Siti Hajar dan Nabi Ismail: Kisah Sunyi yang Melahirkan Kota Makkah
- account_circle redaktur
- calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
- visibility 22
- comment 0 komentar
- print Cetak

Jamaah haji melakukan sa'i, antara Shafa Marwah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA – Kisah Siti Hajar dan Nabi Ismail selama ini sering hanya muncul sekilas saat membahas sejarah kurban atau asal-usul air Zamzam. Padahal di balik perjalanan itu, tersimpan salah satu kisah paling emosional dalam sejarah Islam: tentang seorang ibu yang bertahan di padang tandus, seorang anak kecil yang menangis kehausan, dan sebuah kota suci yang lahir dari kesunyian.
Banyak orang mengenal Nabi Ibrahim AS sebagai tokoh utama dalam sejarah Iduladha. Namun tidak banyak yang benar-benar membayangkan bagaimana beratnya perjalanan yang dijalani Siti Hajar saat ditinggalkan di lembah Makkah yang saat itu masih kosong dan sunyi.
Tidak ada rumah.
Tidak ada pohon besar.
Bahkan suara manusia pun nyaris tidak terdengar.
Siti Hajar Ditinggalkan di Lembah Tandus Tanpa Siapa Pun
Allah SWT mengabadikan doa Nabi Ibrahim AS dalam Al-Qur’an:
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati.”
(QS. Ibrahim: 37)
Lembah itu panas dan kering. Angin gurun bergerak pelan sambil membawa pasir tipis yang kadang menempel di kaki. Tidak ada suara pasar. Tidak ada percakapan manusia. Yang terdengar mungkin hanya desiran angin dan tangis kecil Nabi Ismail yang mulai kehausan.
Di tempat itulah Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan bayi kecilnya.
Dalam riwayat Shahih Bukhari dijelaskan, Siti Hajar sempat mengejar Nabi Ibrahim sambil bertanya:
“Apakah Allah yang memerintahkan ini?”
Ketika Nabi Ibrahim menjawab “ya”, Siti Hajar berkata:
“Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Kalimat itu sangat singkat.
Namun justru dari sanalah keteguhan seorang ibu terlihat begitu besar.
Siti Hajar Tidak Hanya Berdoa, Tapi Juga Berlari
Saat bekal air mulai habis, Nabi Ismail kecil menangis kehausan. Tenggorokan terasa kering. Udara gurun makin panas. Pasir tipis bahkan mungkin ikut masuk ke sela sandal saat Siti Hajar berlari kecil di antara bukit.
Di titik itu, Siti Hajar tidak hanya duduk dan menunggu mukjizat.
Ia bergerak.
Dari Bukit Shafa ke Marwah. Lalu kembali lagi.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Sampai tujuh kali.
Sa’i yang hari ini dilakukan jutaan jamaah haji dan umrah ternyata lahir dari perjuangan seorang ibu mencari air untuk anaknya.
Di beberapa riwayat disebutkan, Siti Hajar sempat mempercepat langkah ketika melewati lembah kecil karena pandangannya terhadap Nabi Ismail terhalang. Kepanikan itu terasa sangat manusiawi.
Ia hanya seorang ibu yang takut kehilangan anaknya.
Dan mungkin di situlah kisah ini terasa begitu dekat dengan kehidupan banyak orang hari ini.
Air Zamzam Muncul dari Dekat Kaki Nabi Ismail
Setelah usaha panjang itu, pertolongan Allah akhirnya datang dengan cara yang tidak disangka.
Malaikat Jibril menghentakkan tanah di dekat kaki Nabi Ismail, lalu muncullah mata air Zamzam.
Air itu terus mengalir hingga hari ini.
Data dari Masjidil Haram menunjukkan sumur Zamzam kini menjadi salah satu sumber air utama bagi jutaan jamaah setiap musim haji dan umrah. Distribusinya bahkan menggunakan jaringan modern yang menjangkau hampir seluruh area Masjidil Haram.
Namun yang sering terlupakan, awal mula Zamzam justru lahir dari perjuangan sunyi seorang ibu.
Bukan muncul di atas bukit tempat Siti Hajar berlari.
Tetapi dekat kaki kecil Ismail.
Seolah Allah ingin menunjukkan bahwa manusia wajib berusaha, sementara arah pertolongan tetap menjadi rahasia-Nya.
Nabi Ismail Tumbuh dari Didikan Ibu yang Tangguh
Kisah Nabi Ismail sering langsung dikaitkan dengan peristiwa kurban. Padahal sebelum itu, ia tumbuh bersama sosok ibu yang luar biasa kuat.
Ia melihat bagaimana Siti Hajar bertahan hidup di lembah asing. Bagaimana ibunya tidak menyerah meski berada di tempat yang nyaris tidak memiliki apa pun.
Pelan-pelan, lembah itu mulai didatangi manusia karena keberadaan Zamzam. Dari sanalah kehidupan Makkah tumbuh.
Maka ketika Nabi Ismail berkata kepada ayahnya:
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Keberanian itu bukan muncul tiba-tiba.
Ada keteguhan yang sudah ia lihat sejak kecil dari seorang ibu bernama Siti Hajar.
Hari ini, banyak orang mungkin mengenang sa’i hanya sebagai bagian dari ibadah haji dan umrah. Padahal di balik ritual itu ada jejak seorang ibu yang berlari dengan napas memburu di tengah gurun.
Dan jejak itu terus diulang jutaan manusia hingga sekarang.
Makkah Tumbuh dari Kesabaran dan Air Mata
Yang jarang disadari, Makkah tidak hanya dibangun oleh doa Nabi Ibrahim AS.
Kota suci itu juga tumbuh dari langkah kaki Siti Hajar, tangisan Nabi Ismail, dan kesabaran panjang di tengah lembah tandus.
Di beberapa rumah hari ini, mungkin masih ada ibu yang diam-diam menahan lelah demi anaknya. Ada juga yang tetap terlihat tenang meski pikirannya penuh tentang kebutuhan hidup esok hari.
Karena itu, kisah Siti Hajar terasa tidak pernah benar-benar jauh.
Makkah tidak lahir dari kemewahan.
Ia tumbuh dari seorang ibu yang tetap berlari di tengah gurun, bahkan saat tidak ada siapa pun selain Allah yang mendengarkan tangisnya. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar