Batik Baru MTsN 3 Tasikmalaya Jadi Simbol Semangat Generasi Emas
- account_circle redaktur
- calendar_month 23 jam yang lalu
- visibility 11
- comment 0 komentar
- print Cetak

Peluncuran motif batik baru MTsN 3 Kota Tasikmalaya saat peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118, Rabu (20/5/2025).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 di MTs Negeri 3 Kota Tasikmalaya berlangsung berbeda dari biasanya. Di tengah momentum kebangsaan dan milad ke-48 madrasah, pihak sekolah meluncurkan dua motif Batik MTsN 3 yang sarat filosofi budaya Tasikmalaya dan semangat generasi muda Indonesia.
Peluncuran berlangsung Selasa (20/5/2026) dan langsung menarik perhatian para tamu undangan, guru, orang tua siswa, hingga pejabat daerah yang hadir.
Dua motif batik tersebut dibuat khusus:
- satu untuk siswa,
- dan satu lagi untuk guru.
Meski memakai elemen visual yang sama, keduanya tampil dengan karakter warna yang berbeda.
Dan di situlah pesan simboliknya mulai terasa.
Payung Geulis hingga Kujang Jadi Simbol Identitas
Wakil Kesiswaan MTsN 3 Kota Tasikmalaya, Asep Rahmat, menjelaskan bahwa desain batik tersebut memadukan sejumlah ikon budaya khas Tasikmalaya dan Jawa Barat.
Motif utama menampilkan:
- payung geulis,
- kelom geulis,
- kujang,
- dan mega mendung.
Menurut Asep, setiap elemen memiliki filosofi tersendiri.
“Payung geulis dan kelom geulis identitas Tasik, khususnya Cibeureum dan Tamansari. Kujang simbol keberanian Jawa Barat, mega mendung gambaran dinamika dan perlindungan,” ujarnya.
Batik siswa hadir dengan warna yang lebih berani.
Gradasi biru muda dipadukan aksen kuning dan merah cerah pada bagian payung.
“Warna cerah ini sengaja dipilih untuk membakar semangat generasi muda. Kuning identik dengan Tasikmalaya, merah dan kuning melambangkan keberanian dan motivasi menyongsong Indonesia Emas,” kata Asep.
Sementara itu, batik guru memakai warna lebih lembut dan teduh.
Motifnya tetap sama, tetapi nuansa warnanya dibuat lebih kalem untuk menggambarkan karakter guru sebagai penuntun dan teladan.
“Kalau siswa energik, guru harus jadi penyejuk. Batik ini mengingatkan guru untuk jadi teladan,” jelasnya.
Batik Jadi Cara Elegan Menyampaikan Pesan Kebangkitan
Peluncuran batik tersebut dilakukan bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional.
Dan MTsN 3 Kota Tasikmalaya memilih cara yang tidak biasa untuk menyampaikan pesan kebangsaan.
Bukan lewat pidato panjang.
Tetapi lewat kain batik yang dipakai dengan rasa bangga.
Di tengah era digital yang serba cepat, pihak sekolah ingin budaya lokal tetap hidup dan dekat dengan generasi muda.
Karena itu, desain batik dibuat bukan sekadar seragam sekolah.
Melainkan identitas yang membawa pesan moral dan budaya.
“Siswa harus ingat mereka tunas bangsa yang harus dijaga. Guru harus jadi teladan yang meneduhkan,” ujar Asep.
Kalimat itu menjadi inti dari peluncuran dua motif batik tersebut.
Libatkan Seniman Lokal Tasikmalaya
Menariknya, proses pembuatan motif batik ini melibatkan seniman lokal Tasikmalaya.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya mendukung ekonomi kreatif masyarakat.
Pihak madrasah ingin memastikan pelestarian budaya berjalan berdampingan dengan pemberdayaan warga lokal.
Karena selama ini, Tasikmalaya dikenal memiliki kekuatan besar di sektor kerajinan dan seni budaya.
Dan batik menjadi salah satu identitas yang terus dijaga.
Di beberapa sudut acara, sejumlah orang tua siswa terlihat sibuk memotret motif batik baru tersebut menggunakan ponsel.
Ada yang langsung membagikannya ke grup WhatsApp keluarga. Ada pula yang membahas makna warna dan simbol pada motif batik itu.
Suasananya terasa hangat.
Dan sedikit berbeda dari acara sekolah pada umumnya.
Harkitnas dan Milad Madrasah Jadi Momentum Bersama
Kegiatan milad ke-48 MTsN 3 Kota Tasikmalaya dihadiri:
- Plh Wali Kota Tasikmalaya Rd Diky Candranegara,
- Kapolsek Cibeureum,
- para guru,
- serta orang tua siswa.
Momentum Hari Kebangkitan Nasional dinilai sangat cocok untuk memperkenalkan identitas baru madrasah melalui batik khas tersebut.
Karena semangat kebangkitan hari ini tidak hanya soal teknologi dan modernisasi.
Tetapi juga soal menjaga akar budaya agar tidak hilang di tengah perubahan zaman.
Belakangan, banyak sekolah mulai berlomba tampil modern dan digital. Namun tidak semuanya mampu menjaga identitas budaya lokalnya tetap hidup.
Dan MTsN 3 mencoba mengambil jalan berbeda.
Mereka membawa budaya masuk ke ruang pendidikan dengan cara yang terasa lebih dekat bagi siswa.
Batik Jadi Simbol Pendidikan Karakter
Bagi pihak sekolah, batik bukan hanya soal pakaian.
Tetapi media pendidikan karakter.
Lewat warna, simbol, dan filosofi di dalamnya, siswa diajak memahami nilai:
- keberanian,
- keteduhan,
- identitas daerah,
- hingga rasa cinta terhadap budaya sendiri.
Karena pendidikan hari ini tidak cukup hanya membentuk kemampuan akademik.
Tetapi juga harus menjaga akar nilai dan karakter generasi muda.
Dan kadang… pesan paling kuat memang tidak selalu datang dari pidato.
Bisa juga hadir dari selembar kain yang dipakai dengan bangga setiap hari.
Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar tren digital, MTsN 3 Kota Tasikmalaya memilih cara yang sederhana namun dalam:
menjaga masa depan generasi muda… lewat warisan budaya yang tetap dikenakan dengan kepala tegak dan rasa bangga. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar