Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Janji Allah di Jalan Syukur

Janji Allah di Jalan Syukur

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
  • visibility 251
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI – Ada ayat yang tidak turun untuk diperdebatkan, melainkan untuk direnungkan. Ia tidak menggedor telinga, tetapi mengetuk hati. Surat Ibrahim ayat 7 adalah salah satunya. Sebuah pengumuman dari langit yang tidak memaksa, tetapi mengundang kesadaran terdalam manusia.

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Namun jika kamu mengingkari, sungguh azab-Ku sangat keras.”

Kalimat ini seperti cermin. Ia tidak bertanya seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa dalam kita menyadari. Di hadapan ayat ini, manusia diajak berhenti sejenak, mengendapkan riuh dunia, lalu menengok ke dalam.

Syukur yang Hidup di Dalam Hati

Dalam jalan para sufi, syukur bukanlah reaksi sesaat, melainkan maqam: sebuah kedudukan ruhani. Imam Al-Junaid menyebut syukur sebagai kemampuan melihat Pemberi di balik setiap pemberian. Karena itu, syukur tidak lahir dari banyaknya nikmat, tetapi dari beningnya pandangan hati.

Baca juga: Harga Beras Naik, Zakat Fitrah Menyesuaikan? Ini Penjelasan Baznas RI

Syukur sejati tidak selalu berbunyi. Ia hadir dalam diam yang sadar. Ia tumbuh ketika hati tidak lagi sibuk menghitung kekurangan, tetapi mulai mengenali kecukupan. Maka, orang yang bersyukur bukan yang paling kaya, melainkan yang paling tenang.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa syukur memiliki tiga lapis: pengetahuan (ma’rifah), keadaan hati (hal), dan perbuatan (‘amal). Ketika ketiganya bertaut, syukur menjadi hidup. Namun ketika salah satunya hilang, syukur berubah menjadi kebiasaan kosong.

Janji Allah dan Rahasia Penambahan

Allah menjanjikan tambahan nikmat bagi mereka yang bersyukur. Namun para ‘Arifin memahami, tambahan itu sering datang dengan cara yang tidak terduga. Ia tidak selalu menambah apa yang tampak, tetapi memperluas apa yang terasa.

Ibnu ‘Athaillah dalam Al-Hikam menulis, “Barang siapa tidak mensyukuri nikmat yang ada, ia akan kehilangan nikmat yang akan datang.” Kalimat ini bukan ancaman, melainkan hukum ruhani. Nikmat bertahan bukan karena dijaga tangan, tetapi karena dirawat hati.

Rasulullah SAW mengajarkan syukur melalui hidupnya. Dalam hadis riwayat Aisyah RA, Nabi tetap shalat malam hingga kakinya bengkak. Ketika ditanya mengapa bersusah payah padahal dosanya diampuni, beliau menjawab, “Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?”

Syukur, dalam hal ini, bukan balasan atas nikmat, tetapi cara mencintai Allah.

Kufur Nikmat: Lupa yang Menggelapkan

Kufur nikmat tidak selalu berbentuk penolakan terang-terangan. Ia sering hadir sebagai lupa. Lupa bahwa sehat adalah karunia. Lupa bahwa waktu adalah amanah. Lupa bahwa keberhasilan adalah titipan.

Para sufi menyebut lupa sebagai hijab paling halus. Ia tidak menyakitkan, tetapi menggelapkan. Dari lupa, lahir kelalaian. Dari kelalaian, tumbuh kesombongan. Maka, azab yang disebutkan dalam ayat sering kali datang sebagai kehilangan makna, bukan semata musibah.

Baca juga: Singapura Tancap Gas Menuju Target Wisata 2026

Ketika nikmat tidak lagi mendekatkan kepada Allah, saat itulah nikmat berubah menjadi ujian terberat.

Menjadikan Syukur sebagai Jalan Pulang

Syukur bukan tujuan akhir. Ia adalah jalan pulang. Jalan yang mengantar manusia kembali mengenali dirinya sebagai hamba, bukan pemilik. Dalam syukur, manusia berhenti menuntut dunia, lalu mulai merawat amanah.

Di tengah zaman yang mendorong manusia untuk selalu lebih, syukur mengajarkan cukup. Di saat dunia mengukur nilai dari pencapaian, syukur menimbang dengan ketulusan. Maka, syukur menjadi bentuk perlawanan paling lembut terhadap keserakahan.

Surat Ibrahim ayat 7 tidak sekadar menjanjikan penambahan nikmat. Ia mengajarkan cara hidup. Jika syukur tumbuh, hati lapang. Jika hati lapang, hidup bercahaya.

Dan barangkali, itulah nikmat terbesar yang sering luput kita syukuri.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Samani (Direktur Albadar Institute, Pemimpin Redaksi AlbadarPost)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pajak UMKM

    Pajak UMKM Bisa Nihil? Ini Penjelasannya

    • calendar_month Sabtu, 18 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 170
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Masih banyak pelaku usaha kecil yang mengira setiap omzet atau setiap penghasilan pasti langsung dikenai pajak. Padahal, anggapan tersebut tidak selalu benar. Dalam sistem perpajakan Indonesia, terdapat beberapa kondisi yang memungkinkan Pajak UMKM atau Pajak Penghasilan (PPh) menjadi nol atau tidak terutang sesuai ketentuan yang berlaku. Kesalahan memahami aturan pajak bukan hanya […]

  • Ilustrasi reflektif umat Islam dalam memahami makna Kuntum Khaira Ummah sebagai umat terbaik dalam Al-Qur’an.

    Kuntum Khaira Ummah: Umat Terbaik atau Sekadar Klaim?

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 167
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Kuntum Khaira Ummah kembali jadi pengingat. Istilah yang berarti umat terbaik dalam Islam ini sering dikutip dalam ceramah, status media sosial, hingga forum diskusi. Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan yang jarang dibahas secara jujur: apakah kuntum khaira ummah masih kita jalankan, atau hanya kita banggakan? Surah Ali ‘Imran ayat 110 memberi […]

  • Kata Kunci Utama

    Kasus Nicolas Maduro: Klaim AS dan Reaksi Venezuela

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 213
    • 0Komentar

    Kasus Nicolas Maduro kembali disorot setelah tekanan AS meningkat. Ini fakta, bantahan Venezuela, dan dampaknya. albadarpost.com, BERITA DUNIA – Nama Presiden Venezuela Nicolas Maduro kembali menjadi sorotan internasional setelah muncul klaim dari Amerika Serikat terkait penangkapannya. Klaim tersebut memicu reaksi keras dari pemerintah Venezuela dan menambah daftar panjang ketegangan diplomatik antara Caracas dan Washington. Klaim […]

  • keberkahan hidup tasawuf

    Rahasia Tasawuf: Cara Hidup Tenang dan Rezeki Selalu Cukup

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 207
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Keberkahan hidup tasawuf menjadi konsep penting dalam Islam yang sering dicari di tengah kehidupan modern. Banyak orang mengejar kekayaan, namun tidak menemukan ketenangan. Di sinilah rahasia keberkahan hidup, hidup berkah dalam Islam, dan ajaran tasawuf menawarkan jalan berbeda: bukan sekadar banyak, tetapi cukup dan menenangkan. Menariknya, tasawuf tidak mengajarkan meninggalkan dunia. Sebaliknya, […]

  • korupsi pengadaan TIK

    Perspektif: Putusan MA Korupsi Pengadaan TIK dan Dampaknya bagi Sekolah

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 235
    • 0Komentar

    Putusan MA soal korupsi pengadaan TIK menegaskan risiko sistemik pengelolaan anggaran pendidikan dasar. albadarpost.com, PERSPEKTIF – Putusan Mahkamah Agung dalam perkara korupsi pengadaan Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) di sekolah dasar Kabupaten Gresik bukan sekadar koreksi vonis pidana. Putusan ini penting karena menyentuh langsung tata kelola anggaran pendidikan dasar—sektor yang menyentuh hak dasar warga dan […]

  • bukti tanah adat

    Pemerintah Hapus Bukti Tanah Adat Mulai 2026, Warga Wajib Sertifikasi

    • calendar_month Kamis, 27 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 256
    • 0Komentar

    Bukti tanah adat tidak diakui mulai 2 Februari 2026. Pemilik wajib mengurus sertifikat resmi sebelum batas akhir. albadarpost.com, LENSA – Mulai 2 Februari 2026, bukti tanah adat seperti girik, petuk, atau letter C tidak lagi berlaku sebagai dasar kepemilikan yang sah. Perubahan ini merujuk pada PP Nomor 18 Tahun 2021, yang mengatur hak atas tanah, […]

expand_less