Breaking News
light_mode
Beranda » Perspektif » Sejarah Valentine dalam Perspektif Islam

Sejarah Valentine dalam Perspektif Islam

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
  • visibility 175
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, PERSPEKTIF – Perayaan 14 Februari tidak lahir dalam ruang kosong. Ia tumbuh dari sejarah panjang yang berlapis. Karena itu, membahas Valentine tanpa melihat akarnya akan membuat diskusi terasa dangkal. Sebaliknya, memahami sejarahnya sekaligus menimbangnya dengan fiqh memberi gambaran yang lebih jernih.

Secara historis, sebagian peneliti mengaitkan Valentine dengan festival Romawi kuno bernama Lupercalia. Festival ini berlangsung pada pertengahan Februari sebagai perayaan kesuburan dan datangnya musim semi. Namun, hubungan langsung antara Lupercalia dan Valentine modern masih diperdebatkan. Sejarawan mencatat bahwa tidak ada bukti kuat yang menunjukkan gereja sekadar “mengganti nama” festival pagan tersebut.

Nama Valentine sendiri merujuk pada figur martir Kristen abad ketiga, dikenal sebagai Saint Valentine. Kisahnya beragam. Ada yang menyebut ia menikahkan pasangan secara diam-diam ketika Kaisar melarang pernikahan bagi tentara muda. Ada pula legenda tentang surat terakhirnya sebelum eksekusi. Namun demikian, catatan sejarah tentang dirinya tidak sepenuhnya solid. Tradisi romantis yang kini populer justru berkembang jauh setelah era itu, terutama pada Abad Pertengahan ketika sastra Eropa mengaitkan pertengahan Februari dengan musim kawin burung dan simbol cinta.

Artinya, Valentine modern merupakan hasil evolusi budaya, bukan ritual keagamaan yang ajeg sejak awal. Ia berubah, beradaptasi, dan kemudian dikomersialkan secara global.

Baca juga: Cara Food Prep Agar Tahan Seminggu

Lalu, bagaimana fiqh memandang fenomena seperti ini?

Dalam kajian hukum Islam, terdapat konsep penting bernama tasyabbuh, yaitu menyerupai praktik khas agama lain. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan sering dijadikan landasan ketika umat Islam menghadapi tradisi luar.

Mayoritas ulama Indonesia, termasuk Majelis Ulama Indonesia, memandang Valentine sebagai perayaan yang tidak sesuai dengan syariat. Mereka menilai perayaan ini bukan bagian dari tradisi Islam dan kerap dikaitkan dengan praktik pacaran bebas, pesta, serta ekspresi cinta di luar pernikahan. Karena itu, pencegahan dianggap lebih selamat daripada pembiaran.

Dalil yang sering dikutip adalah Surah Al-Isra ayat 32: “Dan janganlah kamu mendekati zina.” Ayat ini melarang bukan hanya perbuatannya, melainkan juga segala jalan yang mengarah ke sana. Jika sebuah momentum budaya membuka peluang ke arah tersebut, maka sikap kehati-hatian menjadi pilihan rasional dalam fiqh.

Namun fiqh tidak berdiri hanya pada satu kaidah. Ada pula konsep ‘urf—tradisi masyarakat—yang dapat diakui selama tidak bertentangan dengan nash (teks syariat). Kaidah fiqh menyebut, “Al-‘adah muhakkamah” (tradisi dapat menjadi pertimbangan hukum). Berdasarkan pendekatan ini, sebagian lembaga seperti Dar Al-Ifta Al-Misriyyah berpendapat bahwa memberi hadiah atau mengekspresikan kasih sayang pada 14 Februari tidak otomatis haram, selama tidak diniatkan sebagai hari raya agama dan tidak mengandung unsur maksiat.

Di sinilah perbedaan muncul. Satu pendekatan menekankan identitas dan pencegahan potensi kerusakan (sadd al-dzari’ah). Pendekatan lain menilai substansi tindakan: apakah ada unsur ibadah non-Islam atau tidak? Apakah ada pelanggaran moral atau tidak?

Karena itu, diskusi tentang Valentine sebenarnya menyentuh persoalan metodologi hukum Islam. Bagaimana ulama menimbang antara teks, konteks, dan dampak sosial? Bagaimana mereka membedakan antara budaya murni dan simbol religius?

Sementara itu, Islam sendiri memiliki fondasi cinta yang kuat. Allah menyebut dalam Surah Ar-Rum ayat 21 bahwa Dia menanamkan mawaddah dan rahmah dalam pernikahan. Rasulullah ﷺ juga menunjukkan kasih sayang kepada istri-istrinya secara terbuka. Artinya, ekspresi cinta bukan sesuatu yang asing dalam Islam. Hanya saja, ia ditempatkan dalam bingkai yang jelas: komitmen dan tanggung jawab.

