Saat Allah Belum Menjawab Doamu
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang sedang berzikir tengah malam.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Pukul dua dini hari. Sebuah lampu kamar masih menyala. Di sudut ruangan, seseorang baru saja menyelesaikan salat tahajud. Tangannya menengadah cukup lama. Air matanya sempat jatuh. Permohonannya juga tidak berubah dari malam-malam sebelumnya.
Ia meminta satu hal yang sama.
Pekerjaan.
Kesembuhan.
Jodoh.
Atau mungkin jalan keluar dari masalah yang sudah berbulan-bulan menghuni kepalanya.
Lalu pagi datang.
Alarm berbunyi.
Ponsel diperiksa.
Tidak ada kabar baru.
Tidak ada keajaiban.
Masalah itu masih ada di tempat yang sama.
Di situlah pertanyaan yang sangat manusiawi sering muncul:
Mengapa doa belum dikabulkan?
Pertanyaan tentang doa belum dikabulkan, doa yang terasa tertunda, atau harapan yang belum terwujud sesungguhnya bukan hanya milik kita hari ini. Sejak dahulu, manusia selalu bergulat dengan satu persoalan yang sama: mengapa waktu Allah sering berbeda dengan waktu yang kita bayangkan?
Kita Berdoa kepada Allah, Tetapi Diam-diam Membuat Jadwal untuk-Nya
Dalam kitab Al-Hikam, Imam Ibnu Athaillah as-Sakandari menulis sebuah hikmah yang terasa lembut ketika dibaca, tetapi terasa keras ketika direnungkan.
لَا يَشُكَّنَّكَ فِي الْوَعْدِ عَدَمُ وُقُوعِ الْمَوْعُودِ وَإِنْ تَعَيَّنَ زَمَنُهُ
“Jangan sampai keterlambatan terjadinya apa yang dijanjikan Allah membuatmu ragu terhadap janji-Nya, meskipun waktunya telah kamu tentukan.”
Masalahnya, manusia memang sangat suka menentukan waktu.
Kita berdoa hari ini, lalu berharap jawaban datang besok.
Kita bersedekah pagi hari, lalu menunggu rezeki datang sore hari.
Dan kita memperbaiki diri selama satu bulan, lalu berharap seluruh masalah hidup selesai pada bulan berikutnya.
Tanpa sadar, kita sebenarnya sedang membuat deadline untuk Tuhan.
Padahal, Allah tidak pernah meminta pendapat kita tentang kapan pertolongan itu harus datang.
Allah berfirman:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu.”
(QS. Al-Baqarah Ayat 216)
Karena itu, keterlambatan sering kali bukan penolakan. Terkadang, itu adalah bentuk perlindungan yang belum mampu kita pahami.
Umar bin Khattab Pernah Mengalami Kegelisahan yang Sama
Ada satu momen dalam sejarah Islam yang menggambarkan hal ini dengan sangat manusiawi.
Pada peristiwa Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah SAW pernah bermimpi bahwa kaum Muslim akan memasuki Makkah.
Para sahabat memahami bahwa mimpi itu akan segera terwujud.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Mereka tertahan.
Mereka tidak jadi melaksanakan umrah.
Bahkan, isi perjanjian yang disepakati saat itu terlihat seperti kekalahan.
Umar bin Khattab RA pun merasa gelisah. Beliau mempertanyakan keadaan tersebut kepada Rasulullah SAW.
Namun Rasulullah menjawab dengan sangat tenang:
“Aku adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Allah tidak akan menyia-nyiakanku.”
Beberapa waktu kemudian, sejarah membuktikan bahwa peristiwa yang tampak seperti kekalahan itu justru menjadi gerbang kemenangan besar.
Terkadang, kita memang terlalu dekat dengan masalah sehingga tidak mampu melihat rencana Allah secara utuh.
Masalahnya, Kita Hidup di Zaman yang Terlalu Cepat
Mungkin inilah salah satu ujian terbesar manusia modern.
Kita terbiasa dengan internet cepat.
Makanan cepat saji.
Pengiriman satu hari.
Balasan pesan dalam hitungan detik.
Lalu, tanpa sadar, kita berharap pertolongan Allah juga bekerja dengan sistem yang sama.
Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan:
“Doa seorang hamba akan terus dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa.”
(HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)
Ketika para sahabat bertanya tentang maksud tergesa-gesa, Rasulullah menjelaskan:
“Ia berkata, ‘Aku telah berdoa, tetapi belum juga dikabulkan’.”
Kalimat itu terasa seperti sedang menggambarkan banyak dari kita hari ini.
Kita tidak berhenti berdoa karena Allah tidak mendengar.
Kita berhenti karena merasa Allah terlalu lama menjawab.
Padahal Allah sendiri telah berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah Ayat 6)
Yang Sebenarnya Sedang Diuji Bukan Doa Kita
Mungkin selama ini kita mengira bahwa yang sedang diuji adalah kesabaran menunggu doa terkabul.
Padahal, bisa jadi yang sedang diuji adalah prasangka kita kepada Allah.
Apakah kita tetap percaya ketika belum melihat hasil?
Apakah kita tetap berdoa ketika keadaan belum berubah?
Dan apakah kita tetap yakin ketika semua perhitungan manusia mengatakan tidak mungkin?
Imam Ibnu Athaillah mengingatkan bahwa bahaya terbesar bukanlah doa yang belum terkabul.
Bahaya terbesar adalah ketika penantian itu membuat cahaya keyakinan di dalam hati mulai padam.
Sebab, sejak awal, tugas manusia memang bukan menentukan kapan doa harus dikabulkan.
Tugas manusia hanyalah mengetuk pintu.
Dan tugas Allah adalah menentukan kapan pintu itu dibuka.
Barangkali Allah tidak sedang terlambat mengabulkan doa kita. Barangkali, kitalah yang terlalu cepat memutuskan bahwa waktu Allah salah. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar