Saat Anak Lain Libur, Santri Diniyah Tasikmalaya Justru Sibuk Ujian
- account_circle redaktur
- calendar_month 53 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

Santri Madrasah Diniyah Takmiliyah Al-Muniroh Sukahurip, Kecamatan Sukaratu sedang mengerjakan UAS 2026, Senin (8/6/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA — Saat sebagian sekolah formal mulai memasuki suasana akhir semester dan aktivitas belajar berangsur lebih longgar, para peserta UAS Madrasah Diniyah di Kabupaten Tasikmalaya justru sedang menghadapi pekan yang padat. Santri diniyah masih duduk di ruang kelas, membuka lembar soal, dan mengulang hafalan yang telah mereka pelajari selama berbulan-bulan.
Pemandangan itu terlihat pada pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS) Genap Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Tahun Pelajaran 2025/2026 yang diselenggarakan di bawah koordinasi FKDT Kabupaten Tasikmalaya.
Siang itu, suasana kelas terasa tenang.
Cahaya matahari masuk dari jendela yang terbuka. Dinding kelas sederhana tampak dipenuhi bekas tulisan yang mulai memudar. Di atas meja kayu yang sudah penuh goresan, lembar soal ujian terbentang rapi di hadapan para santri.
Seorang siswa laki-laki menggenggam pensil sambil menundukkan kepala. Sesekali ia berhenti menulis, lalu menatap soal beberapa detik sebelum kembali mengisi jawaban. Di sampingnya, seorang santriwati berjilbab cokelat tampak serius membaca pertanyaan demi pertanyaan. Tidak ada suara gaduh.
Yang terdengar hanya gesekan pensil dan lembar kertas yang dibalik perlahan.
Ujian yang Berbeda dari Sekolah Formal
Bagi sebagian masyarakat, ujian identik dengan Matematika, IPA, atau Bahasa Indonesia. Namun suasana di Madrasah Diniyah menghadirkan cerita yang berbeda.
Berdasarkan jadwal resmi FKDT Kabupaten Tasikmalaya, para santri mengikuti ujian praktik dan ujian tulis dengan materi yang berfokus pada pendidikan agama Islam.
Pada sesi praktik, peserta diuji kemampuan Tahfidz Al-Qur’an, Tahfidz Hadits, praktik ibadah, doa-doa harian, baca tulis Al-Qur’an, hingga keterampilan menulis Arab Pegon.
Khusus untuk kelas empat hingga enam, terdapat pula materi membaca Kitab Safinah serta keterampilan menulis Arab Pegon yang selama ini menjadi bagian penting dalam pembelajaran diniyah.
Sementara itu, ujian tulis meliputi Al-Qur’an, Hadits, Aqidah, Akhlaq, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), dan Bahasa Arab.
Karena itu, UAS Madrasah Diniyah bukan hanya menguji kemampuan mengingat materi. Para santri juga dituntut memahami praktik ibadah serta nilai-nilai yang mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika Teman Sebaya Bermain, Mereka Mengulang Hafalan
Beberapa menit sebelum ujian dimulai, sebagian siswa masih terlihat membuka buku catatan tipis yang sampulnya mulai kusam.
Ada yang mengulang hafalan pendek dengan suara lirih.
Ada pula yang bertanya kepada temannya mengenai arti kosakata Bahasa Arab yang dipelajari minggu sebelumnya.
Pemandangan sederhana seperti itu mungkin tidak menarik perhatian banyak orang. Namun justru di sanalah terlihat proses pendidikan yang berlangsung setiap hari di ribuan Madrasah Diniyah.
Di luar kelas, beberapa orang tua tampak menunggu sambil berbincang ringan. Sesekali mereka melongok ke arah ruangan.
Ada yang menanyakan mata pelajaran yang sedang diujikan. Ada pula yang hanya memastikan anaknya tetap semangat hingga ujian selesai.
Momen kecil itu memperlihatkan bahwa pendidikan diniyah tidak hanya melibatkan guru dan santri. Dukungan keluarga juga menjadi bagian penting dari proses belajar mereka.
Menjaga Tradisi Belajar Agama di Tengah Perubahan Zaman
Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan hiburan digital, keberadaan Madrasah Diniyah masih memiliki tempat tersendiri di masyarakat Tasikmalaya.
Selepas pulang dari sekolah formal, banyak anak kembali mengenakan seragam diniyah dan mengikuti pelajaran agama pada sore hari.
Rutinitas tersebut berlangsung hampir setiap hari.
Mereka belajar membaca Al-Qur’an. Mereka mempelajari fiqih. Dan mereka menghafal hadis dan doa-doa. Perlahan, nilai-nilai itu tumbuh menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Tidak semua proses itu terlihat di media sosial.
Tidak semuanya menjadi viral.
Namun hasilnya sering kali tampak dalam sikap, adab, dan kebiasaan yang terbentuk sejak usia dini.
Karena itulah pelaksanaan UAS Madrasah Diniyah memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar angka di rapor. Ujian ini menjadi penanda bahwa proses pendidikan agama terus berjalan dan tetap dijaga oleh masyarakat dari generasi ke generasi.
Ada Harapan yang Sedang Ditulis di Atas Lembar Soal
Di balik ruang kelas sederhana itu, para santri mungkin hanya sedang mengerjakan ujian semester.
Namun sesungguhnya ada sesuatu yang lebih besar yang sedang mereka bangun.
Ada disiplin yang sedang dilatih.
Ada kesabaran yang sedang tumbuh.
Dan ada akhlak yang sedang dibentuk.
Dan ada ilmu yang kelak akan mereka bawa jauh melampaui ruang kelas tempat mereka belajar hari ini.
Sore itu, ketika sebagian anak menikmati waktu luang setelah sekolah, para santri diniyah Tasikmalaya masih menunduk di atas lembar ujian. Mereka mungkin tidak menjadi pusat perhatian.
Tetapi dari ruang-ruang sederhana itulah masa depan yang berakar pada ilmu dan akhlak sedang dipersiapkan.
Ketika sebagian anak mengisi libur dengan hiburan, para santri ini memilih mengisi waktu dengan ilmu. Sebab mereka percaya, nilai ujian mungkin hanya bertahan sesaat, tetapi ilmu dan akhlak bisa menemani seumur hidup. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar