Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Etika Perayaan Keagamaan dan Batas Hiburan di Ruang Publik

Etika Perayaan Keagamaan dan Batas Hiburan di Ruang Publik

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 19 Jan 2026
  • visibility 182
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, PERSPEKTIF – Polemik biduan joget di panggung peringatan Isra Mikraj bukan sekadar soal selera hiburan atau viralitas media sosial. Ia membuka pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana etika perayaan keagamaan dikelola di ruang publik, dan sejauh mana simbol-simbol religius dilindungi dari banalitas acara seremonial.

Reaksi keras dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) menandai bahwa isu ini menyentuh ranah yang sensitif dan fundamental—bukan hanya bagi umat Islam, tetapi juga bagi tata kelola ruang publik di negara religius seperti Indonesia.


Fakta yang Sudah Final

Peristiwa tersebut terjadi dalam rangkaian acara peringatan Isra Mikraj di Banyuwangi. Dalam video yang beredar luas, seorang biduan tampil dan berjoget di atas panggung yang masih menampilkan atribut Isra Mikraj.

Baca juga: OTT Serentak KPK Pertegas Perang Korupsi Kepala Daerah

Wakil Ketua Umum MUI, Anwar Abbas, menyatakan bahwa aksi tersebut tidak pantas dan dapat dimaknai sebagai pelecehan terhadap nilai-nilai Islam. Ia menilai peringatan Isra Mikraj merupakan momen spiritual yang sakral dan tidak seharusnya dicampur dengan hiburan yang tidak relevan.

Panitia acara menyatakan bahwa hiburan digelar setelah acara inti selesai. Namun, simbol-simbol keagamaan yang masih terpasang menjadi faktor utama munculnya persepsi publik bahwa hiburan tersebut masih berada dalam konteks peringatan keagamaan.


Masalah Publik di Balik Peristiwa

Yang dipertaruhkan bukan sekadar soal joget di atas panggung, melainkan ketiadaan standar etik yang jelas dalam penyelenggaraan acara keagamaan di ruang publik.

Di banyak daerah, peringatan hari besar keagamaan sering dikemas sebagai acara massal yang bercampur antara dakwah, seremonial, hiburan, dan kepentingan politik lokal. Ketika batas-batas itu kabur, simbol agama berisiko diperlakukan sebagai dekorasi semata, bukan sebagai penanda makna.

Bagi masyarakat beragama, hal ini memunculkan kegelisahan. Bagi negara, ini menjadi tantangan tata kelola ruang publik yang menjunjung keberagaman sekaligus penghormatan terhadap nilai sakral.


Kebebasan Acara atau Disiplin Etika

Negara selama ini cenderung menyerahkan penyelenggaraan acara keagamaan kepada masyarakat dan panitia lokal. Pendekatan ini menjamin kebebasan berekspresi, tetapi menyisakan celah pada aspek etika dan sensitivitas simbolik.

Kasus biduan joget di panggung Isra Mikraj menunjukkan bahwa tanpa pedoman etik yang jelas, kebebasan tersebut mudah bergeser menjadi kelalaian. Negara tidak sedang diminta mengatur selera, tetapi memastikan ada batas tegas antara ruang sakral dan hiburan publik.

Baca juga: China Reklamasi Laut China Selatan, Peta Geopolitik Kawasan Berubah

Dalam konteks ini, kritik MUI dapat dibaca sebagai pengingat, bukan sekadar kecaman. Ia menyoroti kekosongan disiplin etik yang berulang muncul dalam berbagai perayaan keagamaan.


Dampak Nyata bagi Warga

Bagi umat, peristiwa semacam ini berpotensi menggerus rasa hormat terhadap perayaan keagamaan. Bagi generasi muda, pesan yang diterima menjadi ambigu: antara nilai spiritual dan tontonan.

Dan bagi penyelenggara acara, polemik ini menurunkan kepercayaan publik. Sementara bagi pemerintah daerah, ia menambah beban klarifikasi dan risiko konflik horizontal yang seharusnya bisa dicegah sejak awal.


Apa yang Perlu Diawasi

Yang perlu diawasi ke depan bukan semata siapa yang tampil di panggung, tetapi bagaimana rangkaian acara keagamaan dirancang secara utuh.

Transisi acara, penurunan simbol, penempatan hiburan, dan kejelasan konteks menjadi kunci. Tanpa itu, peristiwa serupa berpotensi berulang—dan setiap kali terjadi, kepercayaan publik akan semakin tergerus.

Ruang kontrol publik juga penting. Kritik masyarakat dan sikap lembaga keagamaan perlu dibaca sebagai mekanisme koreksi, bukan ancaman kebebasan.

Polemik biduan joget di panggung Isra Mikraj mengingatkan bahwa perayaan keagamaan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang makna yang hidup. Ketika simbol agama hadir di ruang publik, ia menuntut kehati-hatian, disiplin, dan kepekaan.

Di situlah etika menjadi penopang utama—agar perayaan tidak kehilangan ruhnya, dan ruang publik tetap terjaga martabatnya. (Red)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BBM Naik

    BBM Naik, Bolehkah Pedagang Ikut Naikkan Harga?

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 133
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Suara timbangan besi beradu pelan dengan meja kayu. Aroma bawang merah dan cabai segar bercampur dengan wangi kopi yang baru diseduh dari warung kecil di sudut pasar. Pagi itu, seorang ibu tampak menghela napas ketika mendengar harga telur naik seribu rupiah. “Katanya BBM naik lagi, Bu. Ongkos kirim dari pemasok juga ikut […]

  • Ketahanan Keluarga

    RSIA Tasikmalaya: Keluarga Kuat Cegah Kekerasan

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 123
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA — Ketahanan keluarga dan penguatan keluarga kembali menjadi perhatian dalam dialog terbuka yang digelar di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA). Tema tersebut dinilai penting karena keluarga yang berkualitas merupakan fondasi utama dalam melahirkan generasi sehat, berkarakter, serta mampu menghadapi berbagai tantangan zaman. Di sela-sela kegiatan, suasana diskusi berlangsung hangat. Sejumlah peserta tampak […]

  • Asbabun Nuzul Al-Jumu'ah

    Surat Al-Jumu’ah: Saat Dagangan Mengalahkan Khutbah

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 156
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Tidak banyak yang mengetahui bahwa Asbabun Nuzul Surat Al-Jumu’ah berawal dari sebuah peristiwa yang sangat manusiawi. Saat Rasulullah ﷺ sedang menyampaikan khutbah Jumat, sebagian jamaah justru meninggalkan masjid demi menyambut rombongan dagang yang baru tiba di Madinah. Kisah turunnya Surat Al-Jumu’ah ini bukan sekadar catatan sejarah Islam. Di baliknya terdapat pelajaran besar […]

  • Fenomena salat Tarawih cepat di masjid saat Ramadan dengan jamaah berdiri rapat mengikuti imam.

    Fenomena Tarawih Kilat, Mengapa Semakin Banyak Terjadi?

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 180
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Malam Ramadan biasanya dipenuhi lantunan ayat suci yang tenang dan menyejukkan. Namun belakangan, salat Tarawih cepat justru menjadi fenomena yang banyak dibicarakan. Video tarawih kilat menyebar luas di media sosial, memperlihatkan imam memimpin puluhan rakaat dalam waktu yang jauh lebih singkat dari kebiasaan. Sebagian jamaah terlihat lega karena bisa segera pulang, sementara […]

  • Rekam Tanpa Izin

    Rekam Orang Tanpa Izin, Bisa Dipidana? Ini Batasnya

    • calendar_month Rabu, 5 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 63
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Rekam tanpa izin menjadi topik yang kembali ramai setelah Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan merekam orang lain, terutama perempuan dan anak, tanpa persetujuan. Imbauan tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: apakah merekam orang tanpa izin, mengambil video di ruang publik, atau mengunggah rekaman ke media sosial otomatis […]

  • Aneka usaha kuliner rumahan unik seperti dessert modern, frozen food sehat, dan jajanan tradisional premium

    Sepi Pesaing! Usaha Kuliner Rumahan Ini Diam-Diam Bikin Cuan

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 165
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Banyak orang jualan makanan. Tapi tidak semua benar-benar untung. Menariknya, usaha kuliner rumahan yang terlihat sederhana justru sering menghasilkan lebih cepat—terutama yang masuk kategori kuliner rumahan sepi pesaing. Dengan ide tepat dan eksekusi cerdas, bisnis makanan rumahan bisa langsung dilirik pasar tanpa harus perang harga. Di sinilah peluangnya. Banyak yang belum sadar. […]

expand_less