Bukan Wisuda, Cara Sekolah Pelangi Garut Ini Curi Perhatian
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

Year End Performance di Pendopo Garut, Rabu (10/6/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA – Sekolah Pelangi Garut memilih cara yang berbeda untuk menutup tahun ajaran 2026. Alih-alih menggelar wisuda formal, sekolah ini menghadirkan panggung ekspresi yang memberi ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan keberanian, kreativitas, dan kemampuan yang mereka bangun selama belajar. Melalui kegiatan Year End Performance di Pendopo Garut, pelepasan siswa berubah menjadi momen hangat yang tidak hanya membanggakan sekolah, tetapi juga menyentuh hati para orang tua.
Rabu pagi, 10 Juni 2026, suasana Gedung Pendopo Garut terasa lebih semarak dari biasanya. Deretan kursi perlahan terisi. Beberapa orang tua datang lebih awal untuk mendapatkan posisi terbaik melihat putra-putri mereka tampil di atas panggung.
Di sudut ruangan, anak-anak tampak sibuk dengan dunianya masing-masing.
Ada yang berlatih gerakan tari sambil menghitung irama pelan-pelan. Ada yang mengulang hafalan surah pendek. Beberapa lainnya duduk berdampingan dengan guru sambil sesekali tersenyum menahan rasa gugup.
Hari itu bukan tentang nilai rapor.
Hari itu tentang keberanian.
Ketika Pelepasan Siswa Menjadi Panggung Kepercayaan Diri
Tahun ini, Sekolah Pelangi Garut tidak menggelar prosesi wisuda seperti yang lazim dilakukan banyak sekolah.
Sebagai gantinya, sekolah menghadirkan konsep Year End Performance yang berfokus pada kemampuan dan ekspresi peserta didik.
Kepala Sekolah TK Sekolah Pelangi, Suci Sofa Arofani, menjelaskan bahwa konsep tersebut menyesuaikan arahan pemerintah terkait pembatasan kegiatan wisuda formal di lingkungan pendidikan.
Namun perubahan itu justru menghadirkan warna baru.

Murid Sekolah Pelangi Garut tampil dalam Year End Performance di Pendopo Garut dengan berbagai pertunjukan edukatif, Rabu (10/6/2026).
Anak-anak tidak disibukkan dengan simbol seremonial. Mereka diberi kesempatan untuk menunjukkan apa yang mereka sukai dan kuasai.
“Anak-anak nanti perform, kita memberikan apresiasinya dengan anak-anak itu tampil mengekspresikan dirinya bebas mau menampilkan apa saja,” ujar Suci.
Dari Story Telling hingga Hafalan Al-Qur’an
Sebanyak 16 murid TK atau Kindergarten Two dan dua siswa SD tampil dalam kegiatan tersebut.
Satu per satu mereka naik ke atas panggung.
Ada yang membawakan story telling dalam bahasa Inggris dengan intonasi yang cukup percaya diri. Ada yang menampilkan tarian dengan gerakan yang mengundang tepuk tangan penonton. Beberapa siswa lainnya membacakan surah-surah pendek Al-Qur’an dengan suara yang terdengar jelas hingga ke barisan belakang.
Pada salah satu penampilan, seorang anak sempat terdiam beberapa detik di tengah panggung.
Ruang pertunjukan mendadak hening.
Dari sisi panggung, guru memberikan senyum dan isyarat kecil untuk menyemangati. Anak itu menarik napas, lalu melanjutkan penampilannya hingga selesai.
Tepuk tangan langsung pecah.
Mungkin itulah salah satu momen yang paling berkesan hari itu.
Bukan karena penampilannya sempurna.
Tetapi karena keberaniannya untuk bangkit dan melanjutkan.
Orang Tua Menyaksikan Perkembangan yang Tak Tertulis di Rapor
Di deretan kursi penonton, sejumlah orang tua tampak sibuk mengabadikan momen menggunakan telepon genggam. Ada yang tersenyum sejak awal penampilan. Ada pula yang berdiri sejenak agar bisa merekam anaknya lebih jelas.
Beberapa kali terdengar tepuk tangan spontan dari para orang tua ketika anak-anak berhasil menyelesaikan penampilannya.
Bagi mereka, pencapaian hari itu mungkin tidak tercatat dalam angka atau nilai akademik.
Namun ada perkembangan lain yang terlihat jelas.
Kepercayaan diri.
Keberanian berbicara di depan banyak orang.
Kemampuan mengekspresikan diri.
Hal-hal seperti itu sering kali menjadi bekal penting yang akan terus dibawa anak-anak saat memasuki jenjang pendidikan berikutnya.
Pemkab Garut Apresiasi Konsep dan Pemanfaatan Pendopo
Pelaksanaan kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Garut.
Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Masyarakat Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Iyan Sopiyan, menyampaikan kebanggaannya karena kegiatan pendidikan dapat memanfaatkan fasilitas milik pemerintah daerah.
Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan upaya optimalisasi aset daerah sekaligus menjadi pilihan yang lebih efisien dibandingkan menyelenggarakan kegiatan di hotel.
Selain itu, ia juga mengapresiasi konsistensi Sekolah Pelangi Garut yang memiliki jenjang pendidikan lengkap mulai dari PAUD, Kelompok Bermain, TK hingga SD.
Sekolah tersebut juga dinilai memiliki kekuatan dalam penerapan pendidikan bernuansa bahasa Inggris yang terus berkembang.
Merayakan Proses, Bukan Sekadar Kelulusan
Acara pelepasan akhirnya berakhir menjelang siang.
Anak-anak turun dari panggung sambil membawa bunga dan bingkisan sederhana. Sebagian berlari kecil menghampiri orang tuanya. Sebagian lagi sibuk berfoto bersama teman dan guru.
Suasana hangat itu seolah mengingatkan bahwa pendidikan tidak selalu harus dirayakan dengan kemewahan.
Kadang-kadang, sebuah panggung sederhana sudah cukup untuk menunjukkan sejauh mana anak-anak telah bertumbuh.
Karena pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan hanya menghasilkan siswa yang pandai menjawab soal.
Pendidikan juga membantu anak-anak menemukan keberanian untuk tampil, berbicara, dan percaya pada dirinya sendiri.
Toga bisa disimpan. Sertifikat bisa dilupakan. Namun keberanian seorang anak saat pertama kali berdiri di atas panggung akan tinggal lebih lama dalam ingatan orang tua—dan sering kali menjadi langkah kecil menuju masa depan yang besar. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar