Makna Wahm dalam Al-Hikam: Saat Angan-Angan Memimpin Hidup
- account_circle redaktur
- calendar_month Kamis, 3 Sep 2026
- visibility 54
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi makna wahm dalam Al-Hikam Ibnu Athaillah tentang angan-angan dan ketergantungan kepada makhluk.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Ada kalanya manusia tidak sedang dikendalikan oleh kenyataan, melainkan oleh wahm. Dalam konteks Al-Hikam Ibnu Athaillah, istilah ini berkaitan dengan bayangan, prasangka, atau perkiraan semu yang dapat membuat hati menggantungkan harapan kepada selain Allah. Singkatnya, makna wahm bukan sekadar angan-angan biasa, melainkan keadaan ketika bayangan dalam pikiran mulai mengambil alih arah hati dan tindakan.
Ibnu Athaillah as-Sakandari menuliskan sebuah hikmah yang menggugah:
مَا قَادَكَ شَيْءٌ مِثْلُ الْوَهْمِ
Ungkapan tersebut secara umum diterjemahkan sebagai:
“Tiada sesuatu yang dapat memimpinmu seperti wahm.”
Hikmah ini menarik justru karena menggunakan kata “memimpin”. Biasanya yang memimpin adalah manusia, keputusan, atau pertimbangan akal. Namun, Ibnu Athaillah mengingatkan bahwa sesuatu yang bahkan belum tentu nyata dapat memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku manusia.
Di situlah persoalannya bermula.
Ketika Bayangan di Kepala Mulai Menjadi Bos
Bayangkan seseorang yang yakin masa depannya hanya bergantung kepada satu orang.
Selama orang itu mendukungnya, ia merasa aman. Ketika dukungan tersebut hilang, dunianya seakan runtuh. Padahal, orang yang selama ini dianggap sebagai satu-satunya jalan itu tetap manusia: memiliki keterbatasan, dapat berubah pikiran, bahkan bisa saja tidak mampu memenuhi harapan.
Namun, pikiran sudah membuat cerita sendiri.
Inilah salah satu pintu masuk untuk memahami wahm dalam Al-Hikam.
Dalam syarah terhadap hikmah tersebut, wahm dijelaskan dalam konteks ketergantungan hati kepada makhluk. Seseorang dapat membayangkan bahwa manfaat atau pertolongan tertentu berada pada manusia, kemudian hatinya mulai bergantung kepada manusia tersebut. Persoalannya bukan pada tindakan meminta bantuan kepada sesama, melainkan pada posisi hati ketika menjadikan makhluk sebagai sandaran mutlak.
Perbedaannya memang tipis.
Tetapi akibatnya bisa jauh.
Meminta bantuan adalah bagian dari ikhtiar. Menganggap seseorang sebagai satu-satunya penentu nasib adalah perkara lain.
Wahm Bukan Sekadar Mimpi tentang Masa Depan
Karena itu, makna wahm Ibnu Athaillah tidak tepat jika disederhanakan menjadi “semua angan-angan itu buruk”.
Manusia membutuhkan harapan.
Petani menanam karena berharap panen. Pedagang membuka usaha karena berharap memperoleh keuntungan. Pelajar belajar karena berharap mendapatkan ilmu dan masa depan yang lebih baik. Orang tua bekerja karena ingin memenuhi kebutuhan keluarga.
Semua itu tidak otomatis menjadi wahm.
Yang perlu diperiksa adalah ke mana hati menggantungkan hasilnya.
Ikhtiar berkata: “Saya akan melakukan yang terbaik.”
Tawakal berkata: “Saya menyerahkan hasilnya kepada Allah.”
Sedangkan wahm dapat membuat seseorang berkata dalam hati: “Kalau orang itu tidak membantu saya, semuanya selesai.”
Di sinilah satire kehidupan manusia terasa.
Kita sering mengaku percaya kepada Allah, tetapi panik ketika satu manusia tidak membalas pesan.
Kita mengatakan rezeki berada di tangan Allah, tetapi tidur tidak nyenyak hanya karena atasan belum memberi kepastian.
Kita berbicara tentang tawakal, tetapi suasana hati naik turun mengikuti jumlah orang yang menyukai unggahan media sosial.
Teknologi berubah cepat.
Manusia ternyata tetap membawa persoalan yang sama.
Al-Qur’an Mengingatkan: Angan-Angan Bukan Pengganti Amal
Peringatan mengenai angan-angan juga dapat ditemukan dalam Al-Qur’an.
Allah berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 123:
لَّيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَآ أَمَانِىِّ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ
Dalam konteks ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa keselamatan dan balasan bukan ditentukan oleh angan-angan semata. Setiap orang memperoleh balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya.
Pesannya sederhana, tetapi sering dilupakan:
Keinginan tidak sama dengan kenyataan.
Al-Qur’an juga bertanya dalam Surah An-Najm ayat 24:
أَمْ لِلْإِنسَـٰنِ مَا تَمَنَّىٰ
“Apakah manusia akan memperoleh apa yang diangan-angankannya?”
Pertanyaan tersebut bukan larangan untuk memiliki cita-cita. Sebaliknya, ia mengingatkan manusia agar tidak menganggap keinginan pribadi sebagai ukuran mutlak atas kenyataan.
Sebab hidup tidak bekerja seperti daftar belanja.
Tidak semua yang kita inginkan tersedia hanya karena kita menginginkannya.
Harapan Perlu Ikhtiar, Tawakal Perlu Kejujuran
Memahami arti wahm dalam tasawuf juga membantu kita melihat perbedaan antara harapan dan ketergantungan.
Harapan mendorong seseorang bergerak.
Wahm dapat membuat seseorang hidup dalam kemungkinan yang belum tentu terjadi.
Ikhtiar membutuhkan tindakan. Wahm sering kali cukup dengan membuat manusia sibuk membayangkan.
Ironisnya, membayangkan masa depan memang jauh lebih nyaman daripada mengerjakannya.
Kita bisa membayangkan bisnis sukses tanpa membuka pembukuan. Kita bisa membayangkan hidup berubah tanpa mengubah kebiasaan. Kita bisa berharap dihargai tanpa terlebih dahulu belajar menghargai.
Kemudian, ketika kenyataan tidak mengikuti skenario dalam kepala, kita menyalahkan keadaan.
Padahal, mungkin masalahnya bukan dunia yang terlalu kejam.
Mungkin kita hanya terlalu percaya kepada cerita yang kita buat sendiri.
Jangan Menjadikan Makhluk sebagai Sandaran Mutlak
Pesan utama wahm dalam Al-Hikam bukanlah agar manusia menjauhi manusia.
Islam justru mengajarkan ikhtiar, kerja sama, musyawarah, dan saling menolong. Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan umatnya untuk mengambil sebab dan melakukan usaha.
Namun, ikhtiar tidak berarti menggantungkan hati kepada sebab.
Dalam hadis yang diriwayatkan At-Tirmidzi, Nabi Muhammad SAW mengajarkan prinsip tawakal yang terkenal:
“Ikatlah dan bertawakallah.”
Pesannya dapat dipahami sebagai keseimbangan antara mengambil sebab dan menyerahkan hasil kepada Allah.
Karena itu, ketika seseorang mendapatkan pertolongan melalui manusia, ia tetap menyadari bahwa manusia hanyalah perantara. Ketika bantuan tidak datang, ia tidak kehilangan seluruh harapan.
Sebab sandarannya bukan manusia.
Begitu pula ketika sebuah peluang gagal, ia boleh kecewa. Namun, kegagalan satu jalan tidak harus dianggap sebagai akhir dari seluruh perjalanan.
Pertanyaan yang Layak Diajukan kepada Diri Sendiri
Hikmah Ibnu Athaillah ini akhirnya membawa kita kepada pertanyaan yang lebih personal.
Apa yang paling sering membuat hati kita takut kehilangan?
Jabatan?
Uang?
Pengakuan?
Relasi?
Popularitas?
Atau seseorang yang kita anggap sebagai satu-satunya jalan menuju masa depan?
Jawaban atas pertanyaan tersebut bisa menjadi cermin.
Sebab terkadang manusia tidak menyadari bahwa sesuatu telah mengambil posisi terlalu besar dalam hatinya sampai sesuatu itu hilang.
Ketika itulah kita baru mengetahui siapa yang selama ini kita jadikan sandaran.
Memahami makna wahm berarti belajar mengenali bayangan sebelum bayangan tersebut menjadi penguasa.
Kita tetap boleh memiliki cita-cita. Kita tetap boleh membuat rencana. Kita tetap boleh meminta pertolongan kepada manusia dan bekerja keras mengejar tujuan.
Namun, hati perlu ditempatkan pada tempat yang benar.
Sebab rencana manusia terbatas, sementara ketetapan Allah melampaui seluruh perkiraan manusia.
Jangan Sampai Bayangan Mengemudikan Hidup
Ibnu Athaillah tidak sedang mengajak manusia berhenti berharap. Ia sedang mengingatkan agar harapan tidak berubah menjadi ketergantungan yang membutakan.
Kita boleh mengejar masa depan, tetapi jangan menyembah bayangannya.
Kita boleh mencintai seseorang, tetapi jangan menganggapnya sebagai penguasa rezeki.
Kita boleh bekerja melalui banyak sebab, tetapi jangan lupa bahwa sebab bukanlah Sang Pemberi Sebab.
Sebab masalah terbesar bukan ketika kita memiliki angan-angan. Masalahnya muncul ketika angan-angan mulai memegang kemudi, sementara hati sudah lupa kepada siapa sebenarnya perjalanan ini menuju. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar