Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Seandainya Kebaikan Jadi Arena Perlombaan

Seandainya Kebaikan Jadi Arena Perlombaan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
  • visibility 137
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI – Di tengah riuh dunia yang gemar berlomba dalam angka, kuasa, dan pujian, seruan Fastabiqul Khairat justru terdengar lirih. Padahal, berlomba dalam kebaikan—bersegera dalam amal saleh, mendahului dalam kebajikan, dan berkompetisi dalam ketakwaan—adalah panggilan langit yang tak pernah padam. Fastabiqul Khairat bukan sekadar slogan spiritual, melainkan jalan sunyi para pencari cahaya yang menolak tertinggal dalam kebaikan.

Perintah ini berakar kuat dalam firman Allah SWT:

“Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.”
(QS. Al-Baqarah: 148)

Ayat ini bukan hanya seruan, tetapi cambuk kesadaran. Ia menegur hati yang gemar menunda, menepuk jiwa yang gemar beralasan.

Ketika Dunia Berlomba dalam Kefanaan

Zaman ini aneh. Manusia berlari cepat, tetapi tidak tahu ke mana. Mereka berkompetisi mengumpulkan yang fana, namun lambat ketika dipanggil menuju yang abadi.

Dalam perspektif sufistik, penyakit terbesar manusia bukan kemiskinan harta, melainkan kelaparan makna. Hati menjadi keras karena terlalu sering meminum dunia tanpa jeda zikir.

Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan:

“Barang siapa tidak disibukkan oleh kebaikan, ia akan disibukkan oleh kebatilan.”

Di sinilah Fastabiqul Khairat menemukan relevansinya. Ia hadir sebagai obat bagi jiwa yang lelah oleh kesia-siaan.

Makna Berlomba yang Sesungguhnya

Fastabiqu berasal dari kata yang berarti mendahului dengan kesungguhan. Sementara al-khairat mencakup seluruh bentuk kebaikan: ibadah, ilmu, sedekah, hingga menjaga bumi.

Allah SWT kembali menegaskan dalam firman-Nya:

“Untuk tiap umat Kami berikan aturan… maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.”
(QS. Al-Ma’idah: 48)

Ayat ini menyingkap rahasia besar: perbedaan manusia bukan alasan berpecah, tetapi panggung untuk berlomba berbuat baik.

Karena itu, ukuran kemuliaan bukan seberapa cepat kita mengalahkan orang lain, melainkan seberapa cepat kita mendahului diri sendiri dalam ketaatan.

Jejak Fastabiqul Khairat dalam Amal Nyata

Spirit ini tidak berhenti di langit wacana. Ia menjelma tindakan.

Pertama, dalam sedekah. Tangan yang ringan memberi lebih cepat sampai kepada rahmat Allah dibanding kaki yang berlari menuju dunia.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sedekah tidak akan mengurangi harta.”
(HR. Muslim)

Kedua, dalam disiplin ibadah. Salat di awal waktu adalah bentuk perlombaan paling jujur antara hamba dan Tuhannya.

Ketiga, dalam menuntut ilmu. Ulama memandang ilmu sebagai cahaya, dan cahaya hanya singgah pada hati yang bersegera mencarinya.

Keempat, dalam menjaga alam. Kebaikan tidak berhenti pada manusia, tetapi merangkul semesta.

Kelima, dalam produktivitas hidup. Waktu diperlakukan sebagai amanah, bukan tempat membuang lelah tanpa makna.

Satir Zaman: Yang Cepat dalam Dosa, Lambat dalam Pahala

Ironi terbesar zaman modern ialah kecepatan yang salah arah. Teknologi mempercepat segalanya, tetapi tidak otomatis mempercepat kebaikan.

Jari manusia gesit menyebar fitnah, namun berat menulis doa. Lisan tajam menghakimi, tetapi kelu ketika diminta menasihati dengan kasih.

Hasan Al-Basri berkata:

“Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Ketika satu hari pergi, sebagian dirimu ikut mati.”

Namun manusia tetap menunda kebaikan, seolah umur memiliki cadangan.

Jangan Menjadi Masbūq dalam Kebaikan

Dalam istilah fikih, masbūq ialah makmum yang tertinggal rakaat. Dalam makna spiritual, ia adalah jiwa yang terlambat berbuat baik.

Fastabiqul Khairat mengajarkan agar kita tidak menjadi masbūq dalam amal. Sebab kesempatan tidak selalu datang dua kali, dan ajal tidak menunggu kesiapan.

Ulama sufi Ibnu Athaillah menulis dalam Al-Hikam:

“Jangan menunda amal hingga waktu luang, sebab waktu luang belum tentu datang.”

Nasihat ini seperti anak panah yang menembus alasan manusia.

Spirit Peradaban: Dari Individu ke Umat

Fastabiqul Khairat bukan hanya etika personal, tetapi fondasi peradaban. Ia melahirkan masyarakat yang produktif, disiplin, dan saling menguatkan.

Baca juga: Rp3,4 Miliar Disorot! Dugaan Korupsi PLUT Tasikmalaya Menggema

Tak heran, spirit ini lekat dalam gerakan pembaruan Islam modern, termasuk etos kerja, pendidikan, dan pelayanan sosial.

Ketika umat berlomba dalam kebaikan, peradaban tumbuh. Namun ketika umat berlomba dalam kepentingan, peradaban runtuh.

Berlomba Menuju Cahaya

Pada akhirnya, hidup adalah perlombaan yang sunyi. Tidak semua tepuk tangan manusia bernilai di langit, dan tidak semua amal kecil luput dari catatan malaikat.

Fastabiqul Khairat mengajarkan satu hal sederhana namun agung: jadilah yang terdepan dalam kebaikan, bukan yang tercepat dalam keburukan.

Sebab dunia hanyalah garis start, sementara akhirat ialah garis finis.

Dan hanya mereka yang berlari menuju cahaya yang akan sampai dengan selamat.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Sam ani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Inggris vs Norwegia

    VAR dan Bellingham Antar Inggris ke Semifinal

    • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 21
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Inggris vs Norwegia menghadirkan drama yang nyaris tak memberi ruang bagi penonton untuk bernapas. Dalam laga perempat final Piala Dunia 2026 itu, Timnas Inggris bangkit dari tekanan, memanfaatkan momentum, lalu menutup pertandingan dengan kemenangan 2-1 berkat dua gol Jude Bellingham. Di sisi lain, Norwegia harus mengubur mimpi melaju ke semifinal setelah […]

  • Islam dan Pancasila

    Jawaban Soal Islam dan Pancasila Ternyata Ada di Halaman Sekolah Dasar

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 122
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Pada suatu Senin pagi, barisan siswa sekolah dasar berdiri menghadap tiang bendera. Seorang anak laki-laki mengenakan peci hitam yang sesekali ia betulkan karena miring tertiup angin. Di sampingnya, seorang siswi berkerudung putih berdiri tegak meski tali sepatu kirinya tampak belum terikat sempurna. Di barisan belakang, beberapa siswa terlihat masih mengantuk. Ada yang […]

  • Puding sederhana lembut dengan tekstur halus dan tampilan menarik di atas piring saji

    Wajib Coba! Resep Puding Sultan dengan Bahan Sederhana

    • calendar_month Senin, 23 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 171
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Banyak orang mencari resep puding sederhana yang mudah dibuat namun tetap lezat. Rahasia resep puding ini, yang juga sering disebut cara membuat puding lembut atau puding praktis rumahan, ternyata terletak pada teknik kecil yang sering diabaikan. Dengan langkah yang tepat, Anda bisa menghasilkan puding yang lembut, tidak berair, dan memiliki rasa yang […]

  • Pesantren Tasikmalaya

    Diky: Santri Jangan Hanya Kuat Ngaji, Tapi Juga Siap Bersaing

    • calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 84
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Di tengah derasnya arus informasi, media sosial, dan perkembangan teknologi yang bergerak nyaris tanpa jeda, banyak orang tua mulai menghadapi pertanyaan yang sama: bagaimana menjaga karakter anak agar tetap kuat di tengah perubahan zaman? Bagi sebagian masyarakat, jawabannya masih ditemukan di lingkungan Pesantren Tasikmalaya. Lembaga pendidikan Islam, pondok pesantren, dan komunitas […]

  • kesbangpol ciamis

    Bakesbangpol Ciamis Dorong Literasi Politik Desa untuk Perkuat Demokrasi

    • calendar_month Selasa, 18 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 187
    • 0Komentar

    Penguatan literasi politik desa di Ciamis dipandang krusial untuk menjaga kualitas demokrasi dan partisipasi warga. albadarpost.com, PELITA – Perbincangan mengenai literasi politik desa kembali mencuat di Ciamis. Kepala Bakesbangpol Ciamis, DR. R. Yadi Tisyadi, S.E., M.Si., menegaskan bahwa kualitas demokrasi di tingkat lokal bergantung pada sejauh mana warga desa memahami hak dan peran mereka dalam […]

  • Beasiswa Santri 2026

    Beasiswa Santri 2026: Kuliah S1–S2 Bisa Lebih Cepat, Ini Jalur Rahasianya!

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 133
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Beasiswa Santri 2026 kini menjadi sorotan karena membuka peluang kuliah cepat melalui program percepatan S1–S2. Program yang dikenal sebagai Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) ini menghadirkan skema kuliah terintegrasi, sehingga santri bisa menempuh pendidikan lebih singkat tanpa mengurangi kualitas akademik. Dengan kata lain, beasiswa santri, kuliah cepat, dan jalur percepatan kini menjadi satu […]

expand_less