan anak dalam Islam sekaligus teladan parenting Islami yang tetap relevan di era digital.

Kasih Sayang Selalu Datang Lebih Dulu

Bayangkan sebuah pagi di Madinah.

Hasan dan Husain kecil berlari menuju Rasulullah. Beliau tidak meminta mereka diam. Tidak pula menyuruh mereka menjaga pakaian agar tetap bersih.

Beliau justru membentangkan kedua tangan.

Kedua cucunya dipeluk dengan penuh cinta.

Pemandangan itu menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu dimulai dari nasihat. Sering kali, pendidikan lahir dari rasa aman yang diterima seorang anak.

Rasulullah SAW bersabda,

“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Di zaman sekarang, ketika banyak orang tua sibuk dengan pekerjaan dan telepon genggam, pelukan sering kali menjadi hal yang terlupakan. Padahal, anak tidak hanya membutuhkan makanan dan sekolah. Mereka juga membutuhkan perhatian yang tulus.

Kasih sayang bukan sekadar ekspresi. Kasih sayang adalah bahasa pertama yang dipahami setiap anak.

Adab Lebih Penting daripada Kepintaran

Suatu hari, seorang anak makan bersama Rasulullah.

Tangannya bergerak ke berbagai arah mengambil makanan.

Rasulullah tidak membentaknya.

Beliau tersenyum, lalu berkata dengan lembut,

“Wahai anak kecil, bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang dekat darimu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hanya beberapa kalimat.

Namun, di situlah letak keindahan pendidikan Islam.

Rasulullah tidak mempermalukan anak di depan orang lain. Beliau memperbaiki perilaku tanpa melukai harga dirinya.

Hari ini, banyak orang tua mengejar nilai akademik setinggi mungkin. Akan tetapi, kecerdasan tanpa adab justru melahirkan generasi yang mudah merendahkan orang lain.

Karena itu, cara Rasulullah mendidik anak selalu mendahulukan akhlak sebelum prestasi.

Tauhid Menjadi Pondasi yang Tidak Boleh Goyah

Anak-anak hidup di zaman yang penuh distraksi.

Media sosial, permainan digital, hingga kecerdasan buatan menawarkan begitu banyak jawaban. Namun, Rasulullah mengajarkan bahwa jawaban terpenting tetap datang dari hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.

Kepada Abdullah bin Abbas yang masih belia, Rasulullah berpesan,

“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.”
(HR. Tirmidzi)

Pesan singkat itu mengajarkan tauhid dengan bahasa yang sederhana.

Anak yang mengenal Allah akan belajar jujur meski tidak diawasi. Ia memilih berbuat baik bukan karena takut dimarahi orang tua, melainkan karena yakin Allah selalu melihat setiap perbuatannya.

Kejujuran Dimulai dari Hal-hal Kecil

Pernah seorang ibu memanggil anaknya sambil berkata akan memberinya sesuatu.

Rasulullah bertanya,

“Apa yang akan engkau berikan kepadanya?”

Ketika sang ibu menjawab bahwa ia akan memberikan kurma, Rasulullah bersabda,

“Jika engkau tidak memberinya sesuatu, niscaya akan dicatat sebagai sebuah kebohongan.”
(HR. Abu Dawud)

Hadis ini mengajarkan bahwa pendidikan karakter tidak dimulai dari ruang kelas.

Ia dimulai dari ruang keluarga.

Dari janji yang ditepati.

Dari ucapan yang selaras dengan tindakan.

Sebab, anak belajar lebih banyak dari teladan dibandingkan nasihat.

Keberanian Berasal dari Kebenaran

Banyak orang mengira keberanian identik dengan kekuatan fisik.

Rasulullah justru mengajarkan hal yang berbeda.

Keberanian berarti tetap berkata benar ketika semua orang memilih diam.

Keberanian berarti berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

Keberanian juga berarti mampu menolak ajakan buruk meski datang dari teman sendiri.

Nilai inilah yang sangat dibutuhkan anak-anak di tengah maraknya perundungan, tekanan pergaulan, dan derasnya arus informasi digital.

Tanggung Jawab Dibangun Setahap demi Setahap

Rasulullah tidak pernah membentuk karakter secara instan.

Beliau membiasakan anak bertanggung jawab melalui hal-hal sederhana.

Merapikan barang.

Menjaga kebersihan.

Menghormati waktu.

Membantu orang tua.

Menjaga amanah.

Semua kebiasaan kecil itu kemudian tumbuh menjadi karakter yang kuat.

Allah SWT berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)

Ayat tersebut menegaskan bahwa mendidik keluarga merupakan amanah yang harus dijaga sepanjang hayat.

Menjaga Lisan di Era Media Sosial

Barangkali inilah pelajaran Rasulullah yang paling relevan pada Hari Anak Nasional 2026.

Hari ini, lisan tidak hanya keluar dari mulut.

Ia juga hadir dalam komentar media sosial, pesan singkat, unggahan video, hingga ruang percakapan digital.

Rasulullah bersabda,

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mengajarkan anak menjaga lisan kini berarti pula mengajarkan etika bermedia digital.

Sebelum menulis komentar, mereka perlu belajar bertanya:

Apakah ini benar?

Apakah ini baik?

Apakah ini bermanfaat?

Jika jawabannya tidak, diam sering kali menjadi pilihan yang paling bijaksana.

Hari Anak Nasional Bukan Sekadar Seremoni

Lomba akan selesai.

Panggung hiburan akan dibongkar.

Balon-balon akan mengempis.

Unggahan media sosial perlahan tenggelam oleh berita baru.

Namun, satu hal akan tetap tinggal di hati seorang anak: bagaimana ayah dan ibunya memperlakukannya setiap hari.

Mungkin Rasulullah tidak akan memulai pendidikan anak dari sekolah paling mahal atau gawai paling canggih.

Beliau kemungkinan besar akan memulai dari doa sebelum tidur.

Dari pelukan ketika anak kecewa.

Dari makan bersama.

Dari salat berjamaah.

Dari kejujuran dalam hal-hal kecil.

Dari akhlak yang dicontohkan setiap hari.

Karena sejatinya, anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang terus belajar memperbaiki diri.

Refleksi

Hari Anak Nasional 2026 seharusnya tidak berhenti sebagai perayaan tahunan. Momentum ini mengingatkan bahwa masa depan bangsa dibangun dari rumah-rumah yang dipenuhi kasih sayang, adab, dan keteladanan.

Warisan terbesar yang dapat diberikan kepada anak bukanlah rumah yang megah atau tabungan yang melimpah, melainkan iman yang kokoh, akhlak yang mulia, serta keberanian untuk tetap berada di jalan yang benar.

Anak mungkin lupa hadiah yang pernah kita berikan. Namun, mereka tidak akan lupa siapa yang pertama kali mengajarkan mereka mencintai Allah, berkata jujur, meminta maaf, menghormati sesama, dan memeluk mereka saat dunia terasa tidak ramah. Di situlah warisan Rasulullah dimulai—bukan dari kemewahan, melainkan dari akhlak yang hidup dalam setiap langkah kehidupan. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Arab sebelum Nabi Muhammad

    Arab Sebelum Nabi Muhammad, Seperti Apa Kehidupannya?

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 64
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Ada anggapan bahwa Arab sebelum Nabi Muhammad merupakan masyarakat yang sepenuhnya bodoh dan terbelakang. Padahal, gambaran tersebut terlalu sederhana. Masyarakat Arab sebelum Islam memiliki tradisi perdagangan, kemampuan bahasa, budaya lisan, serta ikatan kabilah yang kuat. Namun, pada saat yang sama, kehidupan Arab masa Jahiliyah juga menghadapi persoalan akidah dan sejumlah masalah sosial […]

  • Penutupan Galian Pasir

    Ketegasan Bupati Hadapi Tambang yang Abaikan Tata Ruang

    • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Penutupan galian pasir Garut menegaskan sikap bupati terhadap tambang yang melanggar tata ruang dan ancam warga. albadarpost.com, BERITA DAERAH – Penutupan sementara aktivitas galian pasir di Kabupaten Garut menjadi sinyal tegas pemerintah daerah dalam menegakkan tata ruang dan keselamatan publik. Bupati Garut Syakur Amin, didampingi Wakil Bupati Putri Karlina, turun langsung meninjau lokasi pertambangan pasir […]

  • Ilustrasi perjalanan hidup manusia dari lahir dalam kekosongan, menjalani kehidupan penuh ambisi dunia, hingga kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan amalnya

    Hakikat Hidup Manusia: Mencari, Meninggalkan

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 222
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Suatu hari nanti, manusia akan mengingat satu kebenaran yang sering ia abaikan sepanjang hidupnya. Saat itu, tidak ada lagi suara pasar, tidak ada gemerlap dunia, dan tidak ada sorotan pencapaian. Yang tersisa hanyalah dirinya sendiri menghadap pertanyaan yang tak bisa dihindari. Manusia datang ke dunia ini tanpa membawa apa pun. Ia lahir […]

  • Ilustrasi jamaah mendengarkan khutbah Idul Adha di lapangan masjid dengan suasana pagi penuh takbir.

    Salat Idul Adha yang Benar, Ini Tata Cara Lengkap dengan Doanya

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 363
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Udara pagi Idul Adha biasanya terasa berbeda. Jalanan kampung yang sehari-hari sepi mulai dipenuhi suara sandal jamaah yang terseret pelan di aspal menuju lapangan salat. Dari kejauhan, gema takbir terdengar bercampur suara motor yang datang bergelombang sejak subuh. Sebagian bapak-bapak tampak tergesa memasang peci hitam yang baru diambil dari lemari. Ada anak […]

  • Kebakaran Tasikmalaya

    Dalam Kurang dari Dua Jam, Tiga Rumah di Cipedes Tinggal Arang

    • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 131
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Musibah kebakaran Tasikmalaya kembali menyisakan duka mendalam. Kebakaran hebat yang terjadi di Kampung Pelang, RT 002 RW 006, Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Jumat (26/6/2026) sore, menghanguskan tiga rumah warga dan membuat sedikitnya 15 jiwa kehilangan tempat tinggal. Peristiwa kebakaran Cipedes Tasikmalaya itu berlangsung begitu cepat. Dalam waktu kurang dari […]

  • Ilustrasi peta Iran gelap tanpa koneksi internet dengan simbol jaringan terputus, menggambarkan pemadaman internet nasional.

    Internet Iran Lumpuh 23 Hari, Warga Terisolasi dari Dunia

    • calendar_month Senin, 23 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 190
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Fenomena internet Iran lumpuh kini menjadi sorotan global. Pemadaman internet Iran yang berlangsung selama 23 hari ini mencatat rekor sebagai gangguan jaringan terpanjang dalam sejarah modern negara tersebut. Kondisi ini membuat masyarakat di Iran terisolasi dari dunia digital, sementara akses komunikasi dan informasi global nyaris terhenti total. Selain itu, istilah seperti […]

expand_less