220 Becak Listrik Dibagikan di Tasikmalaya, Siapa Penerimanya?
- account_circle redaktur
- calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
- visibility 20
- comment 0 komentar
- print Cetak

Becak listrik Tasikmalaya untuk pengayuh becak usia 55 tahun ke atas, Selasa (8/9/2026).(Dok. Lanud Wiriadinata).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AlbadarPost.com, BERITA DAERAH — Program becak listrik Tasikmalaya memasuki babak baru setelah 220 unit bantuan diserahkan kepada para pengayuh becak di Kota Tasikmalaya, Selasa, 8 September 2026. Bantuan tersebut terutama diprioritaskan bagi pengayuh berusia 55 tahun ke atas.
Penyerahan berlangsung di Bale Kota Tasikmalaya dihadiri oleh Komandan Lanud Wiriadinata, Kolonel Pnb A. Kholiq Yulianto, S.E., M.M., M.Han., unsur Forkopimda, jajaran Pemerintah Kota Tasikmalaya, Ketua MUI Kota Tasikmalaya serta tamu undangan lainnya. Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi turut hadir dan menyampaikan sambutan dalam kegiatan tersebut.
Bantuan itu berasal dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (YGSN), berdasarkan informasi kegiatan yang menjadi bahan pemberitaan ini.
Di balik angka 220 unit, terdapat persoalan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan penerima. Para pengayuh bukan hanya membutuhkan kendaraan untuk bekerja, tetapi juga membutuhkan cara agar tetap mampu mencari nafkah ketika usia mulai membatasi kekuatan fisik.
Pengayuh Berusia 55 Tahun ke Atas Jadi Prioritas
Kelompok pengayuh berusia 55 tahun ke atas mendapat prioritas dalam program tersebut. Pertimbangannya berkaitan dengan beban fisik yang selama ini harus mereka tanggung ketika mengayuh becak.
Karena itu, penggunaan kendaraan listrik diharapkan membuat aktivitas kerja menjadi lebih nyaman dan efektif. Pemerintah juga berharap bantuan tersebut dapat membantu meningkatkan penghasilan serta kesejahteraan keluarga penerima manfaat.
Namun, tujuan tersebut baru bisa terlihat setelah kendaraan digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Sebuah bantuan tidak otomatis menjadi program pemberdayaan yang berhasil hanya karena sudah diserahkan. Ukuran yang lebih penting justru berada setelah seremoni selesai: apakah penerima dapat memanfaatkannya secara optimal?
Pertanyaan itu penting, terutama karena sasaran program merupakan kelompok pekerja yang mengandalkan pendapatan harian.
Bukan Sekadar Kendaraan, Penghasilan Jadi Ukuran
Kehadiran becak listrik tentu menawarkan perubahan dari sisi tenaga yang dibutuhkan pengayuh. Akan tetapi, kendaraan yang lebih modern belum otomatis membuat pendapatan meningkat.
Penghasilan tetap dipengaruhi banyak faktor. Jumlah penumpang, lokasi mangkal, rute, waktu bekerja, hingga kondisi ekonomi masyarakat ikut menentukan.
Karena itu, keberhasilan program ini sebaiknya tidak hanya dilihat dari jumlah unit yang dibagikan.
Ada sejumlah indikator yang menarik untuk dipantau. Misalnya, apakah penerima benar-benar menggunakan kendaraan tersebut? Apakah aktivitas mereka menjadi lebih ringan? Apakah waktu bekerja berubah? Dan yang paling penting, apakah pendapatan keluarga penerima ikut membaik?
Pertanyaan tersebut bukan berarti mempertanyakan manfaat bantuan sejak awal. Sebaliknya, hal itu menjadi bagian dari evaluasi yang sehat terhadap program pemberdayaan masyarakat.
Apalagi, pemerintah sendiri menyatakan akan melakukan pendampingan dan pemantauan agar bantuan tepat sasaran serta memberikan manfaat berkelanjutan.
Setelah Diserahkan, Pendampingan Jadi Kunci
Tahap setelah pembagian justru tidak kalah penting.
Para penerima membutuhkan pemahaman mengenai penggunaan kendaraan, perawatan, serta pengelolaan agar becak listrik dapat terus mendukung pekerjaan mereka.
Selain itu, pemerintah perlu memastikan kendaraan benar-benar berada di tangan penerima yang menjadi sasaran program.
Pendampingan juga menjadi penting karena kondisi setiap pengayuh berbeda. Pengayuh berusia 55 tahun ke atas tentu memiliki kemampuan fisik, kebutuhan ekonomi, dan pola kerja yang tidak selalu sama.
Dengan demikian, pemantauan tidak ideal jika hanya dilakukan pada saat penyerahan.
Evaluasi beberapa bulan setelah program berjalan akan memberikan gambaran yang lebih objektif. Dari sana, pemerintah dapat melihat apakah bantuan memberikan perubahan nyata atau masih membutuhkan intervensi tambahan.
Becak Listrik dan Wajah Ekonomi Rakyat Tasikmalaya
Pemkot Tasikmalaya menilai program tersebut sejalan dengan pembangunan daerah dalam pemberdayaan ekonomi rakyat, penguatan mobilitas masyarakat, dan pengembangan transportasi yang lebih ramah lingkungan.
Tiga aspek tersebut membuat program ini menarik untuk dilihat lebih jauh.
Dari sisi ekonomi, bantuan diarahkan kepada pekerja yang menggantungkan pendapatan dari aktivitas mengayuh becak. Dari sisi sosial, program memberikan perhatian kepada pengayuh yang sudah berusia 55 tahun ke atas. Sementara dari sisi transportasi, penggunaan tenaga listrik menjadi bagian dari perubahan moda mobilitas.
Namun, semakin banyak tujuan yang ingin dicapai, semakin penting pula indikator keberhasilannya.
Publik tidak hanya perlu mengetahui bahwa 220 becak listrik telah dibagikan di Tasikmalaya. Publik juga berhak melihat dampaknya bagi penerima.
Jika kendaraan tersebut mampu mengurangi beban fisik sekaligus membantu mempertahankan atau meningkatkan pendapatan, manfaat program akan terasa jauh lebih nyata.
Sebaliknya, apabila muncul kendala dalam penggunaan, perawatan, atau pemanfaatannya, pemerintah masih memiliki ruang untuk melakukan perbaikan melalui pendampingan.
220 Unit Sudah Dibagikan, Dampaknya Kini Ditunggu
Penyerahan 220 becak listrik Tasikmalaya menjadi kabar penting bagi para pengayuh yang menerima bantuan. Terlebih, program memberikan prioritas kepada kelompok usia 55 tahun ke atas yang menghadapi tantangan fisik dalam menjalankan pekerjaan.
Akan tetapi, berita tentang bantuan tidak semestinya berhenti pada foto penyerahan dan sambutan pejabat.
Cerita sesungguhnya justru dimulai ketika para pengayuh kembali ke jalan, membawa penumpang, mencari penghasilan, dan menggunakan kendaraan tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Karena itu, publik layak menunggu hasilnya.
Sebab, 220 becak listrik bukan sekadar 220 kendaraan yang berpindah tangan. Nilai sebenarnya baru terlihat ketika setiap unit mampu mengubah kayuhan menjadi penghasilan, mengurangi beban fisik, dan menjaga kemandirian keluarga pengayuh. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar