Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » Bukan Lagi “Pembantu”: UU PRT 2026 Ubah Status dan Lindungi Pekerja Rumah Tangga

Bukan Lagi “Pembantu”: UU PRT 2026 Ubah Status dan Lindungi Pekerja Rumah Tangga

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Minggu, 26 Apr 2026
  • visibility 89
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HUMANIORA – UU PRT 2026 akhirnya disahkan pada April 2026 dan langsung mengubah wajah hubungan kerja di rumah tangga. Undang-undang perlindungan pekerja rumah tangga ini tidak hanya mengatur hak pekerja rumah tangga, tetapi juga menegaskan kewajiban majikan lengkap dengan sanksi hukum yang tegas.

Selama bertahun-tahun, jutaan pekerja rumah tangga bekerja tanpa kontrak, tanpa batas jam kerja, dan tanpa perlindungan. Kini, negara hadir dan mengakhiri praktik tersebut.

Namun, perubahan ini juga memunculkan pertanyaan baru: apakah semua pihak siap menjalankan aturan yang jauh lebih ketat?

Pasal 1–3: Negara Resmi Akui PRT sebagai Pekerja

Pada bagian awal, UU PRT 2026 langsung menegaskan definisi penting. Pasal 1 hingga 3 menyebut bahwa pekerja rumah tangga adalah individu yang bekerja di lingkungan rumah tangga dengan menerima upah.

Selain itu, undang-undang ini juga mengakui pemberi kerja dan penyalur sebagai bagian dari hubungan kerja formal. Dengan demikian, posisi PRT tidak lagi berada di wilayah abu-abu.

Langkah ini menjadi fondasi karena untuk pertama kalinya negara mengakui pekerjaan domestik sebagai bagian dari sistem ketenagakerjaan nasional.

Pasal 4–8: Perjanjian Kerja Wajib, Tanpa Ini Bisa Bermasalah

Selanjutnya, UU PRT 2026 mewajibkan adanya perjanjian kerja antara pekerja dan pemberi kerja. Pasal 4 hingga 8 mengatur bahwa kesepakatan bisa berbentuk tertulis atau lisan, tetapi harus memuat unsur penting.

Isi minimal mencakup identitas para pihak, jenis pekerjaan, jam kerja, besaran upah, serta hak dan kewajiban. Tanpa kejelasan ini, hubungan kerja tetap diakui, tetapi berpotensi menimbulkan pelanggaran hukum.

Di sinilah perubahan besar terjadi. Hubungan kerja yang dulu berbasis kepercayaan kini bergeser menjadi hubungan profesional berbasis aturan.

Pasal 9–18: Hak PRT Kini Dilindungi Penuh

Bagian ini menjadi inti dari UU PRT 2026. Pasal 9 hingga 18 merinci hak pekerja rumah tangga secara tegas.

Pertama, pekerja berhak atas upah layak yang dibayarkan tepat waktu tanpa potongan sepihak. Selain itu, pekerja mendapatkan jam kerja yang manusiawi, waktu istirahat, serta hari libur minimal satu hari dalam seminggu.

Lebih jauh, pemberi kerja wajib mendaftarkan pekerja ke program jaminan sosial. Artinya, pekerja kini memiliki akses terhadap perlindungan kesehatan dan ketenagakerjaan.

Tidak kalah penting, UU ini melarang keras segala bentuk kekerasan. Fisik, psikis, hingga seksual masuk kategori pelanggaran serius. Bahkan, tindakan seperti menahan KTP atau membatasi komunikasi juga dilarang.

Pasal 19–21: Kewajiban PRT Ditegaskan, Bukan Hanya Hak

UU PRT 2026 tidak hanya berbicara soal hak. Pasal 19 hingga 21 menegaskan kewajiban pekerja rumah tangga agar hubungan kerja tetap seimbang.

Pekerja wajib menjalankan tugas sesuai perjanjian. Selain itu, mereka harus menjaga etika, sopan santun, serta kerahasiaan rumah tangga.

Dengan aturan ini, negara ingin memastikan bahwa profesionalisme berlaku di kedua sisi, bukan hanya kepada pemberi kerja.

Pasal 22–27: Majikan Wajib Taat, Ada Risiko Sanksi

Di sisi lain, Pasal 22 hingga 27 mengatur secara tegas kewajiban pemberi kerja. Majikan wajib membayar upah sesuai kesepakatan, memberikan waktu istirahat, serta menjamin kondisi kerja yang manusiawi.

Selain itu, mereka harus mendaftarkan pekerja ke BPJS. Jika pemberi kerja mengabaikan kewajiban ini, mereka akan menghadapi konsekuensi yang tidak ringan.

UU PRT 2026 membuka ruang sanksi administratif hingga pidana, terutama jika terjadi kekerasan atau eksploitasi.

Pasal 28–33: Agen Penyalur Tak Bisa Lagi Sembarangan

Perhatian juga diarahkan kepada agen penyalur. Pasal 28 hingga 33 mewajibkan setiap lembaga memiliki izin resmi dan menjalankan praktik yang transparan.

Agen tidak boleh memotong gaji secara berlebihan. Mereka juga harus memberikan pelatihan dasar sebelum menempatkan pekerja.

Aturan ini bertujuan menutup celah praktik eksploitasi yang selama ini sering terjadi di balik proses penyaluran tenaga kerja domestik.

Pasal 34–36: Larangan Tegas, Termasuk Penyekapan dan Penahanan Dokumen

UU PRT 2026 secara eksplisit menetapkan sejumlah larangan. Pasal 34 hingga 36 melarang penahanan dokumen pribadi, pembatasan komunikasi, serta segala bentuk kekerasan.

Selain itu, mempekerjakan anak di bawah umur juga masuk kategori pelanggaran serius. Negara tidak lagi memberi toleransi terhadap praktik-praktik tersebut.

Pasal 37–45: Sengketa Punya Jalur Resmi, Sanksi Tak Main-main

Jika terjadi konflik, UU ini menyediakan mekanisme penyelesaian yang jelas. Para pihak memulai proses melalui musyawarah, kemudian melanjutkan ke mediasi, dan akhirnya membawa perkara ke pengadilan jika diperlukan.

Sementara itu, Pasal 41 hingga 45 mengatur sanksi. Pemerintah menjatuhkan sanksi administratif seperti teguran dan denda terhadap pelanggaran ringan. Namun, untuk kasus berat seperti kekerasan atau penyekapan, pelaku dapat menghadapi pidana.

Dengan skema ini, UU PRT 2026 memiliki kekuatan hukum yang nyata, bukan sekadar regulasi simbolik.

Perubahan Besar: Dari Relasi Informal ke Sistem Hukum

UU PRT 2026 menandai pergeseran besar dalam relasi kerja domestik. Dulu, hubungan kerja berjalan tanpa kontrak dan bergantung pada kepercayaan semata.

Sekarang, semua berubah. Hubungan kerja berdiri di atas perjanjian, hak yang jelas, serta kewajiban yang terukur.

Perubahan ini memang tidak mudah. Namun, langkah ini membuka jalan menuju sistem kerja yang lebih adil dan manusiawi.

Era Baru Dimulai, Tantangan Baru Menanti

UU PRT 2026 bukan sekadar aturan baru. Regulasi ini menjadi titik balik bagi jutaan pekerja rumah tangga di Indonesia.

Kini, mereka memiliki perlindungan hukum yang jelas. Di sisi lain, aturan ini menuntut pemberi kerja untuk bersikap lebih profesional dan bertanggung jawab.

Pertanyaannya, apakah semua pihak siap menjalankan aturan ini secara konsisten? (Red)


 

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi pekerja Indonesia dengan kebijakan buruh 2026 seperti UMP, BSU, JKP, dan program subsidi rumah pemerintah

    Dampak Besar untuk Pekerja! Ini 6 Kebijakan Baru Kesejahteraan Buruh 2026

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 81
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Pemerintah kembali menaruh perhatian besar pada Kebijakan Buruh 2026 yang menyentuh langsung kehidupan jutaan pekerja di Indonesia. Paket kebijakan ini tidak hanya bicara soal angka upah, tetapi juga menyentuh hal yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari perlindungan saat kehilangan pekerjaan, bantuan tunai, hingga mimpi memiliki rumah sendiri. Di lapangan, sejumlah […]

  • donasi Sumatera

    Penggalangan Donasi Sumatera di Bengkulu Capai Rp4,3 Miliar

    • calendar_month Senin, 8 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 91
    • 0Komentar

    Pemprov Bengkulu menggalang donasi Sumatera dan melelang atribut Rhoma Irama untuk bantuan bencana. albadarpost.com, PELITA – Upaya penggalangan donasi Sumatera oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu bergerak cepat setelah rangkaian bencana melanda tiga wilayah di pulau itu. Pemerintah daerah menggelar tabligh akbar yang menghadirkan musisi senior Rhoma Irama, yang ikut menyumbang dengan melelang jas dan perlengkapan pribadinya. […]

  • Persit tanam pohon saat HUT ke-80 dengan kegiatan penghijauan dan penanaman pohon buah untuk lingkungan dan ketahanan pangan

    HUT Persit ke-80 Berbeda: Tanam Pohon, Tanam Masa Depan

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 73
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Persit tanam pohon menjadi sorotan dalam peringatan HUT ke-80 tahun ini. Gerakan ini menghadirkan makna baru, jauh dari seremoni kaku. Aksi nyata seperti penanaman pohon, penghijauan, dan kepedulian lingkungan justru menjadi inti perayaan. Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa Persit tanam pohon bukan sekadar simbolik, tetapi strategi berkelanjutan untuk masa depan. Jumat […]

  • Bupati Tasikmalaya menandatangani kesepakatan pinjaman daerah untuk perbaikan 32 ruas jalan rusak di Kabupaten Tasikmalaya.

    Pemkab Tasikmalaya Kucurkan Rp230 Miliar untuk Perbaikan Jalan Rusak

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 65
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya mulai mempercepat program perbaikan jalan Tasikmalaya setelah kesepakatan pinjaman daerah resmi diteken, Kamis (30/4/2026). Dana senilai Rp230,25 miliar disiapkan untuk membiayai pembangunan dan perbaikan 32 ruas jalan rusak yang tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Program jalan rusak Tasikmalaya itu menjadi salah satu langkah yang paling dinantikan masyarakat, […]

  • tanda usaha berkembang

    Bisnis Anda Naik Level? Ini 9 Tandanya

    • calendar_month Senin, 23 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 75
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Tanda usaha berkembang sering kali tidak disadari oleh pelaku bisnis sendiri. Padahal, ciri bisnis maju atau usaha yang mulai bertumbuh bisa terlihat dari perubahan kecil yang konsisten. Dalam dunia yang kompetitif, memahami tanda usaha berkembang menjadi penting agar Anda bisa mengambil keputusan tepat dan mempercepat pertumbuhan bisnis. 1. Omzet Mulai Stabil dan […]

  • kasus penganiayaan Grabag

    Polsek Grabag Telusuri Kasus Penganiayaan Grabag yang Libatkan Anak di Bawah Umur

    • calendar_month Jumat, 14 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 37
    • 0Komentar

    Polsek Grabag menyelidiki kasus penganiayaan Grabag yang melibatkan dua anak di bawah umur dan memicu perhatian publik. albadarpost.com, HUMANIORA – Keluarga seorang pelajar SMP di Kecamatan Grabag, Purworejo, meminta penanganan tegas atas kasus penganiayaan Grabag yang melibatkan anak di bawah umur. Mereka menilai tindakan pelaku sudah melewati batas dan harus diproses sesuai aturan. Permintaan itu […]

expand_less