Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Hijab Allah: Ketika Dunia Terasa Lebih Nyata

Hijab Allah: Ketika Dunia Terasa Lebih Nyata

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
  • visibility 85
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Pernahkah kita merasa begitu gelisah ketika sinyal internet hilang, baterai ponsel hampir habis, atau saldo rekening tiba-tiba berkurang? Anehnya, kegelisahan yang sama sering kali tidak muncul ketika hati sudah berhari-hari terasa jauh dari Allah. Di situlah Hijab Allah bekerja dengan cara yang sangat halus. Menurut Syekh Ibnu Athaillah, tabir hati atau hijab menuju Allah tidak selalu hadir melalui kemaksiatan yang tampak. Justru, ia dapat muncul ketika manusia terlalu terpukau oleh dunia hingga lupa kepada Dzat yang menciptakannya.

Satirnya terasa dekat dengan kehidupan kita. Banyak orang sanggup menghabiskan berjam-jam memantau harga saham, tren media sosial, atau perkembangan investasi. Sebaliknya, hanya sedikit waktu yang tersisa untuk bermuhasabah. Dunia memang tidak salah. Namun, ketika dunia berubah dari sekadar sarana menjadi tujuan utama, di situlah hijab mulai menebal tanpa disadari.

Syekh Ibnu Athaillah: Hijab Terbesar Bisa Berasal dari Sesuatu yang Tidak Mandiri

Dalam salah satu hikmahnya, Syekh Ibnu Athaillah berkata:

مِمَّا يَدُلُّكَ عَلى وُجُودِ قَهْرِهِ سُبْحَانَهُ، أَنْ حَجَبَكَ عَنْهُ بِمَا لَيْسَ بِمَوْجُودٍ مَعَهُ

“Di antara bukti-bukti yang menunjukkan kekuasaan Allah yang luar biasa ialah Dia dapat menghijabmu dari melihat-Nya dengan hijab yang pada hakikatnya tidak memiliki wujud di sisi Allah.”

Kalimat ini sering disalahpahami.

Sebagian orang mengira Syekh Ibnu Athaillah sedang mengatakan bahwa alam semesta tidak benar-benar ada. Padahal, para ulama yang mensyarahkan Al-Hikam menjelaskan makna yang berbeda.

Ibnu ‘Ajibah dalam Iqāẓ al-Himam fī Syarḥ al-Ḥikam menerangkan bahwa alam memiliki keberadaan yang nyata sebagai makhluk. Namun, keberadaannya bukan berdiri sendiri. Alam bergantung sepenuhnya kepada kehendak Allah. Dalam istilah ilmu kalam, Allah adalah Wājib al-Wujūd (Yang Wajib Ada), sedangkan alam termasuk Mumkin al-Wujūd, yakni makhluk yang keberadaannya bergantung sepenuhnya kepada Sang Pencipta.

Karena itu, ketika Syekh Ibnu Athaillah menyebut dunia seperti bayangan, beliau sedang mengingatkan bahwa manusia sering terpaku pada ciptaan, tetapi lupa kepada Penciptanya.

Satir Zaman Modern: Panik Kehilangan Sinyal, Tenang Kehilangan Zikir

Coba lihat kehidupan hari ini.

Ponsel tertinggal lima menit, kita segera kembali mencarinya.

Dompet hilang, jantung berdebar.

Data pekerjaan rusak, kepala terasa penuh.

Namun, shalat Subuh terlewat karena tidur? Sebagian orang menganggapnya sekadar “besok bisa diperbaiki.”

Inilah satir yang menampar hati.

Kita sangat takut kehilangan sesuatu yang sifatnya sementara, tetapi sering tidak merasa kehilangan ketika hubungan dengan Allah mulai merenggang.

Padahal Allah SWT telah mengingatkan:

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

“Segala sesuatu pasti binasa kecuali Wajah (Dzat) Allah.”

(QS. Al-Qashash 88)

Menurut para mufasir, ayat ini bukan sekadar berbicara tentang kehancuran alam pada hari kiamat. Ayat tersebut juga mengajarkan bahwa semua yang bergantung kepada makhluk memiliki batas. Hanya Allah yang kekal dan menjadi sandaran seluruh makhluk.

Rasulullah ﷺ Menguatkan Pesan Itu

Pesan yang sama juga muncul dalam hadis sahih ketika Rasulullah ﷺ membenarkan syair Labid bin Rabi’ah:

أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِلٌ

“Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah batil.”

Kemudian syair itu berbunyi:

وَكُلُّ نَعِيمٍ لَا مَحَالَةَ زَائِلٌ

“Setiap kenikmatan dunia pasti akan lenyap.”

(HR. al-Bukhari)

Kata bāṭil dalam konteks ini tidak berarti seluruh makhluk itu sia-sia atau tidak ada. Para ulama menjelaskan bahwa seluruh makhluk bersifat fana, bergantung kepada Allah, dan tidak layak menjadi sandaran hati melebihi Sang Khalik.

Hijab Tidak Menutup Mata, Tetapi Menutup Hati

Hijab yang paling berbahaya bukanlah ketika mata tidak melihat.

Hijab yang paling berat justru terjadi ketika hati tidak lagi mampu merasakan kehadiran Allah di balik setiap nikmat yang diterima.

Karena itu, para ulama tasawuf tidak mengajarkan manusia membenci dunia. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa dunia dapat menjadi jalan menuju Allah apabila berada di tangan, bukan menguasai hati.

Bekerjalah dengan sungguh-sungguh.

Kembangkan usaha.

