Breaking News
light_mode
Beranda » Editorial » “Ayah Ambil Rapor”, Kebijakan Hangat yang Dangkal

“Ayah Ambil Rapor”, Kebijakan Hangat yang Dangkal

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
  • visibility 60
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Editorial Albadarpost menilai kebijakan ayah ambil rapor bersifat simbolik dan belum menyentuh akar krisis pengasuhan.


Kebijakan Ringan di Tengah Masalah Berat

albadarpost.com, EDITORIAL – Negara kembali menghadirkan kebijakan yang terdengar hangat, mudah diterima, dan cepat viral: Gerakan Ayah Mengambil Rapor. Pesannya sederhana. Ayah diminta hadir ke sekolah saat pembagian rapor. Tujuannya mulia, mendorong keterlibatan ayah dalam pendidikan anak.

Namun justru karena terdengar ringan dan manis, kebijakan ini perlu diuji lebih serius. Sebab krisis pengasuhan di Indonesia bukan perkara seremoni, melainkan persoalan struktural yang menyentuh kerja, budaya, dan ketimpangan peran dalam keluarga.

Pertanyaannya bukan apakah ayah penting. Itu sudah selesai sejak lama. Pertanyaan dasarnya adalah apakah negara sungguh ingin memperkuat peran ayah, atau sekadar memproduksi kebijakan yang mudah difoto dan cepat dilaporkan.


Fakta Dasar: Apa yang Sebenarnya Terjadi

Gerakan Ayah Mengambil Rapor mendorong ayah hadir secara fisik ke sekolah saat pembagian rapor. Aktivitas ini bersifat administratif. Datang, mendengar penjelasan singkat guru, menandatangani dokumen, lalu pulang. Waktunya singkat. Dampaknya belum terukur.

Dalam praktiknya, pembagian rapor berlangsung serentak. Guru menghadapi puluhan wali murid. Interaksi personal nyaris mustahil. Kehadiran ayah dalam konteks ini tidak otomatis bermakna keterlibatan emosional atau pedagogis.

Di saat yang sama, realitas sosial jauh lebih kompleks. Banyak ayah bekerja dengan jam panjang. Ada yang terikat target dan tekanan ekonomi. Ada pula keluarga yang sejak lama dibentuk oleh pembagian peran timpang, di mana pengasuhan dianggap tugas ibu.

Baca juga: Saat Alarm Penegakan Hukum Kembali Berbunyi

Belum lagi fakta lain yang kerap luput: jutaan anak Indonesia tumbuh tanpa figur ayah utuh. Ada yang yatim, ada yang terdampak perceraian, ada pula yang ayahnya hadir secara biologis namun absen secara emosional.


Analisis Redaksi: Kebijakan Simbolik Tanpa Daya Ubah

Di titik inilah posisi redaksi menjadi jelas. Gerakan Ayah Mengambil Rapor adalah kebijakan simbolik. Ia menyampaikan pesan moral, tetapi tidak memampukan perubahan.

Negara seolah berasumsi bahwa absennya ayah dapat diselesaikan dengan edaran dan ajakan. Padahal akar masalahnya berada di sistem kerja yang tidak ramah keluarga, budaya pengasuhan yang timpang, dan absennya kebijakan pendukung jangka panjang.

Menghadirkan ayah di satu momen administratif tidak otomatis memperbaiki relasi ayah-anak. Hubungan itu dibangun dalam keseharian: saat anak belajar, gagal, bertanya, dan butuh didengar. Rapor hanyalah hasil akhir, bukan prosesnya.

Lebih dari itu, kebijakan ini berisiko menciptakan tekanan sosial baru. Sekolah bisa menjadi ruang perbandingan yang sunyi tapi menyakitkan. Ada anak yang rapornya diambil ayah, ada yang diwakili ibu, kakek, atau wali. Negara mungkin melihat partisipasi, tetapi sebagian anak justru merasakan pengingat atas kehilangan.


Belajar dari Pola Global: Sistem, Bukan Seremoni

Negara-negara yang serius membangun kualitas keluarga tidak berhenti pada ajakan simbolik. Mereka mengubah sistem. Cuti ayah diperluas dan fleksibel. Jam kerja diatur agar ramah pengasuhan. Perusahaan diberi insentif untuk mendukung keluarga. Pendidikan pengasuhan menyasar laki-laki sejak awal.

Baca juga: Aquarium Pangandaran Gelar Program Wisata Keluarga

Fokusnya bukan pada kehadiran sesaat, melainkan keterlibatan berkelanjutan. Bukan pada pose, tetapi pada dampak.

Di Indonesia, pola yang muncul justru sebaliknya. Kebijakan dibuat agar mudah dipuji, bukan mudah diukur. Seremonial dikedepankan karena tidak menuntut konflik dengan sistem lama.


Sikap Redaksi: Negara Harus Berani Keluar dari Cangkang

Albadarpost berpihak pada kebijakan publik yang bekerja, bukan yang sekadar terasa. Jika negara sungguh ingin memperkuat peran ayah, maka keberanian dibutuhkan.

Keberanian untuk menata ulang sistem kerja. Keberanian menantang budaya lama. Keberanian mengakui bahwa krisis pengasuhan tidak bisa diselesaikan dengan satu momen simbolik.

Ajakan moral tanpa pembongkaran hambatan struktural hanya akan berumur pendek. Hangat di awal, basi setelah agenda selesai.


Reflektif

Masa depan anak-anak Indonesia tidak ditentukan oleh foto ayah mengambil rapor. Ia ditentukan oleh keberanian negara berhenti bermain aman dan mulai bekerja di inti persoalan. Selama kebijakan publik hanya mengilapkan cangkang tanpa mengisi substansi, selama itu pula kita akan terus merayakan kesan, sambil kehilangan perubahan.

“Bangsa tidak dibangun oleh kebijakan yang enak dilihat, melainkan oleh kebijakan yang berani mengubah sistem.” (Ds)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • kenangan nasi padang Singapura

    Rendang Terakhir di Kampong Glam Singapura

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 64
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Warong Nasi Pariaman, warung nasi Padang tertua di Singapura, resmi mengumumkan akan menutup operasionalnya pada 31 Januari 2026. Kabar ini menandai akhir perjalanan kuliner yang telah berlangsung selama 78 tahun dan meninggalkan jejak mendalam bagi warga lokal maupun diaspora Indonesia. Bagi banyak pelanggan, ini bukan sekadar penutupan restoran, melainkan berakhirnya kenangan […]

  • Pelabuhan Batam dipadati warga Singapura yang menyeberang untuk berbelanja dan memenuhi kebutuhan hidup akibat mahalnya biaya hidup di Singapura

    Batam Jadi Pelarian Biaya Hidup Warga Singapura

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 97
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Setiap 30–60 menit, sebuah kapal feri berangkat dari Singapura menuju Batam. Ritmenya lebih menyerupai jadwal MRT kota maju ketimbang transportasi laut lintas negara. Jumlah penumpangnya pun mencolok: sekitar 10.000 orang per hari. Fenomena ini terjadi di luar musim liburan. Batam sedang mengalami sesuatu yang melampaui lonjakan wisata. Kota ini berubah menjadi […]

  • Demo Disdik Tasikmalaya

    Demo di Disdik Tasikmalaya Memanas, Massa Singgung “Kapitalisme Pendidikan”

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 49
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Demo Disdik Tasikmalaya pecah pada Rabu (20/05/2026) ketika puluhan massa dari Aliansi Rakyat mendatangi Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya. Mereka menyuarakan kritik keras terhadap dugaan praktik pungutan liar, penyimpangan program pendidikan, hingga isu dugaan “persentase proyek” dalam pelaksanaan program revitalisasi sekolah. Aksi berlangsung di depan kantor dinas dengan pengawalan […]

  • akses Banjar Pangandaran

    Jabar Siapkan Strategi Baru, Pangandaran Lebih Mudah Dijangkau

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 216
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Akses Banjar Pangandaran kini menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Jalur ini selama ini menjadi pintu utama menuju destinasi wisata Pangandaran, namun masih menyisakan sejumlah kendala, terutama saat arus kunjungan meningkat. Karena itu, penguatan aksesibilitas Pangandaran dan integrasi transportasi mulai dipercepat melalui rapat koordinasi lintas sektor yang digelar pada Selasa, […]

  • KPK larang ASN gunakan kendaraan dinas untuk mudik Lebaran

    KPK Warning Pejabat: Kendaraan Dinas Bukan untuk Mudik

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 68
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mengingatkan pejabat negara dan aparatur sipil negara (ASN) agar tidak menggunakan kendaraan dinas untuk mudik saat Lebaran. Imbauan ini menegaskan bahwa kendaraan dinas tidak boleh dipakai untuk kepentingan pribadi, termasuk perjalanan pulang kampung. Larangan kendaraan dinas untuk mudik tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga integritas aparatur […]

  • Ilustrasi suasana santri di pesantren salafi Indonesia sedang mengaji kitab kuning pada malam hari.

    Tradisi Pesantren Ini Dulu Sangat Dijaga, Kini Mulai Hilang

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 59
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Malam di pesantren dulu punya suara yang khas. Ada bunyi sandal kayu di lorong asrama. Ada suara santri mengulang hafalan pelan-pelan di bawah lampu redup. Dari kejauhan terdengar lembar kitab dibalik cepat, lalu disusul batuk kecil para santri yang masih bertahan mengaji hingga larut malam. Tradisi pesantren seperti itu pernah menjadi bagian […]

expand_less