Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » Tren Wajah Mulus Tanpa Jenggot Jadi Standar Baru Maskulinitas di Korea Selatan

Tren Wajah Mulus Tanpa Jenggot Jadi Standar Baru Maskulinitas di Korea Selatan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Minggu, 26 Okt 2025
  • visibility 131
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tren wajah mulus tanpa jenggot kini menjadi standar maskulinitas baru di Korea Selatan, dipengaruhi budaya K-pop dan modernitas.

albadarpost.com, LENSA HUMANIORA – Standar kecantikan bagi pria di Korea Selatan mengalami perubahan besar dalam beberapa dekade terakhir. Wajah mulus tanpa jenggot kini dianggap sebagai penampilan ideal, menggantikan simbol maskulinitas tradisional yang lekat dengan jenggot tebal sebagai lambang kedewasaan dan kehormatan.

Perubahan ini tidak terjadi tiba-tiba; tren budaya populer, industri hiburan K-pop, tekanan profesional, hingga perkembangan cara pandang modern semuanya berperan menciptakan identitas maskulin baru yang lebih bersih, halus, dan terawat.


Pengaruh Budaya Pop dan Modernisasi Estetika

Penampilan para idola K-pop seperti BTS, Stray Kids, dan NCT yang nyaris selalu tampil dengan wajah mulus tanpa jenggot menjadi salah satu penggerak utama persepsi bahwa kulit bersih dan licin adalah bentuk daya tarik maskulin masa kini. Visual “clean boy look” tersebut kini dianggap sebagai standar profesional, fashionable, dan dapat diterima publik.

Fenomena ini semakin menguat ketika sejumlah figur publik mengaku menjalani perawatan untuk menghilangkan atau mengurangi pertumbuhan rambut wajah. Misalnya, Hyungwon dari Monsta X pada tahun 2021 menyampaikan bahwa dirinya menjalani prosedur laser hair removal demi mendapatkan tampilan dagu yang menurutnya lebih halus. Walaupun prosedurnya terasa menyengat, ia mengaku puas karena wajahnya terlihat lebih bersih di depan kamera.

Kecenderungan ini berbanding terbalik dengan cara pandang masyarakat pada masa Dinasti Joseon (1392–1910). Ketika itu, jenggot dipandang sebagai simbol kematangan jiwa. Pria tanpa jenggot sering dianggap “belum dewasa” dan belum layak mengambil peran sosial atau menikah. Bahkan teks satir dari abad ke-17 dengan lugas menegaskan, “Jika Anda tidak berjanggut, Anda tidak akan pernah mendapatkan istri.”

Namun, gelombang modernisasi pada tahun 1895 membawa perubahan besar. Kerajaan mulai melakukan penyesuaian terhadap budaya global. Kaisar Gojong dan kaum bangsawan menjadi pihak pertama yang mencukur jenggot mereka sebagai simbol modernitas. Langkah ini diikuti masyarakat secara luas. Sejak itu, barbershop menjadi simbol transformasi sosial, bukan sekadar tempat merapikan rambut.

Norma tersebut terus menguat hingga era kontemporer. Pada 2014, seorang pilot Asiana Airlines sempat dilarang terbang karena memelihara jenggot, sebelum Mahkamah Agung Seoul akhirnya menyatakan bahwa kebijakan tersebut bersifat diskriminatif. Keputusan itu menjadi penanda bahwa budaya jenggot mulai dipertimbangkan kembali, meski belum sepenuhnya diterima.


Wajah Mulus Tanpa Jenggot sebagai Citra Profesional dan Identitas Baru

Faktor biologis ikut memengaruhi tren ini. Menurut tukang cukur senior, Kim Gyung-chun, struktur folikel rambut pria Korea berbeda dengan pria Barat. Orang Korea umumnya memiliki satu atau dua helai rambut per folikel, sedangkan pria Barat memiliki dua hingga tiga helai. Hal ini membuat jenggot lebat lebih sulit tumbuh pada pria Korea, sehingga wajah tanpa jenggot terlihat lebih alami dan lebih mudah dirawat.

Namun, faktor sosial dan dunia kerja justru memperkuat tren wajah mulus tanpa jenggot. Banyak kantor dan institusi di Korea Selatan menilai penampilan bersih sebagai bentuk profesionalisme. Beberapa pekerja mengaku bercukur setiap hari untuk menjaga citra rapi di mata rekan kerja ataupun klien. Dalam konteks relasi sosial, sebagian pria merasa bahwa janggut tipis justru kurang menarik saat berkencan.

Meski demikian, tren perlawanan kecil mulai muncul. Ada kelompok pria muda yang mencoba menumbuhkan jenggot sebagai ekspresi identitas personal dan bentuk keunikan. Jung Byung-hyun (38) misalnya, telah memelihara jenggot selama empat tahun dan menggunakan serum impor untuk meratakan pertumbuhannya. Namun, ia mengakui bahwa mencari tukang cukur yang terampil menata jenggot masih sulit di Korea.

Sementara itu, seorang tukang cukur berjanggut lebat yang dikenal sebagai “Santa” mengatakan bahwa perubahan sudah mulai terasa. Lebih banyak pria muda datang untuk merapikan jenggot mereka. Jika dulu jenggot dianggap tidak sopan atau tidak rapi, kini ia mulai dilihat sebagai gaya dan pilihan pribadi.

Tren wajah mulus tanpa jenggot mencerminkan perubahan nilai maskulinitas di Korea Selatan, dari simbol tradisi menuju ekspresi modern dan individual. (DAS)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • efisiensi anggaran DPRD

    Efisiensi Anggaran DPRD, Akankah Tasikmalaya Ambil Langkah Berani?

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Tasikmalaya di Persimpangan Keputusan albadapost.com, EDITORIAL – Efisiensi anggaran DPRD kembali menjadi isu publik di Tasikmalaya. Saat Kota Banjar dan Kabupaten Ciamis memangkas tunjangan legislatif sebagai respon tekanan fiskal, DPRD Tasikmalaya belum menunjukkan sikap tegas. Keraguan ini bukan sekadar soal kebijakan anggaran, tetapi menyentuh dimensi moral dan kepercayaan rakyat. Publik bertanya dengan wajar. Ketika beban […]

  • MBG Kota Banjar jadi sorotan publik

    Klarifikasi DPRD Banjar: Bukan Korban MBG, Bukan Pelaku

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 156
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Isu dugaan penipuan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Banjar terus bergulir dan menyedot perhatian publik. Nama anggota DPRD Kota Banjar, Hendrik Purnomo, sempat ikut terseret dalam pusaran pemberitaan awal terkait laporan dugaan penipuan jalur cepat menjadi mitra dapur MBG. Menyikapi situasi tersebut, Hendrik akhirnya menyampaikan klarifikasi terbuka untuk meluruskan […]

  • Gerakan Indonesia Asri

    Gerakan Indonesia Asri: Ini Aksi Nyata Polres Tasikmalaya

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 62
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Gerakan Indonesia Asri kembali menunjukkan dampak nyata di ruang publik. Menjelang HUT Bhayangkara ke-80, ratusan personel Polres Tasikmalaya turun langsung membersihkan Alun-Alun Singaparna sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan bersama. Aksi sosial yang berlangsung pada Selasa, 23 Juni 2026, itu menjadi bagian dari upaya […]

  • MTQH Tasikmalaya

    MTQH Tasikmalaya Berakhir, Semangat Qurani Tetap Menyala

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 78
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema hingga larut malam di Masjid Agung Kota Tasikmalaya, Minggu (14/6/2026). Pada malam penutupan MTQH Tasikmalaya XVI tingkat kota, ribuan masyarakat memenuhi area masjid untuk menyaksikan puncak perhelatan yang selama beberapa hari menjadi pusat perhatian warga. Di antara cahaya lampu yang menerangi pelataran masjid, para peserta, pendamping […]

  • Ilustrasi spiritual berlomba dalam kebaikan, menggambarkan manusia berbuat amal saleh dengan nuansa sufistik dan cahaya ilahi.

    Seandainya Kebaikan Jadi Arena Perlombaan

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 157
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Di tengah riuh dunia yang gemar berlomba dalam angka, kuasa, dan pujian, seruan Fastabiqul Khairat justru terdengar lirih. Padahal, berlomba dalam kebaikan—bersegera dalam amal saleh, mendahului dalam kebajikan, dan berkompetisi dalam ketakwaan—adalah panggilan langit yang tak pernah padam. Fastabiqul Khairat bukan sekadar slogan spiritual, melainkan jalan sunyi para pencari cahaya yang menolak […]

  • Lensa: Membaca Fakta, Mengungkap Realita

    Lensa: Membaca Fakta, Mengungkap Realita

    • calendar_month Kamis, 18 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 89
    • 0Komentar

    albadarpost.com – LENSA. Rubrik Lensa di albadarpost.com adalah ruang yang menajamkan pandangan kita terhadap kenyataan. Nama “Lensa” dipilih karena kami percaya data, riset, dan angka bukanlah deretan simbol kaku, melainkan jendela untuk memahami realita sosial yang kerap disembunyikan. Melalui Lensa, kami ingin memperlihatkan apa yang sering tak terlihat: ketimpangan, kesenjangan, dan potret kehidupan rakyat yang […]

expand_less