Breaking News
light_mode
Beranda » Cakrawala » Upacara Bendera: Sekolah Karakter yang Kian Ditinggalkan

Upacara Bendera: Sekolah Karakter yang Kian Ditinggalkan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
  • visibility 14
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Upacara Senin: Sekolah Nilai yang Tak Tertulis

albadarpost.com, CAKRAWALA – Setiap Senin pagi, lapangan sekolah sejatinya bukan sekadar ruang terbuka. Ia adalah kelas tanpa dinding, tempat nilai-nilai kebangsaan, kedisiplinan, dan kepemimpinan ditanamkan secara langsung. Upacara bendera, yang kerap dianggap rutinitas membosankan, sesungguhnya adalah laboratorium pendidikan karakter paling konkret yang pernah dimiliki sekolah Indonesia.

Namun ironi terjadi. Di banyak daerah, upacara bendera kini dijalankan sekadarnya, bahkan ditinggalkan. Alasan klasik selalu sama: mengganggu jam pelajaran, siswa kepanasan, hingga dianggap tidak relevan dengan kebutuhan zaman. Padahal, justru di tengah krisis karakter dan lunturnya rasa kebangsaan, upacara bendera semakin menemukan relevansinya.

Pendidikan Karakter, Disiplin, dan Kepemimpinan

Dalam satu rangkaian upacara, anak-anak belajar banyak hal yang tak tertulis di buku paket. Disiplin waktu, kepatuhan terhadap aturan, keberanian memimpin, hingga tanggung jawab kolektif. Petugas upacara dilatih mengelola emosi, memimpin barisan, dan berbicara di depan umum—keterampilan kepemimpinan dasar yang tak semua mata pelajaran mampu berikan.

Baca juga: DPD Padepokan Silat Maung Hideung Tasikmalaya Resmi Dilantik

Penelitian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam berbagai evaluasi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) menunjukkan bahwa kegiatan berbasis pembiasaan, seperti upacara bendera, efektif menanamkan nilai integritas, nasionalisme, dan gotong royong. Ini sejalan dengan desain pendidikan karakter yang menekankan learning by doing, bukan sekadar hafalan konsep.

Lebih jauh, gotong royong tercermin dari kerja tim antarsiswa, guru, dan petugas sekolah. Upacara bukan milik satu individu, melainkan hasil kerja kolektif—nilai yang kini semakin langka di tengah budaya individualistik.

Nasionalisme dan Hubbul Wathan dalam Perspektif NU

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, cinta tanah air bukan slogan kosong. Ungkapan “Hubbul wathan minal iman”—cinta tanah air adalah bagian dari iman—meski bukan hadis sahih secara tekstual, telah diterima sebagai maqalah ulama yang maknanya sejalan dengan ajaran Islam.

KH Hasyim Asy’ari dalam Qanun Asasi menegaskan kewajiban membela tanah air dari segala bentuk penjajahan sebagai bagian dari kewajiban agama. Prinsip ini pula yang melandasi Resolusi Jihad 1945. Upacara bendera, dalam konteks ini, menjadi medium simbolik untuk menanamkan kesadaran bahwa mencintai Indonesia adalah bagian dari tanggung jawab keimanan dan kebangsaan.

Al-Qur’an sendiri menegaskan pentingnya keterikatan pada tempat dan komunitas. Dalam QS. Al-Balad ayat 1-2, Allah bersumpah atas sebuah negeri (Makkah), menunjukkan bahwa tanah air memiliki nilai spiritual. Nabi Muhammad SAW pun mengekspresikan kecintaannya pada Makkah saat hijrah, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis riwayat Tirmidzi.

Ketika Sekolah Mulai Ogah-ogahan

Sayangnya, semangat ini kian memudar. Sebagian sekolah mengurangi durasi upacara, menggantinya dengan apel singkat, atau bahkan meniadakannya tanpa alasan pedagogis yang kuat. Kekhawatiran akan “tersitanya jam pelajaran” justru menunjukkan cara pandang sempit terhadap pendidikan.

Pendidikan bukan semata transfer materi kognitif. Ketika sekolah hanya mengejar target kurikulum tanpa ruang pembentukan karakter, maka yang lahir adalah generasi cerdas secara akademik, tetapi rapuh secara moral dan sosial.

Baca juga: Ketika Alam Menyampaikan Teguran Tuhan

Di tengah meningkatnya kasus intoleransi, perundungan, dan krisis kepemimpinan muda, menyingkirkan upacara bendera sama dengan menanggalkan salah satu benteng terakhir pendidikan nilai di sekolah.

Merawat Tradisi, Menjaga Masa Depan

Upacara bendera bukan ritus usang. Ia adalah warisan pedagogis yang terbukti relevan lintas zaman. Yang dibutuhkan bukan penghapusan, melainkan pembaruan pendekatan: amanat pembina yang reflektif, pelibatan siswa secara aktif, serta penguatan makna di balik setiap simbol.

Jika sekolah adalah tempat menyiapkan masa depan bangsa, maka lapangan upacara adalah fondasi sunyi yang tak boleh diabaikan. Sebab di sanalah anak-anak belajar berdiri tegak, menunduk hormat pada bendera, dan perlahan memahami arti menjadi warga bangsa—dan, dalam pandangan NU, juga menjadi manusia beriman. (ARR)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • menggambar dasar anak

    Menggambar Dasar Anak Dinilai Penting bagi Motorik dan Emosi

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 10
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Libur akhir pekan di sebuah rumah di Tasikmalaya diisi dengan suasana tenang. Rafee, duduk di lantai, selembar kanvas terbentang di depannya. Tangannya bergerak pelan, menarik garis-garis sederhana. Tidak ada target, tidak ada tuntutan. Hanya coretan, warna, dan rasa ingin tahu. Dari aktivitas itulah proses belajar menggambar dasar dimulai. Kegiatan sederhana ini terjadi […]

  • takdir Allah

    Batas Ikhtiar Manusia dalam Takdir Allah

    • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 15
    • 0Komentar

    Ulama menegaskan batas ikhtiar manusia dalam takdir Allah dengan rujukan Al-Qur’an dan literatur klasik Islam. albadarpost.com, PERSPEKTIF – Pandangan bahwa manusia sepenuhnya menentukan nasibnya kembali dikritisi para ulama. Di tengah budaya kerja keras dan kompetisi tanpa henti, mereka menegaskan bahwa ikhtiar manusia memiliki batas yang tidak bisa melampaui takdir Allah Swt. Penegasan ini dinilai penting […]

  • kebijakan pendidikan

    Wakil Bupati Hadiri Pelantikan Rektor IAIT

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 10
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya menegaskan posisi perguruan tinggi sebagai bagian dari kebijakan pendidikan daerah. Penegasan itu disampaikan melalui kehadiran Wakil Bupati Tasikmalaya dalam pelantikan Rektor Institut Agama Islam Tasikmalaya (IAIT) periode 2026–2031, Selasa (13/1/2026). Pelantikan yang berlangsung di Aula IAIT tersebut menetapkan Dr. Ade Zaenul Mutaqin, M.Ag. sebagai rektor baru. Agenda ini […]

  • Tambang Ilegal Pangandaran

    Pemprov Jabar Tutup Tambang Ilegal Pangandaran

    • calendar_month Sabtu, 20 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 10
    • 0Komentar

    Pemprov Jabar menutup dua tambang ilegal di Pangandaran demi keselamatan warga dan kepastian hukum lingkungan. albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menutup dua tambang galian C ilegal di Kabupaten Pangandaran. Penutupan dilakukan setelah aktivitas penambangan batu kapur itu dinyatakan melanggar hukum dan berpotensi membahayakan keselamatan publik. Keputusan ini penting karena lokasi tambang berada […]

  • radikalisme digital

    Kesbangpol Jabar Perketat Pencegahan Radikalisme Digital di Lingkungan Remaja

    • calendar_month Jumat, 28 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 6
    • 0Komentar

    Kesbangpol Jabar memperketat pencegahan radikalisme digital yang menyasar anak muda melalui game dan algoritma media sosial. albadarpost.com, PELITA – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jawa Barat memperketat langkah pencegahan radikalisme digital yang kini menyasar anak muda melalui pola penyusupan baru, termasuk konten video gim dan algoritma media sosial. Perubahan strategi ini penting karena kanal […]

  • pedagang nanas Ciater

    Perspektif: Nasib Pedagang Musiman Jalur Wisata Ciater

    • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 9
    • 0Komentar

    Penertiban jalur wisata Ciater menyisakan persoalan pedagang nanas di tengah lesunya wisata Nataru. albadarpost.com, PERSPEKTIF – Libur Natal dan Tahun Baru lazimnya menjadi ruang harapan bagi pedagang kecil di kawasan wisata. Namun di jalur wisata Ciater, Subang, harapan itu justru mengendap. Lapak nanas kembali bermunculan, buah melimpah, harga jatuh, tetapi pembeli tak kunjung datang. Di […]

expand_less