Sejak Era Soekarno, Jalan Ini Jadi Harapan Warga Bojonggambir
- account_circle redaktur
- calendar_month 44 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

Jalan Bojongkapol Kecamatan Bojonggambir Rusak parah dan berbatu, Rabu(22/4/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Jalan Cireundeu Tasikmalaya bukan sekadar ruas penghubung antar desa. Bagi warga, ini adalah jalur hidup yang tak kunjung berubah. Dari era Presiden Soekarno hingga hari ini, jalan poros Bojongkapol–Cikangkung–Cireundeu–Cihanura tetap berbatu. Saat kemarau, debu menutup pandangan. Saat hujan turun, lumpur membuat kendaraan harus merayap.
Masalahnya bukan baru kemarin. Ini sudah puluhan tahun.
Fakta Lama yang Baru Ramai Dibicarakan
Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Luthfi Hizba Rusydia, membuka kembali fakta yang selama ini seolah dibiarkan.
“Dari zaman Presiden Soekarno sampai sekarang belum pernah diaspal,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Pernyataan itu bukan sekadar kritik. Itu potret kondisi yang nyata di lapangan.
Sepanjang sekitar 15 kilometer, jalan tersebut menghubungkan beberapa desa penting di Kecamatan Bojonggambir hingga tembus ke Jalan Nasional Ciheras. Namun kondisinya masih jauh dari layak.
Bagi warga, ini bukan cerita baru. Mereka sudah terlalu lama menunggu.
Ketika Jalan Jadi Hambatan Utama
Di atas kertas, wilayah ini memiliki potensi besar. Lahan pertanian luas, hasil bumi melimpah, dan aktivitas ekonomi cukup hidup.
Namun di lapangan, semuanya tersendat.
Truk pengangkut hasil panen harus berjalan pelan. Ongkos distribusi meningkat. Waktu tempuh tidak bisa diprediksi.
Dalam kondisi darurat, situasinya lebih rumit. Ambulans sering kesulitan melintas, terutama saat hujan. Anak sekolah pun tidak jarang pulang dengan sepatu penuh lumpur.
Satu masalah yang sama: jalan.
Bukan Sekadar Infrastruktur, Ini Soal Akses Hidup
Luthfi menegaskan bahwa jalan Bojongkapol–Cikangkung–Cireundeu–Cihanura bukan jalan biasa. Ia menyebutnya sebagai poros penting yang menghubungkan sebagian wilayah kabupaten.
“Ini poros setengah kabupaten,” katanya.
Artinya jelas. Jika akses ini terhambat, maka pergerakan ekonomi, pendidikan, hingga layanan kesehatan ikut terhambat.
Karena itu, persoalan ini tidak bisa lagi dilihat sebagai proyek biasa. Ini menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.
Harapan Baru Muncul, Tapi Belum Tuntas
Setelah bertahun-tahun tanpa kepastian, titik terang akhirnya muncul. Ruas jalan ini resmi masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
Pembahasan di Komisi III DPRD membawa hasil yang cukup menjanjikan. Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Tasikmalaya menyebut proyek ini berpotensi mulai direalisasikan tahun ini.
“Mudah-mudahan tidak ada halangan,” ujar pihak dinas.
Selain itu, jalan ini juga disebut sebagai salah satu prioritas dalam perencanaan pembangunan. Artinya, peluang realisasi semakin terbuka.
Namun warga masih menunggu bukti nyata.
DPRD Janji Kawal, Warga Diminta Ikut Mengawasi
Luthfi menegaskan komitmennya untuk mengawal proyek ini hingga terealisasi. Ia tidak ingin rencana kembali berhenti di tahap wacana.
“Saya akan kawal. Jalan ini memang harus dibangun,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk ikut mengawasi. Menurutnya, keterlibatan publik penting agar proyek berjalan sesuai rencana.
Pengalaman sebelumnya menunjukkan, tanpa pengawasan, banyak rencana yang akhirnya tertunda.
Jika Terbangun, Dampaknya Tidak Main-main
Jika jalan Cireundeu Tasikmalaya benar-benar diperbaiki, dampaknya akan terasa langsung. Distribusi hasil pertanian menjadi lancar. Akses kesehatan lebih cepat. Mobilitas warga meningkat.
Selain itu, kualitas pendidikan juga berpotensi membaik karena akses menuju sekolah menjadi lebih mudah.
“Indeks pembangunan manusia bisa naik. Sekarang hanya terganjal jalan,” kata Luthfi.
Dengan kata lain, satu ruas jalan bisa mengubah banyak hal.
Jalan Cireundeu Tasikmalaya adalah contoh bagaimana infrastruktur menentukan arah perkembangan sebuah wilayah. Selama puluhan tahun, akses terbatas menjadi penghambat utama.
Kini, harapan mulai terlihat. Namun bagi warga, janji bukan hal baru.
Yang mereka tunggu hanya satu: jalan yang benar-benar dibangun. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar