Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Syekh Ibnu Athaillah: Sepi Bukan Lari, Tapi Menguatkan Hati

Syekh Ibnu Athaillah: Sepi Bukan Lari, Tapi Menguatkan Hati

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
  • visibility 129
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Dunia belum pernah seramai sekarang. Setiap detik, jutaan orang berlomba mengunggah cerita, memburu perhatian, mengejar pengakuan, dan menghitung angka suka seolah-olah itulah ukuran kebahagiaan. Ironisnya, di tengah kebisingan itu, kegelisahan justru tumbuh subur. Tafakur, menyendiri dalam Islam, dan menjaga hati terdengar seperti nasihat kuno, padahal justru menjadi obat bagi penyakit zaman modern.

Berabad-abad sebelum media sosial lahir, Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari, ulama besar penulis Al-Hikam, sudah menyampaikan kritik yang terasa seperti ditulis untuk generasi hari ini.

مَا نَفَعَ القَلْبَ ؛ مِثْلُ عُزْلَةٍ يَدْخُلُ بِهَا مَيْدَانَ فِكْرَةٍ

“Tiada sesuatu yang sangat berguna bagi hati (jiwa), sebagaimana menyendiri untuk masuk ke medan berfikir (tafakur).”

Kalimat itu bukan ajakan membenci manusia. Sebaliknya, ia menampar kecenderungan manusia yang terlalu sibuk melihat kehidupan orang lain hingga lupa mengoreksi dirinya sendiri.

Kita Hafal Kehidupan Orang Lain, Tapi Asing dengan Isi Hati Sendiri

Hari ini banyak orang mengetahui kabar artis lebih cepat daripada mengetahui keadaan tetangganya. Mereka hafal jadwal promosi influencer, tetapi lupa kapan terakhir kali menangis dalam doa. Jari begitu lincah menggulir layar, namun hati terasa berat ketika diminta duduk tenang lima menit untuk bermuhasabah.

Padahal Allah SWT mengingatkan,

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
(QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini bukan sekadar perintah berpikir. Ia mengajarkan evaluasi diri yang jujur. Tafakur membuat manusia berhenti menyalahkan keadaan dan mulai menanyakan kualitas hubungannya dengan Allah.

Salah Memilih Teman, Salah Menentukan Arah Hidup

Syekh Ibnu Athaillah tidak berhenti pada urusan tafakur. Beliau juga mengingatkan bahwa hati sangat mudah dipengaruhi lingkungan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini terasa semakin relevan di era digital. Teman hari ini tidak selalu duduk di samping kita. Algoritma media sosial, akun yang setiap hari kita ikuti, hingga konten yang terus kita konsumsi perlahan membentuk cara berpikir tanpa kita sadari.

Karena itu Allah mewahyukan kepada Nabi Musa AS agar berhati-hati memilih sahabat. Teman yang tidak mendorong seseorang menuju ketaatan justru menjadi penghalang perjalanan menuju Allah.

Pesan serupa juga diberikan kepada Nabi Dawud AS. Ketika beliau memilih menyendiri demi mendekat kepada Allah, Allah tetap mengingatkan pentingnya memilih teman yang saleh. Artinya, Islam tidak mengajarkan mengasingkan diri selamanya. Islam mengajarkan keseimbangan: menyepi untuk memperbaiki hati, lalu kembali ke masyarakat dengan jiwa yang lebih bersih.

Dunia Tidak Salah, Tetapi Ketamakan Selalu Membunuh Hati

Salah satu nasihat paling tajam datang dari Nabi Isa AS.

Beliau berkata,

“Jangan berkawan dengan orang-orang yang mati.”

Ketika ditanya siapa yang dimaksud, beliau menjawab,

“Mereka yang rakus kepada dunia.”

Kalimat itu terdengar keras, tetapi kenyataan sering kali lebih keras. Banyak orang rela kehilangan waktu bersama keluarga demi mengejar citra. Tidak sedikit yang mengorbankan kejujuran demi keuntungan. Bahkan ada yang mengukur harga dirinya hanya dari jabatan, harta, atau jumlah pengikut di media sosial.

Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan,

“Yang paling aku khawatirkan terhadap umatku ialah lemahnya keyakinan.”

Ketika iman melemah, dunia berubah dari alat menjadi tujuan. Saat itulah hati mulai kehilangan arah.

Allah SWT berfirman,

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Ketenangan tidak pernah lahir dari tepuk tangan manusia. Ia tumbuh dari kedekatan kepada Allah.

Empat Kebiasaan Orang yang Ingin Membersihkan Jiwanya

Ulama besar Sahl bin Abdullah At-Tustari merangkum empat latihan yang membentuk jiwa seorang hamba.

Pertama, mengendalikan hawa nafsu melalui lapar.

Kedua, menjaga lisan dengan banyak diam.

Ketiga, memperbanyak tafakur dalam kesunyian.

Keempat, menghidupkan malam dengan salat tahajud.

Empat amalan itu tampak sederhana. Namun, semuanya menyerang akar penyakit manusia: ego, kesombongan, dan cinta dunia yang berlebihan.

Di tengah budaya yang mengagungkan pencapaian instan, empat latihan ini justru mengajarkan perlambatan. Seseorang belajar mengalahkan dirinya sendiri sebelum ingin mengalahkan orang lain.

Mungkin Kita Tidak Kekurangan Teman, Tetapi Kekurangan Waktu Bersama Allah

Teknologi membuat manusia saling terhubung selama 24 jam. Namun, hubungan yang paling penting justru sering terputus: hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.

Syekh Ibnu Athaillah seakan mengingatkan bahwa kebisingan bukan selalu berasal dari suara. Kebisingan juga lahir dari hati yang dipenuhi ambisi, iri, dan keinginan untuk terus dibandingkan dengan orang lain.

Karena itu, menyendiri bukanlah bentuk pelarian. Tafakur adalah keberanian untuk menatap diri sendiri tanpa topeng, mengakui kelemahan, lalu kembali memperbaiki arah hidup sebelum waktu habis.

Mungkin yang membuat hati kita lelah bukan karena hidup terlalu berat. Bisa jadi karena kita terlalu sibuk mencari tempat di mata manusia, sampai lupa mencari tempat di sisi Allah. Ketika dunia terus mengajak berlari, Syekh Ibnu Athaillah justru mengajarkan satu keberanian yang mulai langka: berhenti sejenak, menyepi, lalu bertanya dengan jujur, apakah hati ini masih mengenal jalan pulang kepada Allah, atau justru telah tersesat di tengah riuhnya dunia? (Red)

Kutipan-kutipan tentang Nabi Musa AS, Nabi Dawud AS, Nabi Isa AS, dan Sahl bin Abdullah At-Tustari disampaikan sebagaimana termuat dalam syarah Al-Hikam.

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Konflik Rumah Tangga

    Konflik Rumah Tangga Tak Selalu Buruk, Ini Penjelasan Kemenag

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 86
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA — Tidak sedikit pasangan menganggap rumah tangga yang bahagia adalah rumah tangga yang tidak pernah bertengkar. Padahal, konflik rumah tangga, konflik dalam pernikahan, dan perbedaan pendapat merupakan bagian yang hampir selalu hadir dalam kehidupan suami istri. Yang membedakan setiap pasangan bukan ada atau tidaknya konflik, melainkan cara mereka mengelolanya. Pandangan tersebut sejalan dengan […]

  • Kecelakaan Bus

    Mahasiswa Garut Tewas dalam Kecelakaan Bus di Banjar

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 130
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Kecelakaan Bus Sugeng Rahayu kembali menyita perhatian publik. Insiden maut yang melibatkan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dan sepeda motor Honda Vario ini terjadi di Jalan Siliwangi, Desa Mekarharja, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, Kamis (4/6/2026) sekitar pukul 11.30 WIB. Peristiwa tragis tersebut merenggut nyawa seorang mahasiswa muda asal Kabupaten Garut. Dalam hitungan […]

  • edukasi kebangsaan

    Bakesbangpol Menginisiasi Edukasi Kebangsaan dan Dampaknya bagi Generasi 2045

    • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Editorial Albadarpost: edukasi kebangsaan dinilai kunci menyiapkan generasi 2045 yang kuat dan berkarakter. albadarpost.com, EDITORIAL – Inisiatif edukasi kebangsaan yang digagas Bakesbangpol Kota Tasikmalaya bersama Forum Diskusi Albadar Institute layak dibaca sebagai langkah serius memperbaiki fondasi generasi Indonesia Emas 2045. Program ini menandai kesadaran baru: masa depan negara tidak ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi oleh […]

  • aktivitas anak libur sekolah

    15 Aktivitas Anak Saat Libur Sekolah yang Bikin Ketagihan

    • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 80
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Libur sekolah baru dimulai. Namun, banyak orang tua sudah menghadapi tantangan yang sama: anak lebih betah menatap layar ponsel daripada bermain di luar rumah. Kondisi ini membuat aktivitas anak libur sekolah menjadi salah satu topik yang banyak dicari, terutama oleh orang tua yang ingin menghadirkan liburan lebih sehat, produktif, dan menyenangkan. Padahal, […]

  • perdagangan orang

    Polres Garut Bongkar Perdagangan Orang di Bali

    • calendar_month Jumat, 28 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 173
    • 0Komentar

    Polres Garut ungkap perdagangan orang di Bali melalui penyamaran polwan. 20 korban berhasil diselamatkan. albadarpost.com, LENSA – Pengungkapan jaringan perdagangan orang yang melibatkan warga Garut terjadi awal 2018. Dua polwan Polres Garut, Brigadir Popy Puspasari dan Bripda Fitria, menyamar sebagai pekerja seks komersial untuk menelusuri modus perekrutan korban yang berujung eksploitasi di Bali. Penindakan ini […]

  • Petugas kesehatan Singapura menangani peningkatan kes campak dengan kebijakan pengasingan wajib dan pengesanan kontak

    Kenaikan Kasus Campak di Singapura: Karantina Diberlakukan

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 178
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Kenaikan kasus campak di Singapura bukan sekadar deretan angka dalam laporan kesehatan. Di balik data tersebut, ada keluarga yang cemas, orang tua yang khawatir terhadap anak-anak mereka, serta tenaga medis yang bekerja tanpa lelah untuk mencegah penyebaran penyakit yang sangat menular ini. Dalam situasi itulah, pemerintah Singapura mengambil langkah tegas dengan […]

expand_less