Berita Daerah

Setahun Viman–Diky, Mosi Tidak Percaya Menggema

albadarpost.com, BERITA DAERAH Eskalasi kritik publik terhadap pemerintahan Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan dan Wakil Wali Kota Diky Chandra mulai menguat menjelang satu tahun masa kepemimpinan mereka. Dinamika tersebut terlihat jelas dari rangkaian aksi mahasiswa, pemasangan spanduk kritik di ruang publik, hingga munculnya seruan Mosi Tidak Percaya Viman Tasikmalaya yang kini menjadi sorotan masyarakat.

Dalam beberapa pekan terakhir, wajah Kota Tasikmalaya dipenuhi narasi evaluasi terhadap kinerja pemerintahan. Kritik tidak lagi hanya bergulir di ruang diskusi, tetapi juga tampil terbuka melalui aksi lapangan dan simbol-simbol perlawanan sosial.

Fenomena ini menunjukkan meningkatnya partisipasi publik dalam mengawasi jalannya pemerintahan daerah. Selain itu, momentum menjelang satu tahun kepemimpinan Viman–Diky turut mendorong masyarakat untuk melakukan refleksi bersama atas janji politik dan realisasi kebijakan.

Aksi Mahasiswa dan Spanduk Kritik Warnai Ruang Publik

Sebelum munculnya mosi tidak percaya, kritik publik lebih dulu hadir melalui aksi mahasiswa dan pemasangan spanduk di sejumlah titik strategis, termasuk di sekitar Balai Kota Tasikmalaya. Spanduk-spanduk tersebut memuat pesan evaluatif yang menyoroti kebijakan pemerintah daerah serta kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Baca juga: Gus Ipul Tegaskan Rumah Sakit Wajib Layani Pasien BPJS PBI-JK

Mahasiswa menilai ruang aspirasi formal belum sepenuhnya menjawab kegelisahan publik. Oleh karena itu, mereka memilih turun ke jalan sebagai bentuk kontrol sosial terhadap kekuasaan. Aksi ini sekaligus menjadi sinyal bahwa sebagian masyarakat menilai arah kebijakan pemerintah perlu dikaji ulang.

Di sisi lain, spanduk kritik menjadi simbol komunikasi langsung antara warga dan pemimpin daerah. Pesan yang tertulis di ruang publik menghadirkan tekanan moral agar pemerintah lebih responsif terhadap persoalan riil di lapangan.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa kritik tidak berdiri sendiri. Sebaliknya, kritik hadir sebagai rangkaian gerakan yang saling terhubung dan terus berkembang.

Sapma PP Dorong Mosi Tidak Percaya terhadap Kepemimpinan Viman

Eskalasi kritik kemudian memasuki fase baru ketika Satuan Pelajar dan Mahasiswa Pemuda Pancasila (Sapma PP) Kota Tasikmalaya menyuarakan Mosi Tidak Percaya Viman Tasikmalaya. Organisasi kepemudaan ini secara terbuka menyatakan sikap politiknya terhadap kepemimpinan Viman–Diky.

Sapma PP menilai sejumlah kebijakan belum menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat. Mereka juga menyoroti lambannya penyelesaian berbagai persoalan publik yang selama ini menjadi keluhan warga.

Melalui rencana aksi dan konsolidasi internal, Sapma PP berupaya membawa kritik ke level yang lebih terstruktur. Tagar mosi tidak percaya dipilih sebagai simbol perlawanan sekaligus alat mobilisasi opini publik.

Langkah ini menandai pergeseran kritik dari bentuk simbolik ke arah tekanan politik yang lebih nyata. Selain itu, keterlibatan organisasi pemuda memperluas spektrum kritik yang sebelumnya didominasi oleh mahasiswa.

Refleksi Satu Tahun Pemerintahan

Menjelang satu tahun masa jabatan, pemerintahan Viman–Diky berada pada titik krusial. Publik mulai menilai sejauh mana janji kampanye terwujud dalam kebijakan konkret. Di saat yang sama, ekspektasi masyarakat terhadap perubahan semakin tinggi.

Baca juga: Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban: Teguran Langit yang Terus Menggema

Eskalasi kritik publik dapat menjadi alarm sekaligus peluang. Di satu sisi, kritik mencerminkan kekecewaan sebagian warga. Namun di sisi lain, kritik juga membuka ruang dialog dan perbaikan kebijakan jika direspons secara terbuka.

Pengamat menilai pemerintah daerah perlu membaca dinamika ini secara bijak. Pendekatan komunikatif dan transparan dinilai mampu meredam ketegangan sekaligus membangun kembali kepercayaan publik.

Ke depan, arah hubungan antara pemerintah dan masyarakat akan sangat ditentukan oleh cara pemerintah merespons kritik. Apakah kritik dianggap sebagai ancaman, atau justru sebagai energi korektif untuk memperbaiki tata kelola pemerintahan.

Dengan menguatnya mosi tidak percaya dan berbagai bentuk kritik publik, Tasikmalaya memasuki fase penting demokrasi lokal. Momentum ini berpotensi menjadi penentu arah pemerintahan Viman–Diky pada tahun-tahun berikutnya. (GZ)


Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button