Pertamax Turbo Naik Jadi Rp19.900, Warga Mulai Keluhkan Biaya Harian
- account_circle redaktur
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi SPBU.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Kenaikan harga BBM nonsubsidi kembali memicu perhatian publik. PT Pertamina resmi menyesuaikan harga sejumlah bahan bakar mulai Minggu, 4 Mei 2026. Dalam daftar terbaru itu, Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.900 per liter untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.
Angka tersebut langsung memicu perbincangan luas di media sosial. Sebab bagi sebagian pengguna kendaraan, harga BBM premium kini terasa semakin jauh dari kata murah.
Tidak sedikit warga mulai menghitung ulang pengeluaran transportasi harian mereka. Terutama pengguna kendaraan dengan spesifikasi mesin tertentu yang tidak memungkinkan menggunakan BBM bersubsidi.
Kenaikan Paling Terasa Terjadi pada BBM Diesel dan Oktan Tinggi
Berdasarkan penyesuaian terbaru, Pertamax Turbo mengalami kenaikan dari Rp19.400 menjadi Rp19.900 per liter.
Sementara itu:
- Dexlite naik dari Rp23.600 menjadi Rp26.000 per liter
- Pertamina Dex melonjak dari Rp23.900 menjadi Rp27.900 per liter
Adapun harga Pertamax tetap berada di angka Rp12.300 per liter. Di sisi lain, Pertalite dan Biosolar subsidi belum mengalami perubahan harga.
Meski kenaikannya berbeda-beda, lonjakan pada Dexlite dan Pertamina Dex menjadi sorotan utama karena selisihnya cukup signifikan dibanding bulan sebelumnya.
Bagi pelaku usaha transportasi dan pengguna kendaraan diesel, perubahan itu bukan sekadar angka di papan SPBU. Kenaikan tersebut langsung berdampak pada biaya operasional harian.
Warga Mulai Kurangi Mobilitas dan Hitung Pengeluaran
Beberapa pengguna kendaraan mengaku mulai lebih selektif menggunakan kendaraan pribadi setelah harga BBM nonsubsidi kembali naik.
Kondisi ini terutama dirasakan warga dengan mobilitas tinggi seperti pekerja lapangan, pengemudi travel, hingga pelaku distribusi barang.
“Kalau dulu isi penuh masih terasa aman, sekarang harus benar-benar dihitung. Sekali isi bisa ratusan ribu,” ujar Arif, salah satu pengguna kendaraan bermesin diesel di Pasar Kedoya, Senin (4/5/2026).
Keluhan serupa ramai muncul di media sosial sejak daftar harga terbaru beredar. Banyak pengguna menilai kenaikan BBM nonsubsidi datang di saat biaya hidup masyarakat belum benar-benar stabil.
Selain kebutuhan pokok, biaya transportasi kini ikut menjadi perhatian utama rumah tangga perkotaan.
Pertamina Sebut Harga Mengikuti Formula Energi Global
Pertamina menyatakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengacu pada regulasi pemerintah melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022.
Formula tersebut mempertimbangkan beberapa faktor, antara lain:
- harga minyak mentah dunia,
- nilai tukar rupiah,
- dan biaya distribusi energi.
Ketika harga minyak global bergerak naik, harga BBM nonsubsidi di dalam negeri biasanya ikut mengalami penyesuaian.
Dalam beberapa bulan terakhir, pasar energi global memang masih bergerak fluktuatif akibat situasi geopolitik dan ketidakpastian pasokan minyak dunia.
Karena itu, pengamat menilai perubahan harga BBM masih berpotensi terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
Efek Berantai Mulai Dikhawatirkan
Kenaikan harga BBM nonsubsidi tidak hanya berdampak pada pengguna kendaraan pribadi. Sejumlah pelaku usaha juga mulai mengantisipasi kemungkinan naiknya biaya distribusi.
Jika ongkos operasional terus meningkat, harga barang dan jasa dikhawatirkan ikut mengalami penyesuaian.
Sektor logistik menjadi salah satu yang paling rentan terkena dampak. Sebab distribusi barang sangat bergantung pada konsumsi bahan bakar kendaraan operasional.
Selain itu, pelaku UMKM yang mengandalkan mobilitas harian juga berpotensi menghadapi tekanan tambahan.
Meski demikian, hingga saat ini pemerintah belum memberikan sinyal perubahan pada harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar.
Selisih Harga BBM Kini Makin Jauh
Di tengah kenaikan BBM nonsubsidi, selisih harga dengan bahan bakar subsidi kini semakin lebar.
Pertalite masih dijual Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar subsidi berada di angka Rp6.800 per liter.
Perbedaan tersebut membuat sebagian masyarakat mulai mempertimbangkan efisiensi penggunaan kendaraan. Namun bagi kendaraan dengan spesifikasi tertentu, pilihan BBM tetap terbatas.
Akibatnya, pengguna BBM premium praktis harus mengikuti dinamika harga energi global yang terus berubah.
Kenaikan BBM dan Tekanan Psikologis Masyarakat
Di luar dampak ekonomi, kenaikan harga BBM juga memengaruhi kondisi psikologis masyarakat. Sebab perubahan harga energi sering menjadi indikator meningkatnya biaya hidup.
Ketika harga bahan bakar naik, masyarakat biasanya menjadi lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.
Situasi itu terlihat dari meningkatnya pembahasan soal penghematan, biaya perjalanan, hingga pengeluaran rumah tangga di media sosial dalam beberapa jam terakhir.
Bagi banyak warga, kenaikan BBM bukan hanya soal kendaraan yang lebih mahal diisi. Lebih dari itu, kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap pengeluaran sehari-hari yang terus bertambah. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar