Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Bukan Sekadar Tawaf Terakhir, Ini Rahasia Spiritual Thawaf Wada

Bukan Sekadar Tawaf Terakhir, Ini Rahasia Spiritual Thawaf Wada

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
  • visibility 108
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Ketika membahas thawaf wada, banyak orang mengenalnya sebagai thawaf perpisahan sebelum meninggalkan Kota Makkah. Definisi itu memang benar. Namun bagi sebagian jamaah, thawaf wada bukan sekadar putaran terakhir mengelilingi Ka’bah.

Di balik langkah-langkah yang mengitari Baitullah untuk terakhir kalinya, tersimpan rasa haru yang sulit dijelaskan. Ada doa yang dipanjatkan lebih lama. Ada tatapan yang berkali-kali kembali ke arah Ka’bah. Bahkan ada air mata yang jatuh tanpa suara.

Karena setelah thawaf wada selesai, perjalanan menuju rumah Allah hampir mencapai ujungnya.

Apa Itu Thawaf Wada?

Secara sederhana, thawaf wada adalah thawaf perpisahan yang dilakukan jamaah haji sebelum meninggalkan Kota Makkah.

Kata wada’ berarti perpisahan.

Karena itu, thawaf ini menjadi penutup seluruh rangkaian ibadah haji sebelum jamaah kembali ke tanah air atau melanjutkan perjalanan ke Madinah.

Dari Abdullah bin Abbas ra., beliau berkata:

“Manusia diperintahkan agar menjadikan akhir urusannya di Makkah adalah di Baitullah (thawaf), kecuali wanita haid yang diberi keringanan.”

(HR Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menjadi dasar pelaksanaan thawaf wada yang oleh mayoritas ulama dikategorikan sebagai wajib haji.

Ketika Langkah Kaki Mulai Berat

Di sekitar Ka’bah, ribuan orang tetap bergerak dalam putaran yang sama.

Namun suasana batin jamaah yang sedang melaksanakan thawaf wada sering kali berbeda.

Ada yang memperlambat langkahnya tanpa sadar.

Ada yang terus memandangi Ka’bah setiap kali menyelesaikan satu putaran.

Dan ada pula yang menggenggam tas paspor di tangan kirinya, sementara tangan kanannya terus bergerak berdoa.

Menjelang waktu keberangkatan, sebagian jamaah terlihat berkali-kali menoleh ke arah Ka’bah sebelum keluar dari area Masjidil Haram.

Seolah ada sesuatu yang belum selesai mereka sampaikan.

Di pelataran masjid, beberapa jamaah bahkan berhenti beberapa detik. Mereka berdiri diam. Tidak berbicara. Tidak memotret. Hanya memandang Ka’bah dari kejauhan.

Seolah belum siap benar-benar meninggalkan tempat itu.

Fragmen-Fragmen Kecil yang Sering Terjadi

Suasana thawaf wada tidak selalu dipenuhi tangisan.

Kadang justru ada potongan-potongan kecil kehidupan yang terasa sangat manusiawi.

Di sekitar area thawaf, sesekali terdengar jamaah Indonesia saling meminta tolong mengambil foto terakhir dengan latar Ka’bah.

“Aa, tolong fotoin satu lagi.”

Kalimat sederhana seperti itu sering terdengar sebelum mereka berpisah dengan tempat yang selama ini hanya hadir dalam doa dan kerinduan.

Di sudut lain, ada jamaah yang sibuk mencari rombongannya.

Ada yang memeriksa gelang identitas.

Ada pula yang terus memandangi menara Masjidil Haram sambil berjalan pelan menuju pintu keluar.

Sementara itu, percakapan dalam berbagai bahasa terdengar bersahutan.

Bahasa Indonesia bercampur dengan Arab, Turki, Urdu, Melayu, hingga bahasa-bahasa dari Afrika.

Mereka datang dari tempat yang berbeda.

Namun hari itu mereka membawa perasaan yang hampir sama.

Mengapa Thawaf Wada Begitu Mengharukan?

Secara fikih, thawaf wada merupakan bagian dari penyempurnaan ibadah haji.

Namun secara batin, thawaf wada sering menjadi ruang refleksi yang sangat dalam.

Di sana, seseorang menyadari bahwa hidup pada akhirnya adalah perjalanan pulang menuju Allah.

Ka’bah menjadi titik temu jutaan manusia.

Tetapi sekaligus mengingatkan bahwa tidak ada yang benar-benar menetap di dunia.

Hari itu jamaah berpisah dengan Ka’bah.

Kelak manusia juga akan berpisah dengan usia, jabatan, harta, dan segala yang selama ini dianggap penting.

Karena itu, para ulama sering mengingatkan bahwa yang dibawa pulang dari haji bukanlah foto atau oleh-oleh semata.

Melainkan perubahan hati.

Hikmah yang Sering Terlewat

Tidak semua orang yang melihat Ka’bah menjadi lebih baik.

Namun hampir semua orang yang benar-benar merenungkan perjalanan hajinya akan pulang dengan pelajaran baru.

Tentang kesabaran.

Tentang kerendahan hati.

Dan tentang betapa kecilnya manusia di hadapan Allah.

Dan mungkin, tentang betapa cepatnya waktu berlalu.

Karena baru kemarin terasa berangkat.

Tiba-tiba hari ini sudah harus berpamitan.

Mungkin yang paling berat dalam thawaf wada bukanlah tujuh putaran mengelilingi Ka’bah.

Melainkan ketika langkah kaki mulai menjauh, sementara hati masih tertinggal di pelataran Masjidil Haram.

Ka’bah akan tetap berdiri di tempatnya.

Yang menjadi pertanyaan adalah: ketika pesawat mendarat di tanah air, apakah hati yang pulang masih sama seperti saat pertama datang ke rumah Allah? (Red)

 

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • pengantin pesanan

    KJRI Guangzhou Pulangkan Korban Pengantin Pesanan dan Dorong Penindakan TPPO

    • calendar_month Selasa, 18 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 93
    • 0Komentar

    KJRI Guangzhou memulangkan korban pengantin pesanan dan mendorong penindakan kasus TPPO lintas negara. albadarpost.com, HUMANIORA – Reni Rahmawati, Warga Negara Indonesia asal Sukabumi, akhirnya dipulangkan setelah menjadi korban praktik pengantin pesanan di China. Kepulangannya pada Selasa, 18 November 2025, menandai berakhirnya proses hukum perceraiannya dengan suami warga negara China. Kasus ini penting karena memperlihatkan kembali […]

  • Jamaah haji berdoa di depan Ka'bah setelah menyelesaikan rangkaian ibadah haji di Masjidil Haram.

    Doa yang Sering Dibaca Jamaah Haji Ketika Pertama Melihat Ka’bah

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 98
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Ada satu momen yang sering sulit dijelaskan oleh banyak jamaah haji: saat Ka’bah pertama kali terlihat di depan mata. Sebagian orang mendadak diam. Sebagian lain langsung menangis tanpa sadar. Bahkan ada yang sebelumnya merasa biasa saja, tetapi lututnya mendadak lemas ketika melihat bangunan hitam itu dari kejauhan. Dalam Islam, doa melihat Ka’bah […]

  • Menteri Sosial Gus Ipul silaturahmi dengan kiai dan pengasuh pesantren di kawasan Tapal Kuda Jawa Timur saat Lebaran

    Temui Kiai Pesantren Tapal Kuda, Gus Ipul Bawa Salam Presiden

    • calendar_month Selasa, 24 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 134
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Gus Ipul silaturahmi kiai Tapal Kuda menjadi salah satu agenda penting pada momentum Idulfitri tahun ini. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul melakukan kunjungan Lebaran ke sejumlah ulama dan pengasuh pesantren di kawasan Tapal Kuda, Jawa Timur. Dalam kunjungan tersebut, Gus Ipul juga menyampaikan salam Presiden kepada para kiai, sekaligus mempererat […]

  • judi online

    Tasikmalaya dan Lahirnya Gelombang Judi Online

    • calendar_month Jumat, 21 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Editorial Albadarpost menyoroti ledakan judi online di Kabupaten Tasikmalaya sebagai bukti kegagalan literasi digital dan tekanan ekonomi yang tak kunjung teratasi. Luka Sunyi yang Muncul dari Layar Kecil albadarpost.com, EDITORIAL – Ledakan judi online di Tasikmalaya bukan semata perkara moral. Ini adalah cermin luka ekonomi yang jarang diakui pemerintah daerah, tetapi terasa dalam setiap rumah […]

  • penganiayaan kurir COD

    Penganiayaan Kurir COD di Bekasi: Pelaku Akhirnya Menyerahkan Diri

    • calendar_month Minggu, 28 Sep 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 153
    • 0Komentar

    Kasus penganiayaan kurir COD di Bekasi berakhir. Pelaku menyerahkan diri dan dijerat Pasal 351 KUHP. albadarpost.com, LENSA. Kasus penganiayaan kurir COD di Bekasi akhirnya menemukan titik terang. Christian Kapau alias Kece, pelaku penganiayaan, memilih menyerahkan diri setelah sempat melarikan diri ke Tangerang. Polisi memastikan pelaku sudah berstatus tersangka dan dijerat Pasal 351 KUHP. Pelaku Penganiayaan […]

  • Ciu ilegal Garut

    Operasi Pekat Wanaraja Bongkar Penjualan Ciu Eceran di Pasar Wanamekar

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 113
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Peredaran ciu ilegal di Kabupaten Garut kembali jadi sorotan. Polisi menemukan praktik penjualan miras eceran saat menggelar operasi penyakit masyarakat di kawasan Pasar Wanamekar, Kecamatan Wanaraja, Jumat (15/5/2026). Dalam operasi tersebut, anggota Polsek Wanaraja mengamankan seorang pria berinisial P (49) yang diduga menjual ciu tanpa izin. Polisi juga menyita empat botol […]

expand_less