Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Nasional » Kapolri Pilih ‘Jadi Petani’, Apa Maknanya bagi Reformasi Polri

Kapolri Pilih ‘Jadi Petani’, Apa Maknanya bagi Reformasi Polri

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
  • visibility 79
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Pernyataan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR RI menyita perhatian publik. Di hadapan wakil rakyat, Kapolri menolak wacana penempatan Polri di bawah kementerian, termasuk gagasan pembentukan Menteri Kepolisian. Ia menyatakan lebih baik dicopot dari jabatannya dan menjadi petani daripada menerima skema tersebut.

Sikap itu disampaikan secara terbuka di forum resmi DPR. Kapolri tidak menyampaikannya sebagai retorika emosional, melainkan sebagai penegasan sikap institusional. Pernyataan tersebut menempatkan posisi Polri, Presiden, dan negara dalam satu garis konstitusional yang menurutnya tidak bisa ditawar.

Penegasan Posisi Polri dalam Sistem Ketatanegaraan

Kapolri menegaskan bahwa Polri merupakan alat negara yang berada langsung di bawah Presiden. Menurutnya, penempatan Polri di bawah kementerian justru berpotensi melemahkan institusi penegak hukum sekaligus mereduksi kewenangan Presiden sebagai pemegang komando tertinggi.

Baca juga: IndiHome dan Paradoks Laba vs Layanan

Ia menyampaikan bahwa perubahan struktur kelembagaan Polri bukan sekadar soal administrasi, tetapi menyangkut prinsip dasar tata kelola negara. Dalam pandangannya, Polri harus tetap berada di bawah Presiden agar mampu menjalankan fungsi penegakan hukum secara independen dan profesional.

Pernyataan ini muncul di tengah diskursus panjang mengenai reformasi Polri. Sebagian pihak mendorong perubahan struktur sebagai bagian dari kontrol sipil, sementara pihak lain menilai langkah tersebut berisiko menimbulkan tarik-menarik kepentingan politik.

Metafora “Petani” dan Pesan Kepemimpinan

Pilihan kata “petani” menjadi penanda penting dalam pernyataan Kapolri. Metafora ini tidak sekadar ungkapan personal, tetapi mencerminkan sikap kepemimpinan yang menempatkan prinsip di atas jabatan. Petani bekerja dalam kesunyian, mengandalkan proses, dan tidak bergantung pada simbol kekuasaan.

Dalam konteks ini, Kapolri seolah ingin menyampaikan bahwa jabatan menteri bukan tujuan utama. Ia menempatkan integritas institusi sebagai nilai yang lebih tinggi dibanding posisi struktural apa pun. Pernyataan tersebut juga memberi pesan bahwa loyalitas kepemimpinan Polri harus diarahkan pada konstitusi, bukan pada konfigurasi politik.

Bagi publik, pernyataan ini menjadi cerminan bagaimana seorang pemimpin institusi membaca batas antara pengabdian dan kekuasaan. Sikap tersebut memperlihatkan bahwa reformasi Polri tidak bisa dilepaskan dari karakter pemimpinnya.

Reformasi Polri dan Batas Intervensi Politik

Reformasi Polri kerap dipahami sebagai upaya memperbaiki kinerja, transparansi, dan akuntabilitas kepolisian. Namun Kapolri memberi penekanan bahwa reformasi tidak identik dengan memindahkan garis komando. Menurutnya, pengawasan dan perbaikan sistem bisa dilakukan tanpa mengubah posisi Polri dalam struktur ketatanegaraan.

Kapolri menilai bahwa menempatkan Polri di bawah kementerian berpotensi membuka ruang intervensi politik yang lebih besar. Kondisi tersebut justru berisiko menghambat tujuan reformasi itu sendiri. Dalam pandangannya, Polri membutuhkan penguatan profesionalisme, bukan subordinasi struktural.

Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa reformasi Polri harus dibaca sebagai agenda jangka panjang. Reformasi tidak bisa didorong melalui solusi instan yang berpotensi menimbulkan persoalan baru dalam sistem pemerintahan.

Baca juga: Ketidakadilan Akses KUR Terkuak di Priangan Timur

Implikasi Politik dan Arah ke Depan

Sikap tegas Kapolri membuka ruang diskusi baru di parlemen dan ruang publik. Pernyataan tersebut memaksa semua pihak untuk membedakan antara kritik terhadap kinerja Polri dan perubahan sistemik yang berdampak luas terhadap negara.

Bagi DPR, pernyataan ini menjadi catatan penting dalam membahas masa depan Polri. Setiap gagasan perubahan kelembagaan perlu dikaji tidak hanya dari sisi pengawasan, tetapi juga dari perspektif konstitusi dan stabilitas institusi.

Di sisi lain, bagi masyarakat, pernyataan Kapolri menjadi indikator kepemimpinan di tubuh Polri. Reformasi Polri tidak hanya berbicara soal regulasi dan struktur organisasi, tetapi juga tentang keberanian menjaga prinsip ketika berhadapan dengan kekuasaan.

Dalam konteks itulah, pilihan “jadi petani” menjadi simbol sikap. Ia menegaskan bahwa reformasi Polri membutuhkan keteguhan, bukan sekadar kompromi. (AC)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Banjir Dayeuhkolot Bandung

    Banjir Dayeuhkolot Kembali Rendam Jalan Raya, Warga dan Pengendara Bertarung dengan Air

    • calendar_month Sabtu, 1 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 45
    • 0Komentar

    Banjir Dayeuhkolot Bandung setinggi 50 cm lumpuhkan lalu lintas, warga terpaksa sewa delman angkut motor. Genangan Setinggi 50 Sentimeter Lumpuhkan Akses Utama di Dayeuhkolot albadarpost.com, HUMANIORA – Banjir Dayeuhkolot Bandung kembali melumpuhkan aktivitas warga, Sabtu (1/11/2025). Air setinggi sekitar 50 sentimeter merendam ruas Jalan Raya Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dan menyebabkan arus lalu lintas […]

  • SATAS EXPO 2025

    SATAS EXPO 2025: Ruang Belajar Sosial bagi Generasi Muda

    • calendar_month Sabtu, 20 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 77
    • 0Komentar

    albadarpost.com, WARTA MITRA. SATAS EXPO 2025 yang digelar oleh SMAN 1 Tasikmalaya menghadirkan lebih dari sekadar pameran kreativitas siswa. Ajang ini menjadi ruang belajar sosial, budaya, dan kemanusiaan yang mempertemukan gagasan generasi muda dengan realitas kehidupan masyarakat. Ajang Kreativitas yang Membumi Di tengah gegap gempita penampilan seni, stand kewirausahaan, hingga pameran karya akademik, SATAS EXPO […]

  • Kasus korupsi nikel menyeret pejabat tinggi Ombudsman

    Uang Rp1,5 M Bongkar Skandal Ombudsman, Modusnya Terselubung

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 87
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Kasus suap Ombudsman kini memasuki babak serius setelah penyidik mengungkap dugaan aliran dana Rp1,5 miliar yang menyeret seorang komisioner aktif. Dugaan korupsi Ombudsman ini tidak sekadar soal uang, tetapi juga mengarah pada praktik manipulasi mekanisme pengaduan demi kepentingan perusahaan. Penggeledahan berlangsung di Jakarta pada Rabu, 15 April 2026. Tim JAM PIDSUS […]

  • IPP DPRD Tasikmalaya

    Skor IPP 0,98, DPRD Tasikmalaya Gagal Layani Publik

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 66
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Skor Indeks Pelayanan Publik (IPP) DPRD Kabupaten Tasikmalaya berhenti di angka 0,98. Bukan rendah—melainkan gagal. Angka ini menempatkan DPRD sebagai salah satu lembaga publik dengan kualitas layanan terburuk, sekaligus membuka ironi besar dalam tata kelola pemerintahan daerah. DPRD selama ini berdiri sebagai pengawas pelayanan publik. Namun hasil evaluasi justru menunjukkan lembaga […]

  • program makan bergizi

    Menu Jumbo di Program Makan Bergizi Pagundan Tarik Perhatian Warga

    • calendar_month Sabtu, 22 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Menu jumbo di program makan bergizi Pagundan menarik perhatian warga dan dinilai meningkatkan kualitas pemenuhan gizi. albadarpost.com, HUMANIORA – Program makan bergizi di Desa Pagundan, Kecamatan Lebakwangi, Kabupaten Kuningan, menyedot perhatian publik setelah paket edisi Jumat berkah menyajikan menu yang jauh lebih besar dari biasanya. Warga menyebut ukuran ayam bakakak pada program makan bergizi kali […]

  • Uya Kuya dikhianati

    Uya Kuya Kecewa Merasa Dikhianati Teman Sendiri di Tengah Badai Hujatan Netizen

    • calendar_month Rabu, 5 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Uya Kuya kecewa karena merasa dikhianati teman sendiri saat dihujat netizen dan rumahnya dijarah. Uya Kuya Ungkap Kekecewaan Usai Dikhianati Teman Sendiri albadarpost.com, HUMANIORA – Artis sekaligus anggota DPR Uya Kuya mengaku kecewa dan terluka secara emosional setelah merasa dikhianati oleh orang-orang yang selama ini ia anggap sebagai teman dekat. Kekecewaan itu muncul di tengah […]

expand_less