26 Motor Diamankan Polisi, Nobar Persib di Galih Pawesti Berakhir Ricuh
- account_circle redaktur
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

Plh Wali Kota Tasikmalaya, Rd Diky Candranegara, membenarkan adanya pesta miras dalam kegiatan nobar tersebut, Minggu (24/5/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Nobar Persib Bandung di Gedung Galih Pawesti, Kota Tasikmalaya, berubah menjadi mabuk massal yang memicu kemarahan pemerintah daerah. Euforia pertandingan Persib vs Persijap yang seharusnya berlangsung tertib justru berubah menjadi pesta miras liar dengan puluhan pemuda ditemukan mabuk dan tertidur di sekitar lokasi.
Peristiwa itu terjadi pada Sabtu malam, 23 Mei 2026. Polisi bergerak cepat setelah menerima laporan kondisi lokasi yang mulai tidak terkendali. Saat petugas tiba, suasana gedung terlihat semrawut. Botol minuman keras kosong berserakan di lantai, sementara sejumlah pemuda tampak tertidur dalam kondisi tidak sadar.
Beberapa sepeda motor terparkir tidak beraturan hingga menutup sebagian akses area gedung. Di dekat pagar lokasi, aroma alkohol masih terasa cukup menyengat ketika petugas melakukan pemeriksaan.
Dan situasinya memang membuat geleng kepala.
Polisi Amankan 26 Motor dan 1 Mobil
Plh Wali Kota Tasikmalaya, Rd Diky Candranegara, membenarkan adanya pesta miras dalam kegiatan nobar tersebut. Ia menyebut polisi langsung mengamankan situasi agar keributan tidak meluas.
“Polisi telah mengamankan 26 motor dan 1 kendaraan roda empat. Mereka semua tidur di lokasi disertai sisa miras berhamburan,” ujar Diky.
Menurutnya, kejadian tersebut menjadi tamparan serius karena Gedung Galih Pawesti merupakan fasilitas yang seharusnya dijaga dan digunakan secara tertib.
Beberapa warga sekitar juga terlihat berdiri di luar area gedung sambil memperhatikan proses pengamanan. Sebagian tampak merekam situasi menggunakan telepon genggam. Sementara itu, suara mesin mobil patroli dan percakapan petugas terdengar cukup dominan di tengah malam yang mulai sepi.
Plh Wali Kota Tasikmalaya Mengaku Marah Besar
Diky Candranegara mengaku sangat kecewa atas kejadian tersebut. Ia menilai fasilitas umum tidak boleh dipakai untuk aktivitas yang merusak ketertiban, apalagi pesta minuman keras.
“Ini salah besar dan terus terang saya marah sekali. Sangat kecewa. Gedung pemerintah dipakai mabuk-mabukan, tidak bisa dibiarkan,” tegasnya.
Ia memastikan panitia nobar akan dimintai pertanggungjawaban. Meski belum mengumumkan sanksi resmi, pembahasan internal sudah mulai dilakukan.
“Punishment akan kami bicarakan mau seperti apa. Kita lihat dulu, takut ambil keputusan tanpa cek langsung,” katanya.
Tidak semua peserta nobar terlibat keributan. Namun kondisi di lokasi sudah terlanjur menciptakan kesan buruk. Bahkan beberapa pemuda ditemukan tertidur di lantai gedung dengan jaket dijadikan alas seadanya.
Hal kecil seperti itu justru terasa ironis.
Gedung Galih Pawesti Akan Dievaluasi
Diky menjelaskan bahwa Gedung Galih Pawesti berada di bawah tanggung jawab KBPP. Karena itu, pemerintah daerah akan melakukan evaluasi dan pengawasan lebih ketat agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Kami ingin melakukan pembersihan dan sosialisasi di daerah non-pemerintahan. Untuk Galih Pawesti, tanggung jawab KBPP, dan nanti kami lakukan pengecekan langsung,” ujarnya.
Selain evaluasi internal, pemerintah juga membuka kemungkinan pemberian sanksi lebih tegas jika pelanggaran serupa kembali terulang. Salah satu opsi yang mulai dibahas yakni pembatasan hingga pencabutan izin penggunaan gedung.
Di sisi lain, kejadian tersebut memunculkan sorotan publik soal budaya euforia sepak bola yang mulai bergeser ke arah destruktif. Nobar yang seharusnya menjadi ruang kebersamaan justru berubah menjadi pesta miras yang mencoreng nama kota.
Suasananya memang gaduh.
Namun yang lebih memprihatinkan, sebagian pemuda terlihat kehilangan kontrol hanya beberapa jam setelah pertandingan dimulai.
Euforia Bola Jangan Berubah Jadi Kekacauan
Sepak bola selama ini dikenal sebagai hiburan rakyat yang mampu menyatukan banyak kalangan. Namun tanpa pengawasan dan kesadaran bersama, euforia pertandingan bisa berubah menjadi masalah sosial yang merugikan banyak pihak.
Kejadian di Gedung Galih Pawesti menjadi pengingat bahwa fasilitas umum harus dijaga bersama. Selain itu, kegiatan nobar juga membutuhkan pengawasan yang lebih serius agar tidak menjadi ruang bebas untuk pesta miras maupun tindakan yang mengganggu ketertiban umum.
Di tengah gegap gempita dukungan suporter, masih ada batas yang tidak boleh dilewati.
Mendukung tim kebanggaan memang soal loyalitas, tetapi ketika euforia berubah jadi mabuk massal, yang tersisa bukan lagi semangat sportivitas — melainkan wajah kota yang ikut tercoreng. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar