Breaking News
light_mode
Beranda » Cakrawala » Upacara Bendera: Sekolah Karakter yang Kian Ditinggalkan

Upacara Bendera: Sekolah Karakter yang Kian Ditinggalkan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
  • visibility 12
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Upacara Senin: Sekolah Nilai yang Tak Tertulis

albadarpost.com, CAKRAWALA – Setiap Senin pagi, lapangan sekolah sejatinya bukan sekadar ruang terbuka. Ia adalah kelas tanpa dinding, tempat nilai-nilai kebangsaan, kedisiplinan, dan kepemimpinan ditanamkan secara langsung. Upacara bendera, yang kerap dianggap rutinitas membosankan, sesungguhnya adalah laboratorium pendidikan karakter paling konkret yang pernah dimiliki sekolah Indonesia.

Namun ironi terjadi. Di banyak daerah, upacara bendera kini dijalankan sekadarnya, bahkan ditinggalkan. Alasan klasik selalu sama: mengganggu jam pelajaran, siswa kepanasan, hingga dianggap tidak relevan dengan kebutuhan zaman. Padahal, justru di tengah krisis karakter dan lunturnya rasa kebangsaan, upacara bendera semakin menemukan relevansinya.

Pendidikan Karakter, Disiplin, dan Kepemimpinan

Dalam satu rangkaian upacara, anak-anak belajar banyak hal yang tak tertulis di buku paket. Disiplin waktu, kepatuhan terhadap aturan, keberanian memimpin, hingga tanggung jawab kolektif. Petugas upacara dilatih mengelola emosi, memimpin barisan, dan berbicara di depan umum—keterampilan kepemimpinan dasar yang tak semua mata pelajaran mampu berikan.

Baca juga: DPD Padepokan Silat Maung Hideung Tasikmalaya Resmi Dilantik

Penelitian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam berbagai evaluasi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) menunjukkan bahwa kegiatan berbasis pembiasaan, seperti upacara bendera, efektif menanamkan nilai integritas, nasionalisme, dan gotong royong. Ini sejalan dengan desain pendidikan karakter yang menekankan learning by doing, bukan sekadar hafalan konsep.

Lebih jauh, gotong royong tercermin dari kerja tim antarsiswa, guru, dan petugas sekolah. Upacara bukan milik satu individu, melainkan hasil kerja kolektif—nilai yang kini semakin langka di tengah budaya individualistik.

Nasionalisme dan Hubbul Wathan dalam Perspektif NU

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, cinta tanah air bukan slogan kosong. Ungkapan “Hubbul wathan minal iman”—cinta tanah air adalah bagian dari iman—meski bukan hadis sahih secara tekstual, telah diterima sebagai maqalah ulama yang maknanya sejalan dengan ajaran Islam.

KH Hasyim Asy’ari dalam Qanun Asasi menegaskan kewajiban membela tanah air dari segala bentuk penjajahan sebagai bagian dari kewajiban agama. Prinsip ini pula yang melandasi Resolusi Jihad 1945. Upacara bendera, dalam konteks ini, menjadi medium simbolik untuk menanamkan kesadaran bahwa mencintai Indonesia adalah bagian dari tanggung jawab keimanan dan kebangsaan.

Al-Qur’an sendiri menegaskan pentingnya keterikatan pada tempat dan komunitas. Dalam QS. Al-Balad ayat 1-2, Allah bersumpah atas sebuah negeri (Makkah), menunjukkan bahwa tanah air memiliki nilai spiritual. Nabi Muhammad SAW pun mengekspresikan kecintaannya pada Makkah saat hijrah, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis riwayat Tirmidzi.

Ketika Sekolah Mulai Ogah-ogahan

Sayangnya, semangat ini kian memudar. Sebagian sekolah mengurangi durasi upacara, menggantinya dengan apel singkat, atau bahkan meniadakannya tanpa alasan pedagogis yang kuat. Kekhawatiran akan “tersitanya jam pelajaran” justru menunjukkan cara pandang sempit terhadap pendidikan.

Pendidikan bukan semata transfer materi kognitif. Ketika sekolah hanya mengejar target kurikulum tanpa ruang pembentukan karakter, maka yang lahir adalah generasi cerdas secara akademik, tetapi rapuh secara moral dan sosial.

Baca juga: Ketika Alam Menyampaikan Teguran Tuhan

Di tengah meningkatnya kasus intoleransi, perundungan, dan krisis kepemimpinan muda, menyingkirkan upacara bendera sama dengan menanggalkan salah satu benteng terakhir pendidikan nilai di sekolah.

Merawat Tradisi, Menjaga Masa Depan

Upacara bendera bukan ritus usang. Ia adalah warisan pedagogis yang terbukti relevan lintas zaman. Yang dibutuhkan bukan penghapusan, melainkan pembaruan pendekatan: amanat pembina yang reflektif, pelibatan siswa secara aktif, serta penguatan makna di balik setiap simbol.

Jika sekolah adalah tempat menyiapkan masa depan bangsa, maka lapangan upacara adalah fondasi sunyi yang tak boleh diabaikan. Sebab di sanalah anak-anak belajar berdiri tegak, menunduk hormat pada bendera, dan perlahan memahami arti menjadi warga bangsa—dan, dalam pandangan NU, juga menjadi manusia beriman. (ARR)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • pembayaran pajak kendaraan tanpa KTP pemilik pertama

    Resmi Berlaku di Jabar! Bayar Pajak Kendaraan Tanpa KTP Pemilik Pertama

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 38
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pembayaran pajak kendaraan tanpa KTP pemilik pertama kini resmi diterapkan di Jawa Barat. Kebijakan pembayaran pajak kendaraan tanpa KTP pemilik pertama ini menjadi solusi bagi masyarakat yang mengalami kendala administrasi. Aturan baru ini langsung menarik perhatian karena menawarkan proses yang lebih sederhana dan efisien. Kebijakan ini diumumkan oleh Dedi Mulyadi melalui […]

  • Pengakuan caregiver

    Regulasi Caregiver, Kunci Perlindungan Pekerja Perawatan

    • calendar_month Selasa, 18 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 4
    • 0Komentar

    Pengakuan caregiver dinilai penting untuk memperkuat layanan sosial dan perlindungan pekerja perawatan. albadarpost.com, LIFESTYLE – Pekerja perawatan atau caregiver di Indonesia masih berada di ruang abu-abu kebijakan. Perannya krusial, tetapi pengakuan negara belum sebanding dengan beban kerja yang ditanggung. Kondisi ini dinilai berdampak langsung pada kualitas layanan sosial dan kesehatan, terutama bagi lansia, penyandang disabilitas, […]

  • digitalisasi Pemkab Tasikmalaya

    Pemkab Tasikmalaya Lambat Digital, Rakyat Bayar Harga Birokrasi

    • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 6
    • 0Komentar

    Editorial Albadarpost: birokrasi manual akibat mandeknya digitalisasi Pemkab Tasikmalaya membebani waktu, biaya, dan hak warga. Birokrasi Manual dan Harga yang Harus Dibayar Warga albadarpost.com, EDITORIAL – Ketika digitalisasi Pemkab Tasikmalaya berjalan di tempat, yang paling terdampak bukanlah sistem atau aplikasi, melainkan warga. Proses administrasi yang masih manual memaksa masyarakat membayar biaya sosial yang nyata: waktu […]

  • UU Anti-Bullying

    Pemerintah Didorong Susun UU Anti-Bullying untuk Tutup Celah Regulasi

    • calendar_month Minggu, 23 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 11
    • 0Komentar

    Dorongan penyusunan UU Anti-Bullying menguat karena regulasi yang ada dinilai belum terpadu dan lemah di lapangan. albadarpost.com, HUMANIORA – Kasus perundungan yang terus muncul—termasuk insiden yang sempat viral di Kota Malang—menegaskan bahwa Indonesia masih belum memiliki kerangka hukum yang padu untuk mencegah dan menangani kekerasan antaranak. Situasi itu memunculkan kembali kebutuhan mendesak atas UU Anti-Bullying, […]

  • kota inklusif Banjar

    Wali Kota Banjar Tegaskan Kebijakan Inklusi untuk Disabilitas Berdaya

    • calendar_month Sabtu, 13 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 7
    • 0Komentar

    Peringatan Hari Disabilitas Internasional 2025 menegaskan arah Kota Banjar sebagai kota inklusif dan berdaya. albadarpost.com, HUMANIORA — Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2025 di Kota Banjar pada Jumat (12/12/2025), menjadi penanda penting arah pembangunan daerah yang semakin menempatkan inklusi sebagai fondasi kebijakan publik. Mengusung tema “Kota Banjar Inklusi, Penyandang Disabilitas Berdaya”, peringatan ini menegaskan komitmen […]

  • Ilustrasi kalender hijriah global dengan peta dunia dan penentuan hilal secara internasional

    Muhammadiyah Gunakan Kalender Global, Hari Raya Bisa Serentak

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 10
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Kalender hijriah global kini menjadi pendekatan baru yang digunakan oleh Muhammadiyah dalam menetapkan hari raya Islam. Sistem ini, yang juga dikenal sebagai Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), membawa perubahan besar dari metode lokal ke sistem global yang berlaku untuk seluruh dunia. Selain itu, metode ini tidak lagi bergantung pada batas negara. […]

expand_less