Nyaris Jadi Tragedi, Sekolah Tasikmalaya Berpacu dengan Waktu
- account_circle redaktur
- calendar_month 56 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi bangunan sekolah rusak.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Sekolah rusak Tasikmalaya kembali menjadi sorotan setelah kondisi bangunan di sejumlah sekolah dilaporkan mengalami kerusakan berat. Misalnya di SMPN 1 Bantarkalong dan SDN 2 Bojonggambir. Informasi yang telah dipublikasikan berbagai media menunjukkan adanya ruang kelas dengan atap lapuk, bagian bangunan yang ambruk, hingga konstruksi yang dinilai tidak lagi layak digunakan. Beruntung, peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, kondisi itu menjadi pengingat bahwa bangunan sekolah rusak dan ruang kelas yang tidak layak dapat berubah menjadi ancaman nyata apabila penanganannya terus tertunda.
Bagi masyarakat, persoalan ini bukan sekadar tentang gedung yang menua. Di balik dinding yang retak dan atap yang rapuh, ada ribuan siswa yang setiap hari berhak belajar dalam lingkungan yang aman. Karena itu, perhatian terhadap infrastruktur pendidikan perlu ditempatkan sejajar dengan peningkatan mutu pembelajaran.
Alarm Keselamatan Bukan Lagi Sekadar Wacana
Kerusakan bangunan sekolah biasanya terjadi secara bertahap. Awalnya hanya muncul kebocoran, kemudian rangka kayu mulai lapuk, plafon mengendur, dan akhirnya sebagian struktur kehilangan kekuatannya.
Ketika kerusakan seperti itu tidak segera ditangani, risiko terhadap keselamatan warga sekolah meningkat. Bahkan, sebuah ruang kelas yang tampak masih digunakan bisa menyimpan potensi bahaya yang tidak terlihat dari luar.
Dalam sejumlah laporan mengenai kondisi sekolah di Kabupaten Tasikmalaya, kerusakan diketahui terjadi setelah aktivitas belajar selesai sehingga tidak menimbulkan korban. Meski demikian, situasi tersebut menjadi alarm bahwa langkah pencegahan jauh lebih penting dibandingkan menunggu musibah benar-benar terjadi.
Karena itu, pemeriksaan berkala terhadap kondisi fisik sekolah perlu menjadi prioritas, terutama pada bangunan yang telah berusia puluhan tahun atau menunjukkan tanda-tanda penurunan kualitas konstruksi.
Ketika Infrastruktur Pendidikan Menentukan Masa Depan
Sekolah merupakan tempat membangun karakter, pengetahuan, dan harapan generasi muda. Namun, seluruh proses tersebut sulit berjalan optimal apabila ruang belajar tidak lagi memberikan rasa aman.
Di sisi lain, kerusakan bangunan juga memengaruhi proses belajar mengajar. Guru harus menyesuaikan penggunaan ruang kelas, sementara siswa kehilangan kenyamanan yang seharusnya mereka rasakan setiap hari.
Selain mengganggu aktivitas pendidikan, bangunan yang rusak berpotensi meningkatkan biaya rehabilitasi apabila penanganannya terlambat. Semakin lama kerusakan dibiarkan, semakin besar pula pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengembalikan fungsi bangunan.
Oleh sebab itu, pemetaan kondisi sekolah secara berkala menjadi langkah penting agar pemerintah dapat menentukan prioritas rehabilitasi berdasarkan tingkat kerusakan dan tingkat risiko.
Regulasi Menjamin Hak Siswa atas Sekolah yang Aman
Penyediaan sarana pendidikan yang layak bukan sekadar kebijakan, melainkan amanat regulasi.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan harus didukung sarana dan prasarana yang memadai agar proses belajar berlangsung secara efektif.
Selanjutnya, Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan beserta perubahannya mengatur bahwa setiap satuan pendidikan perlu memenuhi standar sarana dan prasarana sebagai bagian dari mutu layanan pendidikan.
Sementara itu, pembagian kewenangan pengelolaan pendidikan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah juga diatur dalam berbagai ketentuan perundang-undangan. Dengan demikian, pemeliharaan dan rehabilitasi sekolah menjadi bagian dari tanggung jawab penyelenggara pendidikan sesuai kewenangannya.
Regulasi tersebut menunjukkan bahwa ruang belajar yang aman bukan sekadar kebutuhan, melainkan hak setiap peserta didik.
Kolaborasi Menjadi Kunci Percepatan Rehabilitasi
Perbaikan sekolah memerlukan kerja sama berbagai pihak. Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam pendataan kondisi bangunan dan penyusunan skala prioritas rehabilitasi. Selanjutnya, pemerintah pusat dapat memberikan dukungan melalui program pembangunan dan peningkatan sarana pendidikan sesuai mekanisme yang berlaku.
Di sisi lain, pihak sekolah juga berperan penting dengan melaporkan perkembangan kondisi bangunan secara berkala. Pelaporan yang cepat memungkinkan potensi bahaya ditangani sebelum berkembang menjadi kerusakan yang lebih besar.
Masyarakat pun dapat ikut berkontribusi melalui pengawasan dan penyampaian informasi apabila menemukan fasilitas pendidikan yang membahayakan keselamatan.
Dengan kolaborasi tersebut, upaya rehabilitasi tidak hanya menjadi respons setelah terjadi kerusakan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pencegahan.
Investasi Terbaik Dimulai dari Ruang Kelas yang Aman
Pendidikan yang berkualitas memerlukan guru yang kompeten, kurikulum yang relevan, dan fasilitas yang mendukung. Ketiga unsur tersebut saling melengkapi.
Ruang kelas yang kokoh memberi rasa aman kepada siswa untuk belajar, sedangkan lingkungan sekolah yang layak menciptakan suasana pendidikan yang lebih sehat dan produktif.
Karena itu, rehabilitasi sekolah tidak semata-mata membangun gedung baru. Langkah tersebut merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga keselamatan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Tidak ada prestasi yang sebanding dengan keselamatan. Sebelum ruang kelas benar-benar berubah menjadi lokasi bencana, setiap kerusakan harus dipandang sebagai peringatan untuk bertindak, bukan sekadar catatan yang menunggu anggaran berikutnya. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar