Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Kucing dan Secangkir Kopi Pagi

Kucing dan Secangkir Kopi Pagi

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
  • visibility 214
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI – Pagi sering hadir tanpa suara, tetapi membawa ketenangan. Uap kopi perlahan naik dari cangkir. Cahaya matahari masuk malu-malu lewat jendela. Seekor kucing melingkar di dekat kaki, diam tanpa tuntutan. Ia hanya hadir. Anehnya, kehadiran itu cukup membuat dada terasa lebih lapang.

Dalam kesunyian seperti ini, kucing kerap menjadi teman setia manusia. Bulu lembut, dengkur halus, dan tatapan polosnya sering menjadi pereda lelah yang tidak tertulis di resep mana pun. Namun dalam khazanah Islam, kucing bukan sekadar hewan peliharaan. Ia adalah makhluk lemah yang bisa menjadi sebab rahmat, atau sebaliknya, menjadi saksi kelalaian manusia.

Nabi Muhammad SAW dikenal memiliki kasih sayang yang besar terhadap hewan. Dalam banyak riwayat, Rasulullah mencontohkan sikap lembut dan penuh empati. Salah satu kisah yang sering dikutip adalah ketika beliau memilih tidak mengganggu kucing yang tertidur di atas jubahnya. Meski kekuatan sanad kisah ini diperdebatkan, para ulama sepakat bahwa teladan Rasulullah dalam memperlakukan makhluk hidup selalu berlandaskan rahmat.

Baca juga: Ketika Alam Menyampaikan Teguran Tuhan

Kucing dalam Hadis: Dimuliakan, Bukan Diabaikan

Dalam hadis sahih riwayat Abu Dawud dan An-Nasa’i, Rasulullah SAW menegaskan bahwa kucing bukanlah hewan najis karena ia termasuk hewan yang biasa berinteraksi dengan manusia. Hadis ini menjadi dasar kuat bahwa Islam memandang kucing sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan makhluk yang harus dijauhi atau diperlakukan semena-mena.

Namun Islam juga memberi peringatan keras. Dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah menceritakan tentang seorang perempuan yang disiksa di neraka karena mengurung seekor kucing hingga mati. Ia tidak memberinya makan dan tidak membiarkannya mencari makan sendiri. Dari seekor kucing, Allah menunjukkan betapa seriusnya amanah terhadap makhluk yang lemah.

Para ulama, termasuk Imam An-Nawawi, menegaskan bahwa hadis ini bukan semata tentang kucing. Ia adalah peringatan tentang kezaliman, sekecil apa pun bentuknya. Kucing menjadi simbol amanah yang diabaikan, dan kelalaian yang dianggap sepele.

Kasih Sayang sebagai Jalan Keselamatan

Di sisi lain, kisah tentang kucing juga membawa kabar harapan. Nama Abu Hurairah, sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadis, secara harfiah berarti “Bapak Anak Kucing”. Gelar itu lahir dari kecintaannya kepada kucing kecil yang sering ia gendong. Rasulullah SAW tidak menegurnya, justru memanggilnya dengan panggilan penuh kasih.

Bagi para ulama, kisah Abu Hurairah menjadi isyarat bahwa kasih sayang kepada makhluk lemah adalah bagian dari iman. Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangi kalian.” (HR. Tirmidzi).

Kucing, dalam konteks ini, menjadi guru kecil tentang rahmat. Ia tidak bisa berbicara atau menuntut keadilan. Ia hanya bergantung pada nurani manusia. Ketika seseorang memberi makan kucing, menyediakan tempat berteduh, atau sekadar tidak menyakitinya, di situlah latihan keimanan berlangsung secara diam-diam.

Baca juga: Makna Takdir Allah dalam Kehidupan Sehari-hari

Para sufi memandang kasih sayang sebagai jalan sunyi menuju Allah. Seperti Jalaluddin Rumi yang pernah menyinggung bahwa cinta sejati diuji bukan pada yang kuat, melainkan pada yang lemah. Kucing, dengan segala kepolosannya, sering menjadi ujian itu—hadir setiap hari tanpa disadari.

Maka ketika pagi kembali datang, kopi masih hangat, dan seekor kucing melintas di depan rumah, mungkin itu bukan kebetulan. Bisa jadi ia adalah pengingat lembut bahwa surga dan neraka kerap ditentukan oleh hal-hal kecil. Cara manusia memperlakukan makhluk lemah mencerminkan seberapa jauh rahmat tumbuh di dalam hati.

Kucing tidak meminta surga untuk manusia. Ia hanya meminta hidup. Namun dari situlah, jalan keselamatan atau kehancuran sering bermula.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Samani (Pemred AbadarPost)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi aneka kue lebaran unik dalam kemasan modern dan menarik untuk bisnis rumahan

    Jarang Dilirik, Usaha Kue Lebaran Ini Justru Laris!

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 179
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Usaha kue lebaran selalu jadi incaran menjelang hari raya. Namun, peluang usaha kue lebaran yang benar-benar menguntungkan justru sering tersembunyi dan jarang dibahas media. Banyak pelaku usaha hanya fokus pada kue populer, padahal ide bisnis kue lebaran unik, inovasi kue kering, dan strategi berbeda justru membuka peluang cuan lebih besar dengan persaingan […]

  • ilustrasi seseorang berdoa agar terhindar dari hutang dengan latar suasana tenang dan religius

    Doa Terhindar dari Hutang yang Jarang Diketahui, Tapi Ampuh!

    • calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 191
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Banyak orang mencari doa terhindar dari hutang ketika kondisi keuangan mulai terasa berat. Padahal, doa agar tidak berhutang, doa dijauhkan dari lilitan utang, hingga amalan pelunas hutang sudah diajarkan sejak lama dalam ajaran Islam. Menariknya, sebagian besar orang justru melewatkan amalan sederhana ini, padahal efeknya bisa sangat besar untuk menjaga stabilitas rezeki […]

  • ilustrasi pelajar Generasi Z mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam dan peradaban Islam klasik.

    Sejarah Kebudayaan Islam: Pelajaran yang Diam-Diam Sedang Dibutuhkan Generasi Z

    • calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 242
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Di banyak sekolah, pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam atau SKI masih sering dianggap “pelajaran hafalan”. Nama tokoh. Tahun berdiri kerajaan. Jalur penyebaran Islam. Lalu ujian. Selesai. Tidak sedikit siswa yang akhirnya merasa SKI adalah mata pelajaran yang jauh dari kehidupan mereka hari ini. Padahal, kalau diperhatikan lebih dalam, justru di situlah tersimpan pelajaran […]

  • Literasi Keuangan Prajurit

    Kodim Tasikmalaya Bangun Ketahanan Ekonomi Prajurit

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 116
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Literasi keuangan prajurit kini tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan bagian penting dari kesiapan seorang prajurit menghadapi masa depan. Kesadaran itulah yang mulai diperkuat Kodim 0612/Tasikmalaya melalui edukasi mengenai tabungan haji dan tabungan emas berbasis syariah bekerja sama dengan Bank Syariah Indonesia (BSI). Di tengah meningkatnya tantangan ekonomi keluarga, kemampuan mengelola keuangan […]

  • sampah Pasar Pancasila

    Sampah Pasar Pancasila Menumpuk, Pedagang Jadi Korban

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Editorial Albadarpost: lambannya Dinas LH tangani sampah Pasar Pancasila merugikan warga dan kesehatan publik. albadarpost.com, EDITORIAL – Tumpukan sampah Pasar Pancasila di Kota Tasikmalaya dibiarkan meluber hingga lima hari. Lebih dari sekadar gangguan visual, bau menyengat menutup kios-kios, jalan, dan ruang aktivitas warga. Pedagang kehilangan kenyamanan kerja dan pembeli menahan diri datang ke pasar. Ketika […]

  • Ilustrasi pedagang Muslim berdagang di pelabuhan Nusantara sambil berdakwah secara damai kepada masyarakat lokal

    Bukan Penaklukan, Ini “Strategi Sunyi” Penyebaran Islam di Nusantara

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 201
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Selama ini kita sering mendengar satu pola besar: agama menyebar lewat kekuatan. Namun ketika kita melihat penyebaran Islam Nusantara—atau yang juga dikenal sebagai islamisasi Indonesia dan masuknya Islam ke kepulauan Nusantara—ceritanya justru tidak mengikuti pola itu. Tidak ada ekspedisi militer besar. Tidak ada penaklukan seperti dalam banyak catatan dunia lain. Namun hasilnya […]

expand_less