Hijab Allah: Ketika Dunia Terasa Lebih Nyata
- account_circle redaktur
- calendar_month Senin, 6 Jul 2026
- visibility 31
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang berdiri di persimpangan jalan saat matahari terbenam dengan bayangan tubuhnya memanjang sebagai simbol dunia yang sederhana.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Pernahkah kita merasa begitu gelisah ketika sinyal internet hilang, baterai ponsel hampir habis, atau saldo rekening tiba-tiba berkurang? Anehnya, kegelisahan yang sama sering kali tidak muncul ketika hati sudah berhari-hari terasa jauh dari Allah. Di situlah Hijab Allah bekerja dengan cara yang sangat halus. Menurut Syekh Ibnu Athaillah, tabir hati atau hijab menuju Allah tidak selalu hadir melalui kemaksiatan yang tampak. Justru, ia dapat muncul ketika manusia terlalu terpukau oleh dunia hingga lupa kepada Dzat yang menciptakannya.
Satirnya terasa dekat dengan kehidupan kita. Banyak orang sanggup menghabiskan berjam-jam memantau harga saham, tren media sosial, atau perkembangan investasi. Sebaliknya, hanya sedikit waktu yang tersisa untuk bermuhasabah. Dunia memang tidak salah. Namun, ketika dunia berubah dari sekadar sarana menjadi tujuan utama, di situlah hijab mulai menebal tanpa disadari.
Syekh Ibnu Athaillah: Hijab Terbesar Bisa Berasal dari Sesuatu yang Tidak Mandiri
Dalam salah satu hikmahnya, Syekh Ibnu Athaillah berkata:
مِمَّا يَدُلُّكَ عَلى وُجُودِ قَهْرِهِ سُبْحَانَهُ، أَنْ حَجَبَكَ عَنْهُ بِمَا لَيْسَ بِمَوْجُودٍ مَعَهُ
“Di antara bukti-bukti yang menunjukkan kekuasaan Allah yang luar biasa ialah Dia dapat menghijabmu dari melihat-Nya dengan hijab yang pada hakikatnya tidak memiliki wujud di sisi Allah.”
Kalimat ini sering disalahpahami.
Sebagian orang mengira Syekh Ibnu Athaillah sedang mengatakan bahwa alam semesta tidak benar-benar ada. Padahal, para ulama yang mensyarahkan Al-Hikam menjelaskan makna yang berbeda.
Ibnu ‘Ajibah dalam Iqāẓ al-Himam fī Syarḥ al-Ḥikam menerangkan bahwa alam memiliki keberadaan yang nyata sebagai makhluk. Namun, keberadaannya bukan berdiri sendiri. Alam bergantung sepenuhnya kepada kehendak Allah. Dalam istilah ilmu kalam, Allah adalah Wājib al-Wujūd (Yang Wajib Ada), sedangkan alam termasuk Mumkin al-Wujūd, yakni makhluk yang keberadaannya bergantung sepenuhnya kepada Sang Pencipta.
Karena itu, ketika Syekh Ibnu Athaillah menyebut dunia seperti bayangan, beliau sedang mengingatkan bahwa manusia sering terpaku pada ciptaan, tetapi lupa kepada Penciptanya.
Satir Zaman Modern: Panik Kehilangan Sinyal, Tenang Kehilangan Zikir
Coba lihat kehidupan hari ini.
Ponsel tertinggal lima menit, kita segera kembali mencarinya.
Dompet hilang, jantung berdebar.
Data pekerjaan rusak, kepala terasa penuh.
Namun, shalat Subuh terlewat karena tidur? Sebagian orang menganggapnya sekadar “besok bisa diperbaiki.”
Inilah satir yang menampar hati.
Kita sangat takut kehilangan sesuatu yang sifatnya sementara, tetapi sering tidak merasa kehilangan ketika hubungan dengan Allah mulai merenggang.
Padahal Allah SWT telah mengingatkan:
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ
“Segala sesuatu pasti binasa kecuali Wajah (Dzat) Allah.”
(QS. Al-Qashash 88)
Menurut para mufasir, ayat ini bukan sekadar berbicara tentang kehancuran alam pada hari kiamat. Ayat tersebut juga mengajarkan bahwa semua yang bergantung kepada makhluk memiliki batas. Hanya Allah yang kekal dan menjadi sandaran seluruh makhluk.
Rasulullah ﷺ Menguatkan Pesan Itu
Pesan yang sama juga muncul dalam hadis sahih ketika Rasulullah ﷺ membenarkan syair Labid bin Rabi’ah:
أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِلٌ
“Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah batil.”
Kemudian syair itu berbunyi:
وَكُلُّ نَعِيمٍ لَا مَحَالَةَ زَائِلٌ
“Setiap kenikmatan dunia pasti akan lenyap.”
(HR. al-Bukhari)
Kata bāṭil dalam konteks ini tidak berarti seluruh makhluk itu sia-sia atau tidak ada. Para ulama menjelaskan bahwa seluruh makhluk bersifat fana, bergantung kepada Allah, dan tidak layak menjadi sandaran hati melebihi Sang Khalik.
Hijab Tidak Menutup Mata, Tetapi Menutup Hati
Hijab yang paling berbahaya bukanlah ketika mata tidak melihat.
Hijab yang paling berat justru terjadi ketika hati tidak lagi mampu merasakan kehadiran Allah di balik setiap nikmat yang diterima.
Karena itu, para ulama tasawuf tidak mengajarkan manusia membenci dunia. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa dunia dapat menjadi jalan menuju Allah apabila berada di tangan, bukan menguasai hati.
Bekerjalah dengan sungguh-sungguh.
Kembangkan usaha.
Raih prestasi terbaik.
Namun, jangan biarkan semua itu mengambil tempat yang hanya layak dimiliki oleh Allah di dalam hati.
Saat Bayangan Menghilang, Yang Tersisa Hanyalah Cahaya
Bayangan selalu berubah mengikuti arah cahaya.
Pagi ia memanjang.
Siang ia memendek.
Petang ia menghilang.
Begitu pula dunia.
Jabatan akan berganti.
Harta akan berpindah.
Popularitas akan memudar.
Tubuh yang kuat suatu hari akan melemah.
Semua bergerak menuju kefanaan.
Sebaliknya, Allah tetap kekal. Dia tidak bergantung kepada siapa pun, sementara seluruh makhluk bergantung kepada-Nya.
Inilah inti hikmah yang ingin ditanamkan Syekh Ibnu Athaillah. Jangan berhenti pada bayangan hingga lupa kepada Cahaya yang membuat bayangan itu ada.
Barangkali pada Hari Kiamat nanti Allah tidak akan bertanya berapa banyak pengikut media sosial yang kita miliki, seberapa tinggi jabatan yang pernah kita raih, atau berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan. Yang akan menjadi ukuran adalah: apakah hati ini mengenal Allah ketika masih hidup, atau justru sepanjang umur hanya sibuk mengejar bayangan ciptaan-Nya. Jangan sampai kita pulang membawa dunia di tangan, tetapi kehilangan Allah di dalam hati. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar