Ibnu Athaillah: Cari Aibmu, Bukan Keajaiban
- account_circle redaktur
- calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
- visibility 24
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang yang sibuk bercermin dan seseorang yang mengaji Al-Qur'an.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Di media sosial, sebuah video tentang seseorang yang disebut memiliki karamah dapat menyebar dalam hitungan jam. Ribuan orang membagikannya. Kolom komentar pun penuh dengan kekaguman. Namun, pada waktu yang sama, kisah seorang ayah yang puluhan tahun tidak pernah meninggalkan salat Subuh berjamaah hampir tak pernah menjadi perbincangan.
Fenomena itu bukan sekadar soal algoritma. Ia juga memperlihatkan kecenderungan hati manusia. Kita lebih mudah terpikat oleh sesuatu yang luar biasa daripada menghargai istiqamah, padahal istiqamah, muhasabah, dan membersihkan aib diri justru menjadi pesan utama dalam Al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandari.
Seolah-olah keajaiban lebih penting daripada perubahan diri.
Padahal belum tentu demikian.
Ibnu Athaillah menulis sebuah hikmah yang terasa sangat relevan, bahkan setelah berabad-abad berlalu.
تَشَوُّفُكَ إِلَى مَا بُطِنَ فِيكَ مِنَ الْعُيُوبِ خَيْرٌ مِنْ تَشَوُّفِكَ إِلَى مَا حُجِبَ عَنْكَ مِنَ الْغُيُوبِ
“Keinginanmu untuk mengetahui aib yang tersembunyi dalam dirimu lebih baik daripada keinginanmu mengetahui perkara gaib yang Allah sembunyikan darimu.”
Kalimat itu sederhana. Namun, jika direnungkan, ia seperti cermin yang memantulkan wajah kita sendiri.
Kita Sibuk Mengintip Langit, Tetapi Lupa Melihat Hati
Bayangkan sebuah pengajian.
Begitu pembahasan menyentuh soal karamah para wali, ruangan mendadak sunyi. Semua menyimak.
Namun, ketika tema bergeser menjadi pentingnya mengendalikan amarah, menjaga lisan, atau mengakui kesalahan sendiri, sebagian mulai kehilangan perhatian.
Fenomena itu tidak hanya terjadi di satu tempat. Di era digital, pola yang sama berulang setiap hari. Konten sensasional lebih mudah menarik perhatian dibandingkan ajakan memperbaiki akhlak.
Di sinilah satir Al-Hikam bekerja.
Ibnu Athaillah tidak melarang seseorang mengetahui kisah para wali. Akan tetapi, beliau mengingatkan agar pencarian terbesar seorang hamba bukanlah membuka tabir yang Allah tutup, melainkan membuka tabir kesalahan yang selama ini ditutupi oleh ego.
Sebab musuh terbesar sering kali bukan kebodohan.
Melainkan merasa sudah baik.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)
Ayat ini seakan mengingatkan bahwa perjalanan menuju Allah selalu dimulai dari kerendahan hati, bukan dari rasa bangga terhadap diri sendiri.
Istiqamah Memang Tidak Viral, Tetapi Selalu Bernilai di Hadapan Allah
Keajaiban memang mengundang decak kagum.
Namun, istiqamah justru sering berjalan dalam diam.
Tidak ada tepuk tangan ketika seseorang menolak suap.
Tidak ada berita besar ketika seorang ibu bangun setiap malam untuk salat tahajud.
Dan tidak ada kamera yang merekam seorang pedagang memilih jujur saat pembelinya lengah.
Padahal, mungkin di situlah kemuliaan yang sesungguhnya.
Rasulullah ﷺ pernah memberikan nasihat yang sangat singkat, tetapi menjadi fondasi kehidupan seorang mukmin.
قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
“Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian beristiqamahlah.” (HR. Muslim)
Perhatikan, Nabi tidak mengatakan, “Carilah karamah.”
Beliau juga tidak mengajarkan umatnya mengejar pengalaman spiritual yang luar biasa.
Beliau hanya memerintahkan satu hal: istiqamah.
Karena itu, para ulama sering mengingatkan bahwa karamah bukan tujuan. Ia hanyalah karunia yang Allah berikan kepada hamba tertentu sesuai kehendak-Nya.
Sebaliknya, istiqamah adalah tugas setiap muslim.
Muhasabah Lebih Berat daripada Mencari Sensasi Spiritual
Ada sebuah kebiasaan yang sering luput kita sadari.
Kita cepat melihat kesalahan orang lain.
Kita hafal kelemahan tetangga.
Dan kita rajin mengomentari pemimpin.
Serta kita mudah mengkritik ulama.
Namun ketika ditanya, “Apa tiga kekurangan terbesar dalam dirimu?”
Jawabannya sering berhenti di tenggorokan.
Padahal Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”
Muhasabah memang tidak menyenangkan.
Ia memaksa seseorang berdialog dengan dirinya sendiri.
Tidak ada penonton.
Tidak ada tepuk tangan.
Dan tidak ada pujian.
Yang ada hanyalah pengakuan jujur bahwa masih banyak yang harus diperbaiki.
Justru karena itulah muhasabah menjadi jalan menuju keikhlasan.
Al-Hikam Mengajarkan Jalan yang Berlawanan dengan Arus Zaman
Hari ini dunia mengajarkan pencitraan.
Tasawuf mengajarkan penyucian.
Dunia mendorong manusia tampil sempurna.
Al-Hikam mengajak manusia berani mengakui kekurangan.
Dunia menawarkan popularitas.
Allah menawarkan kedekatan.
Mungkin karena itu, istiqamah terasa berat. Ia tidak menghasilkan sensasi. Ia juga tidak selalu mendapat pujian.
Namun Allah memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang mampu bertahan di jalan-Nya.
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka beristiqamah, maka tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Ahqaf: 13)
Ayat ini tidak berbicara tentang kemampuan luar biasa.
Ayat ini berbicara tentang hati yang tetap setia kepada Allah dalam sehat maupun sakit, lapang maupun sempit, dipuji ataupun dilupakan.
Barangkali itulah keajaiban terbesar yang sering tidak kita sadari.
Keajaiban mungkin membuat seseorang dikenal manusia. Namun istiqamah membuat seorang hamba dikenal di langit. Maka, berhentilah sibuk mencari sesuatu yang Allah sembunyikan, sementara aib yang Allah minta kita perbaiki masih kita abaikan. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar