Lima Kapolres Berganti, Satu Mimpi Arul Tetap Dijaga
- account_circle redaktur
- calendar_month 19 jam yang lalu
- visibility 16
- comment 0 komentar
- print Cetak

Arul kini Lulusan SMA Binaan Polres Tasikmalaya, Jumat (26/6/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Polres Tasikmalaya kembali menunjukkan bahwa pembinaan anak melalui pendidikan mampu menghadirkan perubahan nyata. Program pendampingan yang berlangsung selama enam tahun itu kini berbuah manis setelah seorang remaja binaan berhasil menamatkan pendidikan SMA dan mulai mempersiapkan diri mengikuti seleksi anggota Polri.
Pagi itu, jemari Arul tampak menggenggam erat map berisi ijazah. Senyumnya belum sepenuhnya lepas, tetapi sorot matanya memperlihatkan keyakinan yang berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Bagi remaja tersebut, lembaran ijazah bukan sekadar tanda kelulusan, melainkan simbol bahwa kesempatan kedua benar-benar dapat mengubah masa depan.
Yang membuat kisah ini menarik bukan hanya keberhasilan Arul menyelesaikan pendidikan. Di balik perjalanan tersebut, ada komitmen panjang Polres Tasikmalaya yang tetap terjaga meski pucuk pimpinan berganti dari waktu ke waktu.
Enam Tahun Menjaga Harapan Lewat Pendidikan
Perjalanan itu bermula pada 2021 ketika Arul menjalani proses sebagai anak yang berhadapan dengan hukum (ABH). Demi melindungi hak anak, perkara yang pernah dihadapinya tidak diungkap kepada publik.
Alih-alih berhenti pada proses hukum, Polres Tasikmalaya memilih menghadirkan pendekatan yang lebih membangun. Arul dijadikan anak asuh, sementara biaya pendidikannya ditanggung hingga lulus SMA. Selain itu, bantuan untuk kebutuhan keluarga juga diberikan agar ia dapat belajar dengan lebih tenang.
Hari demi hari berlalu. Arul melewati masa SMP, menghadapi tantangan belajar di SMA, mengikuti berbagai ujian, hingga akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikannya.
Perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Namun, setiap tahap menjadi bukti bahwa pendidikan dapat menjadi jalan bagi seorang anak untuk menata kembali masa depannya ketika lingkungan memberikan ruang untuk berubah.
Lima Kapolres Berganti, Komitmen Tidak Pernah Putus
Salah satu hal yang paling menonjol dalam kisah ini ialah kesinambungan program pembinaan.
Selama enam tahun terakhir, estafet kepemimpinan di Polres Tasikmalaya telah berganti beberapa kali. Mulai dari AKBP Rimsyahtono, AKBP Suhadi Heri Haryanto, AKBP Bayu, AKBP Haris Dinzah, hingga kini AKBP Wahyu Prista Utama.
Meski demikian, perhatian terhadap Arul tetap berjalan. Pergantian pimpinan tidak menghentikan komitmen yang telah dibangun sejak awal.
Kasat Reskrim AKP Heru Samsul Bahri mengatakan bahwa pembinaan tersebut merupakan bagian dari komitmen institusi dalam membantu generasi muda melalui jalur pendidikan.
“Polres Tasikmalaya sejak 2021 memiliki anak asuh yang tadinya anak berhadapan dengan hukum. Kami membiayai sekolahnya mulai SMP sampai SMA. Sekarang Arul telah lulus dan masih menjalani pembinaan di Polres Tasikmalaya. Ini menjadi bukti komitmen Polri membantu generasi penerus melalui pendidikan,” ujarnya di Salawu, Jumat (26/6/2026).
Dari Ijazah Menuju Cita-Cita Menjadi Polisi
Kelulusan SMA bukanlah akhir perjalanan Arul. Sebaliknya, momen tersebut menjadi langkah awal menuju cita-cita yang selama ini ia simpan.
Saat ini Arul menjalani pembinaan lanjutan di Polres Tasikmalaya sebagai persiapan mengikuti seleksi anggota Polri.
Dengan suara pelan, ia mengungkapkan rasa syukurnya kepada seluruh jajaran kepolisian yang telah mendampinginya selama bertahun-tahun.
“Saya enam tahun dibiayai sekolah mulai SMP sampai SMA. Sekarang saya sedang dibina untuk menjadi polisi. Polres Tasikmalaya, hatur nuhun. Semoga Allah membalas semua kebaikannya,” ucap Arul.
Ungkapan sederhana itu menjadi penutup perjalanan panjang yang pernah dipenuhi keraguan. Kini, yang tersisa adalah harapan baru untuk menyongsong masa depan.
Restorative Justice yang Terlihat Nyata
Di tengah berbagai tantangan pembinaan anak, kisah Arul menghadirkan sudut pandang berbeda. Program ini memperlihatkan bahwa kesempatan kedua tidak berhenti pada proses hukum, tetapi harus dilanjutkan melalui pendampingan yang konsisten.
Pendidikan, pembinaan, dan dukungan sosial menjadi kombinasi yang mampu mengubah arah kehidupan seorang remaja. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh Arul, melainkan juga keluarganya dan lingkungan di sekitarnya.
Kisah ini sekaligus menunjukkan bahwa keberhasilan pembinaan tidak selalu lahir dari langkah besar. Kadang, perubahan justru tumbuh dari keputusan sederhana untuk tetap mendampingi seorang anak hingga ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Lima Kapolres telah berganti. Seragam kepemimpinan berubah. Namun, satu komitmen tetap hidup: ketika seorang anak diberi kesempatan kedua, masa depannya tidak lagi ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh harapan yang terus dijaga. (GZ)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar