Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Biaya Rendah Tak Menjamin, Value Sekolah Jadi Penentu Murid

Biaya Rendah Tak Menjamin, Value Sekolah Jadi Penentu Murid

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
  • visibility 220
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, PERSPEKTIF – Fenomena sekolah berbiaya murah tetapi kekurangan murid semakin sering ditemui. Di berbagai daerah, ruang kelas kosong bukan disebabkan oleh mahalnya pendidikan, melainkan oleh lemahnya value atau nilai sekolah yang dirasakan masyarakat. Orang tua kini menimbang lebih dari sekadar biaya: mereka mencari kepastian mutu dan arah pendidikan anak.

Perubahan ini penting dicermati. Penurunan jumlah peserta didik bukan hanya soal administrasi sekolah, tetapi menyangkut keberlanjutan kualitas pendidikan dan kepercayaan publik terhadap lembaga pendidikan itu sendiri.

Murah Tidak Lagi Menjadi Daya Tarik Utama

Selama bertahun-tahun, asumsi umum menyebut biaya rendah sebagai keunggulan kompetitif sekolah. Namun kondisi sosial berubah. Akses informasi semakin terbuka, dan orang tua lebih kritis dalam memilih sekolah.

Pilihan pendidikan kini didasarkan pada pertanyaan mendasar: apa manfaat nyata yang akan diperoleh anak? Apakah sekolah mampu membentuk karakter, keterampilan, dan kesiapan menghadapi dunia nyata?

Di titik inilah value sekolah menjadi penentu. Sekolah yang tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut, meski murah, perlahan kehilangan kepercayaan masyarakat.

Value Sekolah sebagai Ukuran Kepercayaan Publik

Value sekolah bukan jargon promosi. Ia mencerminkan prinsip, standar, dan praktik yang dijalankan secara konsisten oleh seluruh ekosistem sekolah—guru, manajemen, dan peserta didik.

Baca juga: Membongkar Wajah Korupsi di Balik Prosedur Lelang

Value ini terlihat dari cara guru mengajar, bagaimana sekolah melayani orang tua, sejauh mana transparansi dijaga, serta apakah program pembelajaran relevan dengan kebutuhan peserta didik. Sekolah dengan value yang kuat mampu memberi pengalaman belajar yang bermakna, bukan sekadar rutinitas akademik.

Ketika value sekolah lemah, biaya murah tidak cukup menutup kekosongan tersebut. Orang tua cenderung memilih sekolah lain yang menawarkan kejelasan kualitas, meski dengan konsekuensi biaya lebih tinggi.

Strategi Membangun Value Sekolah yang Relevan

Dalam perspektif keberlanjutan pendidikan, ada beberapa langkah kunci yang menentukan apakah sebuah sekolah mampu membangun nilai yang dipercaya publik.

Pertama, citra dan komunikasi publik yang jujur. Media sosial kini menjadi etalase utama sekolah. Bukan sekadar aktif, tetapi konsisten dan substansial. Kegiatan peserta didik, prestasi, serta proses pembelajaran perlu disampaikan apa adanya, bukan sekadar pencitraan.

Kedua, kualitas guru sebagai fondasi. Sekolah bervalue tinggi selalu ditopang oleh pendidik yang kompeten dan berintegritas. Pelatihan berkelanjutan, peningkatan kapasitas teknologi pendidikan, dan keteladanan sikap menjadi kebutuhan dasar, bukan pelengkap.

Ketiga, pelayanan dan keterbukaan. Komunikasi yang terbuka dengan orang tua serta transparansi program dan pengelolaan sekolah memperkuat rasa percaya. Sekolah yang tertutup sulit membangun reputasi jangka panjang.

Baca juga: Vandalisme Direspons Cepat, Uang Negara Dibiarkan Gelap

Keempat, program sesuai kebutuhan peserta didik. Pendekatan seragam semakin ditinggalkan. Sekolah perlu menyesuaikan program dengan minat, potensi, dan karakter peserta didik agar pembelajaran terasa relevan dan bernilai.

Dampak Jangka Panjang bagi Pendidikan

Sekolah yang gagal membangun value akan menghadapi tekanan berlapis: penurunan murid, keterbatasan sumber daya, hingga stagnasi mutu. Sebaliknya, sekolah yang fokus pada nilai pendidikan memiliki daya tahan lebih kuat, bahkan dalam persaingan ketat.

Dalam konteks ini, value sekolah bukan hanya urusan internal lembaga, tetapi bagian dari tanggung jawab sosial pendidikan. Kualitas sekolah menentukan kualitas generasi berikutnya.

Biaya murah tanpa value yang jelas tidak lagi cukup. Di tengah masyarakat yang semakin sadar kualitas, value sekolah menjadi ukuran utama kepercayaan publik. Sekolah yang ingin bertahan harus berani berbenah—bukan dengan menurunkan biaya, tetapi dengan membangun mutu dan relevansi pendidikan.

Penulis: Euis Yulianti R, S.Pd., M.Pd. (Pendidik di MA Al-Muniroh Sukahurip, Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Karhutla Kalimantan

    Karhutla Kalimantan Makin Serius, 3 Casa TNI AU Dikerahkan

    • calendar_month Jumat, 21 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 75
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Karhutla Kalimantan kembali mendapat perhatian serius. Penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan tersebut kini mendapat tambahan dukungan udara setelah TNI AU mengerahkan tiga pesawat Casa NC-212 untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Tiga pesawat dari Skadron Udara 4 itu berangkat dari Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, pada Jumat siang, 21 Agustus […]

  • kekeringan meteorologis

    Tasikmalaya dan Ciamis Siaga, Garut Awas, Pangandaran Bagaimana?

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 48
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Peringatan dini kekeringan meteorologis BMKG untuk Dasarian II Agustus 2026 atau 11–20 Agustus 2026 menempatkan sejumlah wilayah Jawa Barat dalam tingkat peringatan berbeda. Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis, dan Kota Banjar tercantum dalam kategori Siaga, sedangkan Kabupaten Garut masuk kategori Awas. Namun, ada satu wilayah Priangan Timur yang menarik perhatian: Kabupaten Pangandaran tidak […]

  • Dugaan Kekerasan Seksual Anak

    Perut Anak Membesar, Dugaan Kasus di Pangandaran Terungkap

    • calendar_month Jumat, 31 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 77
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Sebuah kecurigaan sederhana dari keluarga menjadi awal terungkapnya dugaan kekerasan seksual anak di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Perubahan kondisi fisik korban membuat keluarga mencari jawaban. Dari proses itulah muncul dugaan tindak pidana terhadap anak yang kemudian dilaporkan kepada kepolisian dan kini memasuki tahap penyelidikan. Berdasarkan dokumen laporan polisi dan kronologi penanganan […]

  • 1 Muharam Padakembang

    1 Muharam Padakembang Menggema, Dari Konvoi Motor hingga Tabligh Akbar

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 175
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Suara shalawat mengiringi deru kendaraan yang mulai bergerak dari titik keberangkatan pawai pada pagi 1 Muharam 1448 Hijriah. Sejak matahari belum terlalu tinggi, warga dari berbagai kalangan sudah berkumpul untuk mengikuti rangkaian kegiatan bertema “Satu Muharam Satu Keinginan, Padakembang Maju” Peringatan 1 Muharam Padakembang tahun ini tidak hanya menjadi agenda keagamaan […]

  • konser kemanusiaan

    Konser Kemanusiaan Unpad Himpun Rp140 Juta untuk Gaza

    • calendar_month Rabu, 3 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Konser kemanusiaan Unpad menggalang Rp140 juta untuk Gaza melalui kolaborasi kampus, alumni, dan seniman. albadarpsot.com, HUMANIORA – Ribuan pengunjung memadati Lapangan Merah Universitas Padjadjaran pada Jumat, 28 November 2025. Konser kemanusiaan bertajuk Sound for Humanity digelar sebagai bagian dari Dies Natalis ke-68, menjadi forum publik yang menghimpun dukungan bagi warga Gaza. Kegiatan ini diinisiasi oleh […]

  • kasus penganiayaan istri siri

    Kasus Penganiayaan Istri Siri di Sukabumi, Tipiring atau KDRT?

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 205
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kasus penganiayaan istri siri di Sukabumi kembali membuka perdebatan lama dalam penegakan hukum. Seorang perempuan melaporkan mantan suami sirinya atas dugaan pencekikan. Namun polisi tidak menahan terlapor dan mengklasifikasikan perkara tersebut sebagai tindak pidana ringan atau tipiring. Keputusan ini memantik pertanyaan publik. Banyak pihak mempertanyakan apakah kekerasan terhadap pasangan dalam hubungan […]

expand_less