Ratusan Botol Dihancurkan, Pesan Besarnya Lebih Keras dari Suara Pecahnya
- account_circle redaktur
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

Petugas dan tokoh masyarakat memusnahkan ratusan botol miras di Karangnunggal.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Banyak orang melihat pemusnahan miras hanya sebagai kegiatan seremonial. Namun di Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya peristiwa ini menunjukkan makna yang jauh lebih dalam. Aksi penghancuran minuman keras atau penertiban alkohol ilegal ini bukan sekadar rutinitas aparat, melainkan pesan terbuka tentang arah masa depan sebuah wilayah.
Suara pecah botol terdengar keras.
Namun pesan yang dibawanya jauh lebih keras.
Karena yang sedang dijaga bukan hanya ketertiban, tetapi generasi.
Ketika Ulama dan Umaro Tidak Lagi Berjalan Sendiri
Senin, 27 April 2026, halaman Polsek Karangnunggal menjadi saksi. Ratusan botol minuman keras dimusnahkan di depan publik. Namun yang menarik bukan hanya jumlahnya.
Semua elemen hadir.
Aparat, pemerintah kecamatan, tokoh agama, hingga masyarakat berdiri dalam satu barisan. Ini bukan pemandangan yang selalu terjadi di setiap daerah.
Kapolsek Karangnunggal, AKP Jaja Hidayat, menegaskan bahwa perang melawan miras tidak bisa dilakukan sendiri. Ia menekankan pentingnya kolaborasi nyata.
Pernyataan itu tidak berhenti sebagai kata-kata.
Hari itu, semua pihak benar-benar hadir dan bertindak.
Simbol yang Sering Diremehkan
Sebagian orang mungkin menganggap pemusnahan botol hanya simbolik. Namun simbol memiliki kekuatan.
Saat botol dihancurkan di depan masyarakat, pesan itu menjadi nyata. Tidak lagi sekadar aturan tertulis, tetapi tindakan yang terlihat.
Camat Karangnunggal, Suherman, menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari langkah serius menyiapkan generasi emas. Ia tidak berbicara tentang hari ini saja.
Ia berbicara tentang masa depan.
Karena miras bukan hanya soal pelanggaran hukum. Ia berkaitan langsung dengan rusaknya potensi generasi muda.
Antara Penegakan dan Harapan
Menariknya, suasana tidak berhenti pada penindakan. Ada sisi lain yang muncul.
Ketika Ketua MUI Kecamatan Karangnunggal, Zakaria Anshory, memimpin doa, suasana berubah. Ia tidak hanya mengutuk peredaran miras. Ia justru mendoakan para pelaku.
“Ya Allah, lembutkan hati mereka.”
Kalimat itu sederhana. Namun maknanya dalam.
Di sinilah terlihat bahwa pendekatan yang digunakan bukan hanya represif. Ada ruang untuk perubahan.
Kenapa Miras Selalu Jadi Masalah?
Pertanyaan ini penting.
Karena selama masih ada permintaan, peredaran akan terus terjadi. Miras tidak hanya soal pelanggaran hukum, tetapi juga soal budaya dan kebiasaan.
Namun Karangnunggal mencoba pendekatan berbeda. Mereka tidak hanya menindak, tetapi juga membangun kesadaran.
Melibatkan tokoh agama, masyarakat, dan pemerintah dalam satu gerakan adalah langkah strategis.
Karena perubahan tidak bisa dipaksakan dari satu arah saja.
Mimpi Besar di Balik Aksi Kecil
Di balik pemusnahan ratusan botol, ada visi yang lebih besar. Camat Karangnunggal menyebut tentang peningkatan status wilayah.
Ini bukan hal kecil.
Sebuah daerah tidak bisa berkembang jika masalah sosial terus dibiarkan. Miras sering menjadi pintu masuk berbagai persoalan lain, mulai dari kriminalitas hingga kerusakan moral.
Karena itu, langkah ini bukan sekadar penertiban.
Ini bagian dari pembangunan.
Pelajaran yang Sering Terlewat
Banyak daerah melakukan razia. Banyak juga yang memusnahkan barang bukti. Namun tidak semua mampu membangun narasi bersama.
Karangnunggal menunjukkan satu hal penting:
Perubahan membutuhkan kebersamaan.
Ketika ulama dan umaro berada di jalur yang sama, pesan yang disampaikan menjadi lebih kuat. Masyarakat tidak lagi melihat ini sebagai kebijakan sepihak.
Mereka melihatnya sebagai gerakan bersama.
Lebih dari Sekadar Aksi
Pemusnahan miras di Karangnunggal bukan sekadar kegiatan rutin. Ia adalah simbol komitmen, kolaborasi, dan arah masa depan.
Dari suara pecah botol, muncul pesan yang jelas:
bahwa menjaga generasi tidak bisa ditunda.
Botolnya memang hancur hari itu.
Tapi yang ingin diselamatkan adalah masa depan. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar