Breaking News
light_mode
Beranda » Editorial » “Ayah Ambil Rapor”, Kebijakan Hangat yang Dangkal

“Ayah Ambil Rapor”, Kebijakan Hangat yang Dangkal

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
  • visibility 51
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Editorial Albadarpost menilai kebijakan ayah ambil rapor bersifat simbolik dan belum menyentuh akar krisis pengasuhan.


Kebijakan Ringan di Tengah Masalah Berat

albadarpost.com, EDITORIAL – Negara kembali menghadirkan kebijakan yang terdengar hangat, mudah diterima, dan cepat viral: Gerakan Ayah Mengambil Rapor. Pesannya sederhana. Ayah diminta hadir ke sekolah saat pembagian rapor. Tujuannya mulia, mendorong keterlibatan ayah dalam pendidikan anak.

Namun justru karena terdengar ringan dan manis, kebijakan ini perlu diuji lebih serius. Sebab krisis pengasuhan di Indonesia bukan perkara seremoni, melainkan persoalan struktural yang menyentuh kerja, budaya, dan ketimpangan peran dalam keluarga.

Pertanyaannya bukan apakah ayah penting. Itu sudah selesai sejak lama. Pertanyaan dasarnya adalah apakah negara sungguh ingin memperkuat peran ayah, atau sekadar memproduksi kebijakan yang mudah difoto dan cepat dilaporkan.


Fakta Dasar: Apa yang Sebenarnya Terjadi

Gerakan Ayah Mengambil Rapor mendorong ayah hadir secara fisik ke sekolah saat pembagian rapor. Aktivitas ini bersifat administratif. Datang, mendengar penjelasan singkat guru, menandatangani dokumen, lalu pulang. Waktunya singkat. Dampaknya belum terukur.

Dalam praktiknya, pembagian rapor berlangsung serentak. Guru menghadapi puluhan wali murid. Interaksi personal nyaris mustahil. Kehadiran ayah dalam konteks ini tidak otomatis bermakna keterlibatan emosional atau pedagogis.

Di saat yang sama, realitas sosial jauh lebih kompleks. Banyak ayah bekerja dengan jam panjang. Ada yang terikat target dan tekanan ekonomi. Ada pula keluarga yang sejak lama dibentuk oleh pembagian peran timpang, di mana pengasuhan dianggap tugas ibu.

Baca juga: Saat Alarm Penegakan Hukum Kembali Berbunyi

Belum lagi fakta lain yang kerap luput: jutaan anak Indonesia tumbuh tanpa figur ayah utuh. Ada yang yatim, ada yang terdampak perceraian, ada pula yang ayahnya hadir secara biologis namun absen secara emosional.


Analisis Redaksi: Kebijakan Simbolik Tanpa Daya Ubah

Di titik inilah posisi redaksi menjadi jelas. Gerakan Ayah Mengambil Rapor adalah kebijakan simbolik. Ia menyampaikan pesan moral, tetapi tidak memampukan perubahan.

Negara seolah berasumsi bahwa absennya ayah dapat diselesaikan dengan edaran dan ajakan. Padahal akar masalahnya berada di sistem kerja yang tidak ramah keluarga, budaya pengasuhan yang timpang, dan absennya kebijakan pendukung jangka panjang.

Menghadirkan ayah di satu momen administratif tidak otomatis memperbaiki relasi ayah-anak. Hubungan itu dibangun dalam keseharian: saat anak belajar, gagal, bertanya, dan butuh didengar. Rapor hanyalah hasil akhir, bukan prosesnya.

Lebih dari itu, kebijakan ini berisiko menciptakan tekanan sosial baru. Sekolah bisa menjadi ruang perbandingan yang sunyi tapi menyakitkan. Ada anak yang rapornya diambil ayah, ada yang diwakili ibu, kakek, atau wali. Negara mungkin melihat partisipasi, tetapi sebagian anak justru merasakan pengingat atas kehilangan.


Belajar dari Pola Global: Sistem, Bukan Seremoni

Negara-negara yang serius membangun kualitas keluarga tidak berhenti pada ajakan simbolik. Mereka mengubah sistem. Cuti ayah diperluas dan fleksibel. Jam kerja diatur agar ramah pengasuhan. Perusahaan diberi insentif untuk mendukung keluarga. Pendidikan pengasuhan menyasar laki-laki sejak awal.

Baca juga: Aquarium Pangandaran Gelar Program Wisata Keluarga

Fokusnya bukan pada kehadiran sesaat, melainkan keterlibatan berkelanjutan. Bukan pada pose, tetapi pada dampak.

Di Indonesia, pola yang muncul justru sebaliknya. Kebijakan dibuat agar mudah dipuji, bukan mudah diukur. Seremonial dikedepankan karena tidak menuntut konflik dengan sistem lama.


Sikap Redaksi: Negara Harus Berani Keluar dari Cangkang

Albadarpost berpihak pada kebijakan publik yang bekerja, bukan yang sekadar terasa. Jika negara sungguh ingin memperkuat peran ayah, maka keberanian dibutuhkan.

Keberanian untuk menata ulang sistem kerja. Keberanian menantang budaya lama. Keberanian mengakui bahwa krisis pengasuhan tidak bisa diselesaikan dengan satu momen simbolik.

Ajakan moral tanpa pembongkaran hambatan struktural hanya akan berumur pendek. Hangat di awal, basi setelah agenda selesai.


Reflektif

Masa depan anak-anak Indonesia tidak ditentukan oleh foto ayah mengambil rapor. Ia ditentukan oleh keberanian negara berhenti bermain aman dan mulai bekerja di inti persoalan. Selama kebijakan publik hanya mengilapkan cangkang tanpa mengisi substansi, selama itu pula kita akan terus merayakan kesan, sambil kehilangan perubahan.

“Bangsa tidak dibangun oleh kebijakan yang enak dilihat, melainkan oleh kebijakan yang berani mengubah sistem.” (Ds)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemain Persib Bandung menghadapi PSIM Yogyakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api dalam laga penting Liga 1 2026.

    Persib vs PSIM, Duel Penentu Puncak Klasemen Liga 1

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 39
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Tak banyak pertandingan yang atmosfernya terasa setegang ini menjelang akhir musim. Duel Persib Bandung kontra PSIM Yogyakarta pada Senin, 4 Mei 2026 sore nanti bukan sekadar perebutan tiga poin. Di balik gemuruh Stadion Gelora Bandung Lautan Api, ada tekanan besar yang sedang mengintai Maung Bandung. Satu langkah salah bisa membuat posisi […]

  • anggaran gapura

    DPRD Jabar Kritik Anggaran Gapura Gedung Sate Rp3,9 Miliar

    • calendar_month Minggu, 23 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 33
    • 0Komentar

    DPRD Jabar kritik anggaran gapura Gedung Sate Rp3,9 miliar karena dianggap tidak sesuai prioritas publik. albadarpost.com, HUMANIORA – Keputusan Pemerintah Provinsi Jawa Barat membangun gapura di kawasan Gedung Sate dengan biaya Rp3,9 miliar kembali menuai kritik. DPRD Jabar menilai alokasi tersebut tidak selaras dengan kondisi fiskal daerah dan kebutuhan publik yang lebih mendesak, terutama pemeliharaan […]

  • Refleksi malam Nishfu Sya’ban sebagai waktu muhasabah diri dan persiapan spiritual menyambut Ramadhan

    Nishfu Sya’ban: Malam Sunyi untuk Pulang Sebelum Ramadhan Datang

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 54
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Tidak semua malam datang dengan sorotan. Sebagian hadir dalam diam, tanpa gegap gempita, tetapi justru membawa pesan yang lebih dalam. Nishfu Sya’ban termasuk di antaranya. Ia tidak sepopuler Ramadhan, tidak semeriah Idul Fitri, namun di situlah letak keistimewaannya. Malam ini mengajak manusia berhenti sejenak, bercermin, lalu menata kembali arah hidup sebelum cahaya […]

  • miras oplosan

    Pemerintah Lalai Awasi Alkohol Medis, Dua Remaja Sukaresik Tewas

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 34
    • 0Komentar

    Editorial Albadarpost: Kematian remaja akibat miras oplosan menuntut penegakan regulasi dan tanggung jawab negara. Kematian yang Terjadi di Halaman Kita albadarpost.com, EDITORIAL – Dua remaja Sukaresik, Tasikmalaya, meninggal setelah meminum miras oplosan berbasis alkohol medis 70 persen. Peristiwa ini bukan sekadar kegagalan pengawasan orang tua atau kenakalan remaja. Kasus ini adalah cermin rapuhnya perlindungan negara […]

  • “Aktivitas bongkar muat kontainer ekspor Indonesia menuju negara-negara Asia Tenggara di pelabuhan”

    Eksportir RI Mulai Beralih ke ASEAN, Biaya Lebih Murah dan Pasar Dekat

    • calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 30
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pasar Asia Tenggara justru mulai dilirik banyak pelaku usaha Indonesia sebagai tujuan ekspor paling realistis tahun ini. Selain jaraknya lebih dekat, biaya logistik ke negara-negara ASEAN juga dinilai jauh lebih efisien dibanding pengiriman ke kawasan Eropa atau Amerika Serikat. Laporan terbaru Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional […]

  • Kerja Sama Keperawatan

    Pemkab Garut Perluas Kerja Sama Keperawatan ke Jepang

    • calendar_month Rabu, 17 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 64
    • 0Komentar

    Pemkab Garut menjalin kerja sama keperawatan dengan Jepang untuk membuka akses kerja global perawat lokal. albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pemerintah Kabupaten Garut resmi menjalin kerja sama keperawatan dengan Pemerintah Kota Higashikawa, Jepang. Kesepakatan ini membuka jalur kerja internasional bagi tenaga perawat asal Garut dan menjadi langkah strategis dalam memperluas akses lapangan kerja berbasis keahlian. Kolaborasi […]

expand_less