Bukan Sekadar Tawaf Terakhir, Ini Rahasia Spiritual Thawaf Wada
- account_circle redaktur
- calendar_month 17 jam yang lalu
- visibility 13
- comment 0 komentar
- print Cetak

Thawaf di depan Ka'bah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Ketika membahas thawaf wada, banyak orang mengenalnya sebagai thawaf perpisahan sebelum meninggalkan Kota Makkah. Definisi itu memang benar. Namun bagi sebagian jamaah, thawaf wada bukan sekadar putaran terakhir mengelilingi Ka’bah.
Di balik langkah-langkah yang mengitari Baitullah untuk terakhir kalinya, tersimpan rasa haru yang sulit dijelaskan. Ada doa yang dipanjatkan lebih lama. Ada tatapan yang berkali-kali kembali ke arah Ka’bah. Bahkan ada air mata yang jatuh tanpa suara.
Karena setelah thawaf wada selesai, perjalanan menuju rumah Allah hampir mencapai ujungnya.
Apa Itu Thawaf Wada?
Secara sederhana, thawaf wada adalah thawaf perpisahan yang dilakukan jamaah haji sebelum meninggalkan Kota Makkah.
Kata wada’ berarti perpisahan.
Karena itu, thawaf ini menjadi penutup seluruh rangkaian ibadah haji sebelum jamaah kembali ke tanah air atau melanjutkan perjalanan ke Madinah.
Dari Abdullah bin Abbas ra., beliau berkata:
“Manusia diperintahkan agar menjadikan akhir urusannya di Makkah adalah di Baitullah (thawaf), kecuali wanita haid yang diberi keringanan.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menjadi dasar pelaksanaan thawaf wada yang oleh mayoritas ulama dikategorikan sebagai wajib haji.
Ketika Langkah Kaki Mulai Berat
Di sekitar Ka’bah, ribuan orang tetap bergerak dalam putaran yang sama.
Namun suasana batin jamaah yang sedang melaksanakan thawaf wada sering kali berbeda.
Ada yang memperlambat langkahnya tanpa sadar.
Ada yang terus memandangi Ka’bah setiap kali menyelesaikan satu putaran.
Dan ada pula yang menggenggam tas paspor di tangan kirinya, sementara tangan kanannya terus bergerak berdoa.
Menjelang waktu keberangkatan, sebagian jamaah terlihat berkali-kali menoleh ke arah Ka’bah sebelum keluar dari area Masjidil Haram.
Seolah ada sesuatu yang belum selesai mereka sampaikan.
Di pelataran masjid, beberapa jamaah bahkan berhenti beberapa detik. Mereka berdiri diam. Tidak berbicara. Tidak memotret. Hanya memandang Ka’bah dari kejauhan.
Seolah belum siap benar-benar meninggalkan tempat itu.
Fragmen-Fragmen Kecil yang Sering Terjadi
Suasana thawaf wada tidak selalu dipenuhi tangisan.
Kadang justru ada potongan-potongan kecil kehidupan yang terasa sangat manusiawi.
Di sekitar area thawaf, sesekali terdengar jamaah Indonesia saling meminta tolong mengambil foto terakhir dengan latar Ka’bah.
“Aa, tolong fotoin satu lagi.”
Kalimat sederhana seperti itu sering terdengar sebelum mereka berpisah dengan tempat yang selama ini hanya hadir dalam doa dan kerinduan.
Di sudut lain, ada jamaah yang sibuk mencari rombongannya.
Ada yang memeriksa gelang identitas.
Ada pula yang terus memandangi menara Masjidil Haram sambil berjalan pelan menuju pintu keluar.
Sementara itu, percakapan dalam berbagai bahasa terdengar bersahutan.
Bahasa Indonesia bercampur dengan Arab, Turki, Urdu, Melayu, hingga bahasa-bahasa dari Afrika.
Mereka datang dari tempat yang berbeda.
Namun hari itu mereka membawa perasaan yang hampir sama.
Mengapa Thawaf Wada Begitu Mengharukan?
Secara fikih, thawaf wada merupakan bagian dari penyempurnaan ibadah haji.
Namun secara batin, thawaf wada sering menjadi ruang refleksi yang sangat dalam.
Di sana, seseorang menyadari bahwa hidup pada akhirnya adalah perjalanan pulang menuju Allah.
Ka’bah menjadi titik temu jutaan manusia.
Tetapi sekaligus mengingatkan bahwa tidak ada yang benar-benar menetap di dunia.
Hari itu jamaah berpisah dengan Ka’bah.
Kelak manusia juga akan berpisah dengan usia, jabatan, harta, dan segala yang selama ini dianggap penting.
Karena itu, para ulama sering mengingatkan bahwa yang dibawa pulang dari haji bukanlah foto atau oleh-oleh semata.
Melainkan perubahan hati.
Hikmah yang Sering Terlewat
Tidak semua orang yang melihat Ka’bah menjadi lebih baik.
Namun hampir semua orang yang benar-benar merenungkan perjalanan hajinya akan pulang dengan pelajaran baru.
Tentang kesabaran.
Tentang kerendahan hati.
Dan tentang betapa kecilnya manusia di hadapan Allah.
Dan mungkin, tentang betapa cepatnya waktu berlalu.
Karena baru kemarin terasa berangkat.
Tiba-tiba hari ini sudah harus berpamitan.
Mungkin yang paling berat dalam thawaf wada bukanlah tujuh putaran mengelilingi Ka’bah.
Melainkan ketika langkah kaki mulai menjauh, sementara hati masih tertinggal di pelataran Masjidil Haram.
Ka’bah akan tetap berdiri di tempatnya.
Yang menjadi pertanyaan adalah: ketika pesawat mendarat di tanah air, apakah hati yang pulang masih sama seperti saat pertama datang ke rumah Allah? (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar