Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » Menag Warning Pesantren: Kekerasan pada Anak Tak Bisa Ditoleransi Lagi

Menag Warning Pesantren: Kekerasan pada Anak Tak Bisa Ditoleransi Lagi

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
  • visibility 48
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HUMANIORA – Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa perlindungan anak di lingkungan pesantren harus menjadi prioritas utama. Menurutnya, pesantren ramah anak bukan sekadar slogan, melainkan komitmen nyata agar santri dapat belajar dan tumbuh di lingkungan yang aman, sehat, serta bermartabat.

Karena itu, ia menekankan bahwa segala bentuk kekerasan fisik maupun seksual di lingkungan pendidikan Islam tidak boleh lagi mendapat toleransi.

Pernyataan tersebut disampaikan Menag saat menghadiri kegiatan Strategi Komunikasi Pesantren Ramah Anak yang digelar Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren di Jakarta, Rabu (13/5/2026).

“Pesantren harus menjadi ruang paling aman bagi anak untuk belajar, tumbuh, dan hidup bermartabat,” ujar Nasaruddin Umar.

Forum tersebut dihadiri berbagai unsur pendidikan Islam, mulai dari perwakilan pondok pesantren, Majelis Masyayikh, MUI, akademisi, hingga media. Sejumlah peserta tampak mencatat serius ketika pembahasan masuk pada isu perlindungan anak di pesantren.

Menag Sebut Relasi Kuasa Jadi Akar Persoalan

Dalam pemaparannya, Menag menilai kasus kekerasan di lingkungan pendidikan Islam tidak bisa diselesaikan hanya dengan langkah sesaat atau pendekatan reaktif.

Ia menyoroti budaya relasi kuasa yang masih kuat di sejumlah lingkungan pendidikan sebagai akar persoalan yang harus segera diperbaiki.

Menurutnya, hubungan yang timpang antara pihak tertentu di pesantren berpotensi membuka ruang penyalahgunaan kewenangan apabila tidak dibatasi aturan yang jelas.

“Persoalannya adalah bagaimana melakukan transformasi masyarakat dan mengeliminasi relasi kuasa. Ini akar masalah yang mendasar,” tegasnya.

Selain itu, Menag menilai relasi kuasa yang berlebihan bertentangan dengan nilai agama, moral, dan hukum negara. Karena itu, ia meminta seluruh elemen pendidikan Islam mulai membangun budaya yang lebih sehat dan setara.

Isu perlindungan anak di pesantren belakangan memang menjadi perhatian publik. Sejumlah kasus yang mencuat membuat masyarakat mendorong pengawasan lebih ketat terhadap sistem pendidikan berbasis asrama.

Tata Tertib Pesantren Harus Berlaku untuk Semua

Nasaruddin Umar juga meminta pondok pesantren memperkuat tata tertib internal agar perlindungan santri berjalan lebih efektif.

Menurutnya, aturan tidak boleh hanya mengikat santri, tetapi juga harus berlaku bagi pengelola pondok pesantren dan seluruh pihak yang memiliki kewenangan di lingkungan pendidikan.

“Tata tertib jangan hanya mengatur santri, tetapi juga pengelola pondok. Relasi kuasa seperti ini harus dibatasi dengan aturan yang jelas,” ujarnya.

Selain pengawasan internal, Menag turut menyoroti pentingnya standarisasi tata kelola pesantren, termasuk mengenai kapasitas figur kiai dan pengelola pondok.

Ia menilai ketegasan standar diperlukan agar kualitas pendidikan dan perlindungan anak tetap terjaga.

“Jangan sampai orang yang tidak memiliki kapasitas justru menjadi kiai. Perlu ada standar yang jelas,” katanya.

Pesantren Ramah Anak Butuh Perubahan Budaya

Dalam kesempatan yang sama, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid mengatakan persoalan kekerasan di pesantren tidak cukup diselesaikan hanya melalui penindakan hukum.

Menurutnya, problem utama berada pada budaya relasi kuasa yang masih mengakar di masyarakat.

“Jika hanya reaktif dan mengandalkan quick fix, maka pembahasan berhenti pada pelaku ditangkap dan kasus dianggap selesai,” ujar Alissa.

Ia menilai transformasi budaya dan spiritual membutuhkan waktu panjang serta keterlibatan seluruh ekosistem pesantren.

Karena itu, penguatan pesantren ramah anak dinilai harus berjalan bersamaan dengan perubahan cara pandang terhadap relasi pendidikan, kepemimpinan, dan pengawasan di lingkungan pesantren.

Kolaborasi Jadi Kunci Perlindungan Anak

Menag juga mengajak seluruh pihak membangun kolaborasi dalam memperkuat perlindungan anak di lingkungan pendidikan Islam.

Menurutnya, komunikasi publik, pengawasan, dan mitigasi krisis harus berjalan bersama agar persoalan kekerasan dapat dicegah sejak awal.

Selain itu, ia meminta seluruh elemen pesantren terus melakukan evaluasi internal demi menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan sehat bagi santri.

“Banyak hal yang perlu kita evaluasi di lingkungan pondok pesantren. Karena itu, diperlukan kolaborasi agar persoalan ini dapat ditangani secara tuntas,” tuturnya.

Pesantren seharusnya melahirkan rasa aman, bukan rasa takut. Sebab ketika anak kehilangan perlindungan di tempat mereka belajar agama, yang terluka bukan hanya satu generasi, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan itu sendiri. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pj Sekda Tasikmalaya

    Bupati Tasikmalaya Melantik Pj Sekda

    • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Pelantikan Pj Sekda Tasikmalaya menjadi awal pengawasan publik terhadap efektivitas birokrasi dan pelayanan warga. albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pelantikan Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Tasikmalaya menandai pergantian figur kunci dalam struktur birokrasi daerah. Namun di balik prosesi resmi, publik menaruh perhatian lebih besar pada satu hal: sejauh mana jabatan strategis ini mampu memperbaiki tata kelola pemerintahan […]

  • ketua KPID Jawa Barat ungkap krisis konten lokal priangan timur dan dampak media sosial terhadap perubahan budaya masyarakat

    Mengejutkan! Krisis Konten Lokal Priangan Timur, KPID Jabar Buka Data

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 46
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Konten lokal Priangan Timur belum benar-benar menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri. Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat justru lebih banyak mengonsumsi konten dari luar. Situasi ini dinilai mulai berdampak pada perubahan pola sosial dan budaya. Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat, Adiyana Slamet, mengungkap kondisi tersebut dalam […]

  • Kerukunana umat beragama

    Indeks Kerukunan Umat Beragama Naik

    • calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 63
    • 0Komentar

    Indeks kerukunan umat beragama 2025 tertinggi dalam 11 tahun, didukung kebijakan dan mitigasi konflik nasional. albadarpost.com, HUMANIORA – Kerukunan umat beragama sepanjang 2025 menunjukkan tren positif dan stabil. Dua survei nasional mencatat capaian tertinggi dalam satu dekade terakhir. Kondisi ini menjadi indikator penting bagi ketahanan sosial, sekaligus fondasi pembangunan yang berdampak langsung pada rasa aman […]

  • siswi MTs Sukabumi

    Tragedi Siswi MTs Sukabumi: Dugaan Bullying di Balik Surat Wasiat Sebelum Gantung Diri

    • calendar_month Kamis, 30 Okt 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 28
    • 0Komentar

    Kasus siswi MTs di Sukabumi diduga tewas karena bullying, tinggalkan surat wasiat penuh luka dan penyesalan. albadarpost.com, LENSA – Warga Desa Bojong, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dikejutkan oleh peristiwa tragis pada Selasa malam (28/10/2025). Seorang siswi madrasah tsanawiyah (MTs) berinisial AK (14) ditemukan tewas tergantung di pintu kamar rumahnya dengan sehelai kain sarung. […]

  • Ilustrasi kasus pekerja rumah tangga melompat dari lantai empat terkait dugaan kekerasan oleh majikan

    Kasus PRT Lompat Lantai 4: Dari Dugaan Kekerasan hingga Penetapan Tersangka

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 27
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – R (15) dan D (30), PRT yang lompat lantai 4 rumah kos di Bendungan Hilir, kini bukan lagi sekadar peristiwa tragis. Kasus ini berkembang menjadi sorotan nasional setelah polisi menetapkan Adriel Viari Purba sebagai tersangka. Dugaan kekerasan terhadap pekerja rumah tangga dan relasi kuasa dalam lingkungan domestik kini ikut terangkat ke permukaan. […]

  • Ilustrasi pemeriksaan KPK terhadap dugaan aktivitas mantan Gubernur Jawa Barat dalam kasus Bank BJB

    Pemeriksaan Ridwan Kamil dan Peran Asisten Pribadi

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 67
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Langkah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa asisten pribadi Ridwan Kamil memunculkan berbagai tafsir di ruang publik. Namun jika ditarik ke konteks hukum dan tata kelola kekuasaan, langkah tersebut justru menunjukkan pola penyidikan yang lazim dalam perkara korupsi berskala besar. Pemeriksaan Ridwan Kamil tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari upaya menelusuri […]

expand_less