Baca juga: Perbaiki Salatmu, Reset Hidupmu

Maka, memahami sejarah Valentine membantu kita melihat bahwa ia bukan sekadar “hari kasih sayang universal,” melainkan produk budaya Barat yang berkembang melalui sastra, legenda, dan ekonomi modern. Sementara itu, kajian fiqh membantu umat menimbang: apakah partisipasi di dalamnya memperkuat nilai atau justru mengaburkan batas?

Di tengah globalisasi, umat Islam menghadapi banyak tradisi lintas budaya. Sebagian bisa diadopsi, sebagian perlu disaring, dan sebagian mungkin harus ditinggalkan. Sikap kritis bukan berarti anti-sejarah. Sebaliknya, ia justru lahir dari pemahaman sejarah yang utuh.

Cinta dalam Islam tidak bergantung pada satu tanggal. Ia tumbuh dari iman, dipelihara oleh akhlak, dan dibuktikan melalui tanggung jawab. Tradisi boleh datang dan pergi, tetapi prinsip tetap menjadi kompas. (Red)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Proses membuat dendeng daging sapi kurban dengan bumbu rempah di dapur rumah tradisional

    Rahasia Dendeng Sapi Kurban yang Empuk dan Bumbunya Meresap

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 166
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Aroma bawang putih dan ketumbar biasanya mulai memenuhi dapur setelah pembagian daging kurban selesai. Di beberapa rumah, suara ulekan sambal bercampur dengan bunyi spatula yang beradu pelan dengan wajan panas. Kadang tudung panci jatuh tiba-tiba dari rak dapur karena meja mulai penuh oleh bumbu, talenan, dan piring bekas marinasi daging. Sementara itu, […]

  • Guru honorer sedang mengajar di ruang kelas sekolah negeri usai muncul isu penghapusan status honorer tahun 2027.

    Status Honorer 2027: FSGI Khawatir Krisis Pengajar Mengintai

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 119
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Bel sekolah belum lama berbunyi ketika beberapa guru mulai masuk ke ruang kelas di sebuah sekolah pinggiran. Sebagian membawa tumpukan buku. Sebagian lagi menyalakan kipas ruangan yang sejak pagi terasa panas. Di antara mereka, ada guru honorer yang sudah mengajar bertahun-tahun. Datang paling pagi. Pulang paling akhir. Namun hingga kini, status kerjanya […]

  • Kebakaran Lahan Ciamis

    Leuwikeris Terbakar, Kelalaian Kecil Bisa Jadi Bencana

    • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 38
    • 0Komentar

    albadarpost.com, EDITORIAL – Hanya satu puntung rokok yang diduga masih menyala, kawasan Bendungan Leuwikeris di Desa Handapherang, Kecamatan Cijeungjing, nyaris menghadapi kebakaran yang lebih besar pada Jumat (3/7/2026). Kebakaran lahan Ciamis itu memang berhasil dipadamkan tanpa korban jiwa. Namun, peristiwa tersebut kembali membuka kenyataan bahwa kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan masih menjadi ancaman serius ketika […]

  • Upacara Hari Otonomi Daerah 2026 di Tasikmalaya dengan peserta Forkopimda dan pimpinan daerah di halaman Setda

    HOD 2026, Bupati Cecep: Otonomi Daerah Harus Terasa ke Rakyat

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 102
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Hari Otonomi Daerah 2026 di Kabupaten Tasikmalaya tidak berhenti pada barisan rapi dan upacara formal. Peringatan yang juga disebut sebagai HOD 2026 dan peringatan otonomi daerah ini justru membawa pesan yang lebih dekat ke kehidupan warga: layanan publik harus benar-benar terasa. Di halaman Sekretariat Daerah, Senin (27/4/2026), upacara berlangsung tertib. Namun […]

  • Ilustrasi pesawat siluman di langit sebagai metafora tipuan dunia yang tampak indah namun menyimpan bahaya tersembunyi.

    Dunia Itu Manis, Tapi Diam-Diam Mematikan

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 177
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Di tengah hiruk pikuk ambisi modern, tipuan dunia semakin tampak normal. Tipuan dunia, godaan kehidupan fana, dan ilusi kenikmatan materi hadir seolah sahabat setia manusia. Padahal sejak dahulu para ulama telah mengingatkan bahwa dunia bukan tempat tinggal, melainkan ruang ujian. Anehnya, manusia justru memperlakukan dunia seperti rumah permanen lengkap dengan renovasi mimpi […]

  • Top Skor Piala Dunia 2026

    Mbappe Belum Aman, Messi Siap Rebut Golden Boot

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 58
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Top Skor Piala Dunia 2026 memasuki babak paling menegangkan. Meski Kylian Mbappe masih berada di puncak daftar pencetak gol Piala Dunia, persaingan Golden Boot Piala Dunia 2026 sama sekali belum selesai. Lionel Messi terus membayangi dengan jumlah gol yang sama, sementara Erling Haaland tetap menjaga peluang meski harus melewati jalur yang […]

expand_less