Makna Surat Al-‘Ashr: Kita Sibuk, Tapi Kenapa Hidup Terasa Hilang?
- account_circle redaktur
- calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
- visibility 29
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang dengan jam dinding sebagai simbol makna waktu dalam Surat Al-Ashr.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, LIFESTYLE – Makna Surat Al-Ashr terasa semakin tajam di zaman modern. Tafsir Surat Al-‘Ashr, makna waktu dalam Islam, dan pesan tentang kerugian manusia kini seperti berbicara langsung kepada kehidupan hari ini. Banyak orang bangun pagi dengan kesibukan penuh, pulang malam dengan tubuh lelah, tetapi tetap merasa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya.
Hari berjalan cepat.
Minggu terasa pendek.
Tahun berlalu tanpa benar-benar terasa.
Ironisnya, manusia modern tidak kekurangan aktivitas. Mereka hanya mulai kehilangan arah.
Dan Surat Al-‘Ashr sudah memperingatkan itu sejak berabad-abad lalu.
Al-Qur’an Menyebut Manusia Sedang Rugi
Allah SWT berfirman:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Surat ini sangat pendek. Namun justru di situlah letak kekuatannya.
Tidak ada pembukaan panjang.
Tidak ada cerita rumit.
Allah langsung bersumpah atas waktu.
Lalu menyampaikan satu kenyataan yang sering tidak disadari manusia:
manusia sedang rugi.
Bukan nanti.
Bukan besok.
Tapi sekarang.
Kenapa Manusia Modern Merasa Waktunya Cepat Habis?
Dulu manusia takut kehilangan makanan. Hari ini manusia justru kehilangan fokus.
Ponsel tidak pernah diam.
Notifikasi terus datang.
Media sosial menyita perhatian tanpa terasa.
Akibatnya, banyak orang hidup dalam keadaan:
- sibuk tetapi kosong
- ramai tetapi kesepian
- aktif tetapi kehilangan makna
Mereka menjalani hari demi hari, namun sulit menjelaskan sebenarnya sedang menuju ke mana.
Dan yang paling berbahaya, semua itu terasa normal.
Waktu dalam Islam Adalah Umur Manusia
Dalam Islam, waktu bukan sekadar angka.
Waktu adalah hidup itu sendiri.
Karena itu, ketika waktu habis sia-sia, sebenarnya hidup juga ikut terkikis sedikit demi sedikit.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini terasa sangat relevan hari ini.
Manusia memiliki teknologi tercepat dalam sejarah. Namun anehnya, mereka justru semakin sulit merasa tenang.
Kita hidup di zaman ketika manusia sibuk mengejar waktu, tetapi lupa untuk hidup.
Surat Al-‘Ashr Tidak Hanya Mengingatkan, Tapi Menyelamatkan
Menariknya, Allah tidak membiarkan manusia tenggelam dalam kerugian tanpa jalan keluar.
Surat Al-‘Ashr memberi empat fondasi agar manusia tidak kehilangan hidupnya.
1. Iman
Iman membuat hidup memiliki arah.
2. Amal Saleh
Kesibukan tanpa nilai tidak akan memberi ketenangan.
3. Saling Menasihati dalam Kebenaran
Manusia membutuhkan lingkungan yang mengingatkan, bukan sekadar menemani.
4. Saling Menasihati dalam Kesabaran
Karena mempertahankan kebaikan di zaman penuh distraksi bukan perkara mudah.
Kerugian Terbesar yang Jarang Disadari
Banyak orang takut kehilangan:
- uang
- jabatan
- relasi
- kesempatan
Namun Surat Al-‘Ashr menunjukkan sesuatu yang lebih dalam.
Kerugian terbesar adalah kehilangan umur tanpa sadar.
Dan itu terjadi perlahan.
Sedikit demi sedikit.
Hari demi hari.
Sampai akhirnya manusia tersadar ketika waktu sudah terlalu jauh berjalan.
Sibuk Tidak Selalu Berarti Hidup
Inilah jebakan terbesar zaman modern.
Manusia mengira dirinya hidup hanya karena terus bergerak.
Padahal bisa jadi:
- tubuhnya aktif
- pikirannya penuh
- tetapi hatinya kosong
Surat Al-‘Ashr seperti alarm keras yang membangunkan manusia dari rutinitas yang melelahkan.
Karena hidup bukan tentang siapa paling sibuk.
Hidup adalah tentang siapa yang paling sadar ke mana waktunya pergi.
Renungan yang Menusuk Diam-Diam
Mungkin itulah alasan mengapa Surat Al-‘Ashr terasa begitu menusuk.
Ia tidak berbicara tentang orang lain.
Ia berbicara tentang kita.
Tentang waktu yang terus berjalan diam-diam.
Tentang umur yang perlahan habis tanpa suara.
Dan tentang hidup yang sering terasa penuh, tetapi sebenarnya kosong.
Dan mungkin, rasa gelisah yang sering muncul dalam hati bukan karena kita kurang hiburan.
Mungkin karena jiwa kita sedang lelah hidup tanpa arah.
Kita sering takut terlambat dalam urusan dunia. Tapi Surat Al-‘Ashr mengingatkan sesuatu yang jauh lebih menakutkan: hidup bisa habis duluan, sebelum kita benar-benar sempat hidup. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar