Demokrasi Desa Memanas, 31 Kandidat Ramaikan Pemilihan BPD Kujangsari
- account_circle redaktur
- calendar_month 9 jam yang lalu
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pemungutan suara pemilihan anggota BPD Desa Kujangsari periode 2026-2034 dihadiri warga dan tokoh daerah di Kota Banjar, Minggu (24/5/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Suasana demokrasi desa terasa hidup dalam Pemilihan BPD Kujangsari periode 2026–2034 yang berlangsung meriah di Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar. Pemilihan BPD Kujangsari langsung menarik perhatian warga karena menghadirkan 31 calon anggota Badan Permusyawaratan Desa yang memperebutkan tujuh kursi keterwakilan.
Sejak pagi, warga mulai berdatangan dari berbagai dusun. Sebagian datang sambil mengenakan jaket tipis dan sandal sederhana, sementara obrolan ringan soal kandidat pilihan terdengar di beberapa sudut lokasi pencoblosan. Di dekat area antrean, suara pengeras panitia sesekali bercampur dengan suara motor warga yang terus berdatangan.
Momentum demokrasi desa ini turut dihadiri Camat Langensari Rina, Kepala DPMD Kota Banjar Asep Yani, Kepala Desa Kujangsari Mujahid, anggota DPRD Kota Banjar Fraksi PKB Gusjawad, serta unsur pemerintahan lainnya.
Antusiasme Warga Warnai Pemilihan BPD Kujangsari
Ketua Panitia Pemilihan BPD Desa Kujangsari, Miftahudin, menjelaskan bahwa pemilihan kali ini terbagi dalam lima wilayah keterwakilan dusun dan satu unsur keterwakilan perempuan.
Lima wilayah tersebut meliputi Dusun Citangkolo dengan dua calon, Dusun Cijuray empat calon, Dusun Sindang Asih tiga calon, Dusun Kalapa Sabrang tiga calon, serta Dusun Sindangmulya dengan tujuh calon. Selain itu, unsur keterwakilan perempuan menghadirkan 12 calon yang ikut bersaing dalam pesta demokrasi desa tersebut.
“Jumlah kursi yang diperebutkan total ada tujuh kursi. Untuk wilayah satu mendapat satu kursi, wilayah dua dua kursi, wilayah tiga satu kursi, wilayah empat satu kursi, dan wilayah lima dua kursi,” ujar Miftahudin.
Ia menegaskan seluruh tahapan berjalan sesuai aturan. Mulai dari penjaringan hingga penetapan calon, panitia terus menjaga proses tetap transparan dan kondusif.
Menurutnya, suasana kompetisi memang tidak bisa dihindari. Namun demikian, panitia terus mengingatkan masyarakat agar menjaga hubungan baik antarwarga meski berbeda pilihan politik.
“Namanya kompetisi pasti ada yang menang dan kalah, tapi kita tetap saudara. Kami berharap situasi tetap kondusif,” katanya.
Perebutan 7 Kursi BPD Jadi Ajang Adu Gagasan
Persaingan memperebutkan tujuh kursi BPD Desa Kujangsari tidak hanya menghadirkan dinamika politik desa, tetapi juga membuka ruang adu gagasan antarcalon. Warga mulai menilai siapa yang paling mampu menyerap aspirasi dan memperjuangkan kebutuhan lingkungan masing-masing.
Di beberapa titik, warga terlihat berdiskusi kecil sambil menunggu giliran mencoblos. Ada yang membahas soal pembangunan jalan lingkungan, ada pula yang berharap anggota BPD baru lebih aktif menyampaikan persoalan warga ke pemerintah desa.
Bahkan, beberapa orang tua tampak sengaja datang lebih awal karena khawatir antrean semakin panjang menjelang siang. Aroma kopi hitam dari warung kecil dekat lokasi pencoblosan ikut menambah suasana khas demokrasi desa yang hangat dan sederhana.
Kepala Desa Kujangsari, Mujahid, menyebut pemilihan anggota BPD menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk menentukan wakil terbaik di tingkat desa.
“Ada 31 calon dari unsur kewilayahan maupun keterwakilan perempuan. Ada lima dusun, jadi ada lima wilayah keterwakilan,” ujarnya.
Ia berharap anggota BPD terpilih nantinya mampu menjalankan fungsi pengawasan sekaligus menjadi jembatan aspirasi masyarakat secara maksimal.
Selain itu, Mujahid meminta seluruh calon dan pendukung tetap menjaga persatuan setelah proses pemilihan selesai. Menurutnya, pembangunan desa tidak akan berjalan baik tanpa kebersamaan masyarakat.
BPD Jadi Penentu Arah Aspirasi Desa
Keberadaan Badan Permusyawaratan Desa memiliki peran strategis dalam pembangunan desa. Karena itu, masyarakat mulai semakin selektif menentukan pilihan mereka.
BPD bukan sekadar lembaga formal desa. Di tangan anggota yang aktif dan dekat dengan warga, BPD bisa menjadi penggerak lahirnya berbagai program pembangunan yang benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat.
Tidak sedikit warga berharap anggota terpilih nanti lebih responsif terhadap persoalan sehari-hari. Mulai dari infrastruktur lingkungan, pelayanan administrasi, hingga kebutuhan generasi muda desa.
Pemilihan BPD Kujangsari kali ini juga menunjukkan bahwa demokrasi tingkat desa tetap memiliki daya tarik kuat di tengah derasnya arus informasi digital. Ketika sebagian orang sibuk memperdebatkan politik nasional di media sosial, warga desa justru datang langsung untuk menentukan masa depan lingkungannya sendiri.
Dan itu terasa nyata.
Sebab di tingkat desa, keputusan kecil sering kali berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.
Di tengah hiruk-pikuk politik besar yang sering terasa jauh dari rakyat, demokrasi desa justru hadir paling dekat: sederhana, ramai, tetapi menentukan arah masa depan warga dari hal-hal paling nyata. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar