Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Dunia Itu Manis, Tapi Diam-Diam Mematikan

Dunia Itu Manis, Tapi Diam-Diam Mematikan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
  • visibility 252
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI – Di tengah hiruk pikuk ambisi modern, tipuan dunia semakin tampak normal. Tipuan dunia, godaan kehidupan fana, dan ilusi kenikmatan materi hadir seolah sahabat setia manusia. Padahal sejak dahulu para ulama telah mengingatkan bahwa dunia bukan tempat tinggal, melainkan ruang ujian. Anehnya, manusia justru memperlakukan dunia seperti rumah permanen lengkap dengan renovasi mimpi tanpa batas.

Kita mengejar jabatan seperti mengejar bus terakhir, membeli barang seakan kebahagiaan tersedia dalam katalog diskon, lalu heran mengapa hati tetap kosong. Dunia memberi sensasi cepat, tetapi kebahagiaan lambat datangnya. Di sinilah satire kehidupan bekerja: manusia sadar dunia sementara, tetapi tetap hidup seolah kontraknya abadi.

Dunia: Panggung Drama yang Terlalu Serius Ditonton

Syeikh Ibnu ‘Athoillah dalam Kitab Al-Hikam mengingatkan bahwa Allah sengaja menjadikan dunia sebagai tempat kerusakan agar manusia merasa jenuh terhadapnya. Pernyataan ini terasa paradoks bagi manusia modern. Kita justru memperindah sesuatu yang memang dirancang agar tidak nyaman.

Ironinya, manusia berlomba membuat dunia terasa stabil. Kita menumpuk status sosial, mengoleksi validasi digital, bahkan mengukur harga diri melalui angka pengikut media sosial. Namun semakin kuat genggaman terhadap dunia, semakin licin ia terasa.

Allah berfirman:

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, dan saling berbangga di antara kalian.”
(QS. Al-Hadid: 20)

Ayat ini bukan larangan hidup di dunia. Sebaliknya, ayat tersebut mengajak manusia memahami karakter dunia yang sementara. Sayangnya, banyak orang membaca ayat itu seperti membaca syarat dan ketentuan aplikasi: dilewati tanpa direnungkan.

Nasihat Nabi: Cinta Allah Tidak Datang dari Kesibukan Mengejar Dunia

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia mencintaimu.”
(HR. Ibnu Majah)

Hadis ini sederhana, tetapi terasa radikal di era kompetisi tanpa jeda. Hari ini manusia justru diajari sebaliknya: tampilkan segalanya, bandingkan semuanya, dan menangkan segalanya.

Akibatnya, manusia hidup dalam perlombaan yang garis akhirnya tidak pernah diumumkan. Ketika satu target tercapai, target baru muncul seperti notifikasi tanpa tombol mute.

Padahal zuhud bukan berarti miskin atau menolak kemajuan. Zuhud berarti hati tidak bergantung pada dunia. Kita boleh memiliki dunia, tetapi dunia tidak boleh memiliki kita.

Dunia Itu Ular Licin: Pesan Imam Ali yang Terlalu Relevan

Imam Ali radhiallahu ‘anhu pernah menulis kepada Salman Al-Farisi bahwa dunia ibarat ular yang licin disentuh namun racunnya mematikan. Perumpamaan ini terasa sangat modern.

Dunia memang tidak terlihat berbahaya. Ia datang dalam bentuk promosi karier, popularitas instan, atau pujian yang membuat dada mengembang. Namun racunnya bekerja perlahan: kesombongan, kecemasan, dan ketakutan kehilangan.

Imam Ali menasihati agar manusia berpaling dari kekaguman berlebihan terhadap dunia karena hanya sedikit yang bisa dibawa sebagai bekal akhirat. Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi justru menusuk logika konsumtif manusia modern.

Kita membeli barang yang tidak dibutuhkan untuk mengesankan orang yang bahkan tidak peduli. Kita bekerja tanpa henti demi masa depan yang tetap tidak pasti. Satirnya, manusia takut miskin di dunia tetapi jarang takut miskin amal.

Mengapa Kita Tetap Tertipu?

Pertanyaan menarik muncul: jika semua peringatan sudah jelas, mengapa manusia tetap jatuh pada tipuan dunia?

Pertama, dunia menawarkan hasil instan. Kedua, ego manusia menyukai pengakuan. Ketiga, lingkungan sosial sering memuji pencapaian materi lebih keras daripada akhlak.

Imam Al-Ghazali pernah menjelaskan bahwa cinta dunia adalah akar banyak kesalahan karena hati menjadi sibuk dengan sesuatu yang fana. Ketika hati penuh dunia, ruang untuk ketenangan spiritual menjadi sempit.

Baca juga: Pesawat Stealth dan Bom Bunker-Buster Tembus Pertahanan Iran

Namun di sinilah harapan muncul. Kesadaran tidak menuntut manusia meninggalkan dunia sepenuhnya. Kesadaran hanya meminta manusia mengubah posisi dunia: dari tujuan menjadi alat.

Kita Semua Tahu, Tapi Berpura-pura Lupa

Manusia modern sebenarnya memahami bahwa dunia sementara. Kita mengucapkannya di ceramah, menuliskannya di status media sosial, bahkan mengutipnya saat merasa lelah. Akan tetapi, keesokan harinya kita kembali mengejar dunia dengan kecepatan penuh.

Inilah satire terbesar kehidupan: manusia takut kehilangan dunia yang pasti hilang, namun sering melupakan akhirat yang pasti datang.

Syeikh Ibnu ‘Athoillah seolah ingin mengatakan bahwa kejenuhan terhadap dunia bukan kegagalan iman, melainkan tanda kesadaran mulai tumbuh. Ketika seseorang mulai merasa lelah dengan hiruk pikuk dunia, mungkin itu bukan krisis hidup, melainkan panggilan pulang.

Karena pada akhirnya, dunia bukan musuh. Dunia hanyalah ujian yang terlalu sering kita anggap hadiah.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Guru pesantren mengajar di kelas diniyah dengan harapan baru setelah kebijakan tunjangan guru 2026 dari Kemenag

    Akhirnya Setara? Tunjangan Guru 2026 Menyentuh Diniyah dan Muadalah

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 212
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Tunjangan Guru 2026 akhirnya membuka pintu bagi guru pesantren, termasuk pendidikan diniyah dan muadalah. Kebijakan ini langsung menyatukan isu tunjangan profesi guru, TPG Kemenag, dan pengakuan negara dalam satu momentum yang sulit diabaikan. Selama ini mereka mengajar dalam senyap. Sekarang negara mulai melihat. Namun satu pertanyaan muncul: apakah ini benar-benar titik keadilan, […]

  • Kasus Pengusaha Nasi Kuning

    Rentannya Pekerja Perempuan di Lingkungan Kerja

    • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 225
    • 0Komentar

    Kasus pengusaha nasi kuning ungkap kekerasan seksual di tempat kerja dan rentannya pekerja perempuan. albadarpost.com, HUMANIORA – Kasus kekerasan seksual kembali mengguncang ruang publik. Kali ini, sorotan tertuju pada kasus pengusaha nasi kuning yang melibatkan relasi majikan dan karyawan. Seorang pekerja perempuan dilaporkan menjadi korban kekerasan seksual di lingkungan kerjanya sendiri, tempat yang seharusnya memberikan […]

  • Argentina vs Inggris

    Argentina Siapkan Senjata Premier League Hadapi Inggris

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 87
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Argentina vs Inggris menjadi salah satu pertandingan yang paling dinantikan pada semifinal Piala Dunia 2026. Duel dua raksasa sepak bola dunia ini bukan hanya menghadirkan persaingan dua tim elite, tetapi juga mempertemukan sejumlah pemain Argentina yang sangat mengenal karakter permainan Inggris berkat pengalaman mereka di Premier League. Faktor tersebut diperkirakan menjadi salah […]

  • coffee shop

    Ngopi Bukan Sekadar Nongkrong, Ini Alasan Coffee Shop Makin Diminati

    • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 22
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Secangkir kopi kini sering datang bersama laptop, buku, pekerjaan, obrolan, bahkan ide baru. Karena itu, coffee shop tidak lagi semata-mata dipandang sebagai tempat membeli minuman. Bagi sebagian orang, kedai kopi menjadi tempat menyelesaikan pekerjaan. Bagi yang lain, tempat bertemu teman, membaca, berdiskusi, membuat konten, atau sekadar mencari suasana berbeda dari rumah. Fenomena […]

  • Zidane Timnas Prancis

    Zidane Resmi Latih Prancis, Ujian Besarnya Baru Dimulai

    • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 96
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA– Zidane Timnas Prancis akhirnya bukan lagi sekadar wacana. Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) resmi menunjuk Zinedine Zidane sebagai pelatih baru Timnas Prancis atau Les Bleus. Keputusan itu mengakhiri era panjang Didier Deschamps sekaligus membuka babak baru bagi salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia. Namun, penunjukan ini bukan hanya soal pergantian pelatih. […]

  • HUT Bhayangkara ke-80

    HUT Bhayangkara ke-80, Wabup Minta Polri Perkuat Kepercayaan Publik

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 132
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – HUT Bhayangkara ke-80 bukan sekadar peringatan hari jadi Kepolisian Negara Republik Indonesia. Momentum ini menjadi pengingat bahwa Polri dituntut terus meningkatkan profesionalisme, memperkuat kepercayaan publik, dan menghadirkan penegakan hukum yang adil bagi seluruh masyarakat. Pesan tersebut mengemuka dalam Upacara HUT Bhayangkara ke-80 yang berlangsung di Bale Kota Tasikmalaya, Jalan Letnan Harun, […]

expand_less