Syekh Athoillah: Jangan Habiskan Nafas untuk Hal Sia-Sia
- account_circle redaktur
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang sibuk bermain ponsel di malam hari sementara waktu dan nafas hidup terus berjalan menuju akhir hayat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, OPINI – Di zaman sekarang, banyak orang mengenal bunyi notifikasi lebih cepat daripada suara hati mereka sendiri. Bahkan sebelum mata benar-benar terbuka, tangan sudah lebih dulu meraba ponsel di samping bantal. Scroll sebentar. Buka video pendek. Lihat komentar orang lain. Lalu tanpa sadar, hampir setengah jam hilang begitu saja.
Padahal dalam Islam, setiap tarikan nafas menyimpan takdir Allah. Nafas takdir itu berjalan terus tanpa jeda. Dalam satu menit, seseorang bisa mendapat pahala, menambah dosa, atau justru makin jauh dari Allah tanpa sadar.
Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam Kitab Al-Hikam pernah berkata:
“Tiada suatu nafas terlepas daripadamu, melainkan di situ pula ada takdir Allah yang berlaku di atasmu.”
Nasihat itu terasa semakin tajam ketika melihat kehidupan manusia hari ini. Sebab sekarang banyak orang tidak kehabisan waktu karena bekerja berat. Mereka justru kehabisan umur karena terlalu lama menatap layar.
Scroll Tidak Pernah Benar-Benar Selesai
Coba lihat suasana rumah pada malam hari.
Di beberapa kamar, lampu utama sudah dimatikan. Namun cahaya layar ponsel masih menyala tipis di wajah penghuninya. Kadang terdengar suara video pendek bercampur tawa receh. Kadang potongan debat politik diputar berulang seperti tidak ada habisnya.
Kipas angin terus berputar pelan. Mata sebenarnya sudah lelah. Namun jempol tetap bergerak otomatis ke atas.
Scroll lagi. Scroll lagi.
Sebagian orang bahkan tertidur dengan ponsel masih menyala di dada, sementara alarm Subuh besok pagi sering dimatikan tanpa sadar.
Ironisnya, banyak yang berkata tidak punya waktu membaca Al-Qur’an.
Padahal durasi menonton video orang asing bertengkar di media sosial bisa lebih lama daripada waktu shalatnya sendiri.
Ada pula yang hafal nada notifikasi aplikasi tertentu, tetapi mulai lupa kapan terakhir membaca Al-Qur’an dengan tenang tanpa tergesa.
Satire paling pahit manusia modern mungkin ada di sini:
kita takut kehilangan sinyal internet, tetapi tidak takut kehilangan sisa umur.
Padahal Rasulullah SAW sudah mengingatkan:
“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum tua, sehatmu sebelum sakit, kayamu sebelum miskin, waktu luangmu sebelum sibuk, dan hidupmu sebelum mati.”
(HR Al-Hakim)
Hadis ini terasa sangat dekat dengan kehidupan digital hari ini. Sebab pencuri umur sekarang tidak selalu datang dalam bentuk pekerjaan berat. Kadang ia hadir lewat video 30 detik yang terus bersambung sampai larut malam.
Nafas Terus Berkurang, Tetapi Manusia Merasa Masih Lama
Yang membuat manusia lalai sebenarnya bukan karena tidak tahu kematian. Semua orang tahu hidup akan selesai. Namun banyak yang merasa ajal masih jauh.
Karena itu manusia berani menunda taubat. Menunda shalat. Menunda meminta maaf.
Padahal tubuh sebenarnya terus memberi tanda.
Mata makin cepat pedih karena layar. Leher mulai pegal. Tidur tidak lagi nyenyak. Bahkan sebagian orang langsung mencari ponsel beberapa detik setelah terbangun, seolah hidup harus dimulai dari notifikasi.
Di beberapa rumah, suara azan Subuh kadang kalah oleh bunyi video yang belum dimatikan sejak tengah malam.
Allah SWT berfirman:
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(QS At-Takatsur: 1-2)
Hari ini manusia bukan hanya berlomba soal harta. Banyak yang juga sibuk mengejar validasi digital, viralitas, dan pengakuan dari orang-orang yang bahkan tidak benar-benar peduli.
Sebagian orang terlihat sangat aktif di media sosial, tetapi semakin asing dengan dirinya sendiri.
Ketika Dzikir Kalah oleh Notifikasi
Masalah terbesar manusia modern mungkin bukan kurang ilmu agama. Ceramah tersedia di mana-mana. Ayat Al-Qur’an mudah ditemukan. Kajian bisa diputar kapan saja.
Namun hati manusia terlalu ramai.
Notifikasi masuk tanpa jeda. Pikiran penuh urusan orang lain. Akibatnya, banyak orang sulit duduk tenang walau hanya lima menit untuk berdzikir.
Padahal Allah SWT sudah berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS Ar-Ra’d: 28)
Karena itu, persoalannya bukan sekadar teknologi. Ponsel tidak salah. Media sosial juga tidak selalu buruk.
Yang berbahaya adalah ketika manusia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Saat bangun tidur lebih dulu mencari notifikasi daripada membaca doa. Saat jempol lebih aktif daripada lisannya berdzikir. Dan saat hidup habis mengikuti keramaian yang bahkan tidak memberi manfaat akhirat.
Gunakan Nafas Sebelum Tinggal Nama
Pada akhirnya, hidup manusia tidak panjang. Nafas takdir terus berjalan tanpa bisa dihentikan.
Hari ini mungkin seseorang masih tertawa sambil scrolling di sudut kamar. Namun tidak ada yang tahu apakah itu menjadi malam terakhirnya.
Karena itu ulama selalu mengingatkan agar manusia menjaga nafasnya. Sebab setiap hembusan adalah amanah dari Allah.
Gunakan umur untuk sesuatu yang mendekatkan diri kepada-Nya: membantu orang lain, menjaga lisan, memperbaiki shalat, mencari rezeki halal, dan memperbanyak dzikir.
Sebab ketika kematian datang, manusia tidak akan ditanya berapa banyak video yang sudah ditonton.
Yang akan ditanya adalah:
ke mana umur dihabiskan, dan untuk apa nafas dipakai.
Di akhir hidup nanti, manusia mungkin tidak menyesal karena terlalu sedikit scrolling.
Tetapi banyak orang akan menangis karena terlalu sedikit mengingat Allah, sementara nafasnya sudah habis lebih dulu.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar