Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Bukan Sekadar Mencari Jamur, Ini Makna Nyiar Lumar Ciamis

Bukan Sekadar Mencari Jamur, Ini Makna Nyiar Lumar Ciamis

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
  • visibility 55
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

AlbadarPost.com, BERITA DAERAH— Malam di Kawali akan kembali memiliki cerita. Nyiar Lumar dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 5 September 2026, di kawasan Eks Pendopo Kawali dan Situs Astana Gede Kawali, Kabupaten Ciamis.

Dilansir dari Visit Ciamis, Nyiar Lumar bukan sekadar kegiatan mencari cahaya di tengah malam. Tradisi budaya ini membawa pesan tentang pencarian jati diri, pencerahan, kebaikan, serta hubungan manusia dengan alam. Karena itu, ketika peserta berjalan dalam suasana gelap, yang dicari sesungguhnya bukan hanya sesuatu yang bercahaya. Ada makna yang lebih dalam di balik perjalanan tersebut.

Dan di situlah keunikan Nyiar Lumar bermula.

Dari Kegelapan, Muncul Pencarian Cahaya

Secara sederhana, kata nyiar berarti mencari. Sementara itu, lumar dalam pemaknaan tradisi dikaitkan dengan cahaya berpendar yang dapat ditemukan pada suasana malam, te

ainya sebatas fenomena alam.

Cahaya kecil di tengah kegelapan menjadi simbol harapan, petunjuk, dan pelita nurani. Dengan demikian, perjalanan mencari lumar berubah menjadi gambaran tentang perjalanan manusia ketika mencari arah dalam hidup.

Pandu Radea, salah satu penggagas Nyiar Lumar, menekankan sisi filosofis tersebut.

“Secara filosofis ‘Nyiar Lumar’ ini merupakan bentuk pencarian jati diri melalui tradisi dengan tujuan mencari pencerahan.”

Pesan itu membuat tradisi ini memiliki cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar aktivitas malam.

Sebab, seseorang dapat saja menemukan cahaya di luar dirinya. Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah ia juga menemukan cahaya dalam dirinya sendiri.

Nyiar Lumar dan Jejak Sejarah Galuh

Pemilihan Situs Astana Gede Kawali bukan tanpa alasan.

Kawasan ini memiliki hubungan penting dengan sejarah Galuh dan menjadi salah satu ruang budaya yang menyimpan jejak masa lalu Ciamis.

Karena itu, perjalanan Nyiar Lumar sekaligus mempertemukan masyarakat dengan lanskap sejarah. Peserta tidak hanya mengikuti sebuah pertunjukan, tetapi juga berada di kawasan yang menyimpan memori tentang perjalanan masyarakat Sunda pada masa lampau.

Menurut informasi Galuh Virtual, Astana Gede Kawali menjadi lokasi utama pelaksanaan Nyiar Lumar. Rangkaian kegiatannya juga berkembang dengan perjalanan membawa obor menuju kawasan situs, kemudian dilanjutkan dengan berbagai pertunjukan seni dan budaya.

Dengan begitu, Nyiar Lumar Ciamis mempunyai dua lapisan yang saling menguatkan: perjalanan menuju cahaya dan perjalanan memasuki ruang sejarah.

Keduanya bertemu di Astana Gede.

Tradisi yang Lahir dari Kegelisahan Budaya

Nyiar Lumar bukan tradisi yang muncul begitu saja dari masa lampau.

Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat mencatat kegiatan Nyiar Lumar pertama kali berlangsung pada 20 Mei 1998. Setelah itu, kegiatan tersebut berkembang sebagai agenda seni budaya yang digelar secara berkala.

Dalam perjalanannya, tradisi ini kemudian menjadi ruang pertemuan antara seni, sejarah, masyarakat, dan lingkungan.

Visit Ciamis juga menempatkan pelestarian alam sebagai bagian penting dari semangat Nyiar Lumar. Tradisi tersebut mengajak masyarakat melihat kembali hubungan manusia dengan lingkungan sekaligus menjaga warisan budaya yang dimiliki Ciamis.

RRI pun menyoroti Nyiar Lumar sebagai tradisi budaya yang memiliki pesan filosofis mengenai pencarian cahaya kebaikan dan kearifan.

Artinya, perkembangan Nyiar Lumar tidak hanya bergantung pada seberapa meriah acaranya.

Maknanya juga harus tetap terjaga.

Ketika Budaya Berhadapan dengan Zaman

Tantangan pelestarian budaya hari ini berbeda dengan masa ketika Nyiar Lumar mulai diperkenalkan.

Generasi muda hidup dalam dunia yang bergerak cepat. Konten digital datang silih berganti. Tradisi lokal harus berhadapan dengan berbagai bentuk hiburan yang dapat diakses hanya melalui layar ponsel.

Karena itu, menggelar Nyiar Lumar kembali tentu penting. Namun, mempertahankan alasan mengapa tradisi itu digelar jauh lebih penting.

Generasi muda perlu mengetahui hubungan Nyiar Lumar dengan sejarah Kawali. Mereka juga perlu memahami pesan tentang pencarian jati diri dan pencerahan yang terkandung di dalamnya.

Lebih dari itu, mereka perlu melihat alam sebagai bagian dari warisan yang harus dijaga, bukan sekadar latar belakang untuk membuat foto dan video.

Di sinilah pekerjaan rumah pelestarian budaya berada.

Tradisi tidak cukup hanya diwariskan bentuknya. Maknanya juga harus diwariskan.

Jangan Sampai Hanya Menjadi Tontonan

Nyiar Lumar memiliki potensi besar sebagai daya tarik budaya Ciamis.

Wisatawan dapat menikmati perjalanan malam, pertunjukan seni, suasana Astana Gede, serta berbagai ekspresi budaya yang hadir dalam rangkaian kegiatan.

Akan tetapi, semakin besar perhatian wisatawan, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga kawasan dan nilai tradisinya.

Pengelolaan pengunjung, kebersihan, kelestarian situs, keamanan, serta penghormatan terhadap nilai budaya perlu berjalan beriringan dengan kemeriahan acara.

Jika tidak, ada risiko tradisi kehilangan ruhnya dan hanya menyisakan kemasan pertunjukan.

Padahal, kekuatan Nyiar Lumar justru berada pada cerita di balik perjalanan tersebut.

Sabtu malam, ketika obor mulai menyala dan langkah bergerak menuju Astana Gede, masyarakat tidak hanya sedang mengikuti agenda budaya. Mereka sedang memasuki sebuah ruang yang mempertemukan cahaya, sejarah, manusia, dan alam.

Mungkin cahaya lumar yang dicari hanya kecil.

Tetapi pesan yang dibawanya tidak kecil.

Sebab pada akhirnya, Nyiar Lumar bukan tentang seberapa terang cahaya yang ditemukan di tengah gelap. Ia tentang seberapa terang hati manusia setelah perjalanan itu selesai. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kawasan Tanpa Rokok

    Satpol PP Cirebon Tindak Warga Langgar Kawasan Tanpa Rokok, Denda Rp17 Ribu Berlaku Tegas

    • calendar_month Sabtu, 1 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 256
    • 0Komentar

    Satpol PP Cirebon tindak pelanggar kawasan tanpa rokok, tujuh warga didenda Rp17 ribu untuk tegakkan Perda KTR. Penegakan Kawasan Tanpa Rokok Kian Diperketat albadarpost.com, LENSA – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Cirebon kembali menegaskan komitmennya dalam menegakkan aturan kawasan tanpa rokok (KTR). Dalam operasi yang digelar pada Sabtu pagi, 1 November 2025, petugas […]

  • Wali Kota Tasikmalaya Musnahkan Rokok Ilegal

    Wali Kota Tasikmalaya Musnahkan Rokok Ilegal

    • calendar_month Kamis, 27 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 244
    • 0Komentar

    Pemkot Tasikmalaya memusnahkan 5,5 juta batang rokok ilegal untuk melindungi penerimaan negara. Penindakan besar terhadap peredaran Rokok Ilegal Tasikmalaya dilakukan pemerintah daerah bersama Bea Cukai. Sebanyak 5,5 juta batang rokok ilegal dari 114 merek dimusnahkan di Bale Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (27/11/2025). Nilai potensi kerugian negara mencapai Rp4,1 miliar. Angka itu menunjukkan skala pelanggaran […]

  • Bandros Tradisional

    Bandros, Jajanan Tradisional Bernilai Ekonomi

    • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 212
    • 0Komentar

    Bandros tradisional diolah UMKM sebagai jajanan rumahan bernilai ekonomi, mudah dibuat dan diminati pasar lokal. albadarpost.com, LIFESTYLE – Bandros tradisional kembali mendapat perhatian pelaku usaha kuliner rumahan. Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap makanan sederhana berbasis bahan lokal, jajanan berbahan dasar tepung beras dan kelapa ini dinilai memiliki peluang ekonomi yang relevan, terutama bagi pelaku […]

  • perbaikan jalan desa

    Perbaikan Jalan “Insya Alloh” oleh Warga Tasikmalaya, Sindiran untuk Pejabat

    • calendar_month Rabu, 3 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 156
    • 0Komentar

    Warga dua desa di Tasikmalaya gotong royong perbaiki jalan rusak karena janji pemerintah tak kunjung terealisasi. albadarpost.com, HUMANIORA – Warga Desa Purwarahayu dan Desa Kertaraharja, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, turun langsung memperbaiki jalan desa pada Rabu, 3 Desember 2025. Perbaikan dilakukan secara sukarela melalui gotong royong. Jalan rusak yang menghubungkan dua desa itu selama bertahun-tahun […]

  • korupsi pengadaan TIK

    Perspektif: Putusan MA Korupsi Pengadaan TIK dan Dampaknya bagi Sekolah

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 257
    • 0Komentar

    Putusan MA soal korupsi pengadaan TIK menegaskan risiko sistemik pengelolaan anggaran pendidikan dasar. albadarpost.com, PERSPEKTIF – Putusan Mahkamah Agung dalam perkara korupsi pengadaan Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) di sekolah dasar Kabupaten Gresik bukan sekadar koreksi vonis pidana. Putusan ini penting karena menyentuh langsung tata kelola anggaran pendidikan dasar—sektor yang menyentuh hak dasar warga dan […]

  • Wajib Belajar 13 Tahun

    Anak TK Kini Masuk Wajib Belajar 13 Tahun

    • calendar_month Senin, 3 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 162
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA — Masih banyak orang tua yang menganggap Taman Kanak-kanak (TK) hanya sebagai pilihan sebelum anak memasuki Sekolah Dasar (SD). Padahal, pemerintah kini mendorong Wajib Belajar 13 Tahun dengan memasukkan satu tahun pendidikan prasekolah sebagai fondasi awal pembentukan karakter dan kesiapan belajar anak. Kebijakan itu menjadi salah satu fokus yang disampaikan dalam kunjungan kerja […]

expand_less