Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » Tren Wajah Mulus Tanpa Jenggot Jadi Standar Baru Maskulinitas di Korea Selatan

Tren Wajah Mulus Tanpa Jenggot Jadi Standar Baru Maskulinitas di Korea Selatan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Minggu, 26 Okt 2025
  • visibility 117
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tren wajah mulus tanpa jenggot kini menjadi standar maskulinitas baru di Korea Selatan, dipengaruhi budaya K-pop dan modernitas.

albadarpost.com, LENSA HUMANIORA – Standar kecantikan bagi pria di Korea Selatan mengalami perubahan besar dalam beberapa dekade terakhir. Wajah mulus tanpa jenggot kini dianggap sebagai penampilan ideal, menggantikan simbol maskulinitas tradisional yang lekat dengan jenggot tebal sebagai lambang kedewasaan dan kehormatan.

Perubahan ini tidak terjadi tiba-tiba; tren budaya populer, industri hiburan K-pop, tekanan profesional, hingga perkembangan cara pandang modern semuanya berperan menciptakan identitas maskulin baru yang lebih bersih, halus, dan terawat.


Pengaruh Budaya Pop dan Modernisasi Estetika

Penampilan para idola K-pop seperti BTS, Stray Kids, dan NCT yang nyaris selalu tampil dengan wajah mulus tanpa jenggot menjadi salah satu penggerak utama persepsi bahwa kulit bersih dan licin adalah bentuk daya tarik maskulin masa kini. Visual “clean boy look” tersebut kini dianggap sebagai standar profesional, fashionable, dan dapat diterima publik.

Fenomena ini semakin menguat ketika sejumlah figur publik mengaku menjalani perawatan untuk menghilangkan atau mengurangi pertumbuhan rambut wajah. Misalnya, Hyungwon dari Monsta X pada tahun 2021 menyampaikan bahwa dirinya menjalani prosedur laser hair removal demi mendapatkan tampilan dagu yang menurutnya lebih halus. Walaupun prosedurnya terasa menyengat, ia mengaku puas karena wajahnya terlihat lebih bersih di depan kamera.

Kecenderungan ini berbanding terbalik dengan cara pandang masyarakat pada masa Dinasti Joseon (1392–1910). Ketika itu, jenggot dipandang sebagai simbol kematangan jiwa. Pria tanpa jenggot sering dianggap “belum dewasa” dan belum layak mengambil peran sosial atau menikah. Bahkan teks satir dari abad ke-17 dengan lugas menegaskan, “Jika Anda tidak berjanggut, Anda tidak akan pernah mendapatkan istri.”

Namun, gelombang modernisasi pada tahun 1895 membawa perubahan besar. Kerajaan mulai melakukan penyesuaian terhadap budaya global. Kaisar Gojong dan kaum bangsawan menjadi pihak pertama yang mencukur jenggot mereka sebagai simbol modernitas. Langkah ini diikuti masyarakat secara luas. Sejak itu, barbershop menjadi simbol transformasi sosial, bukan sekadar tempat merapikan rambut.

Norma tersebut terus menguat hingga era kontemporer. Pada 2014, seorang pilot Asiana Airlines sempat dilarang terbang karena memelihara jenggot, sebelum Mahkamah Agung Seoul akhirnya menyatakan bahwa kebijakan tersebut bersifat diskriminatif. Keputusan itu menjadi penanda bahwa budaya jenggot mulai dipertimbangkan kembali, meski belum sepenuhnya diterima.


Wajah Mulus Tanpa Jenggot sebagai Citra Profesional dan Identitas Baru

Faktor biologis ikut memengaruhi tren ini. Menurut tukang cukur senior, Kim Gyung-chun, struktur folikel rambut pria Korea berbeda dengan pria Barat. Orang Korea umumnya memiliki satu atau dua helai rambut per folikel, sedangkan pria Barat memiliki dua hingga tiga helai. Hal ini membuat jenggot lebat lebih sulit tumbuh pada pria Korea, sehingga wajah tanpa jenggot terlihat lebih alami dan lebih mudah dirawat.

Namun, faktor sosial dan dunia kerja justru memperkuat tren wajah mulus tanpa jenggot. Banyak kantor dan institusi di Korea Selatan menilai penampilan bersih sebagai bentuk profesionalisme. Beberapa pekerja mengaku bercukur setiap hari untuk menjaga citra rapi di mata rekan kerja ataupun klien. Dalam konteks relasi sosial, sebagian pria merasa bahwa janggut tipis justru kurang menarik saat berkencan.

Meski demikian, tren perlawanan kecil mulai muncul. Ada kelompok pria muda yang mencoba menumbuhkan jenggot sebagai ekspresi identitas personal dan bentuk keunikan. Jung Byung-hyun (38) misalnya, telah memelihara jenggot selama empat tahun dan menggunakan serum impor untuk meratakan pertumbuhannya. Namun, ia mengakui bahwa mencari tukang cukur yang terampil menata jenggot masih sulit di Korea.

Sementara itu, seorang tukang cukur berjanggut lebat yang dikenal sebagai “Santa” mengatakan bahwa perubahan sudah mulai terasa. Lebih banyak pria muda datang untuk merapikan jenggot mereka. Jika dulu jenggot dianggap tidak sopan atau tidak rapi, kini ia mulai dilihat sebagai gaya dan pilihan pribadi.

Tren wajah mulus tanpa jenggot mencerminkan perubahan nilai maskulinitas di Korea Selatan, dari simbol tradisi menuju ekspresi modern dan individual. (DAS)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • batik sebagai karakter bangsa

    Menggali Makna Batik sebagai Karakter Bangsa dan Simbol Persatuan

    • calendar_month Rabu, 1 Okt 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 195
    • 0Komentar

    Batik sebagai karakter bangsa mencerminkan identitas, persatuan, dan warisan budaya Indonesia yang harus dijaga bersama. albadarpost.com, PELITA – Batik kembali menjadi sorotan publik menjelang peringatan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober. Sebagai warisan budaya tak benda yang diakui UNESCO sejak 2009, batik bukan sekadar kain bermotif, melainkan simbol identitas, persatuan, sekaligus karakter bangsa Indonesia. Keberagaman […]

  • jaminan rezeki

    Kewajiban Ibadah di Tengah Jaminan Rezeki dari Allah

    • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Ulama mengingatkan kewajiban ibadah di tengah jaminan rezeki Allah agar masyarakat lebih tenang dan berimbang. albadarpost.com, LIFESTYLE – Ulama kembali mengingatkan umat agar tidak terjebak dalam kecemasan berlebihan soal urusan dunia. Di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan produktivitas, mereka menegaskan bahwa jaminan rezeki telah ditetapkan Allah Swt, sementara kewajiban utama manusia adalah menunaikan amanah ibadah […]

  • Program Lebaran Bersayap SWAKKA membagikan hadiah lebaran untuk anak yatim piatu tidak mampu melalui sistem Kupon Digital transparan.

    Lebaran Bersayap SWAKKA: Hadiah Lebaran untuk Anak Yatim Piatu

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 132
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Lebaran Bersayap SWAKKA hadir sebagai gerakan sosial Ramadan yang menguatkan semangat berbagi untuk anak yatim piatu tidak mampu. Program donasi yatim ini menjadi wujud nyata kepedulian di bulan suci. Melalui sistem Kupon Digital SWAKKA, gerakan ini memastikan transparansi sekaligus menghadirkan hadiah lebaran yang benar-benar dibutuhkan setiap anak. Ramadan selalu menghadirkan dua rasa […]

  • Beasiswa BAZNAS 2026

    Beasiswa BAZNAS 2026 Dibuka, Kuliah Gratis ke Malaysia untuk Mustahik

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 149
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) resmi membuka Beasiswa Cendekia BAZNAS (BCB) 2026 untuk studi di Al-Bukhari International University (AIU), Malaysia. Program ini kembali menjadi peluang besar bagi mahasiswa dari keluarga prasejahtera (mustahik) yang ingin menembus pendidikan internasional tanpa terbebani biaya. Berbeda dari program beasiswa pada umumnya, Beasiswa BAZNAS 2026 tidak hanya menargetkan […]

  • Santunan Masjid Rahmatullah BRP kepada kaum dhuafa dan fakir miskin menjelang Ramadhan di Tasikmalaya

    Masjid Rahmatullah BRP Buktikan Masjid Pusat Kepedulian

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 156
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA TASIKMALAYA – Santunan Masjid Rahmatullah BRP kembali menguatkan makna bahwa masjid bukan sekadar ruang ibadah. Santunan Masjid Rahmatullah BRP sekaligus menjadi bentuk nyata kepedulian sosial warga terhadap kaum dhuafa dan fakir miskin. Melalui kegiatan berbagi ini, Masjid Rahmatullah BRP memperlihatkan peran strategisnya sebagai pusat solidaritas umat menjelang Ramadhan 1447 Hijriah. Sejak pagi, suasana […]

  • Ilustrasi Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat Khulafaur Rasyidin, dikenal sebagai Asadullah dan Babul Ilmi dalam sejarah Islam.

    Ali bin Abi Thalib: Singa Allah yang Jadi Pintu Ilmu

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 166
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Ali bin Abi Thalib RA, khalifah keempat dalam Khulafaur Rasyidin, dikenal sebagai Singa Allah, Babul Ilmi, dan simbol keberanian serta kecerdasan dalam sejarah Islam. Sosok Ali bukan hanya sepupu dan menantu Rasulullah SAW, tetapi juga pemimpin yang meninggalkan jejak kuat dalam kepemimpinan, ilmu, dan keteladanan. Sejak usia belia, Ali telah menunjukkan komitmen […]

expand_less