Manusia Sibuk Cari Tuhan di Langit, Padahal Nafasnya Saja Pemberian Allah
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
- visibility 14
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
analbadarpost.com, LIFESTYLE – Ada manusia yang setiap hari sibuk mencari bukti keberadaan Tuhan. Ia memandangi langit, menghitung bintang, mengagumi gunung, lalu berkata, “Ini bukti Allah ada.” Padahal sejak bangun tidur sampai malam datang, jantungnya berdetak tanpa ia pernah tahu tombol “ON”-nya di mana.
Inilah yang dijelaskan Syekh Ibnu Athoillah dalam Kitab Hikam tentang hakikat mengenal Allah. Menurut ulama sufi tersebut, ada perbedaan besar antara orang yang melihat Allah lebih dahulu lalu memahami alam, dengan orang yang baru percaya kepada Allah setelah melihat alam semesta.
Ironisnya, manusia modern sering merasa paling rasional. Semua ingin dibuktikan. Semua harus terlihat. Dan semua harus masuk logika. Namun lucunya, mereka percaya sinyal WiFi tanpa pernah melihat bentuknya, tetapi masih meminta bukti tentang Tuhan yang menghidupkan dirinya.
Syekh Athoillah seakan menampar cara berpikir manusia yang terlalu sibuk mencari Tuhan di luar dirinya sendiri.
Ketika Alam Dijadikan Bukti Tuhan
Dalam salah satu hikmahnya, Syekh Athoillah menjelaskan bahwa orang yang benar-benar mengenal Allah tidak membutuhkan alam sebagai bukti utama keberadaan-Nya.
Mereka justru melihat alam sebagai akibat dari adanya Allah.
Sebaliknya, orang yang menjadikan alam sebagai satu-satunya jalan mengenal Tuhan menunjukkan bahwa hatinya belum benar-benar sampai kepada Allah.
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi maknanya cukup dalam.
Sebab hari ini manusia begitu kagum pada ciptaan, tetapi lupa kepada Yang Menciptakan.
Orang menangis melihat matahari terbit di pegunungan. Orang terpukau melihat laut dan hutan. Namun setelah itu, ia kembali sombong, kembali lalai, dan kembali hidup seolah dunia berdiri sendiri tanpa Tuhan.
Padahal Al-Qur’an sudah mengingatkan:
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, lalu Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.”
(QS. An-Nahl: 78)
Ayat itu menjelaskan bahwa sejak lahir manusia sebenarnya sudah dibekali alat untuk mengenal Allah.
Pendengaran, penglihatan, akal, dan hati bukan sekadar alat mencari uang atau mengejar jabatan.
Semua itu adalah jalan untuk mengenal siapa yang menciptakan kehidupan.
Manusia Modern: Pintar, Tapi Kosong
Hari ini manusia berhasil membuat kecerdasan buatan, roket, dan teknologi canggih. Namun anehnya, semakin tinggi ilmu pengetahuan, semakin banyak manusia kehilangan ketenangan.
Banyak orang hafal teori motivasi, tetapi tidak mampu tidur nyenyak.
Banyak yang paham cara investasi, tetapi hidupnya penuh kecemasan.
Dan banyak yang merasa modern, tetapi mudah marah hanya karena komentar media sosial.
Mengapa?
Karena manusia modern sering mengenal segala sesuatu kecuali dirinya sendiri.
Ia tahu isi dunia, tetapi lupa kepada pemilik dunia.
Padahal Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan:
“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
Sayangnya, manusia hari ini lebih sibuk mempercantik citra daripada memperbaiki hati.
Feed media sosial dirawat seperti taman istana, tetapi jiwanya sendiri dibiarkan kosong dan berdebu.
Tuhan Tidak Pernah Jauh, Manusialah yang Menjauh
Syekh Athoillah sebenarnya sedang menjelaskan satu hal penting: Allah tidak pernah jauh.
Manusialah yang terlalu sibuk dengan dunia sampai lupa melihat tanda-tanda Tuhan dalam dirinya sendiri.
Nafas gratis.
Jantung berdetak otomatis.
Mata bisa melihat.
Otak bisa berpikir.
Namun manusia tetap berkata, “Mana bukti Tuhan?”
Lucunya lagi, manusia sering baru ingat Tuhan ketika hidup mulai sempit.
Saat sakit datang, doa mendadak panjang.
Saat kehilangan pekerjaan, sajadah mulai dicari.
Dan saat hati hancur, barulah malam terasa sunyi.
Padahal Allah sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri.”
(QS. Fussilat: 53)
Artinya, bukti keberadaan Allah bukan hanya ada di langit atau gunung.
Buktinya ada di tubuh manusia sendiri.
Bersyukur Adalah Bentuk Tertinggi Mengenal Allah
Menurut para ulama tasawuf, orang yang benar-benar mengenal Allah akan lebih mudah bersyukur.
Ia sadar bahwa hidup bukan semata hasil kerja kerasnya.
Ada pertolongan Allah dalam setiap langkah kehidupan.
Karena itu, rasa syukur bukan hanya ucapan “alhamdulillah”.
Syukur adalah kesadaran bahwa manusia tidak memiliki apa-apa tanpa Allah.
Sayangnya, banyak orang baru sadar ketika nikmat mulai dicabut sedikit demi sedikit.
Ketika sehat hilang, baru sadar pentingnya tubuh.
Ketika hati gelisah, baru sadar pentingnya kedekatan kepada Tuhan.
Dan ketika dunia mulai terasa sesak, manusia akhirnya paham bahwa uang ternyata tidak bisa membeli ketenangan.
Manusia hari ini terlalu sibuk mencari Tuhan di ujung langit, padahal sejak lahir Allah sudah mengetuk hatinya lewat setiap detak jantung yang tidak pernah ia bayar.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar