Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Nasional » Kapolri Pilih ‘Jadi Petani’, Apa Maknanya bagi Reformasi Polri

Kapolri Pilih ‘Jadi Petani’, Apa Maknanya bagi Reformasi Polri

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
  • visibility 221
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Pernyataan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR RI menyita perhatian publik. Di hadapan wakil rakyat, Kapolri menolak wacana penempatan Polri di bawah kementerian, termasuk gagasan pembentukan Menteri Kepolisian. Ia menyatakan lebih baik dicopot dari jabatannya dan menjadi petani daripada menerima skema tersebut.

Sikap itu disampaikan secara terbuka di forum resmi DPR. Kapolri tidak menyampaikannya sebagai retorika emosional, melainkan sebagai penegasan sikap institusional. Pernyataan tersebut menempatkan posisi Polri, Presiden, dan negara dalam satu garis konstitusional yang menurutnya tidak bisa ditawar.

Penegasan Posisi Polri dalam Sistem Ketatanegaraan

Kapolri menegaskan bahwa Polri merupakan alat negara yang berada langsung di bawah Presiden. Menurutnya, penempatan Polri di bawah kementerian justru berpotensi melemahkan institusi penegak hukum sekaligus mereduksi kewenangan Presiden sebagai pemegang komando tertinggi.

Baca juga: IndiHome dan Paradoks Laba vs Layanan

Ia menyampaikan bahwa perubahan struktur kelembagaan Polri bukan sekadar soal administrasi, tetapi menyangkut prinsip dasar tata kelola negara. Dalam pandangannya, Polri harus tetap berada di bawah Presiden agar mampu menjalankan fungsi penegakan hukum secara independen dan profesional.

Pernyataan ini muncul di tengah diskursus panjang mengenai reformasi Polri. Sebagian pihak mendorong perubahan struktur sebagai bagian dari kontrol sipil, sementara pihak lain menilai langkah tersebut berisiko menimbulkan tarik-menarik kepentingan politik.

Metafora “Petani” dan Pesan Kepemimpinan

Pilihan kata “petani” menjadi penanda penting dalam pernyataan Kapolri. Metafora ini tidak sekadar ungkapan personal, tetapi mencerminkan sikap kepemimpinan yang menempatkan prinsip di atas jabatan. Petani bekerja dalam kesunyian, mengandalkan proses, dan tidak bergantung pada simbol kekuasaan.

Dalam konteks ini, Kapolri seolah ingin menyampaikan bahwa jabatan menteri bukan tujuan utama. Ia menempatkan integritas institusi sebagai nilai yang lebih tinggi dibanding posisi struktural apa pun. Pernyataan tersebut juga memberi pesan bahwa loyalitas kepemimpinan Polri harus diarahkan pada konstitusi, bukan pada konfigurasi politik.

Bagi publik, pernyataan ini menjadi cerminan bagaimana seorang pemimpin institusi membaca batas antara pengabdian dan kekuasaan. Sikap tersebut memperlihatkan bahwa reformasi Polri tidak bisa dilepaskan dari karakter pemimpinnya.

Reformasi Polri dan Batas Intervensi Politik

Reformasi Polri kerap dipahami sebagai upaya memperbaiki kinerja, transparansi, dan akuntabilitas kepolisian. Namun Kapolri memberi penekanan bahwa reformasi tidak identik dengan memindahkan garis komando. Menurutnya, pengawasan dan perbaikan sistem bisa dilakukan tanpa mengubah posisi Polri dalam struktur ketatanegaraan.

Kapolri menilai bahwa menempatkan Polri di bawah kementerian berpotensi membuka ruang intervensi politik yang lebih besar. Kondisi tersebut justru berisiko menghambat tujuan reformasi itu sendiri. Dalam pandangannya, Polri membutuhkan penguatan profesionalisme, bukan subordinasi struktural.

Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa reformasi Polri harus dibaca sebagai agenda jangka panjang. Reformasi tidak bisa didorong melalui solusi instan yang berpotensi menimbulkan persoalan baru dalam sistem pemerintahan.

Baca juga: Ketidakadilan Akses KUR Terkuak di Priangan Timur

Implikasi Politik dan Arah ke Depan

Sikap tegas Kapolri membuka ruang diskusi baru di parlemen dan ruang publik. Pernyataan tersebut memaksa semua pihak untuk membedakan antara kritik terhadap kinerja Polri dan perubahan sistemik yang berdampak luas terhadap negara.

Bagi DPR, pernyataan ini menjadi catatan penting dalam membahas masa depan Polri. Setiap gagasan perubahan kelembagaan perlu dikaji tidak hanya dari sisi pengawasan, tetapi juga dari perspektif konstitusi dan stabilitas institusi.

Di sisi lain, bagi masyarakat, pernyataan Kapolri menjadi indikator kepemimpinan di tubuh Polri. Reformasi Polri tidak hanya berbicara soal regulasi dan struktur organisasi, tetapi juga tentang keberanian menjaga prinsip ketika berhadapan dengan kekuasaan.

Dalam konteks itulah, pilihan “jadi petani” menjadi simbol sikap. Ia menegaskan bahwa reformasi Polri membutuhkan keteguhan, bukan sekadar kompromi. (AC)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Paspor Indonesia

    Paspor Indonesia Peringkat 67, Mengapa Malaysia Bisa Melesat?

    • calendar_month Jumat, 31 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 87
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Paspor Indonesia kembali menjadi sorotan setelah Henley Passport Index 2026 merilis daftar terbaru kekuatan paspor dunia. Dalam indeks tersebut, paspor RI menempati peringkat ke-67, dengan akses ke 71 destinasi melalui skema bebas visa atau visa saat kedatangan. Sebaliknya, dokumen perjalanan Indonesia masih terpaut cukup jauh dari Malaysia yang masuk jajaran 10 besar […]

  • Wisuda UMTAS

    Di Balik Wisuda UMTAS Tasikmalaya, Ada Doa dan Air Mata Orang Tua

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 202
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Tangis itu akhirnya pecah ketika nama anak mereka dipanggil satu per satu menuju panggung wisuda. Di antara tepuk tangan yang menggema di ruangan, beberapa orang tua tampak sibuk menyeka air mata. Ada yang tersenyum sambil merekam lewat ponsel. Ada pula yang hanya menatap panggung tanpa banyak bicara, seolah sedang mengingat perjalanan panjang […]

  • Ketua Umum FERADI WPI, Adv. Donny Andretti, S.H., S.Kom., M.Kom.,

    Dari Advokat hingga Wartawan, FERADI WPI Bangun Kolaborasi untuk Keadilan

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 151
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL — Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap akses bantuan hukum, Organisasi Advokat Forum Era Adil Warung Paralegal Indonesia Indonesia (FERADI WPI) memperkenalkan semangat kolaborasi lintas profesi yang melibatkan advokat, paralegal, wartawan, mediator, hingga pegiat sosial. Gerakan tersebut diperkenalkan dalam Silaturahmi Nasional FERADI WPI di Semarang, Selasa (2/6/2026), yang menekankan pentingnya budaya hukum berbasis […]

  • Prospek Properti Indonesia 2024: Lima Kota dengan Pertumbuhan Tertinggi Menurut Knight Frank

    Prospek Properti Indonesia 2024: Lima Kota dengan Pertumbuhan Tertinggi Menurut Knight Frank

    • calendar_month Kamis, 23 Okt 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 216
    • 0Komentar

    Knight Frank prediksi lima kota dengan pertumbuhan properti tertinggi di Indonesia pada 2024. Lima Kota Jadi Pusat Pertumbuhan Properti Indonesia 2024 albadarpost.com, LENSA – Pertumbuhan properti Indonesia pada tahun 2024 diprediksi akan menguat, dengan lima kota besar dinilai memiliki potensi paling menjanjikan. Berdasarkan hasil survei Knight Frank Indonesia, kota-kota yang diproyeksikan mencatat pertumbuhan tertinggi adalah […]

  • Kereta Petani dan Pedagang

    Pemerintah Terapkan Tarif Rp3.000 Kereta Petani dan Pedagang

    • calendar_month Minggu, 30 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 246
    • 0Komentar

    Kereta Petani dan Pedagang resmi beroperasi dengan tarif Rp3.000 melalui subsidi PSO untuk pelaku distribusi lokal. Layanan Transportasi Terjangkau, Pemerintah Tekan Biaya Distribusi Lokal albadarpost.com, LENSA – Kereta Petani dan Pedagang resmi beroperasi mulai 1 Desember 2025 dengan tarif Rp3.000. Kereta Petani dan Pedagang ini dirancang sebagai armada distribusi barang dan mobilitas pelaku usaha kecil […]

  • Memupuk Nasionalisme Generasi Emas Lewat Permainan

    Memupuk Nasionalisme Generasi Emas Lewat Permainan

    • calendar_month Jumat, 19 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 215
    • 0Komentar

    albadarpost.com – WARTA MITRA. Membentuk karakter dan nasionalisme generasi muda kini bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Kesbang Kab. Tasikmalaya mengajak 150 siswa SMP Negeri 1 Cigalontang mengikuti sosialisasi wawasan kebangsaan melalui permainan kartu modern. Kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan nilai persatuan, kerja sama, dan tanggung jawab sejak dini. Meskipun berbasis kartu fisik, permainan ini […]

expand_less