Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Surat Al-Jumu’ah: Saat Dagangan Mengalahkan Khutbah

Surat Al-Jumu’ah: Saat Dagangan Mengalahkan Khutbah

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
  • visibility 167
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Tidak banyak yang mengetahui bahwa Asbabun Nuzul Surat Al-Jumu’ah berawal dari sebuah peristiwa yang sangat manusiawi. Saat Rasulullah ﷺ sedang menyampaikan khutbah Jumat, sebagian jamaah justru meninggalkan masjid demi menyambut rombongan dagang yang baru tiba di Madinah.

Kisah turunnya Surat Al-Jumu’ah ini bukan sekadar catatan sejarah Islam. Di baliknya terdapat pelajaran besar tentang bagaimana manusia sering kali lebih mudah terpikat oleh sesuatu yang terlihat menguntungkan di depan mata.

Dan ternyata, ujian itu masih ada sampai hari ini.

Saat Khutbah Berlangsung, Kafilah Dagang Datang

Peristiwa tersebut terjadi ketika Rasulullah ﷺ sedang berdiri menyampaikan khutbah Jumat.

Tiba-tiba terdengar kabar bahwa rombongan dagang dari Syam memasuki Madinah. Saat itu, kedatangan kafilah bukan peristiwa biasa. Mereka membawa bahan makanan, kebutuhan rumah tangga, kain, dan berbagai barang yang sulit didapat setiap hari.

Sebagian masyarakat langsung bergerak menuju pasar.

Mereka keluar dari masjid.

Cepat sekali.

Menurut riwayat dari Jabir bin Abdullah ra., hanya sekitar dua belas sahabat yang tetap bertahan bersama Rasulullah ﷺ hingga khutbah selesai.

Lalu Allah menurunkan firman-Nya:

“Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera menuju kepadanya dan mereka tinggalkan engkau sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah: Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perdagangan, dan Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.”

(QS. Al-Jumu’ah: 11)

Ayat ini bukan sekadar teguran untuk generasi sahabat. Ayat ini juga berbicara kepada manusia di setiap zaman.

Kafilah Dagang Itu Mungkin Sudah Berubah Bentuk

Di banyak masjid kampung hari ini, masih terlihat jamaah yang datang beberapa menit sebelum khutbah dimulai sambil menyelipkan ponsel ke saku baju koko. Ada pula yang baru mematikan notifikasi grup WhatsApp ketika khatib sudah naik ke mimbar.

Kadang terdengar bunyi getaran ponsel yang terlambat disenyapkan.

Kadang cuma sebentar.

Namun cukup untuk mengalihkan perhatian.

Di beberapa masjid, kipas angin tua masih berputar pelan di langit-langit. Sementara itu, jamaah duduk berbaris dengan peci hitam dan sajadah yang mulai kusam karena sering digunakan. Sebagian menatap khatib. Sebagian lagi sesekali melirik layar ponsel sebelum akhirnya memasukkannya kembali ke saku.

Pemandangan seperti itu tidak sulit ditemukan.

Karena manusia memang mudah terdistraksi.

Kalau dahulu yang memanggil adalah suara penanda kedatangan kafilah dagang, sekarang yang memanggil bisa berupa notifikasi marketplace, pesan pekerjaan, atau video yang tiba-tiba muncul di layar telepon genggam.

Bentuknya berubah.

Ujiannya tetap sama.

Allah Tidak Melarang Mencari Rezeki

Menariknya, Allah tidak melarang umat Islam berdagang.

Bahkan setelah Salat Jumat selesai, Allah memerintahkan manusia kembali bekerja dan mencari karunia-Nya.

Allah berfirman:

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”

(QS. Al-Jumu’ah: 10)

Karena itu, masalahnya bukan pada perdagangan.

Bukan pula pada pekerjaan.

Masalahnya ada pada prioritas.

Mana yang harus didahulukan.

Dan mana yang bisa menunggu.

Kadang manusia tidak meninggalkan ibadah karena membenci ibadah itu sendiri. Ia hanya merasa urusan yang sedang dihadapinya lebih mendesak.

Padahal belum tentu demikian.

Fragmen Kecil yang Sering Terjadi Setiap Jumat

Menjelang azan Jumat, tidak sedikit pedagang yang masih melayani pembeli terakhir sambil sesekali melihat jam dinding. Mereka ingin segera berangkat ke masjid, tetapi juga tidak ingin mengecewakan pelanggan yang baru datang.

Di media sosial, ada pula yang sengaja mengaktifkan mode senyap setiap Jumat siang agar bisa fokus mendengarkan khutbah. Sebagian mengaku baru menyadari kebiasaan memeriksa ponsel setelah beberapa kali merasa tidak ingat isi khutbah yang baru saja didengar.

Hal-hal kecil seperti itu tampak sederhana.

Namun sering kali dari situlah perhatian manusia bergeser sedikit demi sedikit.

Anehnya, manusia sering khawatir kehilangan peluang dunia yang belum tentu datang dua kali. Namun pada saat yang sama, ia jarang merasa khawatir kehilangan kesempatan mendapatkan ilmu dan pahala dari satu khutbah Jumat.

Padahal keduanya sama-sama berharga.

Bahkan mungkin tidak sebanding.

Pesan Surat Al-Jumu’ah untuk Zaman Modern

Asbabun Nuzul Surat Al-Jumu’ah mengajarkan bahwa ujian terbesar manusia tidak selalu datang dalam bentuk musibah.

Kadang justru datang dalam bentuk kesempatan.

Peluang bisnis.

Promosi jabatan.

Pesan yang dianggap penting.

Atau notifikasi yang terasa harus segera dibuka.

Semua tampak baik.

Semua tampak mendesak.

Namun tidak semuanya harus didahulukan.

Para sahabat yang meninggalkan khutbah saat itu akhirnya diingatkan langsung oleh wahyu. Sedangkan kita hari ini membaca kisah mereka agar tidak mengulangi kesalahan yang sama dalam bentuk yang berbeda.

Hari ini mungkin tidak ada lagi kafilah dagang yang memasuki Madinah.

Tetapi ada banyak hal lain yang terus mengetuk perhatian manusia setiap hari.

Pertanyaannya bukan apakah gangguan itu ada.

Pertanyaannya adalah apakah hati kita masih mampu memilih Allah ketika dunia sedang memanggil lebih keras.

Karena sering kali yang menjauhkan manusia dari ibadah bukan kebencian kepada Allah.

Melainkan kesibukan yang dianggap terlalu penting untuk ditinggalkan beberapa saat.

Dulu sebagian jamaah meninggalkan Nabi demi mengejar kafilah dagang. Hari ini banyak orang meninggalkan kekhusyukan demi mengejar notifikasi. Zaman berubah, teknologinya berubah, tetapi satu pertanyaan dari Surat Al-Jumu’ah tetap menggema: ketika Allah memanggil, siapa yang sebenarnya sedang kita dahulukan? (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Evakuasi WNI dari Iran menuju Azerbaijan oleh Kementerian Luar Negeri Indonesia di tengah situasi keamanan Timur Tengah.

    32 WNI Dievakuasi dari Iran, Pemerintah Bergerak Cepat

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 182
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Pemerintah Indonesia memulai evakuasi WNI Iran setelah situasi keamanan di kawasan tersebut menunjukkan eskalasi. Langkah penyelamatan warga negara Indonesia dari Iran atau pemulangan WNI dari Iran menjadi prioritas diplomasi pemerintah. Melalui koordinasi intensif, evakuasi WNI Iran dilakukan secara bertahap demi memastikan keselamatan setiap warga. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bersama Kedutaan […]

  • rotasi kajari

    Kejaksaan Agung Mutasi Puluhan Kajari

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 293
    • 0Komentar

    Kejaksaan Agung merotasi 43 kajari akhir 2025 untuk menjaga efektivitas dan integritas penegakan hukum daerah. albadarpost.com, FOKUS – Kejaksaan Agung Republik Indonesia kembali melakukan rotasi kajari secara besar-besaran menjelang penutupan tahun 2025. Sebanyak 43 kepala kejaksaan negeri resmi diganti dari total 68 pejabat kejaksaan yang dimutasi melalui Surat Keputusan Jaksa Agung Nomor KEP-IV-1734/C/12/2025 tertanggal 24 […]

  • Kecelakaan Anggota Polres Ciamis

    Kecelakaan Tragis, Dua Polisi Ciamis Meninggal Dunia

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 173
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kecelakaan anggota Polres Ciamis kembali menjadi sorotan setelah dua personel Polri meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas di Jalan Raya Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (14/7/2026) sekitar pukul 22.30 WIB. Insiden kecelakaan polisi yang melibatkan motor dinas dan sebuah bus pariwisata itu kini masih dalam penyelidikan aparat kepolisian untuk memastikan penyebab pastinya. Peristiwa […]

  • Hari Polwan

    Kenapa Hari Polwan Diperingati 1 September? Ini Sejarahnya

    • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 65
    • 0Komentar

    AlbadarPost.com, HUMANIORA — Hari Polwan atau Hari Polisi Wanita Indonesia diperingati setiap 1 September. Pada 2026, peringatan tersebut memasuki Hari Jadi Polwan ke-78, sekaligus menjadi momentum untuk mengingat kembali sejarah lahirnya polisi wanita di Indonesia. Mengapa tanggal 1 September dipilih? Jawabannya bermula dari Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 1 September 1948, ketika enam perempuan mengikuti pendidikan kepolisian. […]

  • angka kelahiran Jabar

    Angka Kelahiran Jabar Turun Tajam, Ini Datanya

    • calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 65
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Angka kelahiran Jabar menunjukkan perubahan besar dalam rentang 1971 hingga 2020. Berdasarkan materi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat yang bersumber dari Long Form Sensus Penduduk 2020, angka kelahiran total turun dari 6,34 pada 1971 menjadi 2,11 pada 2020. Penurunan tersebut berlangsung secara bertahap dalam beberapa dekade. Data itu sekaligus memperlihatkan […]

  • Tren Wajah Mulus Tanpa Jenggot Jadi Standar Baru Maskulinitas di Korea Selatan

    Tren Wajah Mulus Tanpa Jenggot Jadi Standar Baru Maskulinitas di Korea Selatan

    • calendar_month Minggu, 26 Okt 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 173
    • 0Komentar

    Tren wajah mulus tanpa jenggot kini menjadi standar maskulinitas baru di Korea Selatan, dipengaruhi budaya K-pop dan modernitas. albadarpost.com, LENSA HUMANIORA – Standar kecantikan bagi pria di Korea Selatan mengalami perubahan besar dalam beberapa dekade terakhir. Wajah mulus tanpa jenggot kini dianggap sebagai penampilan ideal, menggantikan simbol maskulinitas tradisional yang lekat dengan jenggot tebal sebagai […]

expand_less