Breaking News
light_mode
Beranda » Cakrawala » Upacara Bendera: Sekolah Karakter yang Kian Ditinggalkan

Upacara Bendera: Sekolah Karakter yang Kian Ditinggalkan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
  • visibility 88
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Upacara Senin: Sekolah Nilai yang Tak Tertulis

albadarpost.com, CAKRAWALA – Setiap Senin pagi, lapangan sekolah sejatinya bukan sekadar ruang terbuka. Ia adalah kelas tanpa dinding, tempat nilai-nilai kebangsaan, kedisiplinan, dan kepemimpinan ditanamkan secara langsung. Upacara bendera, yang kerap dianggap rutinitas membosankan, sesungguhnya adalah laboratorium pendidikan karakter paling konkret yang pernah dimiliki sekolah Indonesia.

Namun ironi terjadi. Di banyak daerah, upacara bendera kini dijalankan sekadarnya, bahkan ditinggalkan. Alasan klasik selalu sama: mengganggu jam pelajaran, siswa kepanasan, hingga dianggap tidak relevan dengan kebutuhan zaman. Padahal, justru di tengah krisis karakter dan lunturnya rasa kebangsaan, upacara bendera semakin menemukan relevansinya.

Pendidikan Karakter, Disiplin, dan Kepemimpinan

Dalam satu rangkaian upacara, anak-anak belajar banyak hal yang tak tertulis di buku paket. Disiplin waktu, kepatuhan terhadap aturan, keberanian memimpin, hingga tanggung jawab kolektif. Petugas upacara dilatih mengelola emosi, memimpin barisan, dan berbicara di depan umum—keterampilan kepemimpinan dasar yang tak semua mata pelajaran mampu berikan.

Baca juga: DPD Padepokan Silat Maung Hideung Tasikmalaya Resmi Dilantik

Penelitian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam berbagai evaluasi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) menunjukkan bahwa kegiatan berbasis pembiasaan, seperti upacara bendera, efektif menanamkan nilai integritas, nasionalisme, dan gotong royong. Ini sejalan dengan desain pendidikan karakter yang menekankan learning by doing, bukan sekadar hafalan konsep.

Lebih jauh, gotong royong tercermin dari kerja tim antarsiswa, guru, dan petugas sekolah. Upacara bukan milik satu individu, melainkan hasil kerja kolektif—nilai yang kini semakin langka di tengah budaya individualistik.

Nasionalisme dan Hubbul Wathan dalam Perspektif NU

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, cinta tanah air bukan slogan kosong. Ungkapan “Hubbul wathan minal iman”—cinta tanah air adalah bagian dari iman—meski bukan hadis sahih secara tekstual, telah diterima sebagai maqalah ulama yang maknanya sejalan dengan ajaran Islam.

KH Hasyim Asy’ari dalam Qanun Asasi menegaskan kewajiban membela tanah air dari segala bentuk penjajahan sebagai bagian dari kewajiban agama. Prinsip ini pula yang melandasi Resolusi Jihad 1945. Upacara bendera, dalam konteks ini, menjadi medium simbolik untuk menanamkan kesadaran bahwa mencintai Indonesia adalah bagian dari tanggung jawab keimanan dan kebangsaan.

Al-Qur’an sendiri menegaskan pentingnya keterikatan pada tempat dan komunitas. Dalam QS. Al-Balad ayat 1-2, Allah bersumpah atas sebuah negeri (Makkah), menunjukkan bahwa tanah air memiliki nilai spiritual. Nabi Muhammad SAW pun mengekspresikan kecintaannya pada Makkah saat hijrah, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis riwayat Tirmidzi.

Ketika Sekolah Mulai Ogah-ogahan

Sayangnya, semangat ini kian memudar. Sebagian sekolah mengurangi durasi upacara, menggantinya dengan apel singkat, atau bahkan meniadakannya tanpa alasan pedagogis yang kuat. Kekhawatiran akan “tersitanya jam pelajaran” justru menunjukkan cara pandang sempit terhadap pendidikan.

Pendidikan bukan semata transfer materi kognitif. Ketika sekolah hanya mengejar target kurikulum tanpa ruang pembentukan karakter, maka yang lahir adalah generasi cerdas secara akademik, tetapi rapuh secara moral dan sosial.

Baca juga: Ketika Alam Menyampaikan Teguran Tuhan

Di tengah meningkatnya kasus intoleransi, perundungan, dan krisis kepemimpinan muda, menyingkirkan upacara bendera sama dengan menanggalkan salah satu benteng terakhir pendidikan nilai di sekolah.

Merawat Tradisi, Menjaga Masa Depan

Upacara bendera bukan ritus usang. Ia adalah warisan pedagogis yang terbukti relevan lintas zaman. Yang dibutuhkan bukan penghapusan, melainkan pembaruan pendekatan: amanat pembina yang reflektif, pelibatan siswa secara aktif, serta penguatan makna di balik setiap simbol.

Jika sekolah adalah tempat menyiapkan masa depan bangsa, maka lapangan upacara adalah fondasi sunyi yang tak boleh diabaikan. Sebab di sanalah anak-anak belajar berdiri tegak, menunduk hormat pada bendera, dan perlahan memahami arti menjadi warga bangsa—dan, dalam pandangan NU, juga menjadi manusia beriman. (ARR)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi catering diet rumahan dengan piring seimbang berisi nasi merah, ayam panggang, dan sayuran saat bulan puasa.

    Catering Diet Rumahan Saat Puasa, Tetap Nikmat Tanpa Kalori Berlebih

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 79
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Bulan puasa sering identik dengan sajian melimpah saat berbuka. Namun, kini tren catering diet rumahan semakin diminati karena membantu mengontrol porsi dan kalori tanpa mengorbankan rasa. Konsep ini mirip layanan catering sehat, tetapi seluruh proses dilakukan dari dapur sendiri. Dengan strategi tepat, diet puasa tetap terjaga, berat badan stabil, dan energi harian […]

  • Pekerja migran Indonesia duduk sendiri di kamar luar negeri sambil melakukan panggilan video dengan keluarga di rumah.

    Semua Melihat Gajinya, Sedikit Orang Melihat Perjuangannya

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 89
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Setiap bulan, uang dikirim tepat waktu. Keluarga tersenyum bangga. Tetangga menganggap hidupnya sukses. Namun di kamar kecil ribuan kilometer dari rumah, seorang pekerja migran justru menahan rindu yang tidak pernah terlihat. Cerita tentang buruh migran, tenaga kerja Indonesia di luar negeri, dan kehidupan pekerja migran sering berhenti pada angka gaji. Padahal, realita […]

  • Ilustrasi kaligrafi Lakum Dinukum Waliyadin dengan latar cahaya senja yang melambangkan toleransi dan keteguhan iman.

    Lakum Dinukum Waliyadin: Toleransi Tanpa Kompromi

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 84
    • 0Komentar

    Di tengah riuh perdebatan tentang toleransi, kita sering mengutip Lakum Dinukum Waliyadin —atau dalam ejaan Arabnya, لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ— tanpa benar-benar menundukkan ego di hadapannya. Frasa Lakum Dinukum Waliyadin dari QS. Al-Kafirun ayat 6 itu terdengar lembut, namun sesungguhnya tegas. Ia bukan slogan basa-basi, bukan pula jembatan untuk mencampuradukkan akidah. Ia adalah garis batas […]

  • hikmah maulid nabi

    Hikmah Maulid Nabi: Pembaharuan Komitmen pada Etika Kemanusiaan

    • calendar_month Sabtu, 20 Sep 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 100
    • 0Komentar

    Rayakan Maulid Nabi dengan makna mendalam: pembaharuan komitmen pada etika kemanusiaan dan ajakan menjadi agen perubahan positif. albadarpost.com, HIKMAH. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW kembali menjadi momen penting bagi umat Islam. Namun, di balik kemeriahan seremonial, terdapat pesan mendalam yang perlu direnungkan: Hikmah Maulid Nabi: Pembaharuan Komitmen pada Etika Kemanusiaan. Momen ini bukan sekadar mengenang […]

  • deepfake asusila

    Negara Hadir! Akses Grok AI Diblokir

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 97
    • 0Komentar

    Pemerintah memblokir Grok AI imbas maraknya deepfake asusila. Langkah tegas ini diambil demi melindungi martabat publik. albadarpost.com, HUMANIORA – Pemerintah Indonesia mengambil langkah tegas terhadap penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi memblokir akses Grok AI, chatbot berbasis AI milik platform X, menyusul maraknya praktik deepfake asusila yang dinilai mengancam martabat dan […]

  • mobilitas wisman Jawa Barat

    BPS Jabar Ungkap Pergeseran Mobilitas Wisman Jawa Barat ke Whoosh

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 89
    • 0Komentar

    BPS Jabar mencatat mobilitas wisman bergeser dari Bandara Kertajati ke kereta cepat Whoosh sepanjang 2025. albadarpost.com, LENSA — Perubahan arus wisatawan mancanegara menuju Jawa Barat semakin jelas, dan bukan lagi berpusat pada jalur udara. Data Badan Pusat Statistik provinsi menunjukkan wisatawan asing kini lebih banyak masuk lewat moda kereta cepat Whoosh dibanding Bandara Internasional Jawa […]

expand_less