Raih prestasi terbaik.

Namun, jangan biarkan semua itu mengambil tempat yang hanya layak dimiliki oleh Allah di dalam hati.

Saat Bayangan Menghilang, Yang Tersisa Hanyalah Cahaya

Bayangan selalu berubah mengikuti arah cahaya.

Pagi ia memanjang.

Siang ia memendek.

Petang ia menghilang.

Begitu pula dunia.

Jabatan akan berganti.

Harta akan berpindah.

Popularitas akan memudar.

Tubuh yang kuat suatu hari akan melemah.

Semua bergerak menuju kefanaan.

Sebaliknya, Allah tetap kekal. Dia tidak bergantung kepada siapa pun, sementara seluruh makhluk bergantung kepada-Nya.

Inilah inti hikmah yang ingin ditanamkan Syekh Ibnu Athaillah. Jangan berhenti pada bayangan hingga lupa kepada Cahaya yang membuat bayangan itu ada.

Barangkali pada Hari Kiamat nanti Allah tidak akan bertanya berapa banyak pengikut media sosial yang kita miliki, seberapa tinggi jabatan yang pernah kita raih, atau berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan. Yang akan menjadi ukuran adalah: apakah hati ini mengenal Allah ketika masih hidup, atau justru sepanjang umur hanya sibuk mengejar bayangan ciptaan-Nya. Jangan sampai kita pulang membawa dunia di tangan, tetapi kehilangan Allah di dalam hati. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tafsir QS Al-Insyirah

    Takut Hari Senin? Baca Tafsir Ini

    • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 203
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Minggu malam memiliki suasana yang berbeda. Jalanan mulai sepi. Grup WhatsApp kantor perlahan kembali aktif. Sebagian orang mulai menyetrika pakaian kerja. Sebagian lainnya membuka laptop, memeriksa agenda, atau sekadar menatap langit-langit kamar sambil bertanya dalam hati: “Besok, sanggup tidak ya menjalaninya lagi?” Di tengah perasaan itu, banyak orang mencari ketenangan melalui Tafsir […]

  • Ilustrasi proyek lampu hias ruang terbuka hijau di Probolinggo yang terseret kasus korupsi DLH dengan kerugian negara ratusan juta rupiah

    Anggaran Publik Bocor, Korupsi DLH Probolinggo Disorot

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 190
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Kasus korupsi DLH Probolinggo kembali menampar kepercayaan publik terhadap pengelolaan anggaran daerah. Proyek lampu hias untuk ruang terbuka hijau yang seharusnya mempercantik kota justru berubah menjadi sumber kebocoran keuangan negara. Nilai kerugian yang mencuat bukan angka kecil. Ratusan juta rupiah raib, sementara manfaat proyek dipertanyakan. Perkara ini mengemuka setelah aparat penegak […]

  • Legenda Persib Banjarsari

    Bobotoh Ulah Hilap! Legenda Persib Bakal Guncang Banjarsari

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 133
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Bagi banyak bobotoh, nama Atep, Eka Ramdani, dan Tantan bukan sekadar deretan mantan pemain. Mereka adalah bagian dari perjalanan emas Persib Bandung yang masih melekat dalam ingatan. Kabar baiknya, kerinduan itu akan segera terobati. Legenda Persib Banjarsari dipastikan menjadi magnet utama dalam laga persahabatan yang akan digelar di Lapangan Sepak Bola Desa […]

  • Ilustrasi pendidikan Islam klasik dengan guru dan murid belajar mendalam, kontras dengan sistem modern yang serba cepat

    Terungkap! Pendidikan Islam Klasik Lebih Hebat dari Sistem Modern? Ini Faktanya

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 180
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Hari ini, pendidikan islam klasik kembali diperbincangkan. Banyak orang mulai membandingkan sistem pendidikan tradisional Islam dengan pola belajar modern. Anehnya, meski teknologi semakin canggih dan akses ilmu makin luas, kualitas pemahaman justru terasa dangkal. Sistem pendidikan klasik, metode belajar ulama, dan pola pembelajaran tradisional ternyata menyimpan sesuatu yang hilang hari ini: kedalaman. […]

  • Gambaran seorang muslim merenung dengan tenang di alam terbuka melambangkan ridha dalam tauhid dan keikhlasan menerima takdir Allah

    Hidup Tak Sesuai Rencana? Ini Rahasia Ridha dalam Tauhid

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 196
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Pernah merasa hidup tidak berjalan sesuai rencana? Harapan sudah disusun rapi, tetapi kenyataan justru berbalik arah. Di titik inilah ridha dalam tauhid menjadi kunci. Konsep ini bukan sekadar menerima takdir, melainkan sikap hati yang yakin bahwa setiap ketentuan Allah selalu membawa kebaikan. Dalam Islam, ridha juga sering dipahami sebagai ikhlas menerima takdir […]

  • air bersih Pangandaran

    Air Bersih Pangandaran Disiapkan, Ini Wilayah dan Kontaknya

    • calendar_month 10 jam yang lalu
    • account_circle redaktur
    • visibility 20
    • 0Komentar

    AlbadarPost.com, BERITA DAERAH — Warga yang mengalami kekeringan atau kesulitan mendapatkan air bersih di Kabupaten Pangandaran kini memiliki jalur layanan yang dapat dihubungi. Pemerintah Kabupaten Pangandaran melalui Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsospmd) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyiapkan bantuan air bersih Pangandaran sesuai wilayah layanan masing-masing. Informasi tersebut disampaikan Pemerintah Kabupaten Pangandaran melalui […]

expand_less