Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » Ironi SMPN 3 Depok: Bangunan Baru Rp28 Miliar, Meja Tak Cukup

Ironi SMPN 3 Depok: Bangunan Baru Rp28 Miliar, Meja Tak Cukup

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
  • visibility 163
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HUMANIORA – Kondisi pendidikan di Kota Depok kembali menjadi sorotan. Kali ini datang dari SMP Negeri 3 Depok. Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan membawa meja lipat dari rumah, meski sekolah tersebut baru selesai dibangun dengan anggaran mencapai Rp28 miliar.

Pemandangan itu memicu perhatian publik karena dianggap tidak sejalan dengan besarnya anggaran pembangunan sekolah. Gedung baru sudah berdiri, namun fasilitas dasar berupa meja dan kursi belum sepenuhnya tersedia.

Fasilitas Tak Sejalan dengan Kapasitas Belajar

Kepala SMPN 3 Depok, Ety Kuswandarini, mengakui keterbatasan fasilitas tersebut. Ia menjelaskan bahwa jumlah meja dan kursi tidak mencukupi ketika seluruh siswa mengikuti pembelajaran pada pagi hari secara bersamaan.

Sebelumnya, sekolah menerapkan sistem belajar pagi dan siang. Setelah menempati gedung baru, pihak sekolah memutuskan seluruh kegiatan belajar dilakukan pada pagi hari agar proses belajar lebih efektif dan terkontrol.

Baca juga: Laporan Orang Tua Bongkar Dugaan Pelecehan Guru SD

Keputusan itu berdampak pada kebutuhan sarana belajar. Jumlah siswa yang hadir bersamaan meningkat, sementara meja dan kursi belum tersedia sesuai kapasitas kelas.

“Jumlah ruang kelas bertambah, tapi sarana belum sepenuhnya mengikuti,” ujar Ety.

Dampak Pemisahan Sekolah Satu Atap

Selain perubahan sistem belajar, kondisi ini juga berkaitan dengan pemisahan SMPN 3 Depok dari SMPN 33 Depok. Sebelumnya, kedua sekolah tersebut berada dalam satu kawasan dan berbagi fasilitas.

Saat pemisahan dilakukan, sebagian meja dan kursi tetap digunakan oleh SMPN 33. Akibatnya, SMPN 3 Depok harus menyesuaikan diri dengan ketersediaan sarana yang tersisa.

Situasi tersebut membuat sekolah mengambil langkah cepat agar proses belajar tidak terhenti. Salah satunya dengan membuka opsi penggunaan meja lipat pribadi bagi siswa.

Orang Tua Setujui Solusi Sementara

Pihak sekolah menyampaikan kondisi tersebut kepada orang tua siswa. Sekolah menegaskan bahwa membawa meja dari rumah bukan kewajiban, melainkan solusi sementara bagi siswa yang memiliki meja lipat.

Sebagian siswa juga mengikuti pelajaran dengan duduk lesehan. Guru tetap mengajar sesuai jadwal tanpa mengurangi jam pelajaran.

“Orang tua memahami kondisi ini dan menyepakati solusi sementara,” kata Ety.

Sekolah memastikan tidak ada pungutan atau kewajiban membeli meja baru. Semua langkah dilakukan agar kegiatan belajar tetap berjalan sambil menunggu pengadaan resmi dari pemerintah.

Respons Pemerintah Kota Depok

Pemerintah Kota Depok merespons kondisi tersebut dengan menyatakan bahwa pengadaan meja dan kursi tidak termasuk dalam proyek pembangunan gedung sekolah. Proyek senilai Rp28 miliar itu berfokus pada pembangunan fisik bangunan.

Baca juga: Bupati Tasikmalaya Dorong Sekolah Jadi Pusat Perubahan Lingkungan

Pemkot Depok kini menyiapkan pengadaan sarana belajar secara terpisah. Dinas Pendidikan telah melakukan pendataan kebutuhan meja dan kursi sesuai jumlah siswa dan ruang kelas yang tersedia.

Wali Kota Depok menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk melengkapi fasilitas pendidikan secara bertahap. Pengadaan meja dan kursi ditargetkan dapat direalisasikan dalam waktu dekat.

Catatan bagi Perencanaan Pendidikan

Kasus SMPN 3 Depok menyoroti pentingnya sinkronisasi antara pembangunan fisik sekolah dan kesiapan fasilitas pendukung. Gedung baru tanpa sarana belajar yang memadai berpotensi menghambat kenyamanan siswa.

Meski bersifat sementara, kondisi ini menjadi pengingat bahwa perencanaan pendidikan tidak hanya soal bangunan, tetapi juga kelengkapan sarana yang langsung bersentuhan dengan siswa.

Pihak sekolah dan pemerintah berharap proses pengadaan segera rampung. Dengan begitu, seluruh siswa dapat belajar menggunakan fasilitas sekolah tanpa harus membawa perlengkapan sendiri dari rumah. (AC)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • pencegahan penculikan anak

    Pemerintah Dorong Pencegahan Penculikan Anak Lewat Edukasi Dini dan Pengawasan Digital

    • calendar_month Jumat, 14 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 98
    • 0Komentar

    Upaya pencegahan penculikan anak diperkuat lewat edukasi dini, pengawasan digital, dan peran aktif orang tua. albadarpost.com, HUMANIORA – Kasus penculikan anak kembali menjadi perhatian publik seiring meningkatnya insiden yang memanfaatkan kelengahan orang tua dan rendahnya kesadaran keamanan pada anak. Upaya pencegahan penculikan anak kini menjadi prioritas banyak keluarga, sekolah, dan pembuat kebijakan karena risiko dapat […]

  • ilustrasi pencairan tpg guru madrasah 2026

    Akhirnya Cair! TPG Guru Madrasah Mulai Dibayarkan

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 160
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Kabar yang dinanti akhirnya datang. TPG madrasah cair secara bertahap mulai Maret 2026. Pencairan tunjangan profesi guru madrasah ini menjadi kabar baik bagi para pendidik di seluruh Indonesia, terutama bagi mereka yang selama ini menunggu kepastian pembayaran. Tidak hanya guru yang telah lama bersertifikasi, pemerintah juga memastikan bahwa lulusan Pendidikan Profesi […]

  • Warga desa di Tasikmalaya menghadapi risiko iklim berdasarkan data IRID Kementerian Keuangan.

    IRID Tasikmalaya: 351 Desa di Ambang Risiko Iklim

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 161
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – IRID Tasikmalaya bukan sekadar deretan angka dalam laporan Kementerian Keuangan. Di balik data Indeks Risiko Iklim Desa (IRID) itu, ada 351 desa di Kabupaten Tasikmalaya yang setiap tahun menghadapi ancaman banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. Risiko iklim desa Tasikmalaya kini tidak lagi terasa jauh. Sebaliknya, dampaknya mulai menyentuh sawah, rumah warga, […]

  • Situ Gede Tasikmalaya

    Situ Gede Mengering, Perahu Kini Parkir di Tanah Retak

    • calendar_month Senin, 20 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 52
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Situ Gede Tasikmalaya, salah satu ikon wisata air di Kota Tasikmalaya, menghadapi kondisi yang memprihatinkan pada puncak musim kemarau tahun ini. Objek Wisata Situ Gede yang biasanya dipenuhi perahu wisata dan aktivitas pengunjung kini berubah drastis. Permukaan air menyusut, hamparan lumpur mulai mendominasi kawasan danau, sementara puluhan perahu hanya terparkir di […]

  • Kasus Daycare Jogja

    53 Anak Jadi Korban! Kasus Daycare Jogja Bisa Dijerat KUHP Terbaru

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 148
    • 0Komentar

    albadarpost.com, EDITORIAL – Kasus daycare Jogja mengguncang publik tanah air. Dugaan pemberian obat penenang dan kekerasan seksual dalam kasus daycare Jogja ini langsung memicu kemarahan luas. Skandal daycare di Yogyakarta tersebut kini tidak hanya menjadi isu sosial, tetapi juga berpotensi menjadi perkara pidana berat di bawah KUHP terbaru dan undang-undang perlindungan anak. Yang membuat publik […]

  • belanja fiber optik

    Anggaran Jaringan Kominfo Tasikmalaya Menyisakan Tanda Tanya

    • calendar_month Senin, 15 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Redaksi Albadarpost menyoroti belanja fiber optik Kominfo Tasikmalaya yang mengaburkan aset, dan layanan publik. albadarpost.com, EDITORIAL – Selama empat tahun berturut-turut, Kominfo Kota Tasikmalaya menganggarkan pos bernama belanja fiber optik untuk ratusan site intranet, berdampingan dengan belanja internet dedicated bernilai miliaran rupiah. Secara administratif, anggaran ini sah. Namun secara kebijakan publik, ia bermasalah sejak di […]

expand_less