Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Daerah » Terungkap! Puluhan Dapur SPPG di Tasikmalaya Diduga Ilegal

Terungkap! Puluhan Dapur SPPG di Tasikmalaya Diduga Ilegal

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 3 jam yang lalu
  • visibility 11
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA DAERAHKasus Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tasikmalaya tak lagi sekadar data di atas kertas. Saat Komisi III DPRD Kota Tasikmalaya turun langsung ke dapur layanan gizi di Singkup, Purbaratu, fakta di lapangan berbicara lebih keras. Aktivitas memasak tetap berjalan, sementara izin belum terlihat. Dapur yang memasok makanan untuk balita, ibu hamil, dan lansia itu sudah beroperasi berbulan-bulan tanpa legalitas.

Di sekitar lokasi, aktivitas terlihat normal. Namun di balik itu, temuan di lapangan mengungkap celah serius yang selama ini tersembunyi.

Data Dibuka, Sidak Langsung Digelar

Informasi awal datang dari LSM Sajalur dalam forum resmi di DPRD. Angkanya mencolok: dari 112 dapur SPPG di Kota Tasikmalaya, hanya tiga yang memiliki izin.

Data itu langsung ditindaklanjuti. Komisi III bergerak cepat.

Ketua Komisi III DPRD Kota Tasikmalaya, Anang Sapa’at, memimpin sidak ke salah satu titik yang dilaporkan, yakni SPPG Singkup.

“Informasi itu yang kami dalami. Hari ini kami lihat langsung,” ujarnya di lokasi.

Begitu tim masuk ke area dapur, pemeriksaan langsung menyasar titik-titik krusial. Tidak butuh waktu lama untuk menemukan masalah utama.

Temuan di Lapangan: Dapur Jalan, Izin Nihil

Hasil peninjauan menunjukkan tim tidak menemukan dokumen perizinan yang lengkap. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terlihat belum tertata. Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) juga belum ada.

Sementara itu, aktivitas produksi makanan tetap berjalan.

“Sudah lima bulan beroperasi, tapi izinnya belum ada,” kata Anang.

Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar: bagaimana fasilitas layanan publik bisa berjalan tanpa pengawasan ketat sejak awal?

SPPG Tasikmalaya

Sidak DPRD Kota Tasikmalaya di dapur SPPG Singkup.

Risiko Nyata: Limbah dan Keamanan Bangunan

Di area sekitar dapur, tim menemukan aliran limbah cair yang belum dikelola secara optimal. Dalam kondisi tertentu, limbah seperti ini berpotensi mencemari lingkungan.

Ini bukan persoalan kecil.

Tanpa IPAL yang layak, risiko pencemaran meningkat. Tanpa PBG, pihak terkait tidak dapat memastikan keamanan bangunan.

Padahal, dapur SPPG memproduksi makanan dalam jumlah besar untuk kelompok rentan. Balita, ibu hamil, dan lansia menjadi penerima langsung.

Risikonya nyata. Dan itu dekat.

Pengelola Akui Kekurangan, Proses Masih Berjalan

Kepala dapur SPPG Singkup, Bayu, tidak membantah temuan tersebut. Ia mengakui bahwa perizinan belum lengkap.

“Kami sedang proses. Beberapa dokumen masih berjalan,” ujarnya.

Namun pernyataan itu belum cukup meredakan kekhawatiran. DPRD menuntut langkah konkret dan cepat dalam proses tersebut.

Karena itu, toleransi waktu menjadi batas yang ditegaskan.

Ultimatum DPRD: Enam Bulan atau Ditutup

Komisi III memberikan peringatan tegas. Komisi III DPRD menetapkan batas waktu maksimal enam bulan bagi setiap dapur SPPG untuk melengkapi izin sejak mulai beroperasi.

Jika tidak ada progres, DPRD akan merekomendasikan penutupan sementara.

“Aturannya jelas. Ini bukan sekadar administrasi, ini soal keselamatan,” tegas Anang.

Melalui pernyataan itu, DPRD memastikan mereka akan memperketat pengawasan.

Angka Kepatuhan Rendah, Sidak Akan Diperluas

Data dari LSM Sajalur menunjukkan tingkat kepatuhan hanya sekitar 2,9 persen. Artinya, mayoritas dapur SPPG di Kota Tasikmalaya berpotensi mengalami masalah serupa.

Komisi III memastikan sidak tidak berhenti di satu lokasi.

Komisi III telah menyiapkan langkah lanjutan dan akan memeriksa dapur-dapur lain secara bertahap.

“Ini baru awal. Kami akan petakan semua,” kata Anang.

DPRD juga meminta dinas terkait untuk lebih aktif turun ke lapangan, bukan sekadar menunggu laporan.

Kasus SPPG Tasikmalaya membuka sisi lain dari layanan publik yang selama ini luput dari perhatian. Program yang bertujuan membantu kelompok rentan justru menghadapi risiko jika pengawasan tidak berjalan.

Kini, perhatian mulai tertuju ke dapur-dapur tersebut.

Pertanyaannya tinggal satu: apakah perbaikan akan berjalan cepat, atau masalah ini kembali mengendap? (Red)


 

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • korupsi pengadaan TIK

    Perspektif: Putusan MA Korupsi Pengadaan TIK dan Dampaknya bagi Sekolah

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 21
    • 0Komentar

    Putusan MA soal korupsi pengadaan TIK menegaskan risiko sistemik pengelolaan anggaran pendidikan dasar. albadarpost.com, PERSPEKTIF – Putusan Mahkamah Agung dalam perkara korupsi pengadaan Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) di sekolah dasar Kabupaten Gresik bukan sekadar koreksi vonis pidana. Putusan ini penting karena menyentuh langsung tata kelola anggaran pendidikan dasar—sektor yang menyentuh hak dasar warga dan […]

  • Muktamar NU ke-35 menjadi titik balik kepemimpinan PBNU dengan sorotan pada Kiai Said Aqil Siroj dan Gus Salam

    Muktamar NU ke-35 Jadi Titik Balik Kepemimpinan Baru

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 19
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Nahdlatul Ulama sedang berada di persimpangan penting sejarahnya. Menjelang Muktamar NU ke-35, satu pertanyaan terus bergema di kalangan warga nahdliyin: apakah NU membutuhkan kepemimpinan baru? Pertanyaan itu tidak muncul tiba-tiba. Dinamika internal yang menguat, perbedaan arah pandang, hingga kegelisahan warga terhadap soliditas organisasi membuat Muktamar kali ini terasa berbeda. NU tidak sekadar […]

  • izin perumahan

    Pemkab Bandung Hentikan Izin Perumahan untuk Evaluasi Dampak Lingkungan

    • calendar_month Senin, 8 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 16
    • 0Komentar

    Pemkab Bandung menghentikan sementara izin perumahan untuk evaluasi pengawasan dan dampak lingkungan. albadarpost.com, LENSA – Pemerintah Kabupaten Bandung menghentikan sementara penerbitan izin perumahan setelah ditemukannya kelemahan pengawasan terhadap pembangunan yang dinilai memperburuk kualitas lingkungan dan memicu banjir. Langkah ini penting karena menyangkut keselamatan warga dan keberlanjutan tata ruang di kawasan Bandung Raya. Pemerintah Kabupaten Bandung […]

  • gaji debt collector

    Gaji Debt Collector Tarik Mobil

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 24
    • 0Komentar

    Gaji debt collector tarik mobil dibayar per unit berdasarkan tingkat kesulitan, dengan risiko lapangan dan aspek hukum. albadarpost.com, FOKUS – Profesi debt collector kembali menjadi perhatian publik, bukan semata karena besaran fee penarikan mobil, tetapi karena apa yang tersirat di balik sistem kerja tersebut. Skema gaji debt collector tarik mobil yang berbasis hasil membuka pertanyaan […]

  • Ilustrasi sinematik pusat gempa Pacitan magnitudo 6,4 di laut selatan Jawa berdasarkan analisis BMKG.

    Penyebab Gempa Pacitan Hari Ini

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 21
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Getaran gempa terasa kuat di sejumlah wilayah saat jarum jam menunjukkan pukul 01.06 WIB, Jumat dini hari, 6 Februari 2026. Warga di Pacitan dan berbagai daerah lain di selatan Jawa terbangun oleh guncangan yang berlangsung beberapa detik. Dalam waktu singkat, laporan gempa menyebar luas di media sosial. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan […]

  • Santri belajar di pesantren tradisional yang menunjukkan alasan pesantren bertahan hingga sekarang.

    Di Tengah Modernisasi, Mengapa Pesantren Justru Semakin Bertahan?

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 18
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Pesantren bertahan hingga sekarang bukan sekadar karena tradisi lama. Justru, pesantren bertahan karena mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan identitasnya. Banyak orang bertanya mengapa pesantren tetap eksis, bahkan ketika sistem pendidikan modern berkembang pesat. Faktanya, keberlanjutan pesantren dipengaruhi oleh kekuatan nilai, jaringan sosial, serta kemampuan lembaga ini menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat. […]

expand_less